
"Hujaaan!!" teriak Pak Yoyon.
Laki-laki setengah abad itu langsung menginstruksikan semua orang masuk kedalam rumah dengan segera.
Tanpa diperintah dua kali, kumpulan orang-orang yang ada dikebun belakang langsung membubarkan diri sambil membawa barang-barang yang ada diatas tikar tempat mereka duduk.
"Mas Aksan, sudah jangan urusin begituan! Itu anaknya saja dibawa masuk, cepat! Risa sudah membawa salah satunya," teriak Bu Yoyon berlari kearahnya.
"Ini biar Ibu saja yang bereskan!" sambungnya.
Akhirnya, Aksan pun meninggalkan barang-barang lalu berlari ke gazebo mengangkat baby Aris dan membopongnya masuk rumah.
Lian sendiri sudah lebih dulu menggendong Bulan.
Sunny dan Bintang sudah diamankan oleh Tante dan Omnya beserta kelinci-kelinci mereka.
Saking paniknya karena hujan lebat yang turun dengan tiba-tiba itu membuat Om dan Tante Rudi ikut berlari kedalam rumah tanpa menghiraukan putranya yang sedang kesulitan menjalankan kursi rodanya.
Ghavi yang baru menyadari jika Handy butuh bantuan pun berinisiatif mendekatinya dan menolongnya meski hujan sudah semakin deras tercurah dari langit di awal bulan November.
"Apa yang terjadi?!"
Ghavi bertanya begitu gadis itu sudah berada didekat laki-laki itu.
Handy yang tampak panik karena salah satu rodanya terselip dibebatuan pun hanya mampu menunjukkan masalahnya.
"Ini, tersangkut!" jawabnya panik.
Tubuhnya kian basah.
"Sini, biar kubantu!"
Setelah berhasil mengatasi roda yang tersangkut, Ghavi pun segera mendorong kursi roda itu melalui samping rumah dikarenakan pintu dapur cukup sempit jika dilalui bersama kursi roda.
"Aku langsung pulang kerumah saja," ujarnya saat Ghavi hendak mendorongnya memasuki ruang tamu.
"Kenapa? Yang lain, kan sedang berkumpul didalam. Dirumah tidak nada orang," balas Ghavi heran.
"Bajuku basah! Aku tidak kuat berlama-lama pakai baju terkena hujan, takut alergiku kambuh."
Ya. Handy mempunyai alergi terhadap air hujan.
Jika terkena hujan dan tidak segera mandi, alerginya akan muncul bentol-bentol yang sangat gatal disekujur tubuhnya.
"Baiklah, aku antar kau pulang!"
"Jangan!"
Handy menolak dengan cepat.
"Kenapa?!"
"Yang lain didalam! Nanti mereka mencarimu. Kau, kan Nona rumahnya."
"Biarkan saja! Aku bisa langsung pulang nanti setelah mengantarmu," Ghavi bersikeras.
"Nanti kau makin basah."
"Tidak apa-apa!"
Tanpa mempedulikan penolakan Handy, Ghavi langsung mendorong kursi roda itu menuju rumah Handy yang ada disebelahnya.
"Kau pulanglah ganti bajumu! Terima kasihsudah mengantar!" perintah Handy.
"Aku akan bantu kamu siapkan baju ganti," keukeuh Ghavi.
" Aku bisa mengurus diriku sendiri. Pulanglah!" usir Handy ketus.
Dia tidak suka dikasihani.
"Tapi, kau pasti kesulitan jika harus melakukan semuanya sendirian."
__ADS_1
Ghavi masih saja bertahan meski sudah diusir.
"Kau bukan istriku yang harus melayani semua kebutuhanku. Kau juga bukan asisten rumah tanggaku yang harus melayani majikannya. Panggilkan saja Mbak Mia untuk mengurusku," ketus Handy.
Dia benar-benar benci jika ada orang yang menganggapnya lemah, mengira tidak bisa melakukan apapun sendirian.
Deg!
Ghavi yang hendak mendorong kursi roda Handy memasuki rumah laki-laki itu pun langsung menghentikan tangannya diudara.
Kata-kata Handy barusan seolah menyadarkan dirinya yang memang bukan siapa-siapa bagi laki-laki itu.
"Maaf! Terima kasih sudah menyadarkan aku!" ujarnya lirih.
"Baiklah! Aku pulang! Aku akan memanggil Mbak Nia untuk segera pulang dan mengurusmu," pamitnya dengan perasaan sesak.
Tanpa mengindahkan panggilan dari Handy yang tampak menyesal dengan ucapannya, Ghavi terus berlari pulang kerumahnya sendiri.
Sesekali gadis itu mengusap pipinya yang basah. Bukan basah karena air hujan saja, melainkan basah karena air matanya juga ikut mengalir diantara air hujan yang menerpa wajahnya.
Handy tertegun memandang kepulangan gadis yang sudah dilukai hatinya tanpa sadar.
"Vi, bajumu basah sekali! Mana Handy?!"
Lian yang pertama kali menyadari kehadirannya.
"Iya, Nak! Mana Handy? Dia tidak terlalu basah kena hujan, kan?! Dia punya alergi hujan. Jika tidak segera mandi, dia bisa tersiksa dengan gatal alerginya."
Tante Rudi terdengar khawatir.
"Mas Handy sudah aku antar pulang, Tante!" jawab Ghavi berusaha tetap tersenyum meski hatinya terluka.
"Oh, ya, Mbak Nia mana?! Tadi Mas Handy minta dia mengurusnya menyiapkan pakaian!"
Mbak Nia pun dipanggil oleh Bu Yoyon agar segera pulang mengurus majikannya.
"Biarkan Sunny aku yang urus! Kau urus saja Handy jangan sampai dia alergi!" perintah Tante Rudi.
Mbak Nia pun pulang menggunakan payung yang disodorkan Bu Yoyon.
"Sekarang, ganti bajumu, Vi!"
Kali ini Bu Yoyon yang memerintah Ghavi.
"Ya, Bu!"
"Mandi sekalian, ya!"
"Iya!"
"Maaf, sudah merepotkanmu, Nduk!" ujay Om Rudi.
"Tidak apa-apa, Om!" ucap Ghavi.
"Kalau begitu, aku keatas dulu!" pamitnya.
Sekitar setengah jam kemudian Ghavi pun turun lagi kelantai satu untuk bergabung dengan yang lain.
Sayangnya, saat Ghavi sampai di bawah, semuanya sudah pamit pulang mengingat hujan sudah reda dan takut hujan kembali turun karena langit mendung masih menyelimuti bumi.
Mereka takut terjebak hujan dan tidak bisa pulang kerumah masing-masing.
"Yang lain kemana, Sa?" tanya Ghavi pada Risa.
Karena hanya dia yang masih tersisa diruang tengah.
Risa sedang memakaikan baju pada Aris, sementara Risan sedang dimandikan oleh Aksan.
"Mereka sudah pulang! Tadi Lili minta maaf tidak jadi menginap. Si Bintang merengek minta ikut menginap, tapi sama Kak Ane tidak dibolehkan. Makanya Lili yang mengalah tidak jadi menginap," terang Risa.
"Kak Ane memang terlalu protektif pada anak-anaknya."
__ADS_1
Ghavi jadi ingat bagaimana perjuangannya dan Liana saat membujuknya agar Bintang dibolehkan ikut liburan ke Jogja dulu.
"Yah, kurasa, sih sebagai ibu pasti akan protektif pada anak-anaknya. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama jika salah satu anakku jauh dariku. Hehe ...!"
Ghavi hanya mengangguk mengiyakan.
"Bu! Tolong, dong bikinkan aku wedang jahe panas!" teriaknya saat melihat Bu Yoyon berada didapur.
"Yaa, sebentaaar!!"
Bu Yoyon ikut-ikutan berteriak dari arah dapur.
"Aku juga, dong, Bu! Tolong buatkan aku kopi susu, ya!"
Aksan yang baru memandikan Risan pun ikut request minuman.
"Nak Risa minta dibuatkan apa biar dibikinkan sekalian?!"
"Aku teh jahe, deh kalau Ibu tidak keberatan. Hehe ...!"
Tak berapa lama kemudian, Bu Yoyon keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman pesanan anak-anak juga kopi hitam untuk suaminya dan Pak Agung.
Juga sepiring pisang goreng dan sepiring tempe mendoan sebagai teman minum.
Akhirnya semua orang berkumpul diruang tengah menikmati hidangan sore sambil bercengkerama.
Diluar hujan mulai turun lagi dengan lebatnya. Sesekali kilat menyambar diiringi suara geledek bersahutan.
Sementara itu dikediaman Handy tampak sepi.
Sesaat dari rumah Ghavi, Harry, Om dan Tante Rudi memutuskan untuk pulang ke rumah lama mereka yang ada di Jakarta.
Mobil mereka terpaksa menerobos hujan lebat agar mereka segera sampai dirumah karena tadi pembantunya menelpon jika Om Rudi kedatangan tamu jauh dari Sumatra.
Sunny sudah masuk kamar dan tidur ditemani Mbak Nia.
Handy sendiri berada diruang kerjanya tengah memeriksa berkas yang dikirimkan Aslan melalui pegawai kantornya. Aslan sendiri masih berada diluar kota mewakili dirinya menemui seorang klien.
Awalnya laki-laki itu fokus dengan kerjaannya. Namun, lama-lama dia merasa susah berkonsentrasi.
Rupanya alerginya mulai muncul disekujur tubuhnya dan menimbulkan rasa gatal yang teramat sangat.
Handy pun memutuskan keluar dari ruang kerjanya, bermaksud mencari obat pereda alerginya.
Sepuluh menit dia mencari obat yang biasa dia simpan dilaci nakas, namun belum juga ketemu. Kiranya obat yang dimaksud sudah habis.
"Mbak! Mbak Nia!!"
Handy keluar kamar sambil memanggil pengasuh putrinya.
"Mbak Niaa!!" panggilnya keras.
Mbak Nia berjalan tergopoh-gopoh dari kamar Sunny begitu mendengar namanya dipanggil.
"Maaf, ada apa Mas Handy memanggil?!"
Mbak Mia memang suka-suka ganti panggilan pada Handy. Kadang Bapak, kadang Mas karena Mbak Nia sendiri masih terbilang saudara jauh dari pihak Tante Rudi. Dan Handy tidak mempermasalahkan akan hal itu.
"Mbak, tolong belikan aku obat pereda alergi! Alergiku kambuh lagi. Rasanya gatal sekali ini," perintah Handy sambil menggaruk-garuk wajah dan tangannya.
Bahkan, wajahnya sudah mulai lebam akibat bentol-bentol yang semakin parah.
"Tapi, Pak, diluar hujannya sangat deras. Belum lagi geledeknya besar-besar. Mbak takut jika harus pergi ke apotik naik motor," tolaknya takut-takut.
"Ck! Terus aku gimana, dong?! Makanya kalau diajarin mengendarai mobil mau, jadi tidak begini jadinya. Akh, sudahlah!" gerutu Handy kesal.
Laki-laki itu pun kembali ke kamarnya dengan membanting daun pintu cukup kencang.
Mbak Nia sampai terlonjak kaget. Wanita itu jadi merasa bersalah karena tidak bisa mengabulkan permintaannya.
Akhirnya dengan berat hati wanita itu kembali masuk kamar Sunny dan membiarkan majikannya tersiksa dengan alerginya.
__ADS_1