Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
kejutan satu


__ADS_3

"Kalian?!"


Ghavi terpaku ditempatnya berdiri. Didepannya kini berdiri Liana dan Lian, kakak laki-lakinya serta seorang wanita berwajah oriental seperti kakak beradik Lian dan Liana, namun wanita itu berrambut jagung. Perpaduan yang aneh, menurutnya.


"Kamu tidak mau mempersilakan tamunya masuk?!"


Pertanyaan Lian menyadarkan Ghavi dari keterkejutannya.


"Eh, oh, iya! Silakan masuk!" ucap Ghavi terbata.


Gadis itu mundur sambil melebarkan pintu, membiarkan tamunya untuk masuk.


"Ghaviii!!" pekik Liana sembari menghambur kepelukan sahabatnya itu.


"Kangeeeen!" rengeknya manja.


"Aku juga! Ngomong-ngomong, darimana kalian tahu alamat ini?!"


Ghavi penasaran, darimana mereka tahu alamat rimah Eyangnya di Jogja?!


"Hehe ...!" cengir Liana.


"Sebenarnya dua hari yang lalu tanpa sengaja aku bertemu Mas Handy di panti. Kamu ingat, kan dua hari yang lalu menyuruhku mewakilimu mengantar makanan dari restaurant kesana karena hari itu merupakan acara tujuh hari Rindu meninggal?!" Liana mengingatkan.


"Nah! Secara kebetulan ada Mas Handy disana. Terus, aku tanya-tanya soal keadaan kamu. Lalu dia cerita tentang kondisi Eyang Sosro. Aku jadi kepikiran kalau Kak Lian mau bulan madu ke Jogja, jadi aku meminta alamat rumahmu padanya," terang Liana.


"Owh!"


Ghavi manggut-manggut.


"Eh, tunggu sebentar! Barusan kau bilang kalau Kak Lian mau bulan madu ke Jogja?! Memangnya, kapan Kak Lian menikah?!" tanyanya kaget.


Pandangannya dialihkan pada Lian yang sedang duduk diam bersebelahan dengan perempuan yang menurut Ghavi lucu itu. Bagaimana tidak?! Dengan wajahnya yang oriental khas orang Asia Timur, tapi rambut pirang seperti rambut jagung milik orang Eropa.


"Hehe ...!"


Lian menyeringai.


"Seminggu yang lalu!" jawabnya tanpa rasa bersalah.


"What?? Seminggu yang lalu dan kalian merahasiakan ini dariku?!" delik Ghavi pada Lian dan Liana bergantian.


"Justru itu kejutannya yang ingin kami beritahukan padamu, Vi!" timpal Liana.


"Jadi, wanita yang di sebelah Kak Lian ini ...,"


"Ya!" sambar Lian cepat.


"Kenalkan! Ini Diane Lee. Ayahnya Inggris dan ibunya seperti kami, warga keturunan Tionghoa. Dan, Sayang, ini Ghavi, teman Liana semasa masih dibangku kelas menengah."

__ADS_1


Lian memperkenalkan Diane Lee, istrinya.


" Diane Lee! Tapi lebih suka dipanggil Ane saja," ujarnya mengulurkan tangan pada Ghavi yang duduk didepannya terhalang meja.


"Ghavi! Senang berkenalan denganmu, Kak Ane," sambut Ghavi tersenyum.


"Sekarang kalian berhutang penjelasan padaku," ujar Ghavi pada kakak beradik marga Chen itu.


"Penjelasan apa?!" tanya keduanya kompak.


"Tentang Kak Ane!"


Ghavi menunjuk Ane dengan raut wajah penasaran.


"Hehe ...! Kalau soal itu, biar yang punya istri saja yang menjelaskan," jawab Liana menyeringai.


"Kak Lian, kau juga mau berkilah seperti adikmu?!"


"Sabar, Sayang! Biar aku jelaskan!"


Lian mengacungkan lima jarinya sebagai tanda agar Ghavi sabar menunggu penjelasan.


"Ck! Bahkan kau sudah ada istdi, masih juga panggil sayang," decih Ghavi merasa tak enak pada Ane.


"Hahaha ...!"


"Tenang saja, Vi! Aku tidak akan marah, kok! Aku sudah banyak mendengar cerita tentangmu," celetuknya.


"Jadi begini, Vi! Kan Ane itu teman curhat Kak Lian. Dia selalu menceritakan semua tentang perasaan Kak Lian padamu itu pada Kak Ane. Berhubung kau mengabaikan kakakku, akhirnya dia menyerah dan justru memilih menikahi teman curhatnya. Ck! Bahkan menjawab seperti itu pun Kak Lian tidak punya nyali. Cih!" jelas Liana mencibir.


"Bagaimana Kakak mau jelaskan kalau kamu saja sudah mendahului," dumal Lian manyun.


"Sabar, Sayang!" bujuk Ane mengelus lengannya.


"Kalian memang tidak punya urat malu. Membicarakan orang yang disukai tepat didepan istrinya langsung," tembak Ghavi tersipu malu.


Gadis itu merasa tidak enak pada Ane.


"No, no!" Ane berkomentar.


"Justru aku berterima kasih padamu, Vi! Gara-gara kamu menolak Lian, justru kini aku mendapatkan cinta dari klienku sendiri. Hahaha ...!" gelak Ane yang memang berprofesi sebagai psikolog dan motivator.


Ya! Setelah sering mendapat penolakan dari Ghavi, Lian memang berubah jadi pendiam dan merasa tertekan karena cintanya ditolak.


Diam-diam dia berkonsultasi pada Ane, temannya sewaktu kuliah dulu. Mereka beda jurusan waktu itu, sebab, Lian mengambil jurusan perbankkan.


Karena seringnya dia curhat, lama-lama Lian justru merasa nyaman dan tenang jika sudah mengeluarkan segala unek-uneknya itu pada Ane.


Sementara Ane sendiri yang diam-diam menaruh hati pada Lian sejak masih dibangku kuliah itu merasa senang, meskipun mereka dekat hanya sebagai seorang sahabat dan klien.

__ADS_1


Namun, tanpa mereka sadari keduanya justru saling membutuhkan satu sama lain sehingga timbul rasa suka dan benih-benih cinta. Satu tahun saling dekat dan saling support, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


"Syukurlah kalau Kak Lian bisa move on. Aku senang jika kalian bahagia. Maaf sudah mengecewakanmu, Kak Lian," ujar Ghavi menunduk.


"Tidak usah dibahas lagi. Yang terpenting kita tidak merasa canggung lagi seperti kemarin-kemarin," tukas Lian.


"Oh, ya, aku belum mencucapkan selamat padamu soal perjodohanmu. Selamat, ya! Semoga kelak kita bahagia dengan pasangan kita masing-masing!"


Lian memeluk erat pundak Ane dan membawanya kepelukannya sebagai bukti Lian sudah move on dan menerimanya dengan ikhlas. Diane pun tersenyum malu mendapat perlakuan manis suaminya dihadapan orang lain.


"Terima kasih!" ucap Ghavi.


"Ehm, Vi, ngomong-ngomong, begini caramu menyambut tamu jauh?! Keterlaluan sekali" gerutu Liana pura-pura marah.


"Kenapa?!" tanya Ghavi bingung.


"Tega sekali kau tidak menyuguhkan kami minum, boro-boro kudapan," dengusnya kesal.


"Kerongkonganku kering, nih, minta dialiri es jeruk. Kalau tidak ada, es teh boleh, lah. Hihihi ...," sindirnya cekikikan.


"Oh, ya ampuuun! Aku sampai lupa saking asyiknya ngobrol tadi. Kalian, sih, benar-benar bikin aku surprise. Sorry!" ucap Ghavi sembari menepuk jidatnya sendiri.


" Ok, tunggu sebentar! Aku ...,"


Belum sempat Ghavi berucap, Bi Mirna keluar membawa nampan berisi empat gelas es jeruk dan beberapa jajanan khas dari Negeri Diatas Awan yang dibawanya tiga hari lalu.


"Silakan minumnya, Mbak-Mbak, Mas," tawar Bi Mirna.


"Wah! Terima kasih, Bi! Bahkan Bibi lebih pengertian dari Nona rumah, ya, Bi. Hahaha ...!"


"Sama-sama, Mbak. Monggo dilanjut lagi ngobrolnya," ujar Bi Mirna.


"Terima kasih, Bi! Oh, ya. Apa Eyang sudah minum obat?!" tanya Ghavi.


"Sudah, Non! Sekarang sedang nonton televisi ikan terbang," jawab Bi Mirna sebelum undur diri.


"Oh, ya! Kudengar dari Mas Handy eyangmu sakit?? Memangnya sakit apa?!" tanya Liana baru ingat.


"Tekanan darah tinggi."


"Oh! Boleh kami menjenguk?! Sudah sampai sini masa tidak jenguk," sahut Lian.


"Tentu boleh. Ayo! Mumpung Eyang belum istirahat," ajak Ghavi pada tamunya.


Rombongan Liana pun menemui eyangnya yang berada dikamar sedang menonton televisi.


Setelah berbasa-basi dan mengobrol dengan eyang Ghavi, Liana, Lian dan Ane pun pamit pulang. Tapi sebelum mereka pergi, Ghavi janji akan mengajak mereka berkeliling Jogja sebagai hadiah pernikahan Lian dan Ane karena terlambat mengetahuinya.


Mereka pun mengakhiri kunjungan itu dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2