Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Telpon dari Bintang


__ADS_3

Ghavi sedang memisah-misahkan oleh-oleh yang dibawanya dari kota kelahiran almarhum ibunya sesuai dengan pesanan.


Gadis itu tiba dirumahnya setelah jam lima pagi tadi.


Harry sendiri langsung melajukan mobilnya menuju kediaman kakaknya untuk beristirahat sementara sebelum bertemu klien.


"Bu, Bapak kemana, sih?! Dari tadi aku sampai hingga sekarang kenapa tidak kelihatan?"


Ghavi melirik jam dinding diruang tengah yang jarumnya sudah menunjukkan angka sepuluh.


Pagi tadi waktu dirinya sampai rumah, hanya Bu Yoyon yang membukakan pintu menyambutnya.


"Oh, Ibu sampai lupa! Bapak sedang menunggui Pak Rama dirumah sakit, Non!" jawab Bu Yoyon.


Wanita setengah abad itu baru saja meletakkan sepiring pastel goreng dan segelas teh tawar kesukaan majikan mudanya.


"Eh, Pak Rama sakit apa sampai dirawat dirumah sakit? Terus keluarganya kemana, kok harus si Bapak yang jagain?!"


Ghavi kaget mendengar orang kepercayaannya direstaurant itu sedang sakit dan harus dirawat juga.


"Kemarin sore selepas makan malam Pak Rama datang berkunjung. Beliau sebenarnya mencari Non karena ada sesuatu yang harus dibahas, katanya. Karena si Non belum pulang, jadinya Pak Rama menemui Bapak. Nah, pas sedang ngobrol sama Bapak, tiba-tiba saja Pak Rama pingsan. Bapak pun langsung membawa Pak Rama kerumah sakit terdekat."


Bu Yoyon ikut menjatuhkan tubuhnya dikarpet sebelah Ghavi.


"Terus, Pak Rama sakit apa, Bu?"


Tangan Ghavi tetap sibuk memilah-milah barang yang hendak dibaginya nanti.


"Kata Bapak, beliau terkena tekanan darah tinggi dan harus dirawat beberapa hari sampai tekanan darahnya normal. Istri dan anaknya Pak Rama kebetulan sedang berlibur di Semarang, kota asal sang istri. Makanya Bapak yang harus jagain."


"Oh, begitu! Baiklah, nanti aku jengukin Pak Rama. Nanti tolong Ibu buatkan aku sayur bening labu, ya! Mau aku bawa untuk jenguk Pak Rama."


"Baik, Non!"


Bu Yoyon pun bangkit dari duduknya hendak kembali ke belakang.


"Eh, Ibu mau kemana? Sini duduk lagi! Ini aku ada oleh-oleh untuk Ibu dan juga Bapak."

__ADS_1


Ghavi menyerahkan bungkusan berisi kain lurik dan blangkon serta kain batik khas kota pelajar.


"Dan yang ini titipannya teman Bapak, tolong Ibu simpankan dulu, ya. Dikasih ke Bapak kalau sudah pulang."


Diserahkannya lagi satu bungkus yang isinya sama, hanya corak dan warnanya berbeda.


"Terima kasih banyak, ya, Non! Jadi ngerepotin," ucap Bu Yoyon.


"Tidak apa-apa, Bu!"


"Ya, sudah. Kalau begitu Ibu masak sayur bening dulu, ya buat dibawa kerumah sakit."


Bu Yoyon meninggalkan ruang tamu menuju kebelakang.


Ghavi juga baru selesai menata oleh-oleh dan siap diberangkatkan ke tuannya.


Dicomotnya pastel goreng yang sudah setengah dingin. Tidak lupa dengan cengek hijau pendamping pastel.


Drrrt ... Drrrtt ...


Ponsel diatas meja bergetar.


" Tante Obat Gosoookk ...!"


Terdengar suara teriakan anak kecil dari seberang telpon. Ghavi sampai harus mrnjauhkan ponsel dari telinganya yang merasa pengang.


" Jangan teriak-teriak, Sayang!"


Suara lain dibelakangnya juga terdengar.


"Ok, Pa, maaf!" ucap suara bocah kecil tadi.


"Tante Cantik, sudah pulang, kah?!" tanyanya kembali fokus pada telpon.


"Sudah, tadi pagi! Kenapa?"


Ghavi tersenyum mendengar pertanyaan Bintang. Dia maksud dari pertanyaan bocah laki-laki itu. Pasti ada maksud tersembunyi seperti udang dibalik tepung sehingga tercipta rasa yang gurih dan crispy.

__ADS_1


Ya. Siapa lagi kalau bukan Bintang yang menelpon? Hanya dia yang memanggilnya Tante Obat Gosok.


"Huh, tadi saja panggil Tante Obat Gosok. Sekarang ganti jadi Tante Cantik. Pasti kamu ada maunya, kan?!" tembalnya langsung.


"Hahaha ...! Tante tahu saja," balas Bintang tertawa lebar.


"Bintang mau apa?"


Ghavi sengaja memancing.


"Mau oleh-oleh, dooong ...! Tante bawa, kan pesanan Bintang?!"


"Eemm, bawa, nggak, ya?! Kayaknya lupa, deh."


"Yaahh, Tante! Nggak jadi cantik, deh kalau begitu. Bintang nggak jadi minta oleh-olehnya," ujar Bintang terdengar kecewa.


"Bintang kecilnya Tante juga nggak jadi ganteng, dong kalau ngambek."


"Biarin!" sengaknya.


"Hahaha ...! Begitu saja ngambek. Ok, deh nanti siangan Tante anterin ke rumah Bintang. Tapi kalau Bintangnya masih ngambek, nanti Tante kasih ke Bulan saja oleh-olehnya," ledek Ghavi.


"Eh, jangaaan ...!" pekik Bintang cepat.


"Kenapa?"


"Eee, soalnya si Bul-Bul masih kecil. Jadi oleh-olehnya buat aku saja," sergah bocah itu.


"Katanya tadi nggak jadi mau?!"


"Jadi, deh! Hehe ...!" kekeh Bintang kembali sumringah.


"Ok! Tunggu kedatangannya, ya! Pesanan oleh-oleh siap meluncur."


Ghavi pun mematikan sambungan telpon.


Gadis itu lantas berjalan cepat menuju kamarnya dilantai atas. Disambarnya handuk dan berlalu kekamar mandi.

__ADS_1


Sudah tidak sabar rupanya Ghavi ingin cepat-cepat bertemu anak Lian, kakak dari sahabatnya yang juga orang yang pernah menyukainya dulu.


__ADS_2