
" Kau curang. Kenapa tidak membangunkanku?! Seenaknya saja pergi sendiri tidak ajak-ajak," gerutu Ghavi begitu tahu jika Risa dan Aksan baru pergi jalan-jalan ke kawasan kawah telaga warna tanpa dirinya.
" Sorry, Vi, aku tidak tega membangunkanmu. Tadi kau tampak lelap karena kelelahan semalam. Lagipula Mas Aksan dan Mas Harry melarangku."
" Eh, Mas Harry?!"
Ghavi menyipitkan matanya mendengar Risa ikutan memanggil Harry dengan sebutan 'Mas'.
" Hehe ..., Mas Harry sendiri yang menyuruh. Kami jadi terlihat kaku dan formal kalau aku terus memanggilnya Bapak, padahal tidak sedang dikampus, katanya," jelasnya nyengir.
" Oh!"
" Besok kita jadi pulang, kan, Vi?!"
" Jadi, kenapa?"
" Ibu menelponku lagi tadi saat aku jalan-jalan. Katanya Eyang jatuh dari kamar mandi," terang Risa.
" Oh, tidak. Bagaimana keadaannya sekarang?!" tanya Ghavi terlihat begitu khawatir.
Dia baru saja bangun tidur tak lama setelah kepulangan Risa dari jalan-jalannya.
" Kata ibu, dugaan sementara kakinya terkilir dan tidak bisa jalan. Sekarang eyang dirumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan. Kalau kamu sudah baikan, apa tidak sebaiknya kita pulang malam ini saja?!"
" Baiklah. Aku akan minta ijin dulu pada Om Rudi. Semoga saja diijinkan. Pantas saja dari tadi perasaanku tidak enak. Ya, sudah, yuk! Temani aku pamit."
Ghavi mengajak Risa menemui Om Rudi untuk pamit dan menjelaskan kejadian yang dialami eyangnya.
" Tapi kamu sedang sakit. Apa tidak apa-apa melakukan perjalanan jauh?" tanya Tante Rudi yang ikut mendengarkan cerita Ghavi dan Risa.
" Saya sudah baikan, kok, Tante, jadi tidak apa-apa pulang malam ini juga."
" Ya, sudah, Om ijinkan kalian pulang. Tapi Harry harus ikut mengantar kalian pulang, ya," putus Om Rudi akhirnya.
" Tidak usah, Om, takut merepotkan," sergah Ghavi.
" Tidak apa-apa. Sekalian aku juga harus kekampus. Besok kebetulan aku ada jadwal mengajar. Dan kebetulannya lagi mobilku sedang dipakai teman untuk suatu keperluan," sahut Harry yang baru keluar dari dalam kamarnya saat mendengar ayahnya memintanya untuk ikut mengantar Ghavi pulang.
Harry memang sudah tahu keadaan eyang Ghavi karena waktu ibunya Risa menelpon, kebetulan mereka bertiga masih berada dimobil sehabis dari jalan-jalan.
__ADS_1
Akhirnya rombongan Ghavipun pulang setelah makan malam.
Om dan Tante Rudi berjanji akan menjenguk eyang Ghavi kalau urusannya diperkebunan sudah selesai.
Om dan Tante Rudi mengantarkan mereka sampai digerbang rumah tanpa adanya Handy yang ikut mengantar. Laki-laki itu pergi entah kemana sejak siang tadi.
Tidak terasa mobil yang kali ini dikendarai Harry melaju sudah separuh perjalanan. Aksan yang duduk disamping kemudi harus menemani Harry mengobrol agar tidak mengantuk mengingat perjalanan dilakukan malam hari. Apalagi mereka berkendara selepas makan malam. Dengan kondisi perut kenyang dan kondisi malam hari, mengantuk adalah hal yang paling lazim terjadi untuk resiko kecelakaan.
Risa dan Ghavi sudah terlelap dijok tengah. Mereka berdua harus berbagi tempat duduk karena jok belakang penuh dengan barang bawaan mereka dan oleh-oleh khas Dataran Tinggi Dieng yang diberikan oleh Tante Rudi.
Ghavi masih terlelap saat tiba-tiba ponselnya berdering.
Aksan dan Harry yang merasa terganggu pun menoleh kebelakang.
" Vi, ponselmu bunyi, tuh. Angkat dulu, gih, berisik," tukas Aksan dari bangku depan.
" Hm." Ghavi hanya menggumam lalu kembali lelap.
Entah sudah keberapa kalinya ponsel Ghavi berbunyi.
Harry yang mulai terganggu konsentrasi menyetirnya karena suara berisik itupun akhirnya menyuruh Aksan untuk membangunkan Ghavi.
Aksan menggoyang-goyang kaki Ghavi yang kebetulan diselonjorkan kedepan diantara jok kemudi dan jok tempat Aksan duduk saat ini.
" Hm, ada apa, sih berisik sekali," gumam Risa yang merasa tidurnya terganggu dengan suara gaduh.
Sementara yang punya ponsel masih asyik dibuai mimpi.
" Ghaviii, baanguuun!" pekik Risa ditelinga gadis yang duduk tertidur disampingnya itu.
" Eh, oh, yaaa, ada apa?" jawab Ghavi tergagap dari tidurnya begitu mendengar pekikan Risa ditelinganya yang membuatnya terlonjak kaget.
" Huh, tidur apa pingsan, sih. Dibangunin dari tadi juga. Ponselmu bunyi dari tadi, tuh. Telpon penting, kali. Angkat, gih buruan. Berisik!" Risa mendumal.
Ghavi pun segera mencari ponselnya yang ada ditas slempang yang dia sampirkan dikepala jok Aksan duduk.
Dilihatnya siapa yang malam-malam menelponnya. Tak ada nama si penelpon.
Hanya nomor baru tidak dikenal yang memanggil.
__ADS_1
Dengan ragu Ghavi mengangkat panggilan setelah mendapat tatapan tajam dari Risa, isyarat supaya menjawabnya.
" Ha-hallo," sapa Ghavi terbata.
" Kau sedang apa, kutelpon sejak tadi tidak diangkat. Huh!" gerutu sipenelpon ketus.
" Eh, maaf, saya berbicara dengan siapa?" tanya Ghavi berusaha sopan.
" Ini aku, sudah sampai mana?"
" Aku sia ...," Ghavi belum menyelesaikan kalimatnya tapi,
" Handy," sambar suara dari seberang itu cepat.
" Oh, maaf aku tidak tahu nomormu. Darimana kau mendapatkannya?!"
" Tidak penting. Yang penting sekarang kalian sudah sampai mana?"
" Masih di Magelang, hampir masuk ke Klaten," jawab Ghavi sambil matanya celingak-celinguk keluar mobil melihat sudah sampai mana perjalanan mereka.
" Oh! Ya, sudah. Maaf tidak bisa mengantar, banyak kerjaan."
Klik!
" Dasar orang aneh," umpat Ghavi kesal saat telpon buru-buru dimatikan dari seberang.
" Siapa, kenapa?" tanya Harry penasaran.
" Kakakmu, tuh, Mas. Telpon tidak jelas," sahut Ghavi mengerucutkan bibirnya kesal.
" Oh, paling tanya kita sudah sampai mana, iya, kan?!" tebak Harry yang dijawab anggukan dari Ghavi.
" Tidak usah diambil hati. Dia memang begitu, suka bikin orang kesal. Tapi dia sendiri tidak mau dibikin kesal.
" Masih sekitar setengah jam kita sampai dirumah. Lebih baik kamu tidur saja lagi. Lihat, Risa juga sudah kembali tidur ," tunjuk Aksan dengan dagunya.
Risa tidur bersandar pada pintu mobil yang terkunci.
Ghavi pun memutuskan tidur kembali dengan menurunkan sandaran kursinya menjadi setengah berbaring hingga mobil yang dikendarai Harry tiba dipelataran rumah eyang.
__ADS_1
***