
Dua hari sudah Ghavi menunggui Risa di rumah sakit bersalin ibu dan anak.
Ibu muda dari si kembar itu sudah terlihat semakin sehat. Hari ini Risa disuruh untuk latihan berjalan setelah pasca operasi. Dan rencananya, nanti sore dia diperbolehkan pulang.
"Sudah dulu jalan-jalannya, Vi. Aku capek!" keluh Risa setelah dua kali putaran mengelilingi ruang rawat inapnya.
"Baru juga dua kali putaran," ejek Ghavi tersenyum.
Dia sengaja meledek sahabatnya dengan maksud untuk memberi semangat agar tidak mudah menyerah.
"Kamu nggak tahu gimana rasanya, sih," gerutu Risa.
"Memang gimana rasanya?!" tanya Ghavi pura-pura polos.
"Sakit, tahu! Coba saja nanti pas kamu lahiran, pasti juga merasakannya," cebiknya.
"Kalau aku dikasih kesempatan, aku inginnya lahiran secara normal saja. Ngeri, tahu lihat kamu kayak gini."
Ghavi melihat kondisi Risa yang terus meringis kesakitan karena bekas operasinya. Tangannya terus mengelus perban yang menutupi lukanya dengan harapan bisa mengurangi rasa sakit.
Dengan bobot yang sekarang delapan puluh kilogram dan dengan tinggi badan yang hanya seratus lima puluh lima centimeter, dengan sayatan pisau bedah diperutnya membuat cara berjalan Risa semakin pelan dan lucu seperti, maaf, gaj*h bengkak.
"Ya. Semoga saja kamu tidak mengalami hal sepertiku ini. Rasanya nikmat sekali pokoknya. Haha ...! Ssshhtt ..., aduuuh," ujar Risa tertawa dan mendesis kesakitan secara bersama.
"Makanya nggak usah tertawa," tukas Ghavi membantu mengelus perut Risa.
"Eh, mana, nih suami kamu. Katanya tadi mau jemput si kembar di ruangannya, kok lama sekali, sih?! Aku, kan sudah sangat penasaran mau ketemu si twins."
Ghavi beranjak ke pintu dan melongokkan kepalanya keluar.
Dari kejauhan dilihatnya Aksan dan Bi Mirna datang dengan menggendong baby twins, masing-masing satu.
"Wah! Ini dia jagoan Tante. Tante sudah nggak sabar ketemu kalian, Sayang."
Didekatinya Bi Mirna yang sudah berada diambang pintu.
"Ini si sulung tau si bungsu, Bi?" tanya Ghavi sambil menoel pipi gembul bayi yang ada digendongan neneknya.
"Ini si sulung, Tante. Namaku baby Aris."
Bi Mirna menirukan suara anak kecil.
"Oh, gemesnya, ihh!"
Ghavi menoel pipi Baby Risan sampai dia terbangun dari tidurnya.
"Terus, kalau si bungsu namanya siapa?"
__ADS_1
Ghavi bergeser kedepan Aksan, sang ayah baby twins.
"Namaku Risan, Tante!"
Aksan juga menjawab dengan suara anak kecil.
"Wah, namanya lucu, ya. Yang satu ARIS, yang satu lagi RISAN. Kalau nama baby twins digabung jadi ARISAN. Hahaha ...!"
Ghavi tergelak dengan komentarnya sendiri.
"Iya juga, ya. Haha ...! Nak Ghavi bisa saja," sahut Bi Mirna menyetujui.
Sementara Risa melotot sebal mendengar gurauan sahabatnya itu.
"Enak saja anakku dikatain arisan," sungut Risa kesal.
"Nggak apa-apa, Sayang! Toh, nyatanya anak-anak kita ini adalah hasil dari arisan kita," hibur Aksan nyengir sambil memainkan alisnya.
"Kamu lagi ikut-ikutan Ghavi sama Ibu," sungut Risa jengkel.
Namun raut mukanya merona mendengar ucapan sang suami.
"Loh, nyatanya begitu mau bagaimana lagi?!"
"Ya, tapi ..."
"Hihihi ...!"
Ghavi kembali terkikik.
"Apa kamu malah tertawa," bentaknya pada Ghavi masih dengan melotot.
"Lagian kamu juga, sih, Sayang. Minta anak-anak kita dipakaikan nama dari singkatan nama kita segala," sambungnya manyun menatap sang suami.
"Nggak apa-apa! Biar mereka selalu ingat pada kita sebagai orang tuanya," hibur Aksan lagi.
Didekatinya sang istri dan diletakkannya si bungsu ke pangkuannya untuk disusui.
"Si bungsu lapar kayaknya, dari tadi menangis terus di ruangan bayi."
Risa pun segera menyusui Aris dengan nyengir-nyengir kesakitan. Put*ngnya lecet karena baru pertama kalinya menyusui.
Tak lama Aris menguasai sumber kehidupannya, si sulung Risan juga ikutan menangis.
Jadilah dua bayi kembar tersebut bergelayut nyaman dimasing-masing sumber kehidupan mereka. Aksan membantu memegangi si bungsu, sedangkan Bi Mirna memegangi si sulung agar tidak jatuh sebab Risa belum mahir menggendong keduanya secara bersama.
***
__ADS_1
Kini sudah dua hari Risa pulang ke rumah. Niatnya sore nanti dia akan kembali ke Jakarta karena Pak Rama selaku penanggung jawab restaurant memintanya pulang untuk mengadakan rapat tahunan sekaligus perekrutan beberapa karyawan baru untuk bagian administrasi dan koki.
Siang ini Ghavi sedang bersiap-siap. Dia sedang mengecek beberapa barang pesanan Liana dan keluarganya, terutama Bintang.
Ngomong-ngomong soal Bintang, bocah cerdas itu meminta dibawakan belut hasil tangkapan Ghavi dan Fajar sebagai oleh-olehnya. Ada-ada saja permintaannya.
Namun, berhubung Ghavi ikut sibuk menemui tamu-tamu yang kebanyakan adalah tetangga yang ingin menengok anak kembarnya Risa, sementara Fajar sibuk sekolah yang terkadang daring, terkadang sekolah tatap muka tapi bergelombang sehingga dia harus menyesuaikan jadwal gelombangnya.
Dengan terpaksa Ghavi membeli belut yang sudah dibuat keripik yang banyak dijual sebagai salah satu ciri khas oleh-oleh dari kota pelajar itu.
"Sudah kamu beli semuanya pesanan Liana?"
Aksan yang baru membantu menggantikan popok si kembar menghampiri Ghavi di ruang tengah.
"Eh, Mas Aksan. Ini sedang aku cek lagi," ujar Ghavi sambil mencentang satu demi satu catatannya setelah mengecek barang lebih dulu.
"Keripik belut, sudah. Bapia dan geplak, sudah. Terus ... kaos jog*r, sudah. Hmm ..., apalagi, ya yang belum?"
Ghavi menggigit ujung pulpennya sambil mengingat-ingat pesanan yang belum terbeli.
"Gudeg?"
Aksan bertanya.
"Gudeg, sudah, kok tadi sudah dimasukin ke kotak makanan sama Bibi."
" Oh, iya aku ingat! Pesanan Pak Yoyon belum," celetuknya setelah beberapa saat berpikir.
"Apa?!"
"Pak Yoyon minta dibelikan kain lurik sama blangkon. Katanya teman Pak Yoyon nitip dibelikan. Berhubung kemarin pulang buru-buru, makanya beliau lupa. Semalam Pak Yoyon telpon minta tolong dicarikan," terang Ghavi.
"Oh, ya sudah kita cari sekarang mumpung masih siang dan waktunya masih banyak," timpal Aksan.
"Ok! Aku siap-siap dulu, ya."
Ghavi lantas menuju kamarnya untuk mengambil tas berisi dompet dan meraih ponsel dimeja nakas.
"Bi, tolong pamitkan ke Risa, ya! Mas Aksannya aku pinjam dulu buat temani cari kain lurik pesanan Pak Yoyon," ujarnya saat bertemu dengan Bi Marni di ruang tamu.
"Ya! Nanti biar Bibi sampaikan."
Bi Marni mengangguk. Wanita paruh baya itu menuju ruang tamu tempat Risa menidurkan si kembar.
Sepulangnya dari rumah sakit Risa meminta pada Aksan agar diijinkan pulang kerumah ibunya sampai Ghavi kembali ke Jakarta.
Soalnya ibunya tidak bisa membiarkan Ghavi tinggal sendiri dirumah, takut ada apa-apa, katanya.
__ADS_1
Sedangkan Fajar dan Shifa akhir-akhir ini lebih memilih tinggal dirumah lamanya dengan alasan lebih dekat dengan tempat bimbelnya dan ingin lebih fokus belajar. Apalagi, sejak pandemi sekolah mereka dilakukan secara daring dan hanya beberapa kali tatap muka. Itupun dibuat secara bergelombang.