
Hari ini Ghavi memenuhi permintaan Liana untuk menemui Lian dan Ane guna meminta ijin agar Bintang dibolehkan ikut auntynya ke Jogja bersama Ghavi.
Selain itu, Ghavi juga sekalian ingin melepas rindu dengan keluarga Liana yang selali welcome terhadapnya.
Dengan menggunakan mobil sport pemberian almarhum kakeknya, kini gadis itu melajukan kendaraan roda empat itu membelah karamaian ibu kota seorang diri.
Ya. Kini Ghavi sudah berumur 22 tahun sehingga Pak Yoyon sudah mengijinkan cucu almarhum majikannya itu berkendara sendiri menggunakan mobil tersebut sesuai amanah yang diembankan padanya.
Sekitar tiga puluh lima menit Ghavi berkendara, akhirnya sampailah dia disebuah rumah yang cukup sejuk dengan tumbuhnya beberapa pohon mangga dan rambutan di halaman depan rumah tersebut.
Diparkirkannya mobilnya dihalaman yang tidak berpagar itu tepat disebelah mobil milik sahabatnya.
Diambilnya buah tangan yang Ghavi simpan dijok belakang sebelum akhirnya turun dari mobil.
Langkahnya terlihat ringan dan mantap saat menaiki anak tangga yang menuju teras rumah yang memang sengaja dibuat lebih tinggi dari halamannya itu.
"Tante Obat Gosok!!" teriak bocah cilik dari arah teras rumah.
Diteras tersebut sedang terserak mainan yang sepertinya sedang dimainkan oleh si bocil.
"Bintaaang!!"
Ghavi langsung menyambut rentangan tangan bocah laki-laki yang masih mengenakan seragam taman kanak-kanak itu dengan senyum lebarnya.
"Uhh, jagoan Tante ganteng sekali, sih pakai seragam sekolah. Kok, belum ganti baju?!"
Bintang menggeleng cepat.
"Belum, Tante! Bintang, kan baru mau sekolah," jawabnya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang sedikit gupis.
"Ehh! Kamu nggak salah, Sayang?! Biasanya jam segini kamu justru sudah selesai."
Ghavi melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Memang biasanya Bintang sekolah dari jam delapan hingga pukul sepuluh pagi. Hal itu Ghavi ketahui dari cerita Liana beberapa waktu lalu saat mereka berdua main kerumah Ghavi.
"Biasanya iya, tapi untuk seminggu ini dia kebagian kelas siang," sahut Liana yang baru muncul dari dalam rumah.
"Kok, kamu baru datang, sih?! Kak Lian sedang dikantor, sementara Kak Ane baru saja keluar untuk belanja dapur," lanjutnya.
" Hehe ...! Aku tadi bangun kesiangan," sahut Ghavi nyengir.
"Terus tadi aku juga habis ngantar Bu Yoyon kepasar dulu, belanja kebutuhan dapur. Nih, tadi aku beli jajan pasar. Dan kalau yang ini bebek goreng sambal ijo kesukaan kalian, khusus buatan Bu Yoyon. Makanya aku baru kesini karena nunggu bebek gorengnya mateng dulu."
Ghavi menyerahkan paper bag pada Liana.
" Wah, pasti enak, nih. Tahu aja Bu Yoyon kalau kita-kita kesukaannya olahan bebek," cengir Liana sembari menerima paper bag dari tangan Ghavi.
" Weiits!! Itu juga aku yang nyuruh bikin, tahu?!" sambar Ghavi.
" Hehe ...! Iya, iya, aku tahu, kok kalau ini semua ide dari kamu."
Liana menoel pipi sahabatnya itu sambil terkekeh.
" Eh, masuk, yuk! Sebantar lagi aku harus mengantar Bintang ke sekolah soalnya."
" Mamah sama Papah dirumah?" tanya Ghavi.
" Mereka jam segini sudah ditoko. Pulangnya nanti sore. Kenapa memangnya?!" tanya balik Liana.
" Nggak apa-apa. Kalau begitu aku ikut antar Bintang saja, deh daripada dirumah sendirian."
Ghavi akhirnya memutuskan untuk ikut mengantar Bintang ke Sekolah Taman Kanak-Kanak tempat dimana bocah itu menimba ilmu.
Setelah mengantar Bintang, kini Liana dan Ghavi tengah berada disebuah kedai kopi tak jauh dari sekolah bocah itu untuk sekedar ngobrol sembari menunggu Bintang selesai sekolah.
"Kamu jadi pulang ke Jogja besok pagi?" tanya Liana disela-sela acara minum kopinya.
"Jadi. Aku sudah sangat rindu dengan keluarga Bi Mirna. Apalagi sama Risa. Kudengar sekarang dia sedang hamil delapan bulan. Pasti sangat lucu dia."
Ghavi tersenyum sendiri karena membayangkan tubuh ceking Risa yang sedang mengandung. Pasti lucu sekali, pikirnya.
Sayangnya saat pernikahan Risa dan Aksan satu tahun lalu, Ghavi tidak bisa pulang karena sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsinya.
Gadis itu cuma melakukan video call saat menyaksikan acara pernikahan anak dari asisten rumah tangga Eyang Sosro yang juga sebagai sahabatnya itu.
"Oh, ya. Kamu jadi, kan ikut aku pulang ke Jogja?!" tanya Ghavi balik.
"Jadi, dooong ...! Aku juga sangat merindukan suasana disana. Apalagi, Risa bilang disana saat ini sedang musim tanam padi. Aku ingin sekali ikut adiknya Risa memancing belut disawah seperti dulu lagi," jawab Liana.
Dia jadi teringat saat dulu berkunjung ke Jogja mewakili Ghavi untuk menyaksikan acara ijab qobul pernikahan Risa dan Aksan.
Sehari sesudah resepsi pernikahan, iseng-iseng dia ikut Fajar, adik Risa, memancing belut disawah yang sudah siap ditanami padi. Fajar yang sedang libur sekolah itu mengisi waktu luangnya dengan membantu mengawasi orang kepercayaan Ghavi menggarap sawahnya.
Iseng-iseng bocah remaja tanggung itu mencari belut yang merupakan menu makanan kesukaannya.
Liana yang waktu itu ikut kesawah pun merasa senang karena melihat suasana yang masih alami.
Bagaimana tidak, untuk menu lauk belut saja mesti mancing dulu disawah. Sebenarnya dipasar juga ada penjual belut. Namun, Fajar bilang belut-belut yang dijual dipasar itu hasil ternak petani yang pakannya sudah dioplos dengan pakan tambahan ternak dari toko. Ibarat ayam sudah dicampur dengan concentrat agar tumbuhnya lebih cepat besar. Dan kata Fajar rasanya sedikit berbeda dengan belut yang asli dari sawah. Lebih enak yang dihasilkan dari sawah karena pakannya alami.
Liana tersenyum sendiri mengingat kejadian satu tahun silam dimana dia dan Fajar tercebur kesawah saat dirinya melihat ular sawah dan langsung menubruk Fajar karena merasa ketakutan.
Fajar yang tidak seimbang karena berdiri dipematang sawah pun akhirnya oleng dan tercebur kelumpur bersama Liana. Tubuh keduanya pun kotor penuh lumpur. Mereka berdua akhirnya memutuskan pulang ke rumah Risa dengan diiringi derai tawa ibu-ibu yang sedang menanam padi.
"Hei!! Malah melamun. Pakai acara senyum-senyum segala lagi. Kesambet, ya?!" tegur Ghavi sembari melambaikan tangannya didepan muka Liana yang sedang asyik senyum-senyum sendiri.
"Hehe ...!"
Liana terkekeh.
"Enggak! Aku cuma lagi mengenang saja kejadian setahun lalu."
__ADS_1
"Oh!"
Ghavi hanya ber-oh saja sebab gadis itu sudah tahu ceritanya saat mereka chating dulu.
"Kira-kira si Bintang dikasih ijin, nggak, ya sama Kak Lian dan Kak Ane?"
Ghavi bertanya sambil menggigit sedotan dari es cappuchinonya.
"Tahu!"
Liana mengendikkan bahu.
"Kamu tanya saja nanti saat kita pulang. Kamu tahu sendiri, lah kalau aku yang minta ijin, pasti dikira aku yang ngarep banget. Meskipun kenyataannya iya. Hihihi ...," kikiknya.
" Kalau kamu yang ijin, kan pertanda itu maunya kamu. Menurutku kalau Kak Lian, sih aku yakin ngijinin. Tapi kalau Kak Ane kayaknya keberatan, deh. Secara Bintang, kan kesayangannya banget. Kalau si Bul-bul itu baru kesayangannya Kak Lian."
Bul-bul adalah adik Bintang yang masih berusia delapan bulan. Sebenarnya namanya Bulan, tapi orang-orang dirumah memanggil batita itu dengan panggilan kesayangan Bul-bul, sebab bayi itu bertubuh gembul.
"Ya, sudah nanti aku minta ijin," jawab Ghavi akhirnya.
" Eh, sudah jam dua belas, nih. Jemput Bintang, yuk!" ajak Ghavi setelah menghabiskan es cappuchinonya.
"Oh, iya. Aku sampai lupa. Yuk!"
Liana pun berjalan mengikuti Ghavi yang sedang berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran, sekalian membeli milk shake cokelat untuk Bintang.
"Auntyyy ...! Tante Obat Gosoook ...!" pekik Bintang begitu melihat Liana dan Ghavi turun dari mobil sport milik Ghavi.
Bocah lima tahun itu berlari kearah mereka tanpa melihat kanan kiri.
"Bintaaang, awaaass ...!" teriak Liana dan Ghavi bersamaan.
Mereka bermaksud mengingatkan Bintang, namun ...
Brugh!!
Seorang gadis kecil terjerembab dihalaman berpaving dekat gerbang tempat Bintang datang tadi.
"Aowwh!!" jerit si gadis meringis kesakitan.
"Sshhh ...!" rintihnya.
Liana dan Ghavi pun segera menghampiri gadis kecil berkepang susun itu untuk menolongnya.
"Kamu nggak apa-apa?!" tanya Ghavi seraya membantu membangunkan gadis itu.
"Ssshh, sakiitt ...!" rintihnya hampir menangis.
"Huusstt ... jangan nangis, Sayang. Sini Tante lihat mana yang luka.
Dibawanya bocah perempuan itu duduk dibangku depan gerbang sekolah, tempat para orang tua wali murid menjemput putra-putrinya.
Apalagi kini tantenya datang menghampiri dengan raut muka sedikit melotot padanya.
"Bintang!" tegur Liana keras.
"Harus berapa kali Aunty ingatkan, jangan tergesa-gesa apalagi lari-larian seperti tadi. Bahaya! Kamu lihat, kan apa akibatnya?!" omel Liana sambil menunjuk gadis kecil yang baru saja ditabrak Bintang dan sekarang sedang ditolong Ghavi.
" Maaf, Aunty!!" ucap Bintang lirih.
"Minta maaflah padanya."
"Baik, Aunty!"
Bintang pun mengangguk dan berjalan dibelakang mengikuti Liana mendekati gadis kecil yang kini tampak sedang diobati oleh Ghavi.
Ya. Ghavi mengobati lutut gadis kecil bergaun kotak-kotak yang terus meringis itu menggunakan kotak P3K yang dia ambil dimobilnya.
"Tahan sebentar, ya!"
Ghavi mengoleskan alkohol pada lutut yang lecet sedikit mengeluarkan darah akibat benturan dipaving.
"Sshh ..., sakit, Tante!" ringisnya.
"Iya, Tante tahu ini pasti sakit. Kamu tahan, ya. Soalnya kalau tidak segera dibersihkan nanti bisa infeksi."
Setelah membersihkan darah dan kotoran yang menempel pada luka, Ghavi lantas menutupnya dengan plester.
"Sudah!"
"Ma-makasih, Tante!" ujar gadis kecil itu dengan terus meringis.
Ghavi menyodorkan gelas milk shake yang niat awalnya untuk Bintang itu pada si gadis.
"Ini, minumlah!"
Si gadis kecil menggeleng.
"Tidak, terima lasih!"
"Eh, kenapa?!" tanya Ghavi bingung.
Pasalnya gadis cilik itu terlihat berkeringat dan kehausan. Terlihat dari caranya menelan ludah saat melihat minuman dingin yang berada disamping Ghavi bersebelahan dengan kotak P3K.
"Tidak apa-apa! Aku tidak boleh minum es dulu, Tante. " jawabnya menunduk.
"Oh!"
Ghavi mengangguk mengerti.
" Siapa namamu, gadis cantik?"
__ADS_1
Dengan ragu-ragu dia menjawab:
"Sun-Sunny, Tante!"
"Sunny. Mm, nama yang cantik. Bersinar seperti orangnya."
Ghavi tersenyum mengomentari nama gadis itu.
"Tante juga cantik dan baik. Yerima kasih sudah menolong Sun," ujar Sunny menatap Ghavi yang juga sedang menatap kearah Sunny.
Tatapan mata keduanya pun terkunci.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Ghavi tiba-tiba berdetak sedikit cepat kala menatap manik mata Sunny.
Sorot mata itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya. Sorot mata yang tajam namun teduh yang mampu menentramkan kegundahan. Sorot mata yang sudah empat tahun tidak dilihatnya itu.
"Ok, Sunny. Apa ibumu belum menjemputmu?"
Ghavi berusaha menetralkan detak jantungnya dengan mengajak Sunny kembali ngobrol.
Belum sempat gadis cilik bernama Sunny itu menjawab, terdengar suara memanggil Ghavi.
"Tante!" panggil Bintang dari arah belakang mereka.
"Eh, Bintang kecilnya Tante. Sini, sini duduk dekat Tante!" suruhnya pada Bintang.
Bintang pun duduk disisi Ghavi yang lain, sementara Liana tetap berdiri di depan Sunny.
"Ok, Bintang, sekarang minta maaf pada temanmu ini karena kamu sudah menabraknya tadi. Dan lihat apa yang sudah kamu perbuat tadi melukainya."
Ghavi menunjuk lutut Sunny yang sudah diplester. Bintang pun melihat kearah yang ditunjuk tantenya. Tampak lutut bocah itu sudah diplester dengan plester bergambar dino milik Tante Obat Gosoknya.
"Sun-Sunny, maaf, ya tadi aku tidak sengaja," ucapnya lirih.
Disodornkannya tangannya pada Sunny dengan enggan.
"Ya!" jawab Sunny ketus tanpa menyambut uluran tangan Bintang didepannya.
Ghavi dan Liana saling berpandangan heran.
"Emm, Sunny, maafkan keponakan Aunty, ya. Dia memang suka sekali tergesa-gesa sampai-sampai menabrakmu tadi."
Liana meminta maaf pada Sunny sebagai bentuk wakil permintaan maaf Bintang padanya.
"Iya, Aunty tidak apa-apa!"
Kali ini jawaban Sunny melunak dan kepalanya mengangguk pada Liana.
Liana tampak tidak asing dengan raut wajah bocah perempuan didepannya yang tampak familiar itu.
'Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana, ya?!' batin Liana bergumam.
Sunny, tadi kamu belum jawab pertanyaan Tante. Apa ibumu tidak datang menjemput? Sepertinya hanya tinggal kamu saja yang belum dijemput orang tuamu."
Ghavi mengedarkan pandangannya kesekitar sekolah. Hampir semua siswa Taman Kanak-Kanak itu mulai pulang bersama jemputannya. Tinggal beberapa saja yang masih terlihat, itupun mereka sudah bersama orang tua atau jemputannya masing-masing.
Sunny menggeleng pelan.
"Belum, Tante! Mbak Nia belum menjemput," jawabnya lirih.
Ada raut kesedihan dimatanya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba sedih.
"Non Sunny!!" panggil seorang wanita sekitar akhir empat puluhan yang mendekati mereka dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Maaf, Mbak telat jemput. Tadi Pak Sono tiba-tiba ditelpon papa Non untuk mengantarnya ke luar kota hari ini juga. Jadi Mbak harus pesan dan nunggu ojol sebelum kesini," ujarnya terengah.
"Papa ke luar kota lagi?!"
Dari nada suaranya Sunny terdengar kecewa dan makin sedih.
"Bukankah biasanya papa pergi dengan Om As, asistennya?!" sambungnya.
"Hhmmfftt!!" Bintang menutup mulutnya menahan tawa saat mendengar Sunny menyebut nama Om As, yang terdengar sekilas memang seperti nama artis komedian asal betawi.
Ghavi dan Liana pun melotot pada Bintang untuk memperingatkan. Meskipun didalam hati keduanya pun merasa geli mendengarnya.
"Om As sedang ada tugas dikota lain, jadi papa Non meminta Pak Sono yang menyetir," terang Mbak Nia, pengasuh Sunny.
" Ya, sudah kita pulang saja sekarang."
Sunny pun beranjak dari bangku dengan sedikit berjengit sebab lututnya sakit.
"Eh, kaki Non Sunny kenapa, kok, diplester begitu?!"
Mbak Nia yang baru ngeh pun merasa khawatir melihat putri majikannya berjalan tertatih.
"Maaf, Mbak! Tadi Sunny terjatuh karena keponakan saya tidak sengaja menabraknya tadi. Ini kartu nama saya, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Sunny, Mbak bisa hubungi saya kealamat ini."
Liana meminta maaf dan menyerahkan kartu nama pada Mbak Nia yang langsung menyambutnya.
"Terima kasih sudah mengobati lukanya. Ya. Nanti akan saya ajak ke rumah sakit untuk diperiksa. Kalau memang terjadi sesuatu, saya hubungi Anda. Permisi!"
Mbak Nia pun segera mengajak Sunny pulang sebab sudah ditunggu bang ojol yang dipesannya.
Akhirnya Ghavi, Liana dan Bintang pun pulang ke rumah sedikit terlambat karena kecelakaan kecil yang tak terduga tersebut.
__ADS_1