
Ghavi berada di playground salah satu mall yang cukup terkenal di ibu kota. Dia tengah menemani Rindu bermain, setelah lelah berjalan mengelilingi mall seperti keinginan bocah itu.
Gadis kecil itu tengah bermain pasir-pasiran. Sebenarnya Rindu ingin main komidi putar, tapi Handy melarangnya. Alasannya cukup masuk akal, dia tidak ingin Rindu pusing mengingat fisik gadis itu yang cukup lemah. Bergerak sedikit saja akan capai.
Handy sendiri sedang sibuk menerima telpon dari Aswan, asistennya.
" Ma, aku lapar!" celetuk Rindu yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.
Dirinya asyik membalas chat dari Liana. Rencananya, nanti malam Liana akan menginap dirumah, mumpung Ghavi sedang di Jakarta.
" Eh, iya, Sayang."
Ghavi merentangkan tangan untuk memeluk Rindu dan menyuruh tubuh kurus itu duduk dipangkuannya.
"Kita tunggu Papa dulu, ya, Sayang. Papa sedang terima telpon, sebentar lagi selesai, kok," bujuk Ghavi yang ditanggapi anggukan Rindu.
Mama? Papa? Ya! Rindu meminta jalan-jalan ke mall bersama Ghavi dan Handy. Ditengah perjalanan, gadis kecil itu meminta memanggil mereka dengan panggilan mama dan papa.
Awalnya kedua orang dewasa itu terkejut mendengar permintaan Rindu yang dirasanya berlebihan itu.
Tapi, mereka sudah berjanji untuk menjadi orang tuanya hari itu, bukan?! Wajar jika Rindu meminta panggilan itu pada keduanya.
Meskipun terdengar lucu ditelinga Ghavi. Sebab, usia dirinya dan Rindu hanya terpaut sebelas tahun, sangat terdengar lucu jika harus dipanggil mama.
Berbeda dengan Handy yang sudah berumur tiga puluh tahun. Dia sudah pantas jadi seorang ayah dan dipanggil papa.
" Itu, Papa sudah selesai telponnya," tunjuk Ghavi pada Handy yang tengah berjalan kearahnya.
" Ada apa ini, kenapa anak Papa terlihat sedih?! Sudah bosan main pasirnya?!"
Handy menghampiri kedua gadis beda usia yang tengah duduk dibangku tunggu itu dengan kening berkerut.
__ADS_1
" Rindu lapar, Pa. Dia ingin makan ayam krispi yang ada kentang gorengnya. Tapi tidak dibolehin," jawab gadis kecil itu lirih.
" Hemm, siapa yang tidak membolehkan anak Papa makan ayam goreng, hemm, sini biar Papa cium," ujar Handy tersenyum.
Ghavi langsung melotot, merasa dia yang sudah melarangnya tadi.
Rindu melirik Ghavi yang sedang menggeleng pada Handy bermaksud melarang menuruti permintaannya.
" Jadi Mama yang melarang anak Papa makan ayam krispi dan kentang goreng, hm?!"
Handy berjongkok didepan Ghavi agar bisa sejajar dengan Rindu.
Gadis itu mengangguk takut-takut.
" Hemm, tapi yang dikatakan Mama benar, Sayang. Kamu tidak boleh makan junk food. Kamu sedang sakit, jadi tidak boleh sembarang makanan kamu bisa makan. " jelas Handy pelan-pelan.
" Tapi Papa tahu tempat makan yang enak dan sehat tentunya. Kamu bisa makan ayam dan kentang juga. Bedanya kalau yang ini tidak digoreng, melainkan dikukus. Jadi aman untukmu. Tapi rasanya tetap enak, kok. Mau?!"
Handy mencoba membujuk.
" Baiklah! Aku akan jadi anak baik, asalkan kalian mau terus jadi orangtuaku, bukan hanya hari ini, tapi selamanya," rajuknya.
" Hemm. Anak pintar!" puji Ghavi menepuk kedua bahu gadis dalam pangkuannya itu tersenyum.
" Sekarang, kita pergi makan ketempat yang ditunjuk Papa tadi, ok?!"
Kali ini Rindu mengangguk.
Handy pun bangkit dari jongkoknya dan mengambil Rindu dari pangkuan Ghavi lalu menggendongnya dipunggung.
Mereka pun pergi dari tempat bermain menuju restaurant yang dimaksud.
__ADS_1
Selesai makan, Handy mengajak keduanya kembali berkeliling, berbelanja oleh-oleh untuk Rindu dan anak-anak yang lainnya.
" Apa kau puas, Sayang?!" tanya Ghavi setelah mereka berhasil memborong banyak oleh-oleh.
Jangan lupakan boneka elsa dengan rambut panjangnya, yang ukurannya sama besar dengan tubuh Rindu sampai-sampai kesulitan membawanya sebab, Handy sendiri menggendong Rindu.
" He-em, aku puas! Terima kasih!"
Rindu mencium pipi Handy dan Ghavi bergantian. Bahagia sekali tampaknya gadis itu.
" Sekarang kita pulang atau ...," kali ini Handy yang bersuara.
" Pulang. Aku lelah," sahut Rindu cepat.
" Sesuai perintahmu, Nona!" kelakar Handy.
Laki-laki itupun membawa Rindu keparkiran mobil dengan Ghavi mengikuti dari belakang.
Ghavi tampak kesulitan membawa barang belanjaan sehingga jalannya terseok-seok seperti orang mabuk. Rindu dan Handy yang sudah sampai lebih dulu dimobil hanya tertawa tanpa bermaksud menolongnya.
Tepat pukul lima sore, mereka tiba dipanti dan menyuruh Rindu untuk istirahat, sekalian pamitan.
" Papa dan Mama, terima kasih sudah menjadi orang tuaku hari ini. Terima kasih untuk semuanya," Rindu memeluk Ghavi dan Handy bergantian.
" Sama-sama, Sayang!" ucap mereka kompak.
" Nah, hari ini kami harus pulang. Kami tidak janji akan setiap hari kesini, tapi akan kami usahakan untuk sering kesini."
Handy memberikan alasan kesibukannya dan juga Ghavi. Rindu mengangguk paham.
Setelah berpamitan dengan anak-anak yang lain dan juga pengurus panti, keduanya pun akhirnya pulang.
__ADS_1
Diantar dengan raut wajah cerah anak-anak yang sudah tidak sabar ingin membuka oleh-oleh yang dibawa saat jalan-jalan dengan Rindu tadi.
Sementara Rindu sendiri langsung pergi untuk istirahat karena badannya yang lumayan penat. Tidak sampai sepuluh menit, Rindu terlelap. Bahkan, kali ini merupakan tidur paling lelapnya setelah dua tahun terakhir.