
Tepat jam delapan pagi Handy datang menjemput Ghavi untuk menghadiri kegiatan rutin para donatur untuk menyambangi anak-anak panti.
Hanya saja acara kali ini sedikit berbeda. Sebab, acara diadakan diluar, yaitu di lapangan tempat anak-anak bermain dan berolahraga.
Lapangan dihias sedemikian rupa karena kebetulan ada salah satu anak panti yang tengah berulang tahun. Sengaja diadakan kegiatan lumayan ramai untuk menghibur anak itu.
" Kau sudah siap?" Handy bertanya saat dilihatnya Ghavi keluar dari dalam rumah dengan dandanan yang rapi.
Rambut sebahunya dijepit kesamping dengan jepitan rambut bergambar bunga.
Dress terusan selutut tanpa lengan warna putih dengan bordir bunga mawar merah muda menutupi bagian dada hingga menampilkan kesan elegan. Ditambah lagi flatshoes yang dipakai senada dengan tas slempangnya.
Terus terang saja, Handy sempat terpana menatapnya.
" Mm, sudah. Ayo!" jawab Ghavi seraya melangkah keluar rumah.
" Pak Yoyon, aku pergi dulu, ya. Mau ke panti asuhan. Nanti tolong sampaikan pada Ibu," pamitnya pada Pak Yoyon yang sedang mencuci mobil sport miliknya.
Rencananya mobil itu akan dia gunakan untuk menemui Liana, setelah acara panti selesai.
" Baik, Non! Hati-hati!" jawabnya mengangguk.
Senyum ramah juga ia sunggingkan lagi pada Handy yang sebelumnya sudah menyapanya.
" Berapa lama Bapak akan tinggal disini?!" tanya Ghavi begitu mereka sudah dimobil Handy.
Handy yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang itu menoleh.
" Mungkin sampai besok sore. Kenapa?"
" Tidak apa-apa. Hanya bertanya saja," jawabnya lirih.
" Kau ingin kesuatu tempat?!" tanya Handy seolah tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
" Mm, sebenarnya aku ingin bertemu Liana dan mengunjungi makam kakek juga ayah dan ibu," ujar Ghavi sedikit ragu.
" Kita bisa menunda kepulangan kita kalau kau mau."
" Eh, tidak usah! Bapak pasti sibuk. Pulanglah dulu, aku bisa pulang sendiri naik bus."
Ghavi menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.
" Naik bus?! Kenapa harus naik bus, kenapa bukan pesawat saja?!" tanya Handy heran.
" Em, itu, sebenarnya ... aku pernah trauma dengan pesawat," ujarnya lirih.
Gadis itupun menceritakan bagaimana dirinya bisa trauma naik pesawat.
Waktu itu, usia Ghavi baru sepuluh tahun. Ghavi ikut ayah ibunya mengunjungi Eyang Sosro kakung yang sedang sakit.
Mereka melakukan perjalanan menggunakan pesawat.
Namun, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin sehingga membuat pesawat mengalami gangguan penerbangan dan terpaksa melakukan pendaratan paksa.
Meskipun tidak ada korban jiwa, namun kejadian itu meninggalkan trauma bagi para penumpangnya, termasuk Ghavi.
" Oh!"
Handy mengangguk paham. Pantas kemarin gadis itu protes kenapa tidak naik bus atau kereta saja. Dan saat duduk dipesawat juga kelihatan tegang dan pucat.
" Kenapa kemarin tidak cerita padaku kalau kamu trauma dengan pesawat?!"
" Aku, bukankah Bapak harus menghadiri rapat semalam?!"
" Iya juga, sih," ujarnya.
" Maaf, kalau begitu."
" Tidak apa-apa!"
Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai panti. Mereka pun turun dan disambut oleh semua pengurus panti, termasuk anak-anak yang dekat dengan Handy.
Ghavi jadi melihat sisi lain seorang Handy. Ternyata, dibalik sikap dinginnya itu tersimpan kasih sayang yang tulus pada anak-anak.
Terlihat dari caranya dia memperlakukan anak-anak yang berebut menyambutnya, dengan cara membelai dan memeluk mereka satu per satu. Bahkan ada yang meminta digendong juga.
" Sudah, sudah! Kasihan Omnya kalau kalian berebut begitu," cegah Bu Nita sembari mengajak mereka kembali duduk dikursi yangsudah tertata rapi.
" Vi, sini!"
Handy menarik tangan gadis itu yang terlihat ragu untuk membaur dengan anak-anak. Padahal, dulu sewaktu kakeknya masih ada, dia juga sering melakukan hal itu dengan anak-anak.
Namun, melihat betapa gembiranya mereka melihat kedatangan Handy, Ghavi pun urung ikut berbaur.
" Eh, aku,"
__ADS_1
" Kak Ghavi, sini! Kakak tidak kangen sama kami?! Sudah hampir enam bulan kakak tidak pernah datang lagi, loh. Apa kakak sudah bosan dengan kami, sudah tidak sayang lagi pada kami?!" celetuk salah satu anak laki-laki sekitar tiga belas tahun yang bernama Haris.
" Eh, kakak memang tidak kangen sama kalian, kok," jawab Ghavi pura-pura cuek.
Anak yang bernama Haris itu cemberut dan Ghavi langsung tertawa melihatnya.
" Kakak tidak kangen sama kalian. Tapi, kakak kangeeeeenn banget. Sini gantian peluk kakak. Memangnya cuma Omnya saja yang mau dipeluk," seloroh Ghavi sembari merentangkan tangannya memeluk Haris yang masih cemberut.
" Ah, kakak jahat!" ujar Haris merajuk.
Ghavi pun mengacak-acak rambut Haris yang langsung menepisnya dengan tangan kiri sebab tangan kanannya memeluk pinggang Ghavi.
" Hahaha ...! Kamu, tuh paling gede disini, tapi yang paling manja," Ghavi mencubit hidung Haris gemas.
" Ya, sudah, duduk sana! acaranya sudah mau mulai, tuh."
Ghavi mengajak Haris duduk disebelahnya dideretan bangku anak-anak.
Handy memberi isyarat pada Ghavi untuk duduk disebelahnya, namun gadis itu menolak sambil menunjuk anak-anak.
Akhirnya, acara pun dimulai dengan sambutan-sambutan dari para pengurus dan donatur.
" Nah, memasuki acara inti yaitu, penyerahan donasi dari para donatur pada pengurus panti, diwakili oleh beliau Bapak Todi sebagai donatur, dan Ibu Nita selaku bendahara panti. Kepada beliau kami persilakan," seorang petugas pembantu panti selaku pembawa acara mempersilakan orang yang dimaksud untuk naik ke podium.
Kedua orang itupun maju dan melakukan serah terima yang disambut tepukan tangan.
" Sekarang memasuki acara yang paling inti, yaitu perayaan ulang tahun yang ke tujuh tahun untuk ananda Rindu. Kepada gadis cantik yang sedang merayakan hari jadinya, saya mohon maju kedepan."
Semua mata tertuju pada gadis kecil yang berada dikursi roda disisi kanan panggung. Walau wajahnya terlihat pucat, namun gadis kecil itu tampak cantik dengan balutan gaun pesta warna merah muda dengan topi merah menutupi rambutnya yang hampir habis akibat kemoterapi.
Ya. Gadis kecil bernama Rindu itu mengalami penyakit leukimia sejak dua tahun terakhir. Dia ditelantarkan ibunya yang pergi entah kemana. Sementara ayahnya sendiri sudah meninggal akibat kecelakaan kerja.
Pertama kali dia datang kepanti, dia diajak oleh salah satu anak yang kebetulan menemukannya dalam keadaan mimisan.
Karena kasihan, anak yang sedang berjalan dari pulang sekolahnya itu mengajaknya pulang bersamanya kepanti.
Sejak itulah, Rindu tinggal dipanti dan diobati hingga sekarang. Dokter yang menanganinya menyarankan untuk mencarikannya donor sumsum tulang belakang untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun, sampai sekarang belum dapat.
Untuk pencegahan memperlambat bertambah parah penyakitnya, Rindu harus melakukan kemoterapi tiap bulan. Dan itu sudah berlangsung sekitar dua tahun yang menjadikan rambutnya rontok.
Rindu kini sudah berada dibalik meja kue gambar frozen kesukaannya. Dia tampak berbisik pada mc sambil tangannya menunjuk kearah Handy dan Ghavi bergantian, entah apa yang dibicarakannya.
" Ehm," sang mc berdehem sebentar.
Ghavi memandang Handy meminta pendapat dan langsung ditanggapi laki-laki itu dengan anggukan.
Handy pun berdiri menjemput Ghavi dan menuntunnya naik ke panggung.
" Nah, Rindu, sekarang orang yang kamu minta ada didepan kamu. Ada yang ingin disampaikan?!" tanya pembawa acara.
Rindu mengangguk lemah lalu menatap Ghavi dan Handy bergantian.
" Terima kasih karena ijin Bapak, saya bisa merayakan ulang tahun ini dihadiri banyak orang," ucapnya memandang Handy yang langsung mengangguk.
" Terima kasih juga kakak sudah mengirimiku banyak boneka. aku sukaaa sekali."
Kini pandangannya beralih menatap Ghavi. Ada binar kebahagiaan dimanik mata redupnya.
" Iya, sayang! Kakak juga senang kalau kamu suka."
Ghavi jadi ingat, sebelum dirinya pergi ke Jogja, dia sempat mengirim boneka-bonekanya kepanti untuk dibagikan pada anak-anak. Selain untuk menyemangati mereka supaya tidak sedih saat dia pamit, dia juga merasa sudah tidak muda lagi, sudah tidak pantas mengoleksi boneka.
Ghavi berjongkok didepan kursi roda Rindu dan menggenggam tangan kurusnya.
" Kalau kamu mau, nanti hadiah ulang tahun kamu kakak belikan boneka frozen kesukaan kamu, mau?!"
Rindu terdiam tampak berpikir. Tidak lama kemudian dia menggeleng.
" Kenapa? Atau mau dibelikan mainan yang lainnya?! Biar Om nanti yang carikan," Handy ikut menawari.
Laki-laki itu bergeser, berdiri sedikit membungkuk dibelakang Ghavi dengan berpegang dikedua bahunya untuk tumpuan.
Lagi-lagi Rindu menggeleng sebagai jawaban.
" Rindu mau apa, katakan!" perintah Handy agar mau mengungkapkan keinginannya.
Rindu menatap Handy dan bertanya ragu.
" Benar, Om mau mengabulkan permintaanku?!"
Handy mengangguk.
" Kakak juga?!"
Ghavi ikutan mengangguk.
__ADS_1
" Aku, sebenarnya aku ...," jawab Rindu menunduk. Bahunya mulai turun naik.
" Hei, kenapa menangis, ayo katakan! Kakak akan mengabulkan permintaanmu, selagi kakak mampu," ucap Ghavi meyakinkan.
" Aku mau punya orang tua yang lengkap," ujar Rindu lirih.
Ghavi tersentak. Dia menyesal telah berjanji. Jika dia tahu hal itu yang Rindu minta, dia tidak akan berjanji. Bagaimana caranya mengabulkan hal yang mustahil?!
" Rindu, untuk hal itu sepertinya ...," Ghavi tercekat.
Dia sendiri bingung mau berkata apa.
" Rindu mau Om dan Kakak jadi orang tuaku. Sehariiii saja, ya," sambarnya cepat.
Kali ini dengan tatapan penuh harap. Digenggamnya tangan Ghavi erat. Rindu juga menarik sebelah tangan Handy dan manangkupkannya ditangan Ghavi dan kembali menggenggamnya erat.
Handy yang ditarik tangannya tiba-tiba itupun kaget. Dia kehilangan keseimbangan karena berdiri sedikit membungkuk. Akibatnya, dirinya jatuh terjongkok dibelakang Ghavi dengan dadanya menempel punggung gadis didepannya.
" Hah?! O-orang tua?!"
Kali ini bukan hanya Ghavi yang tersentak. Tapi juga Handy, serta semua orang yang menyaksikannya pun ikut terkaget mendengar permintaan gadis kecil itu.
" Maaf!" ucap Rindu kembali menunduk karena menangis.
Air matanya jatuh dipipi dan meluncur digenggaman tangan Ghavi dan Handy.
" Kenapa harus kami?" Ghavi ingin tahu alasan gadis kecil itu.
" Karena aku tidak punya orangtua. Aku ingin ulang tahunku kali ini dirayakan bersama orangtuaku. Kalian orang baik, kaya dan pastinya bisa memenuhi semua keinginanku membeli mainan. Kalian juga tampan dan cantik. Aku ingin pergi jalan-jalan bersama, menggandeng tangan ayah dan ibu seperti anak-anak lain. Aku ingin ...,"
" Rindu!"
Ghavi langsung memeluk erat gadis kecil itu. Bukan hanya air mata Rindu saja yang menetes, tapi air matanya juga tumpah tak terbendung lagi.
Entah kenapa, Ghavi merasa harus menerima permintaan gadis kecil dipelukannya itu atau dia akan menyesal.
Disusutnya air matanya, lalu kemudian air mata Rindu. Dihembuskannya nepasnya yang terasa berat.
Ghavi pun menoleh kebelakang menatap Handy yang berada dekat dengannya mencari jawaban untuk Rindu. Dadanya sedikit berdesir.
Rona merah seketika muncul diwajah yang mulai mulus bebas jerawat saat disadarinya tangan halus Handy menyusut air mata yang tersisa dipipi dan disudut matanya.
Jarak antara keduanya pun cukup dekat. Hanya sekitar tiga puluh sentimeter saja. Ghavi memberikan tatapan sayunya agar Handy mau mengabulkan permintaan Rindu.
"Baik! Kami akan mengabulkan keinginanmu, Sayang," putus Handy akhirnya.
Ditatapnya Ghavi dan mengangguk seakan tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
" Tidak apa-apa, kan?! Sekalian latihan mengasuh anak sebelum kita memilikinya sendiri?!" bisik Handy menggoda.
Pipi Ghavi kembali merona. Bisa-bisanya dia berkata begitu.
Dan, ya.
Entah kenapa, sejak kepulangannya dari Dataran Tinggi Dieng beberapa waktu lalu, sikap Handy sedikit berbeda.
Sedikit lebih lembut dan suka menggoda, dalam artian lebih bersahabat jika dibandingkan saat awal bertemu.
" Benarkah, Om, kalian mau jadi orangtuaku?!" tanya Rindu takut-takut.
" Hemm, ya!" jawab Handy tegas.
Seulas senyum hangat muncul dibibir merahnya yang tidak tersentuh rokok.
" Kakak?!" Rindu berpaling pada Ghavi ingin memastikan.
" Oh, eh, i-iya, boleh!" jawabnya terbata.
Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Handy tadi sehingga tidak fokus pada pertanyaan Rindu barusan.
" Boleh aku memeluk kalian?!"
" Ya!" jawab Ghavi dan Handy bareng.
Mereka pun berpelukan layaknya satu keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak.
Senyum bahagia terkembang dibibir mungil pucat itu membuat semua yang hadir jadi terharu menyaksikannya.
" Ok! Berhubung Rindu sudah mendapatkan orang tua barunya, mari kita tiup lilin dan potong kuenya."
Pembawa acara mencoba memecah keheningan yang sempat tercipta dan hanyut dalam kesedihan.
Akhirnya acara hari itu diakhiri dengan terkabulnya keinginan seorang gadis kecil yang kemungkinan hidupnya hanya tinggal empat puluh persen itu, ditutup dengan tiup lilin dan pemotongan kue.
Ghavi dan Handy kembali turun dari panggung, dengan Handy menggendong Rindu ditangan kanannya, sementara tangan kiri menuntun Ghavi. Benar-benar terlihat seperti keluarga bahagia.
__ADS_1