
Saat ini jam dinding diruang tengah keluarga Liana menunjukkan pukul lima sore. Ghavi sedang mengobrol sembari nonton tivi dan menikmati hidangan jajan pasar yang dibawa Ghavi tadi siang bersama keluarga sahabatnya itu.
"Boleh, ya, Kak, aku ajak Bintang ke Jogja. Nanti biar aunty-nya ikut, deh suruh jagain. Cuma tiga hari ini. Ya, boleh, ya," rayu Ghavi pada Ane agar dia diijinkan membawa Bintang ikut bersamanya pulang ke Jogja.
"Nggak! Kakak aja belum pernah jauh dari Bintang lebih dari sehari, apalagi ini tiga hari perginya. Pasti bakalan kangen banget sama dia. Lagu pula, Bintang belum pernah melakukan perjalanan jauh. Takutnya dia rewel atau kenapa-kenapa."
Ane menolak permintaan Ghavi membawa serta anaknya melakukan perjalanan jauh ke Jogja.
"Kita bakal jagain Bintang dengan baik, kok, Kak. Janji, deh!"
Ghavi mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Pikoknya nggak boleh!" keukeuh Ane.
"Yaahh, Kak Ane nggak asyik," sungut Liana.
"Kamu kalau mau ikut, ya ikut aja sana. Nggak usah ajak-ajak Bintang," sahut Ane sedikit ketus.
"Ya, sudah, lah kalau nggak diijinin. Kita terpaksa berangkat berdua aja, Li," tukas Ghavi akhirnya.
Meski raut wajahnya terlihat kecewa karena usahanya membujuk Ane tidak berhasil.
"Mamah sama Papah kenapa diam aja, sih?!" dumal Liana pada orang tuanya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan Ghavi serta anak dan menantunya itu.
"Lho, memangnya kita harus ngapain?!"
Kali ini Mamah Liana berkomentar.
"Ya, Mamah bujuk, dong menantu kesayanganmu ini biar ngijinin Bintang ikut kami ke Jogja."
"Mamah nggak punya kuasa atas Bintang, Sayang. Dia, kan.punya orang tua yang jauh lebih berhak. Kalau memang kakakmu tidak mengijinkan, y, sudah. Kami bisa apa? Benar nggak, Pah?!"
Mamah Liana menoleh pada suaminya untuk mencari dukungan karena disalahkan putrinya.
"Ehm! Benar Mamahmu, Lili. Kak Ane dan Kak Lian lebih berhak atas Bintang. Jadi, kami Opa dan Omanya tidak bisa memaksa," sahut Papah Liana ikut buka suara.
"Ah! Mamah sama Papah sama nggak asyiknya kayak Kak Ane."
Liana kembali bersungut.
"Hahaha ...!"
Kedua orang tua Liana tertawa melihat rajukan putrinya.
"Wah, ada acara apa ini kumpul-kumpul?? Biasanya jam segini kalian sibuk dikamar."
Terdengar suara memasuki ruang tengah. Ghavi menengok untuk mengetahui asal suara.
"Kak Lian!" sapanya begitu tahu sipemilik suara.
"Viviii ...!" pekiknya.
"Ini beneran kamu?? Kapan pulang?!"
__ADS_1
Lian langsung menghampiri Ghavi lalu mengacak-acak rambut sepunggung gadis itu gemas.
"Iiish ... apaan, sih acak-acak rambut. Kusut, tahu?!"
Ghavi menyingkirkan tangan kokoh Lian dari rambutnya.
"Habisnya aku kangen sama kamu," ujar Lian sembari melirik kearah Ane, istrinya.
Sedang yang dilirik hanya mencibir. Ane memang sudah tahu tentang kedekatan suaminya dengan sahabat dari adik iparnya itu dulu. Jadi Ane tidak begitu cemburu. Meskipun masih ada, itu cuma sedikiiit.
"Sayangnya aku nggak kangen, tuh," balas Ghavi cuek.
"Ishh, dasar! Bilangnya nggak kangen, tapi meluk juga. Haha ...!"
Lian tertawa melihat tingkah Ghavi yang langsung memeluknya.
"Kamu nggak takut Kakak Ipar marah karena peluk Kak Lian?!"
Lian menggodanya dengan menaik turunkan alisnya.
"Biarin aja! Kalau marah bawa kabur aja si Bintang kesayangan ke Jogja. Ya, nggak, Li."
Liana mengangguk setuju.
"Cova aja kalau berani!" ancam Ane sambil melotot.
"Eh, Sayang, jangan begitu. Mereka, kan cuma bercanda, Yang. Jangan ngambek, dong."
"Siapa yang bercanda?!"
Ane justru beralih melotot pada Lian.
"Sebenarnya ada apa, sih ini? Kok, kamu jadi beneran marah, sih?!" tanya Lian bingung.
" Itu, tuh, si Ghavi minta ijin mau bawa Bintang ke Jogja, tapi sama istri kamu nggak dibolehin," celetuk sang Papah.
"Eh! Ke Jogja?!"
Lian menatap istrinya mencari pembenaran.
"Iya! Tapi aku nggak kasih ijin, eh, malah dua adik kesayanganmu itu maksa aku terus. Kan, aku kesal jadinya. Kamu tahu, kan, Yang kalau aku nggak bisa jauh dari Bintang lama-lama?!" ujar Ane cemberut.
"Oh, gitu, toh ceritanya."
Lian mengangguk paham sekarang.
"Ya, udah, sih kasih ijin aja si Bintang mereka bawa," ujar Lian yang langsung mendapat cubitan keras diperutnya.
"Aukh!! Kok, dicubit, sih. Sakit tahu, Yang."
Lian mengaduh sambil mengusap bekas cubitan istrinya.
"Habisnya kamu bukannya ikut melarang malah kesannya belain mereka," sungut Ane.
__ADS_1
"Hehe ...! Kan, maksud aku baik. Biar kamu bisa fokus jagain Bul-Bul," bujuk Lian.
"Pokoknya aku nggak ijinin. Titik!" putus Ane sambil bersedekap manyun.
"Sudah, sudah! Dari tadi berdebat terus. Lagipula yang didebatin juga nggak ada anaknya," sela Mamah Lian menyuruh anak-anak dan menantunya berhenti berdebat.
"Oh, iya! Bintang sama Bul-Bul kemana, Yang, dari tadi nggak kelihatan?!"
Lian baru ngeh jika anak-anaknya tidak ada diantara mereka.
"Lagi diumpetin dikamar, Kak, takut kami culik, ya, Vi," celetuk Liana sengaja memancing lagi.
Ghavi mengangguk-angguk semangat, namun dengan segera berhenti karena dapat pelototan lagi. Tapi kali ini dia dapat dari Mamah Lian.
"Hehe ..., maaf, Mah!" ucap Ghavi nyengir.
"Sudah, sudah, jangan diterusin lagi. Sudah sore, pulang sana! Nanti kesorean, lho!"
Mamah Lian mengibaskan tangannya menyuruh Ghavi pulang.
"Mamah ngusir, nih?!" tanya Ghavi manyun.
"Eh, bukan begitu, Sayang. Tadi katanya mau mampir ke panti. Ya, sudah sana pulang. Takutnya kamu kemalaman sampai sana. Kan, Mamah takut kamu kenapa-kenapa dijalan."
"Iya, iya! Ghavi ngerti, kok, Mah kalau maksud Mamah baik. Aku, kan tadi cuma bercanda, Mah. Sensitif amat jadi orang," timpal Ghavi namun matanya melirik kearah Ane.
Semuanya pun tertawa melihat tingkah Ghavi yang sebenarnya sedang menyindir Ane. Sedang Ane tidak peduli.
"Ya, udah semuanya Ghavi pamit dulu, ya."
Ghavi pun bangun dari duduknya.
"Besok aku jemput jam berapa, Li?"
"Tapi nanti diantar Pak Yoyon, kan?! Aku nggak mau kamu yang nyetir soalnya perjalanan jauh."
Liana belum yakin jika Ghavi harus menyetir sendiri ke Jogja. Dia sendiri tidak mau ambil resiko menggantikan Ghavi menyetir.
"Iya, lah! Aku juga belum semahir itu, kaliii ..." jawab Ghavi.
"Ok, besok jemput jam tujuh aja, ya. Aku musti nyiapin sesuatu dulu," ujar Luana mengedipkan mata pertanda sedang merencanakan sesuatu.
"Siip!!"
Ghavi mengacungkan jempolnya tanda tahu dengan maksud sahabatnya itu.
Akhirnya Ghavi pun pamit dan segera meluncur ke Panti Asuhan Cahaya yang sudah lama tidak dia kunjungi itu untuk bertemu anak-anak.
Sebelumnya, tadi siang saat pulang dari sekolah Bintang, dia sudah menyempatkan mampir membeli banyak oleh-oleh di minimarket dekat rumah Liana.
Dia berharap kedatangannya disana disambut dengan baik mengingat sudah lama sekali tidak berkunjung.
Dia hanya menyuruh Pak Rama, orang kepercayaannya yang mengurus restaurant, untuk selalu rutin mengirimi mereka uang tiap bulan. Sesekali juga mengirim makanan untuk sekedar anak-anak dan pengurus panti makan bersama.
__ADS_1