Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Tamu Jauh


__ADS_3

Ghavi masih bergelung bed cover dengan nyenyaknya. Padahal, jam diatas meja nakas samping ranjang sudah menunjukkan angka tujuh.


Semalam gadis itu memang tidak bisa tidur akibat memikirkan penuturan Handy yang begitu mengejutkan. Bagaimana tidak?!


Ternyata, dua anak perempuan yang sudah disayanginya selama ini adalah anak kandung Handy, laki-laki yang sudah pernah hadir dalam hidupnya.


Meski kehadirannya karena sebuah perjodohan dari orangtuanya, namun lambat laun Ghavi bisa menerima hubungannya dengan Handy, bahkan dalam hatinya mulai timbul benih-benih cinta untuk laki-laki dewasa yang usianya terpaut sepuluh tahun tersebut.


Tapi yang paling mengejutkannya, ternyata ibu kandung dari mendiang Rindu dan Sunny adalah wanita yang sama. Wanita dari masa lalu Handy yang sudah membuat hubungan pertunangannya dengan laki-laki itu batal.


Apa Ghavi merasa benci setelah mendengar kenyataan tersebut?!


Jika ditanya Ghavi benci atau tidak mendengar kenyataan bahwa Vika adalah ibu kandung dari Rindu dan Sunny, jawabannya adalah YA!


Dia benci jika Vika yang harus mengandung dan melahirkan dua gadis kecil yang manis yang sudah mencuri perhatiannya. Kenapa benci?? Karena Vika sudah menelantarkan anak-anaknya, meskipun karena alasan tertentu.


Tapi, jika ditanya bencikah dia pada Rindu dan Sunny setelah mendengar kenyataan sesungguhnya, jawabannya TIDAK! Sebab, Ghavi sangat menyayangi mereka berdua.


Bahkan dulu, saat Rindu meninggal, Ghavi sempat sakit karena merasa kehilangan sosok Rindu. Gadis kecil malang yang sangat menginginkan kehidupan normal seperti anak-anak pada umumnya.


Saking inginnya mempunyai orangtua lengkap, bocah tujuh tahun itu bahkan memberanikan diri memintanya dan Handy untuk menjadi orangtuanya walau hanya satu hari. Mana tahu jika ternyata Handy adalah ayah kandungnya?! Mengingat hal itu saja membuat dada Ghavi bergemuruh.


Belum lagi dengan kehadiran Sunny dua bulan ini.


Pertemuannya dengan bocah penyuka segala sesuatu yang berbau FROZEN yang ternyata mempunyai kesukaan yang sama dengan mendiang Rindu itu juga membuatnya timbul rasa sayang yang sama besar seperti dia menyayangi Rindu dulu.


Kini, setelah sebuah kebenaran terungkap, entah kenapa Ghavi tidak bisa membenci Sunny. Justru rasa sayang yang ada dihatinya kian bertambah setelah mengetahui jika Sunny adalah adik mendiang Rindu, anak angkat seharinya.


"Non! Bangun, Non! Sudah jam tujuh!"


Bu Yoyon mengguncang tubuh Ghavi agar segera bangun.


"Vi, bangun! Bukankah kau harus pergi ke restaurant?!"


Kini panggilannya tanpa embel-embel Non.

__ADS_1


"Eugh!!"


Ghavi mengerang khas orang bangun tidur.


Direntangkannya kedua tangannya sambil menguletkan tubuhnya.


"Jam berapa ini, Bu?" tanyanya sembari bangun dari ranjang.


"Jam tujuh!" jawab Bu Yoyon.


"Whatt??! Jam tujuh?!"


Mata Ghavi membelalak.


Segera dilihatnya jam beker dimeja nakas. Dan benar, jarumnya sudah menunjukkan angka tujuh lewat sepuluh menit.


"Gawat! Bisa telat aku, Bu!"


Ghavi pun bergegas ke kamar mandi setelah menyambar handuk yang disodorkan Bu Yoyon yang kebetulan baru hendak menyimpannya dikamar Ghavi setelah semalam disetrikanya.


"Jam tiga, Bu!" jawab Ghavi dari balik pintu kamar mandi.


Bu Yoyon yang langsung merapikan tempat tidur Ghavi pun geleng-geleng kepala mendengar jawaban putri majikannya.


"Kebiasaan!"


Dua puluh menit kemudian, Ghavi keluar kamar mandi. Dilihatnya Bu Yoyon sudah pergi dari kamarnya.


Ghavi pun segera bersiap-siap untuk pergi ke restaurant.


Baru selesai menyisir rambut, terdengar suara telpon berdering tanda panggilan masuk dari ponselnya.


Ghavi pun segera mengangkat panggilan setelah membaca siapa gerangan orang yang menelponnya.


"Ya, hallo, Pak Rama! Ada apa memanggil?!" tanyanya to the point.

__ADS_1


" ... "


"Oh, begitu! Hm, baiklah!"


" ... "


"Ok!"


Ghavi pun meletakkan ponselnya dimeja rias begitu panggilan terputus.


"Huh! Untung saja pertemuan dengan Suplier ditunda!" gumamnya lega.


Ghavi tadi memang sedikit tergesa mengingat hari ini adalah jadwal pertemuannya dengan para suplier bahan-bahan makanan yang mengisi restaurantnya. Untunglah Pak Rama baru saja memberitahunya kalau pertemuan ditunda sampai besok siang.


Ting tong!


Ting tong!


Suara bel berbunyi dua kali.


Ghavi yang baru saja turun dari anak tangga hendak menuju ruang makan, akhirnya putar balik menuju ruang tamu guna membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi itu.


Ceklek!


Ghavi tertegun melihat beberapa orang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Entah ada angin apa, tiba-tiba saja tamu jauh sudah berada didepan matanya.


"Kenapa bengong?! Surpriseee ...!!!"


Sebuah suara membuyarkan keterkejutannya.


"BABY ARISAN?!" pekik Ghavi segera menubruk dua batita dalam gendongan si ibu dan ayahnya.


***


Maaf, ya, reader, baru up lagi! Beberapa hari kemarin lumayan sibuk karena ada saudara yang sakit dan harus bantu merawatnya. Jadi, waktu untuk nulis tidak ada. Ini saja disempat-sempatkan. Maaf, upnya cuma sedikit!

__ADS_1


__ADS_2