
Sesampainya di Jakarta, Ghavi dan Handy langsung menuju ke Panti Asuhan Cahaya menggunakan mobil jemputan yang dikendarai oleh asisten Handy yang sudah datang lebih dulu.
" Sebenarnya ada masalah apa dipanti?!" tanya Ghavi untuk kedua kalinya setelah dipesawat juga menanyakan hal yang sama, tapi tidak ada tanggapan.
" Hm!"
Ghani terlihat menarik napas berat.
" Nanti kamu juga akan tahu sendiri," jawabnya akhirnya.
" Kalau Bapak memang tahu, kenapa mesti nanti?! Timbang jawab saja apa susahnya," cibir Ghavi memanyunkan bibirnya.
Ghavi kembali memanggilnya bapak, karena sedang tidak ada keluarganya atau keluarga Handy.
Ya. Gadis itu masih sungkan jika harus memanggilnya dengan panggilan 'mas' sama seperti pada Harry.
Handy hanya melirik gadis yang duduk disampingnya itu dengan ekor matanya. Dilihatnya bibir manyun itu dan ...
" Aakh!!"
Tiba-tiba Ghavi berteriak mengaduh sambil menyentuh bibirnya yang ditarik Handy.
Aswan, asisten Handy yang sedang menyetir pun melihat apa yang terjadi dibelakangnya lewat kaca spion tengah.
Tampak olehnya Ghavi sedang memegangi bibirnya sambil meringis kesakitan.
" Kenapa ditarik, sih!" gerutu gadis itu memukul lengan Handy dengan tangan satunya.
" Habisnya bibir kamu itu seperti bebek, aku jadi gemas pengin narik," jawab Handy datar.
Oh! Begitu masalahnya, toh, batin Aswan tersenyum mendengar gerutuan dan jawaban bossnya itu.
" Ngapain Pak Aswan senyum-senyum?!" bentaknya melotot.
" Eh, tidak, kok, Non! Tidak ada apa-apa," jawabnya terbata mendapat semprotan dari Ghavi yang sedang kesal.
Aswan pun kembali fokus pada jalanan didepannya, takut ketahuan mencuri dengar lagi.
Setengah jam kemudian mobil sampai dipelataran panti, tempat biasa anak-anak bermain dan berolahraga bersama.
" Selamat malam, Pak, Non!" sapa Pak Danar, kepala panti, yang berdiri disamping Pak Wisnu, menyambut kedatangan Handy dan Ghavi begitu mereka keluar dari mobil. Sementara Aswan mengikutinya dari belakang.
" Malam," jawab Handy datar.
Ghavi hanya membungkuk dan tersenyum menyambut uluran tangan dua orang pria seumuran Om Rudi tersebut.
" Mari, silakan masuk! Semuanya sudah menunggu didalam," ujar Pak Wisnu kali ini angkat bicara.
Ghavi, Handy dan Aswan pun mengikuti Pak Danar dan Pak Wisnu menuju ruang khusus untuk pertemuan para pengurus dan donatur.
" Selamat datang, silakan duduk!" sapa Bu nita yang sedang menemani tamu yang hadir lebih awal untuk berbincang.
Wanita itu menarik kursi untuk Ghavi duduk.
" Terima kasih!" ucap gadis itu tersenyum.
Sementara Handy memilih duduk disamping Ghavi daripada dikursi kepala yang seharusnya didudukinya sebagai pemilik baru panti dan Aswan disampingnya lagi sehingga Handy duduk diantara Ghavi dan Aswan.
" Kenapa tidak duduk disini saja, Pak Han?!" tanya Pak Wisnu yang sudah menarik kursi kepala namun Handy justru duduk dikursi lain.
"Tidak apa-apa! Disana atau disini sama saja," sahutnya tetap datar, bahkan terkesan dingin.
Pak Wisnu dan Pak Danar pun tersenyum mendengarnya.
Berbeda dengan Handy yang cuek dengan orang-orang disekelilingnya, Ghavi justru menatap satu persatu orang yang hadir diruangan itu.
Ada tiga orang baru yang baru pertama kali ini dilihatnya, padahal sejak kakeknya masih hidup dan sering mengajaknya hadir dalam pertemuan pengurus panti, tidak pernah dilihatnya tiga orang itu. Siapa mereka?!
"Wah, jadi ini yang namanya Ghavi, cucu Herman?!" celetuk salah satu dari tiga orang tersebut begitu Ghavi duduk.
" Ternyata hanya seorang gadis ABG labil yang baru bisa membuang ingusnya sendiri," imbuhnya mencemooh.
Ghavi yang mendengar itu diam tak mengerti. Apa maksud ucapan orang itu?
" Kenalkan! Saya adalah Samsul, kakak Herman, kakekmu, dan ini cucu laki-laki saya, Dani dan Deni. Mereka adalah kembar."
Orang yang bernama samsul itu menunjuk dua laki-laki sepantaran Handy yang katanya kembar itu.
Tapi dilihat darimana pun, mereka sangatlah jauh berbeda dari kata kembar.
Orang pasti tidak akan langsung percaya mereka kembar jika tidak menunjukkan akta kelahiran mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah anak yang lahir dari orangtua dan gen yang sama.
" Kembar darimananya?!" gumam Ghavi lirih.
__ADS_1
Meski begitu, Handy masih bisa mendengarnya karena tempat duduk yang bersebelahan. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya membentuk seringaian, meski tidak begitu terlihat.
" Tahu, letak kembarnya dimana?! Kembarnya adalah, mereka sama-sama jelek dipandang," celetuk Handy ditelinga Ghavi.
" Pfft!!"
Ghavi sontak menutup mulutnya dengan tangan kirinya demi menahan tawanya agar tidak pecah keluar.
Jika diperhatikan dengan teliti memang tampilan keduanya sangatlah jauh dari kata modis.
Mungkin keduanya ingin tampil sempurna, tapi pakaian yang full colour ala-ala Elvis Presley itu justru membuatnya terlihat norak.
Sungguh, baru kali ini kalimat Handy terdengar santai dan lucu. Biasanya dia akan bersikap datar dan dingin.
Ternyata manusia es bisa mencair juga, batin Ghavi.
" Tumben Bapak bisa bikin orang tertawa. Biasanya suka bikin orang ketakutan," jawab Ghavi tersenyum, dengan suara ikut berbisik-bisik.
" Tuk!"
Handy memukul kening Ghavi dengan ponselnya. Matanya melotot.
" Aduh!" pekik Ghavi tak mengira ponsel Handy mendarat dikeningnya.
Diusap-usapnya keningnya dengan wajah meringis.
" Ada apa Nona Ghavi?!" tanya salah satu dari anak kembar tapi beda itu.
" Eh, tidak apa-apa!" jawabnya malas.
" Ehm!"
Pak Danar yang duduk disamping kursi kepala bersama Pak Wisnu tampak berdiri dan berdehem untuk memulai acara.
" Mohon perhatiannya sebentar!" ucapnya membuat suara gaduh hening seketika.
" Kalian semua yang berada diruangan ini sekarang tentunya bertanya-tanya, untuk apakah kalian diundang kemari, bukan?!"
" Kalian saya minta datang kemari untuk meresmikan siapa penerus Panti Asuhan Cahaya untuk sekarang dan kedepannya," urai Pak Danar.
" Seperti yang kalian ketahui, Pak Herman sudah meninggal enam bulan yang lalu. Jadi, kita butuh penerus kepemilikan untuk kelangsungan kehidupan panti ini."
Bukankah sudah jelas bahwa kepemilikan panti jatuh ditangan Handy? Bukankah waktu pembacaan surat wasiat sudah diumumkan? Kenapa harus dibahas lagi?!
Hem, kata 'kembar' membuat Ghavi jadi tersenyum mengingat ucapan Handy barusan yang dirasanya lucu.
Eh, tunggu dulu. Tadi pria tua itu bilang, dia adalak kakaknya kakek Herman?! Ghavi berpikir sejenak.
" Hei, kau kenapa?"
Handy mengibaskan tangannya membuyarkan pikiran tadis itu.
" Eh, tidak! Hanya sedang berpikir saja," sahut Ghavi lirih. Takut mengganggu Pak Danar yang sedang berbicara.
" Apa?" Handy menoleh Ghavi yang tengah memandang tiga orang asing didepannya.
" Mm, aku sedang berpikir, kalau mereka itu adalak kakaknya kakekku dan cucu-cucunya, kenapa aku tidak mengenalnya?!" tanya Ghavi berbisik ditelinga Handy, tanpa menunjuk orang-orang didepannya sebab salah satu dari sikembar tengah menatapnya.
" Itulah kenapa kau kuajak ke Jakarta. Nanti kujelaskan. Simpan pertanyaanmu untuk nanti, karena sekarang calon suamimu harus memberikan sambutan," balas Handy dengan suara lantang, bangkit berdiri dibelakang Ghavi sembari memegangi kedua bahunya.
Matanya sengaja membalas tajam tatapan sikembar yang sebenarnya ditujukan pada Ghavi itu kemudian berjalan kearah kursi kosong yang dulu sering diduduki oleh kakek Herman.
Ghavi yang diperlakukan seperti itu lantas menunduk malu mendapat tatapan dari semua orang yang hadir diruangan itu dengan tatapan bertanya.
Semburat merah tiba-tiba muncul dipipi gadis mungil itu. Sialan! Kenapa dengan jantung ini? Kenapa detaknya lebih cepat dari biasanya mendengar Handy mengatakan bahwa dia calon suami dari gadis itu dihadapan semua orang?!
Sialnya lagi, Ghavi merasa Handy yang membuat pernyataan kenapa justru orang-orang meminta konfirmasinya pada dirinya?
" Apa itu benar?!" si kembar Dani yang sedari tadi menatapnya itu bertanya dengan mata melotot.
Ditatapnya Ghavi dengan mata butuh jawaban. Sepertinya semua orang juga menatapnya dengan pertanyaan yang sama.
Handy sendiri dengan santainya duduk dikursi kebesarannya tanpa mau membantu menjawab. Senyum smirk muncul disudut bibirnya.
" Eh, itu, emm, itu ...," jawab Ghavi tergagap.
Ditatapnya Ghavi meminta bantuan. Handy hanya mengendikkan bahunya tak peduli.
" Ehm, itu benar! Pak Han adalah calon suami saya. Semoga Anda semua puas dengan jawaban saya," jawabnya lantang seketika mematahkan tatapan berharap Dani.
Ghavi berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Handy, kemudian duduk ditangan kursi sembari mengalungkan tangannya keleher Handy dengan tatapan licik.
" Bukan begitu, Sayang?!" tanyanya sengaja dibuat mesra.
__ADS_1
Mendapat perlakuan tiba-tiba dari gadis itu, apalagi memanghilnya dengan sebutan 'sayang' membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Sial! Niat mengerjai Ghavi kenapa malah justru berbalik pada dirinya sendiri?!
" Ya!" jawab Handy pendek namun bisa membuat yang lain terbelalak kaget, kecuali Aswan yang sejak awal sudah mengetahuinya.
***
" Jadi seperti yang Pak Danar jelaskan tadi, saya adalah pemilik baru Panti Asuhan Cahaya ini per tujuh bulan lalu. Artinya, saya membeli panti ini satu bulan sebelum Kakek Herman meninggal. Jadi saya minta kerjasama kalian selaku pengurus panti disini," ucap Handy memberi sambutan.
" Tidak mungkin! Adikku tidak mungkin menjualnya. Dia sudah berjanji padaku akan memberikan panti ini padaku. Bahkan cucu-cucuku yang akan meneruskannya."
Orang bernama Pak Samsul itu bersuara dengan keras hingga semua menoleh padanya.
Dengan tenang Handy menjawab:
"Apa Bapak punya bukti serah terima kepemilikan Panti Asuhan Cahaya ini? Jika punya, berarti saya sudah dibohongi sejauh ini. Dan jika itu benar terjadi, aku harus segera meminta pertanggung jawaban pada cucunya."
Handy berpaling dan tersenyum devil menatap Ghavi yang tanpa disadarinya masih duduk ditangan kursi sedang didudukinya saat ini.
" Kakekku bukan seorang pembohong!!" teriak Gavi marah.
Diapun bangkit dari duduknya dan berdiri menjauh. Menatap nanar pada Handy yang secara tidak langsung menuduh kakeknya seorang pembohong.
" Selama sembilan belas tahun ini aku mengenal dekat kakekku. Tidak mungkin beliau membohongi seseorang."
" Oh, ya?! Heehh ... buktinya kakekmu masih saja menjual tanah beserta bangunan panti ini padaku, padahal mereka bilang sebagai ahli warisnya." sahut Handy dengan nada tinggi namun terkesan dingin.
" Pak Samsul, Anda mengaku sebagai ahli waris panti asuhan ini karena mengaku sebagai kakak dari Pak Herman, apa Anda punya bukti?!" Pak Wisnu berusaha menjaga suasana tetap tenang.
Dia tidak ingin pasangan yang baru saling mengakui itu jadi bertengkar, meskipun maksudnya mungkin tidak seperti itu.
" Deni, berikan map itu pada Pak Wisnu! Biarkan mereka membacanya," perintah Pak Samsul pada cucu kembarnya yang sejak tadi terlihat lebih kalem dari yang satunya, meski penampilannya sama-sama menggelikan.
Orang yang bernama Deni lantas menyorongkan map merah pada Pak Wisnu yang langsung menerima dan membacanya.
Pak Wisnu lalu menoleh pada Pak Danar yang duduk disebelahnya dan menunjuk sesuatu didalam berkas yang sedang dibacanya.
Pak Danar yang langsung tanggap itu mengambil map dan beralih menatap Handy dan menggelengkan kepala.
Mendapat gelengan kepala dari Pak Danar, Handy kemudian meminta berkas yang ada pada Aswan dan mencocokkannya dengan berkas milik Pak Samsul tadi.
" Baik! Pak Samsul, Anda yakin Pak Herman memberikan wasiat sesuai tanggal seperti yang ada didalam berkas ini?!" tanya Pak Danar mengangkat berkas milim orang itu yang langsung menanggapinya gusar.
" Apa kalian meragukanku?! Tentu saja itu benar," jawabnya gusar.
" Hem, tidak! Kami tidak meragukan Anda. Justru kami sangat yakin akan kebenaran Anda," timpal Pak Wisnu.
" Tapi,"
" Tapi sayangnya kebenaran yang Anda tunjukkan adalah kebenaran penipuan," sambar Handy cepat.
" Apa maksudmu? Apa kau menuduhku, anak muda?" tanya Pak Samsul melotot marah.
" Tidak! Hanya saja bukti yang kau tunjukkan ini palsu. Didalam surat wasiat yang Anda miliki ini tercantum tanggal tujuh juni. Sementara dalam akta jual beli yang saya punya tertulis tanggal sepuluh mei."
Aswan menunjukkan akta jual beli milik bosnya pada Pak Samsul yang kini melotot kaget. Tubuhnya serasa kaku ditempat.
" Dan bagaimana mungkin Anda mengatakan Pak Herman memberikan wasiat penyerahan tanah panti pada Anda tepat sehari setelah kematian beliau?? Padahal, jelas-jelas tercantum tanggal dalam akta jual beli yang saya lakukan itu jauh sebelum beliau meninggal, atau sekitar sebulan sebelumnya. Bisa Anda jelaskan ini semua?!" tembak Handy menghujam dada Pak Samsul yang diam tak berkutik.
" Jika kedatangan Anda dengan maksud merampas tempat ini Anda salah. Anda tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?!"
Handy menggebrak meja hingga membuat orang-orang terlonjak kaget, terutama tiga orang penipu didepannya.
" Kalian pikir aku tidak tahu siapa kalian? Hanya lintah yang menempel dan menghisap darah yang mematikan tubuh orang yang telah kau ambil darahnya."
Handy menerima amplop coklat dari tangan Aswan dan melemparkannya kemuka Pak Samsul dengan tatapan menusuk.
" Aku tahu kau memang kakaknya Pak Herman. Ya, hanya kakak angkat yang kejam. Selalu memeras beliau mengatasnamakan orang tua angkat yang sudah menjadikan Pak Herman srbagai putranya," tukasnya dengan nada semakin tinggi.
Ternyata apa yang dikatakan Kakek Herman sebulan lalu itu benar. Kakak tirinya akan mengambil alih semua harta miliknya.
Sayangnya, semua harta warisan itu sudah dialihkan atas nama cucunya, Ghavi Putri Umar, cucu satu-satunya itu jauh sebelum beliau sakit.
Hanya tinggal panti asuhan ini saja yang sengaja tidak diatasnamakan Ghavi agar Pak Herman punya alibi untuk memenjarakan kakak angkatnya tersebut.
Namun, sayangnya harapannya tidak akan terwujud mengingat penyakitnya yang semakin parah. Untuk itulah beliau mempercayakan semuanya pada Handy, anak pertama dari sahabat anaknya yang memang sudah dijodohkan sejak lama itu.
Akhirnya Pak Samsul tak berkutik. Dia mengakui perbuatannya karena merasa iri jika adik angkatnya bernasib baik daripada dirinya.
Polisi pun datang membekuk ketiganya dan membawa mereka kekantor polisi setelah diam-diam Bu Nita melaporkan dan memanggilnya.
***
__ADS_1