
"Maaf!" kata Handy.
Mereka dalam perjalanan pulang setelah tadi membahas tentang kegiatan-kegiatan panti. Tentunya rapat dilanjutkan setelah ketiga penipu itu dibekuk polisi.
" Untuk?!"
Ghavi masih sedikit tersinggung dengan ucapan Handy tadi yang mengatainya.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang kerumah peninggalan kakek Herman.
" Soal yang tadi," lanjut Handy,
" Aku hanya memerankan peranku saja supaya Pak Samsul mau mengakui perbuatannya. Maaf jika harus menyakiti perasaanmu. Tapi ...,"
Handy menepikan mobilnya dipinggir jalan yang sepi. Jalur kearah rumah kakek Herman masuk kedalam komplek perumahan yang cukup elit, sehingga tidak boleh ada kendaraan umum yang lalu lalang sembarangan.
Ghavi masih menunggu kalimat menggantung Handy sambil memainkan ujung gantungan tas slempangnya.
" Soal aku mengatakan aku calon suamimu, itu juga benar. Aku setuju dengan perjodohan kita. Mari kita menikah!"
" Apaaa??!" tanya Ghavi kaget.
Dia tidak mengira akan mendengar kalimat terakhir Handy. Apa itu artinya sebuah lamaran?!
" Tidak perlu teriak seperti itu, bisa, kan?!" dengus Handy memegangi telinga kirinya yang pengang akibat teriakan Ghavi.
" Eh, itu,"
" Kita sudah sampai!" potong Handy cepat.
Handy kembali mejalankan mobilnya yang ternyata hanya tinggal beberapa meter dari rumah dan memarkirkannya dihalaman tanpa pagar teralis itu.
__ADS_1
Ghavi masih duduk diam dimobil. Kata-kata Handy barusan membuatnya bingung.
Kemarin dulu dia sendiri yang memutuskan akan terus melanjutkan perjodohan sesuai amanah ayah dan kakeknya, jika Handy menerima. Sekarang, setelah Handy setuju dengan mengajaknya menikah, kenapa hatinya menjadi bimbang?!
" Mau sampai kapan kau terus melamun disitu?!" Handy membuyarkan pikirannya.
" Eh, iya."
Ghavi pun lantas turun dari mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Handy saat gadis itu melamun.
" Terima kasih!"
" Masuklah!"
" Tidak mampir dulu?" tawar Ghavi didepan pintu masuk yang sudah dibuka Bu Yoyon yang sekarang berdiri disampingnya.
" Tidak! Besok pagi saja aku datang jemput," tolak Handy.
Handy memutar tubuhnya dan melangkah masuk kemobil lalu melajukannya meninggalkan kediaman kakek Herman.
" Bu Yoyon!" pekik Ghavi memeluk pembantu kakeknya itu senang.
" Kangeeenn," rengek Ghavi manja.
" Iya, Non! Ibu juga kangen banget sama Non Ghavi. Ayo masuk!"
Bu Yoyon menggandeng tangan cucu majikannya itu masuk rumah.
" Non betah di Jogja?!" tanya Bu Yoyon kini duduk ditepi ranjang membelai kepala Ghavi yang tidur dipangkuannya.
" Kalau boleh jujur, sih aku lebih betah disini, Bu. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menemani Eyang Sosro disana. Dan juga ...," Ghavi menggantung kalimatnya.
__ADS_1
" Ada apa, Non?" Bu Yoyon melihat raut sedih cucu majikannya.
" Bu, apa keputusanku sudah benar?! Memenuhi keinginan terakhir ayah dan juga kakek?"
" Menurut Ibu, keputusan Non untuk memenuhi wasiat itu sudah benar. Jalani saja dulu. Jika ditengah jalan tidak ada kecocokan dan membuat kalian harus berpisah, toh Non sudah berusaha untuk melaksanakan amanah itu," nasehat Bu Yoyon terus membelai pucuk kepala gadis itu seolah pada anak gadisnya sendiri.
" Iya, Bu. Sebenarnya tadi dia juga mengajakku menikah," ujar Ghavi lantas bercerita tentang kejadian waktu dipanti dan saat dimobil.
Bu Yoyon yang mendengarnya tersenyum simpul.
" Nah, apalagi kalau dia sudah setuju. Kenapa masih bimbang? Mantapkan hati Non. Biarkan rasa cinta dan sayang mengalir dengan sendirinya."
Bu Yoyon menanggapi cerita Ghavi.
" Dulu Ibu dan Bapak juga dijodohkan sama almarhum Tuan Herman. Kami dulu sama-sama canggung. Namun, seiring berjalannya waktu kami bisa menjalaninya sampai sekarang," cerita Bu Yoyon.
" Bahkan Ibu pernah menyuruh Bapak menikah lagi untuk meneruskan generasinya karena Ibu dinyatakan tidak punya anak, oleh Dokter. Tapi Bapak menolak. Bapak bilang, meski kami menikah karena perjodohan, tapi dia ingin menjaga ikatan suci diantara kami hingga maut memisahkan. Dan Ibu terharu mendengarnya," tutup cerita Bu Yoyon sambil menyeka air matanya karena terharu.
Ghavi pun bangkit dari rebahannya dan memeluk orang yang sudah dia anggap seperti ibu keduanya itu.
" Maaf, Bu! Ibu jadi menangis," ujar Ghavi mengeratkan pelukannya.
" Sudah, Non! Ibu tidak apa-apa. Sudah larut, tidurlah! Jam berapa besok Den Handy menjemput?!"
" Jam delapan!"
" Kalau begitu istirahatlah! Ibu akan membangunkanmu besok," tukas Bu Yoyon menyelimuti Ghavi dan keluar kamar setelah mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur.
" Terima kasih!" ucap Ghavi.
Karena terlalu asyik mengobrol, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ghavi pun langsung terlelap tak lama setelah Bu Yoyon pergi dari kamarnya.
__ADS_1