
Handy dan Ghavi langsung menuju rumah sakit setelah dijemput Aswan dibandara.
" Bagaimana keadaan bapak?!" tanya Handy begitu sampai dirumah sakit dan melihat Harry tengah duduk dibangku depannruangan bapaknya dirawat.
" Hari ini tekanan darahnya naik lagi. Tubuh bapak mati sebelah sebab pembuluh darah otaknya pecah," jawab Harry lirih.
" Oh!" Ghavi terpekik mendengarnya.
" Kenapa bisa terjatuh?"
Handy tetap berusaha tenang meski raut mukanya menampilkan rasa khawatir.
" Kata ibu kemarin bapak mengeluh pusing. Saat ke kamar mandi tiba-tiba pusing lagi dan jatuh pingsan," jelas Harry.
" Dari semalam bapak terus menanyakan kalian. Sebaiknya kalian temui bapak dulu," imbuh Harry menghela napas.
Handy dan Ghavi pun masuk ke ruang perawatan Om Rudi. Disana tampak Tante Rudi sedang menungguinya sampai tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya direbahkan diranjang rumah sakit tempat suaminya terbaring.
" Tante!"
Ghavi memberanikan diri memanggil wanita paruh baya itu dengan mengusap pundaknya.
Sementara Handy berdiri disisi ranjang yang lain.
" Oh, kalian sudah sampai."
Tante Rudi terbangun karena merasakan tangan seseorang mengusap-usap pundaknya.
Mukanya terlihat kusut dan pucat.
" Iya, Tante! Kami baru sampai dan langsung kesini," terang Ghavi.
" Bagaimana keadaan Bapak, Bu?" Handy bertanya dari seberang.
" Tadi baru minum obat dan tidur. Dari semalam terus gelisah menunggu kalian. Mungkin karena tidak tidur jadi tekanan darahnya naik lagi," terangnya sama seperti Harry tadi.
" Ibu kelihatan lelah, pulanglah! Biar aku yang menunggui Bapak."
Handy beranjak mendekati ibunya dan mengusap lembut punggung ibunya. Entah kenapa, rasa benci yang selalu dia perlihatkan pada ibunya itu menguap begitu saja.
Ghavi sedikit heran melihatnya. Bukankah Harry bilang Handy sangat membenci ibunya?! Sikap dan perbuatan yang selalu ditunjukkan juga sangat dingin.
Tapi sekarang, Handy bisa bersikap lembut?? Aneh!
Ghavi ingat betul waktu dia masih di Dieng, Harry pernah cerita jika Handy sangat membenci ibunya sebab dulu ibunya meninggalkan Handy dan ayahnya karena saat itu ayahnya masih miskin.
Selama delapan tahun Handy ditinggalkan ibunya tanpa kabar.
Namun, saat usianya menginjak sebelas tahun, dengan tiba-tiba saja ibunya datang kembali bersama ayahnya dengan menuntun Harry kecil berumur sekitar delapan tahun.
Rupanya, tanpa Om Rudi ketahui, ternyata saat keduanya memutuskan bercerai, Tante Rudi tengah mengandung satu bulan sehingga lahirlah Harry tanpa diketahui oleh Om Rudi.
Keduanya kembali bertemu saat tanpa sengaja mengikuti seminar pertanian di Dieng, tempat asal Tante Rudi berada.
__ADS_1
Dari situlah Tante Rudi bercerita jika Harry adalah anak keduanya. Tentu pada waktu itu Om Rudi tidak langsung percaya mendengar cerita mantan istrinya itu.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Om Rudi setuju untuk melakukan tes DNA dan baru mau mengakui Harry sebagai anak keduanya setelah hasil tesnya keluar.
Om Rudi pun setuju saat Tante Rudi mengutarakan niatnya untuk rujuk mengingat orang tua Tante Rudi yang menjadi penghalang hubungan mereka itu sudah meninggal.
Seminggu setelah pernikahan keduanya, Om Rudi memutuskan untuk tinggal di kediaman mendiang orang tua Tante Rudi dan membiarkan rumahnya yang di ibu kota sebagai rumah singgah sesekali waktu keluarga itu ada keperluan disana.
Handy yang mengetahui ayahnya kembali rujuk pada ibunya sangat marah. Namun, Handy kecil tidak berdaya melawan ayahnya. Diapun hanya bisa memendam kebenciannya sendiri dalam hati hingga dewasa.
Interaksi antara Handy dan ibunya hanya sebatas formalitas saja. Om Rudi bukannya tidak tahu hal itu. Om Rudi hanya bisa pasrah melihat kelakuan anak sulungnya mengingat betapa sengsaranya dulu Handy harus hidup tanpa bimbingan dan kasih sayang ibu. Bahkan, Handy kecil kerap kali dititipkan pada ayah Ghavi selaku sahabatnya karena harus membagi waktu antara mengurus pekerjaan dan ibunya yang sakit-sakitan.
" Vi, kau pulanglah bersama Ibu dan Harry."
Suara Handy membuyarkan lamunannya.
" Oh, eh, aku, aku tetap disini saja bersamamu. Bukankah Om Rudi ingin bertemu dengan kita?!" tolak Ghavi sedikit tergagap.
" Tapi, kau pasti lelah," ujar Handy.
" Tidak apa-apa. Aku bisa beristirahat di sofa itu jika lelah," sahut Ghavi bersikeras.
" Baiklah, terserah kau saja," tukas Handy akhirnya.
Pandangannya beralih pada ibunya yang tengah mengusap lengan suaminya sambil sesekali menguap. Wajah lelah jelas terlihat dikantung matanya yang hitam akibat kurang tidur.
" Ibu sebaiknya istirahat saja dirumah. Biar Bapak aku yang jaa bersama Ghavi," bujuknya lagi setelah tadi tidak ada tanggapan.
" Bu, Ibu juga harus jaga kondisi kesehatan. Aku tidak mau jika kau juga ikut sakit karena kelelahan," rayu Handy membuat hati perempuan paruh baya itu menghangat.
Tidak terasa air matanya mengalir tanpa diminta. Kalimat anak sulung yang pernah disia-siakannya itu kini melembut.
Ingin rasanya dia memeluk putranya yang sudah lama dirindukannya itu. Selama sekembalinya kini, meraka jarang berkomunikasi apalagi kontak fisik seperti saat bersama putra keduanya.
Wanita itu sadar, kesalahannya tidak termaafkan. Dia hanya mampu menatapnya diam-diam saat putranya sesekali pulang ke rumah, sebab Handy memilih tinggal di Jogja dengan alasan dekat dengan kantornya.
" Baiklah! Ibu akan pulang untuk beristirahat. Maaf, jika Ibu harus merepotkanmu seperti ini," putus Tante Rudi akhirnya setelah diam-diam menghapus jejak air matanya.
" Nak Ghavi, maaf juga telah merepotkanmu. Demi menjaga bapaknya Handy, kau rela mengesampingkan rasa lelahmu setelah perjalanan dari Jakarta kemari."
Dipeluknya Ghavi sebagai ucapan permintaan maaf dan terima kasih.
" Iya, Tante, tidak apa-apa! Benar kata Pak, eh, maksudku Mas Handy. Tante memang butuh istirahat," jawab Ghavi membalas pelukan Tanta Rudi.
Harry masuk setelah dipanggil Handy.
" Ayo, Bu, kita pulang sekarang!" ajak Harry yang baru saja muncul.
" Ayo!" jawab Tante Rudi mengambil tas jinjingnya dimeja nakas samping ranjang.
" Mas Han, kami pulang dulu, ya," pamit Harry.
Handy yang sudah duduk dikursi bekas ibunya tadi mengangguk.
__ADS_1
" Ya!" jawabnya pendek.
" Vi, cutimu sampai besok. Lusa kamu harus masuk. Ada kelas tambahan untuk mengganti waktu cutimu kemarin. Aku sudah mendiskusikannya dengan dosen yang bersangkutan," terang Harry.
" Oh, iya, Mas. Terima kasih sudah banyak membantu!" sahut Ghavi mengangguk.
Harry pun berbalik dan meninggalkan ruang tawat inap bapaknya menyusul ibunya yang sudah keluar lebih dulu.
" Kau istirahatlah dulu. Biar Bapak aku yang tunggu. Nanti kita gantian jaga," ujar Handy sepeninggal ibu dan adiknya.
" Baik, Pak!"
Ghavi melangkah menuju sofa bed di seberang ranjang tempat Om Rudi dirawat.
" Mulai sekarang jangan panggil aku 'bapak' lagi," perintah Handy.
" Eh, tapi kenapa?!" Ghavi mengernyit.
"Gatal kupingku kalau harus mendengar panggilanmu yang gonta-ganti itu," ujar Handy datar.
" Lalu, aku harus panggil apa, dong."
" Terserah! Yang penting jangan panggil 'bapak' lagi. Oh, aku tahu!" seru Handy
" Panggil 'papa' saja seperti saat bersama Rindu kemarin," usilnya.
" Hah?!"
Ghavi terperangah.
" Yang benar saja," cibirnya kemudian.
" Bapak jangan sebut-sebut nama Rindu lagi. Aku jadi sedih," ucap Ghavi lirih.
" Ck, Bapak lagi," decak Handy protes.
" Maaf, Mas! Habisnya sudah kebiasaan, sih."
" Nah, itu lebih baik. Ya, sudah, tidurlah! Aku minta maaf karena sudah mengingatkanmu dengan anak kita," ujarnya tetap disisipi ledekan meski wajahnya tetap datar.
" Mulai, deh," dengus Ghavi.
Dibaringkannya tubuhnya yang penat setelah perjalanan tadi. Dipejamkannya matanya yang cukup berat sebab semalam kurang tidur gara-gara keasyikan chatting bersama Liana yang pulang setelah acara pemakaman Rindu kemarin.
Tidak sampai sepuluh menit, gadis itu pun terlelap.
" Hem!"
Handy tersenyum melihat Ghavi yang benar-benar sudah terlelap.
" Ck, dasar tukang tidur! Baru juga baring sudah langsung lelap," decihnya menggeleng-gelengkan kepala.
***
__ADS_1