
"Mas Handy!"
Ghavi memanggil saat tahu orang yang menyembulkan kelapanya itu adalah Handy.
"Ayo masuk!" perintahnya.
"Mana Pak Aswan?!"
Ghavi melongokkan kepalanya keluar, kalau-kalau orang yang dicarinya ada disana.
"Dia menunggu diparkiran," jawab Handy.
"Kenapa tidak disuruh ikut?!"
Handy mengabaikan pertanyaan gadis itu. Dia justru berjalan mendekati Eyang Sosro dan menanyakan keadaannya.
"Selamat siang, Eyang, Risa, Aksan!" sapanya.
"Siang!" jawab ketiganya kompak.
"Bagaimana keadaanmu, Eyang? Sudah jauh lebih baik?!"
"Seperti yang kau lihat, aku semakin sehat sekarang," jawab Eyang Sosro tersenyum.
Handy manggut-manggut.
"Bisa dilihat dari caramu tertawa tadi."
"Hehe ..., kau mendengarnya?! Pasti pasien lain merasa terganggu jika suaraku saja sampai terdengar ke luar," kekehnya.
"Heeemm ...!"
Handy tersenyum.
"Sebenarnya Eyang kenapa lagi?!"
"Ah, tidak apa-apa. Hanya tekanan darah tingginya saja yang naik," jawabnya.
" Lalu, kenapa Eyang harus memakai oksigen?!"
Dilihatnya napas Eyang Sosro yang sesekali tersengal.
"Oh, semalam asthmaku kambuh. Tapi dokter sudah memberikan obat pereda sesak. Ditambah oksigen ini, sekarang Eyang merasa jauh lebih baik dibanding dari yang semalam," ujarnya.
"Jadi, Eyang juga punya Asthma?!" tanya Handy kaget.
"Ya! Tapi sudah sangat lama tidak kambuh. Baru semalam Asthmaku kambuh lagi," jelas Eyang Sosro.
"Oh!"
Handy mengangguk-angguk. Hening sejenak sampai suara notofikasi dari ponsel Handy berbunyi memecah kesunyian yang tercipta.
" Emm, maaf, Eyang! Sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Aku harus segera kembali lagi ke Wonosobo. Masih ada beberapa pekerjaan bapak yang harus aku selesaikan. Selama bapak sakit, aku harus menghandle semua pekerjaannya. Belum lagi pekerjaanku sendiri juga sedang banyak-banyaknya. Maaf tidak bisa menemani Ghavi menjaga Eyang disini," terangnya merangkul pundak Ghavi yang tingginya hanya sepundaknya itu.
"Tidak apa-apa! Eyang mengerti. Belum nanti kau harus bergantian menunggui bapakmu, kan?!"
Handy mengangguk mengiyakan.
"Titip salamku pada orang tuamu, khususnya bapakmu. Semoga lekas sembuh," lanjutnya.
"Terima kasih, Eyang! Eyang juga harus cepat sembuh biar bisa beraktifitas lagi dirumah."
__ADS_1
Handy mencium tangan keriput wanita tua itu.
"Aku pamit, Eyang!" tukasnya.
"Iya, hati-hati!"
"Ya!"
Handy mendekat pada Risa dan Aksan yang kini duduk disofa tunggu. Keduanya tengah asyik dengan ponsel masing-masing.
"Risa, Aksan, terima kasih sudah membantu Ghavi menjaga eyangnya. Aku harus pamit sekarang."
"Iya, sama-sama!" jawab Risa mengangguk setelah meletakkan ponselnya dipangkuannya.
Sedang Aksan menyalami dan menepuk bahu Handy seraya berkata:
"Kita sudah seperti keluarga. Percayalah!" ujarnya tersenyum.
"Terima kasih!"
Handy beralih pada Ghavi yang masih berdiri didekat ranjang eyangnya.
" Bisa kita bicara sebentar?!" tanyanya.
Ghavi mengangguk dan segera mengikuti langkah Handy yang sudah keluar dari kamar rawat inap tersebut.
"Ghavi keluar sebentar, Eyang!" pamitnya.
"Ya! Temuilah dia!"
"Ada apa?!" tanya Ghavi begitu keluar kamar.
Gadis itu mendapati Handy sudah duduk dibangku. Dia pun ikut duduk disebelahnya.
"Ya, tidak apa-apa! Aku tahu Mas Handy sedang banyak pekerjaan, ditambah lagi harus menangani pekerjaan Om Rudi. Kamu harus sehat-sehat, ya. Aku tidak mau kau jadi ikutan sakit," jawab Ghavi.
Ada sedikit kekhawatiran disana.
"Terima kasih!" ucapnya lirih.
"Berapa banyak stok terima kasihmu?!" tanya Ghavi.
"Haahh?! Maksudnya??" Handy bertanya bingung.
"Sejak tadi kudengar kau sudah berterima kasih banyak sekali," jawab Ghavi tersenyum.
"Oh! Dasar, kau ini!"
Handy merangkul pundak Ghavi dan membawanya kedalam dekapannya.
Ghavi merasa kaget mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu, apalagi posisi mereka saat ini dikoridor rumah sakit dan banyak orang berlalu lalang.
Ghavi berusaha melepaskan diri tapi Handy mencegahnya.
"Tidak! Biarkan seperti ini sebentar saja," pintanya.
"Tapi, malu dilihat orang lewat," elak Ghavi.
Pipinya merona malu karena menjadi pusat perhatian orang yang lewat didepan mereka.
"Siapa peduli?!" jawab Handy bersikeras.
__ADS_1
Akhirnya Ghavi pun pasrah saja dalam dekapan laki-laki itu. Degup jantungnya langsung berpacu kencang.
Baru kali ini Handy memperlakukannya seperti itu didepan umum begitu. Biasanya hanya sekedar kecupan dipuncak kepalanya. Bahkan, saat dipemakaman Rindu yang saat itu hatinya sedang bersedih dan butuh sandaran pun, Handy tidak memperlakukannya seperti sekarang ini. Ada apa dengannya sebenarnya?!
"Uhm! Aku susah napas," cicit Ghavi lirih.
Setelah sekian menit berlalu dengan posisi duduk, dan setengah badan serta kepalanya didekap didada bidang Handy, percayalah! Itu sungguh menyiksa pinggang dan napasnya yang mulai kekurangan oksigen.
Handy langsung mengendurkan tangan, membiarkan Ghavi kembali duduk tegak dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Maaf!" ucapnya mengelus rambut yang kini sudah mulai panjang sepunggung.
Jujur, Handy lebih suka rambut Ghavi yang sekarang. Dia jadi terlihat lebih cantik dan sedikit dewasa.
"Mas Handy kenapa, sih?! Sejak kembali dari pertemuanmu dengan klien, sepertinya kau terlihat sedikit murung. Ada apa?"
Ghavi memperhatikan raut wajah yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dikedua pipi dan dagunya membentuk jambang tipis.
"Huufft!!"
Handy tidak menjawab pertanyaan Ghavi. Dia justru menghembuskan napas berat dan sedikit kasar.
" Aku harus pergi sekarang! Jaga dirimu agar tetap sehat, ok?! Dan ingat, jangan telat makan dan berani makan makanan yang over pedas lagi. Aku tidak mau kau sakit," ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Ghavi hanya diam membisu. Dia tahu jika Handy sedang berusaha menutupi sesuatu, namun gadis itu berusaha untuk tidak bertanya. Dia tidak ingin dianggap sebagai orang yang suka ikut campur urusan orang, betapa pun penasarannya.
Biarlah itu menjadi urusan Handy. Toh, Ghavi yakin jika suatu hari nanti dia akan berterus terang padanya.
"Baiklah! Mas Handy juga hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai!"
Ghavi berusaha tersenyum.
"Mungkin untuk sementara waktu ini aku akan sibuk sekali. Maaf, kalau nanti tidak punya waktu untuk berkunjung atau sekedar memberi kabar meski lewat ponsel," ucapnya berat.
"Ya!" jawab Ghavi lirih.
Sebenarnya ada rasa sedih dalam diri gadis itu. Dia tahu Handy sedang berusaha menyembunyikan sesuatu yang dia tidak boleh mengetahui hal apa itu. Entah kenapa firasatnya berkara seperti itu.
"Ya, sudah! Aku pergi sekarang!"
Handy bangkit berdiri diikuti Ghavi.
"Salam untuk semuanya," ucapnya.
Dikecupnya puncak kepala Ghavi seperti biasa. Bedanya, kali ini sedikit lebih lama dan ditambah kecupan dipipi kanannya.
Semburat merah seketika muncul dikedua pipinya yang sedikit chubby, sebab, Handy mengecupnya tepat saat seseorang lewat dikoridor rumah sakit dihadapan mereka.
Handy tidak mempedulikan hal itu. Laki-laki itu pun mengacak anak rambut Ghavi, mulai berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Ghavi yang masih terpaku dengan segenap rasa yang berkecamuk dihatinya, tanpa menoleh kebelakang lagi hingga menghilang diujung koridor rumah sakit yang berada di lantai tiga tersebut.
Ghavi baru tersadar dari keterpakuannya manakala Risa keluar dan memberitahukan jika es bubur kacang hijau ketan hitam pesanannya sudah mulai mengembun pertanda esnya mulai mencair.
"Mas Handy sudah pulang, kan?!" tanya Risa.
"Uhm! Baru saja," jawab Ghavi singkat.
"Kalau begitu ayo masuk! Es bubur kacang hijau pesananmu sudah mulai mengembun. Kalau esnya benar-benar mencair, rasanya akan jadi berbeda."
Ghavi pun masuk ke dalam mengikuti Risa dan duduk disofa yang berseberangan dengan Risa dan Aksan.
Eyang Sosro tampak tengah memejamkan matanya kembali. Mungkin obat yang baru saja diminumnya sesaat sebelum kedatangan Risa dan Aksan tadi sudah mulai reaksi.
__ADS_1
Perawat bilang, dokter sengaja meresepkan obat tidur dengan dosis rendah agar Eyang Sosro dapat beristirahat dan diharapkan tekanan darahnya segera normal kembali.