Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Hari minggu pun tiba.


Ghavi yang sudah menghubungi Liana untuk datang ke rumahnya untuk acara rujakan.


"Semuanya sudah disiapkan, Bu?"


Suara Ghavi mengagetkan Bu Yoyon yang sedang mencuci buah-buahan bakal rujak di wastafel dapur.


"Ckk!! Kamu ini, sukanya ngagetin Ibu terus!" decak Bu Yoyon.


"Hehe ...! Maaf, Bu! Bukan niatku mengagetkanmu, tapi Ibunya saja yang suka kagetan."


Ghavi memeluk pundak Bu Yoyon dari belakang.


"Bagaimana tidak kaget, lha, wong kamu tiba-tiba bersuara di belakang Ibu."


"Hihihi ...!!"


Ghavi terkikik melihat ekspresi wajah wanita paruh baya itu yang dibuat melotot.


"Ish, kamu, tuh! Belum dicuci itu bengkoangnya. Main comot dan gigit saja," dumal Bu Yoyon.


"Ah! Tanggung sudah ketelen. Tidak apa-apa, vitamin, Bu!"


"Vitamin J, ya, Vi!" celetuk Risa yang tiba-tiba datang sambil menggendong salah satu bayi kembarnya.


"Apaan, tuh, vitamin J? Emang ada?!" tanya Bu Yoyon penasaran.


"Khusus untuk Ghavi ada, Bu! Vitamin J-orok namanya. Haha ...!"


"Hahaha ...!"


Bu Yoyon ikut terbahak membuat Ghavi langsung manyun.


"Ngomong-ngomong, kamu kasih kabar ke Lili jam berapa suruh kesininya, Vi?"


Risa mengganti topik.


"Aku suruh datang jam sebelasan. Kira-kira bisa makan siang bareng kita lagi disini."


"Oh!"


Risa hanya ber oh saja sembari mengangguk.


"Bu, ini buahnya langsung dibawa ke belakang atau nanti saja?!"


Ghavi menunjuk keranjang buah yang berisi beraneka buah-buahan yang baru selesai dicuci Bu Yoyon tadi.


Bu Yoyon kini sedang menyiapkan cobek dan ulekan untuk dibawanya ke kebun belakang.


"Bawa saja sekalian. Tataki pakai baskom plastik biar air saringannya tidak menetes ke lantai," perintahnya.


"Ok!"


Ghavi pun menyusul langkah Bu Yoyon ke kebun belakang diikuti Risa yang membantu membawa piring berisi bahan-bahan membuat sambal rujak dengan tangan satunya yang bebas.


Tampak disana sudah ada Pak Yoyon dan Pak Agung yang sedang menggelar tikar ditanah dekat empang yang sengaja ditanami rumput jepang.


Tempatnya pun teduh karena berada tepat dibawah pohon serry yang batangnya mengembang seperti payung sehingga dapat menghalangi sinar matahari langsung.


Sebenarnya dipinggir empang terdapat bangunan gazebo juga seperti yang di sudut depan rumah.


Hanya saja gazebo yang di kebun belakang jauh lebih kecil dan lebih rendah. Hanya ada satu anak tangga untuk naik kesana.


Namun, berhubung ada baby twin, maka gazebo akan dipakai menidurkan bayi kembar Risa.


Lagipula tempat itu tidak akan muat untuk lebih dari lima orang.


"Sudah jam dua belas lewat lima, kenapa Lili belum sampai juga, ya?!" gumam Ghavi sambil melihat jam diponselnya.


"Mungkin sebentar lagi!" sahut Risa.


Baru saja Risa menyahut, terdengar suara gaduh dari dalam rumah.


"Hallo, semuanya!! Sorry, telat! Ini, nih, si Gembul rempong banget ingin ikut! Terpaksa, deh bawa gpasukan sekompi!"

__ADS_1


Lili muncul dari pintu dapur dengan menggendong si Gembul alias Bulan, adik Bintang yang baru berusia satu tahun lebih.


"Memangnya Kak Ane ikut?!"


"Ikut, dooongg!!"


Kak Ane muncul juga dari arah pintu dapur yang menghubungkan kebun belakang dan rumah.


Dibelakangnya lagi ada Lian yang menuntun Bintang.


"Hai!" sapa Lian.


"Maaf, ya, jadi tambah ngerepotin kamu. Tahu sendiri, kan, kalau si Gembul pergi, si Induk Semang juga mesti ngikut," selorohnya sambil melirik sang istri.


"Ya, ya, paham, kok!" ujar Ghavi manggut-manggut.


"Tapi sekarang sudah jam makan siang. Bagaimana kalau sekarang kita makan siang saja dulu?!" tutur Risa.


"Ayolah! Tadi aku bawa lauk rendang sama gulai ikan patin buatan mama mertua, katanya buat calon menantu gagal. Hehe ...!"


Ane terkekeh mengingat kata-kata mama mertuanya tadi.


Ane memang sudah tahu kalau dulu Lian, suaminya, pernah menyukai Ghavi. Sayangnya, mereka tidak berjodoh dan juga saat itu Lian masih belum menjadi muallaf. Baru sesaat sebelum menikahi Ane, yang juga seorang muallaf, Lian memutuskan pindah keyakinan.


Keputusannya didukung penuh oleh orangtuanya, selama putranya memegang teguh keputusannya dan tidak mempermainkan keyakinan.


"Hihi ...! Mama memang top pokoknya. Tahu saja calon mantu gagalnya suka gulai ikan patin," kikik Ghavi.


"Eh, kita makan disini saja! Kayaknya seru, lho makan dialam terbuka," seru Liana memberi ide.


"He-em! Kita makan disini saja kalau begitu," angguk Risa setuju.


"Baiklah!"


Ghavi mengambil keputusan.


"Aku panggil Mas Aksan dulu, ya!" pamit Risa.


"Yuk! Aku juga mau bantu Bu Yoyon nyiapin makanannya."


Akhirnya para perempuan membantu menyiapkan makanan dan membawanya ke kebun belakang.


Sementara itu, para lelaki ikut membantu menggelar tikar tambahan mengingat tambahnya orang yang datang.


Sekitar lima belas menit kemudian semuanya sudah duduk bersila mengelilingi makanan dan minuman.


"Nah, sebelum makan, kita berdoa dulu sesuai kepercayaan kita masing-masing. Berdoa, mulai!"


Pak Yoyon memimpin doa.


"Berdoa, selesai!"


"Mari makaaann!!" seru Ghavi merentangkan kedua tangannya.


Semua orang yang hadir saat itupun segera mengambil makanan sesuai porsi masing-masing.


"Maaf, apa kedatangan kami mengganggu?!"


Sebuah suara mengalihkan semuanya dari makanan didepan mereka untuk mengetahui siapa gerangan yang datang.


Ghavi yang lebih dulu menyadari orang itu langsung berdiri dan berteriak:


"Mas Fikaaarrr!!!" pekiknya senang.


Tidak mengira jika Fikar akan berkunjung ke rumahnya tepat disaat keluarga dan sahabatnya berkumpul.


"Sini, sini, duduk! Ikut kami makan siang!"


Ghavi menarik tangan Zulfikar agar duduk tepat disebelahnya dan Pak Yoyon.


"Kok, tahu kita dikebun belakang, sih?!"


Ghavi penasaran.


"Aku tahu dari mereka!"

__ADS_1


Fikar menunjuk orang yang sedang duduk dikursi roda sambil memangku seorang anak kecil yang didorong oleh pengasuhnya.


"Maaf, apa aku juga mengganggu?! Sunny terus memaksa main kemari karena katanya tadi ditelpon Bintang," ujar Handy yang ternyata juga sudah berada di kebun belakang melalui setapak samping rumah.


"Mas Harry?!!"


"Om Rudi!!"


"Tante!!"


Ghavi berteriak girang.


Gadis itu pun kembali bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah Handy berada.


Handy merasa heran. Kenapa Ghavi malah menyebut nama orangtua dan adiknya?!


"Harry?!! Om dan Tante?!"


Ghavi mengangguk mantap.


"Kami kesini cuma bertiga, kok! Mana ada Bapak dan Ibu juga Har ..."


Belum selesai Handy bicara, sebuah suara menghentikannya.


"Apa kami mengganggu acara kalian?!"


Handy pun menoleh ke belakang tubuhnya.


Dilihatnya Bapak, Ibu dan juga adiknya yang tersenyum menyambut pelukan Ghavi yang ternyata tadi melewatinya untuk menyambut kedatangan keluarganya.


"Tidak sama sekali, Tante!"


Ghavi menyalami ketiganya bergantian.


"Wah, bakal tambah ramai, nih!" celetuk Risa yang ikut berdiri menyambut orangtua Handy dan Harry.


"Apa kabar Om, Tante!" sapanya.


"Baik!" jawab Tante Rudi.


"Mari, silakan, Pak, Bu!"


Pak Yoyon dan juga Bu yoyon menyambut ramah kedatangan mereka.


"Ada acara apa ini ramai-ramai?!" tanya Harry yang sudah berjalan mendekati Liana yang duduk disebelah kakak iparnya.


"Ini, Ghavi lagi pengin bikin acara ngerujak bareng, mumpung Risa sedang berkunjung. Kebetulan pas jamnya makan siang, jadi kita makan siang dulu."


Liana menjelaskan.


Sedangkan Harry hanya manggut-manggut sambil menyalami semua orang yang ada.


"Mari, Om, Tante!" ajak Ghavi.


Pak Agung yang tadi berlari ke dalam rumah pun sudah kembali dengan membawa satu tukar lagi.


Jadilah hari itu Ghavi kedatangan banyak tamu tak diundang namun membuatnya senang.


***


Hai, hai, hai!!!


Hallo, para reader semuanya, maafken aku yang baru bisa up lagi, ya.


Beberapa hari kemarin hp nya error. Dicharging bukannya makin isi malah makin kosong daya batrainya. Ternyata batrainya minta dilem biru alias lempar beli yang baru.


Jadilah baru sekarang bisa up, meski harus sesuaikan sikon.


Sudah masuk musim penghujan, mulai terdengar merconnya yang bikin alam semesta, jadi suka takut buka hp kalau petir dan bledeknya menggelegar.


So, im so sorry for that!


Semoga kedepannya tidak. ada halangan lagi. Terima kasih yang sudah dan masih setia tungguin coretan aku. Thanks juga yang sudah kasih like and coment, yang gak bisa aku sebutin satu-satu.


Sehat selalu untuk kita semua. Aamiin!!

__ADS_1


__ADS_2