Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Berkunjung ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Semalam kau pulang jam berapa, Vi? Bagaimana kondisi disana?!" tanya Risa membuka suara.


Saat ini semua penghuni rumah, kecuali babt twin yang masih tidur di kamar tamu, sedang berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi.


"Kami pulang jam sebelas!" jawab Ghavi.


"Kondisinya lumayan parah. Bahkan atapnya sampai ambruk dan habis terbakar. Tapi, untungnya petugas Damkar datang tepat waktu sehingga api tidak sampai merembet ke bangunan utama tempat anak-anak berada."


"Oh, Syukurlah! Maaf, semalam aku tidak bisa ikut," timpal Aksan.


"Tidak apa-apa, Mas! Semua sudah teratasi."


"Terus, bagaimana dengan hasil penyelidikan polisi? Apa penyebab terjadinya ledakan?!"


Kali ini Pak Agung yang bertanya.


"Untuk sementara ini diambil kesimpulan murni kecelakaan, mengingat belum ditemukannya kejanggalan. Mereka masih harus menginterogasi juru masak setelah dia sadar dan stabil," sahut Pak Yoyon.


Ghavi mengangguk membenarkan.


"Memangnya separah apa luka si juru masak?!" Risa penasaran.


"Lukanya sekitar enam puluh persen dan semalam akhirnya diputuskan untuk menjalani operasi," jawab Ghavi.


"Wajah dan tangannya yang paling parah."


"Oh! Kasihan sekali! Semoga orang itu diberi kesabaran dan cepat sembuh."


"Aamiin!"


Semua orang mengaminkan ucapan Risa.


"Oh, ya, Pak! Nanti sore sepulang dari restaurant, kita ke rumah sakit, ya! Aku ingin tahu kondisi orang itu."


Ghavi sadar, jika Panti Asuhan Cahaya kini sudah berpindah tangan menjadi milik Handy.


Namun, Ghavi tetap merasa ikut bertanggung jawab pada kelangsungan dan kesejahteraan warga panti mengingat pesan almarhum kakeknya yang menginginkan dirinya terus terjun membantu anak-anak.


Apalagi, Panti Asuhan Cahaya adalah rintisan sang kakek, meski sekarang sudah berganti kepemilikan.


"Ya, Vi!"


Pak Yoyon mengangguk.


"Memangnya hari ini kau bekerja?!" tanya Risa.


"Iya, kenapa?!"


Ghavi mengernyit.


"Kami jauh-jauh datang kesini, tapi kau malah pergi bekerja. Huh!" dumal Risa.


"Haha ...!"


Ghavi tertawa mendengar Risa mendumal.


"Sayangku, Sahabatku, Saudaraku yang makin mbem! Hari ini aku sudah ada janji dengan suplier. Seharusnya pertemuan diadakan kemarin. Berhubung kemarin mereka ada halangan, jadi diundur hari ini. Makanya kalian disini lebih lama lagi biar kita puas bertemu."


Ghavi menjelaskan alasannya hari ini datang ke restaurant.


" Atau, kalian mau ikut main ke restaurant?!" tawarnya.


"Sudah, Sayang! Jangan cemberut begitu! Nanti kita nyusul saja ke restaurant, sekalian makan siang!" hibur Aksan pada sang istri.


Dia paham betul betapa rindunya sang istri pada putri dan cucu dari almarhum majikan mertuanya itu.


"Hm, baiklah!"


***

__ADS_1


Sesuai rencana tadi pagi, Ghavi bermaksud mengunjungi juru masak panti yang selalu dipanggil Mang Usin itu.


"Pak, di depan sana ada toko buah. Kita mampir sebentar, ya!" pinta Ghavi yang duduk di samping Pak Yoyon yang sedang mengemudi.


"Baik!"


Pak Yoyon pun mengangguk.


Ditepikannya mobil yang dikendaraonya di pinggir jalan depan kios buah.


Kios itu hanya sebuah bangunan semi permanen. Tapi, semua jenis buah yang dijualnya masih segar-segar. Sebab, penjual itu hanya menyediakan buah lokal saja yang didatangkan dari kampung.


Ghavi turun, sementara Pak Yoyon tetap menunggunya dimobil.


"Pak, berapa ribuan ini pepaya sama mangganya?!" tanya Ghavi pada penjual laki-laki seumuran Pak Yoyon.


"Murah-murah, Neng! Pepayanya satu buah cuma sembilan ribuan. Mangga arum manisnya dua puluh ribu dan ini jeruknya sekilo lima belas ribu."


Pak Ta menunjuk buah-buahan yang masih segar tersebut.


Seperti baru dipetik beberapa hari lalu. Tampak dari bekas pangkal buah yang masih baru dan basah.


"Neng mau beli yang mana?!" tanya Pak Tua itu ramah.


"Emm, bungkuskan masing-masing dua kilo, ya, Pak!"


"Baik, Neng! Pisangnya tidak dibeli, Neng?!"


"Tidak, Pak! Itu saja tiga macam, terima kasih!"


Ghavi menerima kantong kresek berisi buah-buahan yang dibelinya.


"Ada lagi yang mau dibeli?!"


"Emm, ini bengkoangnya seikat berapa?!"


Ghavi menunjuk bengkoang yang masih sangat segar.


"Itu seikatnya dua belas ribu, Neng!"


"Ok! Saya beli dua ikat! Itu mangga muda, Pak?!"


"Iya, Neng! Mau juga?!"


"Iya, Pak, sekilo! Sama ini nanas batunya sekalian, dua saja!"


Akhirnya Ghavi memborong buah-buahan lokal tersebut.


"Ini kembaliannya, Neng!"


Pak Tua menyodorkan uang kembalian empat puluh ribu.


"Kembaliannya buat Bapak saja!"


"Tapi, Neng!" ujar Pak Ta ragu.


"Tidak apa-apa, Pak! Ambil saja!"


"Terima kasih banyak, Neng! Semoga rejekinya dilancarkan, ya, Neng!"


"Aamiin!!"


Ghavi pun kembali ke mobil dengan menenteng tiga buah kantong kresek besar.


"Banyak sekali ini, Vi!" ujar Pak Yoyon yang membantu menyimpankan kantong-kantong itu dijok belakang.


"Hehe ...! Iya, Pak! Niatnya cuma beli tiga macam saja, tapi lihat bengkoang dan mangga muda juga nanas batu, jadi kepikiran beli9 buat bahan rujak, Pak! Kebetulan besok hari Minggu. Lili, kan libur. Dan aku berrencana bikin rujak bareng-bareng besok. Mumpung Risa masih disini," terang Ghavi.


"Oh!"

__ADS_1


Pak Yoyon mengangguk.


Lima belas menit kemudian, mobil yang ditumpangi mereka sampai dihalaman parkir sebuah rumah sakit.


"Ini yang mau dibawa masuk apa saja, Vi?!"


"Itu box makanan sama mangga dan jeruknya saja, Pak! Yang itu, ya, yang sudah aku pisahin tadi."


Pak Yoyon pun mengambil kantong kresek yang dimaksud, beserta dua box makanan yang dimasak khusus untuk Mang Usin.


"Selamat sore!" sapa Ghavi saat membuka ruang rawat inap juru masak itu.


Sebelumnya, tadi siang dia sudah mendapat kabar dari Pak Danar bahwa Mang Usin sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Selamat sore!"


Seorang wanita paruh baya seumuran Bu Yoyon berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Ghavi dan Pak Yoyon.


"Maaf, dengan siapa, ya?" tanya wanita itu sembari menyalami Ghavi.


"Saya Ghavi, Bu! Salah satu donatur di Panti tempat Bapak kerja.


"Saya turut prihatin atas kecelakaan yang menimpa Bapak, Bu!"


"Dan, ini siapa?"


Istri Mang Usin menatap orang dibelakang Ghavi.


"Oh, iya, ini Pak Yoyon, keluarga saya!"


Ghavi menunjuk Pak Yoyon.


Pak Yoyon hanya mengangguk karena tangannya sedang menenteng boks makanan dan kantong buah.


"Oh, ya Pak, itu taruh saja di meja sana!"


Ghavi menyuruh Pak Yoyon meletakkan bawaannya dimeja nakas samping ranjang.


"Bu, itu ada ikan gabus bumbu kuning dan telur bebek rebus untuk Bapak dan Ibu sekalian! Terutama untuk Bapaknya. Kata orang, ikan gabus dan putih telur bebek bagus untuk orang yang habis operasi, karena tinggi kandungan albumin yang dapat mempercepat penyembuhan dan pengeringan luka," ujar Ghavi.


"Terima kasih banyak, Neng! Maaf, jadi merepotkan!" jawab istri Mang Usin.


"Tapi, maaf Bapak baru saja tidur, tidak tega kalau harus dibangunkan sekarang. Semalaman tidak bisa tidur. Merintih terus. Panas perih, katanya!"


"Iya, tidak apa-apa, Bu! Biarkan Bapak istirahat. Kami juga tidak lama, kok! Kami harus segera pulang karena masih ada urusan!"


Setelah berbasa-basi dan ngobrol sebentar, Ghavi dan Pak Yoyon akhirnya pamit pulang.


"Bu, ini ada sedikit rejeki untuk Ibu! Semoga Bapak cepat sembuh!"


Ghavi menyerahkan amplop coklat ketangan istri sang juru masak.


"Ini banyak sekali, Non!" tolak istri Mang Usin.


Dikembalikannya amplop yang cukup tebal pada Ghavi.


"Tidak apa-apa, Bu! Ambil saja!"


Ghavi meletakkan amplop dekat boks makanan yang tadi mereka bawa karena wanita itu tetap menolaknya.


"Buat beli kebutuhan Bapak selama dirumah sakit!"


"Tapi, Pak Handy sudah menanggung semua biayanya, Non!"


"Tidak apa-apa, Bu, ambil saja! Jangan menolak rejeki. Insya Alloh putri saya ikhlas, kok!" timpat Pak Yoyon yang sedari tadi hanya menyimak obrolan keduanya."


"Baiklah, terima kasih banyak!"


Akhirnya dengan berat hati wanita itu menerimanya.

__ADS_1


"Kalau begitu kami permisi dulu, Bu! Jika ada kesempatan dilain hari, kami akan mampir lagi."


Ghavi dan Pak Yoyon pun undur diri.


__ADS_2