Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
terbang ke Jakarta


__ADS_3

Jam tiga sore Ghavi dan Risa baru pulang dari kampus. Kedua gadis itu langsung menuju rumah sakit tempat Eyang Sosro dirawat.


Saat kedua gadis itu sampai didepan ruang perawatan orang tua itu, terdengar suara-suara orang sedang mengobrol.


Ghavi pun langsung mengetuk pintu dan melangkah masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.


Gadis itu penasaran dengan siapa eyangnya berbicara. Setelah pintu terbuka, tampaklah Om dan Tante Rudi dan juga Harry tengah duduk disofa yang sengaja disediakan untuk tamu yang berkunjung.


"Kalian, kapan datang, Om, Tante, Mas," sapa Ghavi berjalan mendekati mereka dan mengulurkan tangan.


"Ghavi, baru pulang, Nak?!" sapa Tante Rudi menyambut uluran tangan Ghavi dan Risa.


"Sudah tiga puluh menit yang lalu," jawab Om Rudi menimpali.


"Oh!" seru Ghavi.


" Tahu Mas Harry bakal kesini tadi aku tidak menunggu kelas, Mas," gerutu Ghavi manyun.


Jam terakhir pelajaran tadi seharusnya Harry yang mengajar. Ghavi menunggu hingga jam berakhir ternyata Harry tidak datang.


"Hehe, maaf! Tadi harus jemput ayah dan ibu diterminal," jelas Harry nyengir.


" Om dan Tante naik bus?!" celetuk Risa yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


" Iya, kami sengaja naik bus karena pulangnya nanti bawa mobil yang kemarin dibawa Handy," terang Om Rudi.


"Oh, iya. Tadi Mas Handy juga datang berkunjung, tapi kami tinggal karena tadi harus buru-buru kekampus," sahut Ghavi memberi tahu.


" Iya, tadi eyangmu juga sudah memberi tahu. Tapi sekarang dia harus kembali ke kantor karena dia harus kepabrik pengolahan makanan. Sepertinya pabrik sedang ada kendala mesin," ujar Tante Rudi.


" Pabrik pengolahan makanan?!" tanya Ghavi heran.

__ADS_1


Setahu dirinya Handy seorang desain interior dan pemilik pabrik furniture, ternyata dia juga punya pabrik pengolahan makanan juga?! Berapa macam usaha yang dimilikinya?!


" Ya, selain dia seorang desain interior dan memiliki pabrik mebel dan furniture di Jepara, dia juga punya pabrik pengolahan makanan serta beberapa hektar lahan pertanian dan perkebunan di Wonosobo. Mas Handy juga masih mampu memegang kendali restaurant di Jakarta," cerita Harry panjang lebar.


"Hahh?!" Ghavi dan Risa melanga mendengar cerita Harry.


" Kalau kakakmu mendengar kau mengungkit pekerjaannya, mampuslah kau," kekeh Om Rudi.


" Ah, Ayah ini. Masa sama anak sendiri begitu," gerutu Harry.


Ghavi dan Risa masih terpaku ditempatnya duduk.


Jika sebegitu banyaknya usaha yang digeluti seorang Handy, sempurna sekali hidup Ghavi yang dijodohkan dengannya, batin Risa.


Pantas saja dia dulu pernah mengatakan waktu adalah uang. Semenit saja membuang waktu, sama dengan membuang jutaan rupiah, kira-kira dulu seperti itu yang diucapkan Handy sewaktu ikut mendengarkan pengacara almarhum kakek Harun, gumam Ghavi dalam hati.


"Ehm!"


Terdengar orang berdehem dari luar pintu ruang perawatan.


"Eh, Mas Handy, kau kembali?! Cepat sekali," cicit Harry salah tingkah karena ketahuan membicarakan kakaknya.


" Sejak kapan kau berdiri disitu?!" tanya Ghavi.


" Cukup lama untuk bisa mendengar gunjingan kalian," jawabnya dingin.


Handy melangkah mendekati ayahnya dan segera menyerahkan kunci mobil.


" Mampuslah kau, Har!" ledek Om Rudi lagi terkekeh.


Dilihatnya Harry sedikit menciut ditempatnya duduk.

__ADS_1


Bukannya takut, dia hanya malas mendengar ocehan kakaknya yang ujung-ujungnya nanti memintanya memegang kendali salah satu usaha yang sedang dipegang kakaknya itu.


Harry tidak punya bakat jadi pebisnis. Itulah kenapa dia lebih memilih menjadi dosen saja sesuai dengan cita-citanya.


" Ayah!" tegur Tante Rudi.


"Nak, kau bilang akan pulang ke Wonosobo. Kenapa kembali lagi?!" tanya Eyang Sosro yang sedari tadi hanya diam menjadi pendengar setia saja.


" Oh, tidak jadi, Eyang! Aku wakilkan pada asistenku. Aku harus terbang ke Jakarta sore ini juga. Ada masalah di Panti Asuhan Cahaya yang harus diselesaikan," jelasnya.


" Eh, ada masalah dipanti?!" tanya Ghavi cepat.


Sudah lama dia tidak berkunjung sejak keberadaannya di Jogjakarta. Kira-kira ada masalah apa?!


" Ya. Dan kau harus ikut! Sebab, kau juga dibutuhkan disana nantinya," ujarnya menatap manik mata Ghavi.


" Aku?!" tunjuk Ghavi pada dirinya sendiri.


" Memang siapa lagi disini yang jadi cucu kakek Harun?!" Handy balik bertanya sinis.


Handy kembali bersikap dingin dan datar seperti biasanya.


Huh! Begitu saja ketus. Jawab yang pelan kan bisa, batin Ghavi sebal.


" Tapi eyang kan sedang sakit," tukas Ghavi.


" Eyang tidak apa-apa. Kau ikutlah dengan Nak Handy ke Jakarta. Siapa tahu ada masalah gawat yang harus kalian selesaikan. Eyang masih ada Bi Narti dan Pak Sugeng yang akan menjaga. Ada Risa juga," timpal Eyang Sosro tersenyum.


Akhirnya, pukul lima sore ruang rawat inap Eyang Sosro kembali sepi. Hanya tinggal Bi Narti yang menunggui majikannya.


Om dan Tante Rudi langsung pulang ke Dieng. Harry pulang bersama Risa dengan dia yang mengendarai motor Risa.

__ADS_1


Sementara Ghavi dan Handy terbang ke Jakarta sore itu juga menggunakan pesawat komersil penerbangan domestik.


***


__ADS_2