
Ghavi pulang diantar Handy sampai kedepan pintu rumahnya.
" Terima kasih, Bapak sudah mengantarku pulang," ujar Ghavi.
" Hm, jangan panggil aku dengan sebutan bapak lagi karena aku bukan bapakmu," perintah Handy.
" Terus aku harus panggil apa?"
" Kau, kan bisa memanggilku 'mas', sama seperti saat kau memanggilku jika sedang bersama keluarga kita," dengus Handy kesal.
Entahlah. Akhir-akhir ini dia suka kesal sendiri kalau gadis mungil didepannya itu memanggilnya bapak, padahal pada yang lain memanggilnya nama atau memakai panggilan mas.
Mungkinkah dia sudah mulai jatuh cinta pada gadis remaja itu?!
" Tapi aku sudah terbiasa memanggilmu bapak," protes Ghavi.
" Makanya mulai sekarang harus dibiasakan lagi. Atau ..."
Handy menatap lekat Ghavi yang cemberut. Dicondongkannya wajahnya dan berbisik ditelinga gadis itu,
" Panggil aku 'Papa'. Sepertinya tadi siang kau begitu menghayati peranmu saat memanggilku papa."
" Eh, i-itu, kan karena aku sedang berusaha memenuhi permintaan Rindu," elak Ghavi.
Gadis menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kembali merona mengingat kejadian tadi siang.
" Lagipula, apakah kau juga mau aku menjadi anakmu, sama seperti Rindu?!" lanjutnya.
" Maksudmu?!"
Handy menautkan alis tidak mengerti.
" Ya, karena barusan kau menyuruhku memanggilmu papa."
" Oh!" Handy tersenyum miring.
" Tentu tidak. Karena aku juga akan memanggilmu mama. Sama seperti tadi siang. Bukankah kita terlihat sangat serasi, saling memanggil papa-mama dikelilingi anak-anak kita?!"
" Mimpimu ketinggian, Boss!" rutuk Ghavi menutupi semburat merah yang lagi-lagi memerah.
" Cieee, yang pipinya merah. Kenapa, tuh?!" ledek Handy menoel pipi gadis didepannya itu.
Entahlah. Didepan orang lain dia bisa bersikap biasa saja, bahkan terkesan dingin dan datar, namun didepan Ghavi dia bisa bersikap cair dan apa adanya. Dia juga bisa lepas mengekspresikan senyum dan tawa serta candaannya.
" Ya, sudah, masuklah. Aku pulang, ya," pamit Handy akhirnya.
" Tidak mampir dulu?" Ghavi berbasa-basi.
__ADS_1
" Tidak! Aku masih ada sesuatu pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum kembali ke Jogja," terangnya.
" Baiklah, hati-hati."
" Um!" Handy mengangguk.
" Oh, ya, apa besok kau jadi mengunjungi orang tua dan kakakmu?!" tanyanya ingin tahu.
" Jadi, kenapa?"
" Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Sepertinya besok aku akan sibuk dengan pekerjaanku."
" Tidak apa-apa. Besok aku bisa meminta Pak Yoyon mengantarku."
" Oh, syukurlah. Ya, sudah aku pulang sekarang," pamit Handy akhirnya memutus percakapan.
Mungkin itu percakapan terpanjang selama dia mengenal Ghavi. Biasanya tidak pernah banyak bicara. Tapi percakapan kali ini mengalir begitu saja.
" Hati-hati!"
Ghavi melambaikan tangan sampai mobil yang membawa Handy hilang dari pandangan. Ghavi lantas masuk kerumah untuk segera mandi. Badannya sudah terasa gerah dan lengket
setelah seharian pergi menemani Rindu.
***
" Ghaviiii!" teriak seseorang yang baru masuk kekamarnya.
" Lianaaa!" Ghavi ikut berteriak menyebut nama temannya.
Ya. Liana, teman satu-satunya yang dimilikinya di Jakarta ini. Mereka berteman sudah sejak dibangku SMP.
" Kupikir kamu tidak jadi datang," ujarnya mengurai pelukan rindu sahabat mereka.
" Jadi, dong. Aku, kan sudah janji padamu. Oh, ya. Mama dan Kak Lian menitip salam untukmu."
Liana ikut merebahkan tubuhnya dikasur Ghavi. Rasanya sudah lama gadis itu tidak tidur menginap semenjak Ghavi memutuskan tinggal di Jogja.
" Bagaimana kuliahmu disana, apa menyenangkan?! Ck! 'Sepertinya, iya. Kau sudah jarang sekali menghubungiku kalau tidak aku duluan yang menghubungimu," decak Liana sedikit kesal karena Ghavi jarang memberinya kabar akhir-akhir ini.
" Hehe ...! Maaf, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk. Aku baru-baru ini menemui orang tua Handy. Dan Eyang Sosro juga sakit," terangnya lalu menceritakan semua yang dilakukannya selama di Jogja pada Liana agar dia tidak terus penasaran dan bertanya.
Dia juga menceritakan apa yang dialami dan dilakukannya seharian ini.
" Wow! Sudah sejauh itu perkembangan kalian?! Cepat sekali. Tapi aku senang, itu artinya dia mau menerima perjodohan itu dan kamu bisa memenuhi semua keinginan mendiang ayahmu dan Kakek Herman."
Liana memeluk Ghavi senang.
__ADS_1
" Tapi, ada yang harus kecewa dengan perjodohanmu, Vi," ujarnya sedikit menyesal.
'Kenapa harus ada perjodohan itu?! Jika tidak, pasti Kak Lian tidak akan kecewa mendengarnya, ' batin Liana sedih.
" Maafkan aku!" Ghavi menggenggam tangan Liana.
Dia bukannya tidak peka. Dia tahu kalau Lian, kakak Liana menyukainya sejak dirinya masih duduk di sekolah menengah kelas sebelas.
Lian juga pernah menyatakan isi hatinya dan memintanya sebagai pacarnya.
Namun, Ghavi hanya menganggap Lian sebagai seorang kakak saja. Lagipula, perbedaan keyakinan diantara keduanya pasti akan menimbulkan masalah dikeluarganya.
Kakek Herman mewanti-wanti untuk tidak menjalin hubungan dengan Lian karena banyak hal. Salah satunya adalah perbedaan keyakinan diantara keduanya.
Meskipun Lian mau pindah keyakinan, itu tidak mempengaruhi keteguhan kakeknya.
Dia sendiri pernah dilarang berteman dekat dengan Liana oleh Kakek Herman karena perbedaan keyakinan. Tapi berkat pengertian orang tuanya, akhirnya kakeknya luluh.
Akhirnya mereka bisa berteman hingga sekarang. Tapi beliau tetap keukeuh tidak mengijinkan Ghavi berhubungan khusus dengan Lian.
" Aku mengerti," ucap Liana lirih.
" Tapi, sepertinya tekadnya untuk pindah keyakinan sudah bulat. Dengan atau tanpa dirimu, Kak Lian akan mendalami ajaran agama yang kamu anut. Dia sudah meminta ijin pada papa dan mama," terang Liana.
" Oh, ya?!" Ghavi shock mendengarnya.
Dia benar-benar tidak menyangka Lian akan bertindak sejauh itu. Tapi jujur, gadis itu senang mendengar Lian mau pindah keyakinan tanpa paksaan.
" Syukurlah. Semoga dia bisa memantapkan hatinya. Sebab, aku tidak mau dia menyesal dikemudian hari dan jatuhnya jadi mempermainkan sebuah keyakinan."
" Aku juga berharap begitu," ujar Liana mengangguk.
" Oh, ya. Tadi kamu bilang kalau Handy sudah melamarmu?! Lalu, apa kau akan menerimanya segera, maksudku, apa kau akan segera menikah dengannya?!"
tanya Liana penasaran.
" Mm, aku belum tahu! Aku belum membicarakan hal ini pada Eyang Sosro. Walau bagaimanapun, beliaulah satu-satunya keluargaku saat ini. Aku harus mendapat restunya dulu, meskipun sejauh ini eyang setuju," ujar Ghavi.
" Ya, kamu benar. Kamu harus mendapat restunya dulu. Aku sependapat denganmu," timpal Liana mengangguk setuju.
" Hmm!!" Ghavi menghela napas berat.
" Sudah malam, tidur, yuk! Besok pagi kita jogging di taman komplek seperti biasa kita lakukan dulu. Terus siangnya kita jalan-jalan ke mall dan restaurant langganan kita. Sudah lama kita tidak jalan bareng, kan?!" ajaknya pada Liana.
Ditariknya selimut sampai batas dada. Ghavi pun langsung lelap tak lama kemudian.
Liana yang masih sibuk dengan masker wajahnya hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Temannya yang satu itu memang muka tidur. Asal ada bantal dan kasur saja dia langsung terbuai mimpi.
Setelah selesai dengan ritualnya, Liana ikut membaringkan tubuhnya disamping Ghavi dan ikut terlelap menyambut mentari esok pagi.