Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Tersinggung


__ADS_3

Satu jam kemudian, Ghavi dan Handy tiba di Panti Asuhan Cahaya, setelah sebelumnya Ghavi ngotot minta ikut.


Karena Aslan tidak bisa dihubungi juga, akhirnya diputuskan sepihak oleh Ghavi jika mereka akan berangkat bersama Pak Yoyon.


Ghavi lantas berlari pulang memberitahukan pada Pak Yoyon apa yang telah terjadi.


Dia sendiri juga membenahi penampilannya yang sudah seperti tukang kuli panggul dengan handuk dipundak.


"Syukurlah, kerusakannya tidak begitu parah! Dan anak-anak juga selamat," ujar Handy lega.


Mereka baru saja berkeliling melihat TKP.


Hanya bangunan dapur saja yang atapnya runtuh akibat kebakaran. Juga barang-barang yang ada didapur.


Untunglah petugas Damkar datang tepat waktu, sehingga api langsung dapat dipadamkan dan api tidak sampai merembet membakar gedung utama, tempat anak-anak berada.


"Iya, syukurlah!" sahut Ghavi.


"Hanya saja, kita masih belum mendapat kabar dari Pak Wisnu dan Bu Nita, mengenai keadaan juru masak panti yang terkena ledakan."


"Apa Pak Danar sudah mencari tahu perkembangan terbaru?!"


Handy beralih menatap Pak Danar.


"Belum, Pak! Terakhir Pak Wisnu memberitahukan kondisi juru masak itu terluka hingga enam puluh persen dan kemungkinannya akan menjalani operasi."


Pak Danar menuturkan apa yang telah dikabarkan Pak Wisnu padanya.


"Baiklah! Kita tunggu kabar selanjutnya. Suruh dokter untuk melakukan penanganan terbaiknya," perintah Handy tegas.


Walau bagaimanapun, Panti Asuhan Cahaya kini berada dibawah kuasanya.


Jadi, dia harus bertanggung jawab penuh pada keselamatan dan kesejahteraan penghuni dan pengurusnya.


"Lalu, bagaimana dengan pihak kepolisian? Apakah mereka sudah mendapatkan bukti yang menyebabkan tabung gas meledak?? Kira-kira apakah ini murni kecelakaan atau kesengajaan?!"


Satu jam setelah kebakaran, pihak kepolisian yang dihubungi Handy datang ke TKP untuk menyelidiki kejadian kebakaran tersebut, apakah murni karena kecelakaan ataukah kesengajaan?!


"Belum, Pak!"


Pak Danar menggeleng.


"Mungkin sebentar lagi! Itu dia Pak Satya datang!"


Ghavi dan Handy pun menoleh kearah pandang Pak Danar.


"Selamat malal, semuanya!" sapa Pak Satya sambil memberikan hormat.


"Selamat malam!" jawab semuanya.


"Bagaimana kondisi terkini, Pak? Apakah kebakaran tadi murni kecelakaan atau kesengajaan?!" tanya Handy tak sabar.


"Bisakah kita duduk terlebih dahulu agar ngobrolnya rileks?!" seloroh Pak Satya tersenyum.


"Anda tidak melihat, saya sudah sejak tadi datang sudah duduk seperti ini?!" Handy menimpali.


"Haha ...! Maaf, maaf! Maksudnya ... agar kita bicara sedikit santai. Jangan terlalu tegang begini."


Pak Satya tertawa mendengar jawaban pemilik Panti AC.


"Mari ikuti saya!"


Pak Danar menyuruh semuanya mengikutinya ke ruang tamu.


"Silakan duduk! Tapi maaf, tidak ada kopi! Anda lihat sendiri, kan kondisi dapur saat ini?!" kelakar Pak Danar yang disambut tawa yang lain.


Sedikit mencairkan suasana pilu dihati masing-masing.


"Jadi, bagaimana hasil penyelidikanmu, Pak Satya?!" ulang Handy yang kursi rodanya didorong Pak Yoyon dan disejajarkan dengan kursi yang Ghavi duduki.


"Ehm!"


Pak Satya berdehem sebelum menjelaskan.


"Jadi begini, menurut tim kami yang telah menyiris lokasi mencari bukti-bukti, untuk sementara waktu kami simpulkan jika kejadian ini murni kecelakaan. Namun begitu, kita belum tahu keterangan dari juru masak itu sendiri. Jadi, kita harus menginterogasinya lebih dulu mengenai kronologisnya."


"Tapi sekarang juru masak itu sedang dalam penanganan serius. Kemungkinan dia akan dioperasi karena luka bakar yang dialaminya sekitar enam puluh persen," sela Ghavi.


"Yah, kita akan tunda sampai korban bisa ditanyai. Semoga saja hasilnya benar-benar murni karena kecelakaan seperti yang kita harapkan," sahut Pak Satya.


"Baiklah! Terima kasih atas bantuannya!"


"Sama-sama, Pak Handy!"


Pak Satya menyalami tangan Handy yang terulur.


"Bisakah saya meminta nomor ponsel Anda untuk saya hubungi jika sewaktu-waktu saya butuh bantuan?!"

__ADS_1


"Hem, saya lupa membawa ponsel! Vi, bisakah nomormu saja yang kau berikan padanya?"


Handy menoleh pada Ghavi meminta persetujuan.


"Memangnya Mas Handy tidak hapal nomor sendiri?"


Ghavi mengernyit heran.


"Tidak! Tapi aku hapal berapa nomormu diluar kepala," jawabnya penuh misteri.


"Ck! Nomor orang lain dihapalkan, tapi nomor sendiri tidak tahu. Dasar!" cebik Ghavi menggelengkan kepala.


"Itu karena nomorku tidak penting!" ujarnya enteng.


"Jadi menurutmu nomorku itu pen ..."


Ghavi tidak melanjutkan kalimatnya.


Kenapa dia jadi begitu bodoh?!


"Haha ...! Apakah Nona tidak menyadarinya?!" ledek Pak Danar.


Ghavi hanya menatap Handy lekat.


"Masih mau bertanya kenapa?!"


Ghavi menggeleng.


"Jadi, nomor siapa yang harus aku catatkan?!"


Pak Satya seakan tak sabar.


Dia sudah siap dengan ponsel ditangannya.


"Ya, ya! Baiklah!"


Akhirnya Ghavi memberikan nomornya pada Pak Satya setelah mendapat kode dari Handy.


Pak Satya menyimpan nomor Ghavi lalu mendialnya.


Sejurus kemudian, sebuah nomor baru muncul dilayar ponsel Ghavi.


"Itu nomorku! Tolong simpan, Nona Cantik! Kali saja kita bisa chating setelah ini," godanya dengan mata mengerling.


"Berani Anda menghubunginya diluar pekerjaan, kupecat kau!" anam Handy tersenyum.


"Memangnya apa yang mau kau banggakan padanya jika jabatanmu saja sudah dicopot?!" celetuk Pak Yoyon yang sedari tadi diam mendengarkan.


"Meskipun saya hanya sopirnya, tapi saya punya hak untuk menolak Anda, Pak Komandan! Sebab, sekarang dia sudah menjadi putri saya!"


"Haha ...! Apa Bapak tidak lihat, saya masih bisa memamerkan tubuh kekar saya ini khusus didepannya kalau dia mau!"


"Ehm! Pasti sangat bagus sekali," puji Ghavi tersenyum.


"Sayangnya, saya yang tidak berani, Pak Satya! Saya tidak mau merebut yang bukan hak saya. Saya takut dilabrak oleh istri dan anak-anak Anda!" kilah Ghavi cepat.


Gadis itu melihat perubahan wajah Handy, meski tersamarkan oleh senyumnya.


"Haha ...! Anda bisa saja, Nona! Baiklah, saya permisi saja sebelum jabatan saya dilepas, kasihan dengan anak dan istri saya!"


"Haha ...! Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya!"


Ghavi menyalami polisi tersebut.


Selepas kepergian Pak Satya, Handy dan Ghavi pun memutuskan untuk pulang kerumah.


Dikarenakan hari sudah cukup malam, akhirnya niat untuk menjenguk juru masak pun mereka urungkan.


Didalam mobil, Handy tampak diam sepanjang perjalanan pulang. Raut wajahnya semakin mendung saja.


"Mas Handy kenapa?!" tanya Ghavi yang duduk di sampingnya.


Tak ada sahutan.


Ghavi menghela napas dalam. Gadis itu bingung menghadapi sikap dingin Handy saat ini.


Terlebih, sejak candaannya tadi bersama Pak Satya, raut wajahnya berubah.


Ghavi tahu, sebenarnya Handy tengah tersinggung dengan kata-kata polisi itu yang dengan lantangnya akan memamerkan badan atletisnya di depan Ghavi


Meskipun hanya candaan, tapi karena keadaan Handy yang sekarang membuat hati laki-laki itu jadi sangat sensitif.


Kata-kata Pak Satya menohok dirinya yang kini hanya mengandalkan kursi roda untuk beraktifitas.


Jangankan untuk membantu orang lain secara fisik, untuk membantu dirinya sendiri saja dia selalu mengandalkan asistennya.


"Kita sudah sampai!"

__ADS_1


Pak Yoyon menghentikan mobil didepan rumah Handy.


Saat hendak membantu Handy turun, laki-laki itu menolak.


"Biarkan Ghavi nanti yang akan membantuku!" tolaknya.


"Ya, sudah! Bapak pulang saja dulu! Mobil biar nanti aku yang masukkan kegarasi."


Akhirnya Pak Yoyon pulang lebih dulu dengan berjalan kaki. Mobil dibiarkannya karena Ghavi masih ingin mengobrol dengan Handy.


"Ada apa?!"


Ghavi membuka suara setelah beberapa saat suasana hening.


Mereka berdua masih berada didalam mobil dengan pintu yang dibiarkan terbuka.


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, lebih baik aku antar kau pulang!" putus Ghavi.


Gadis itu hendak turun dari mobil, namun tangan Handy mencegahnya.


"Jadi kau tidak tertarik lagi padaku?!" ujarnya datar.


"Maksudnya?!"


Ghavi mengernyit heran.


Apa maksud dari ucapannya?!


"Tidak! Lupakan!" kilah Handy.


"Apa kau tersinggung dengan gurauan Pak Satya tadi?!" tebak Ghavi tepat.


"Aku tidak mungkin bersaing dengannya, aku sadar diri!" ujar Handy ketus.


"Mas, kau jangan salah pa ..."


"Tolong panggilkan Mbak Nia, aku mau turun!" potong laki-laki itu.


"Hemmh!!"


Ghavi menghela napas berat.


"Ada aku disini, kenapa tidak meminta tolong saja padaku?! Kenapa harus membangunkan orang yang sudah tidur?!"


Ghavi turun dari mobil.


Diambilnya kursi roda dibagasi dan didekatkan pada pintu mobil tempat Handy duduk.


"Turunlah! Aku bantu!"


Meski enggan, namun Handy akhirnya mau turun dibantu Ghavi.


Saat Ghavi mendudukkan Handy ke kursi roda, tubuhnya ikut terjatuh dipangkuan Handy karena bobot laki-laki itu yang lebih besar dan berat darinya sehingga tubuhnya tertarik kearah Handy.


Untuk sesaat mereka terdiam dengan posisi Ghavi berada dipangkuan Handy. Tatapan mereka terkunci.


"Apa aku tidak punya kesempatan lagi?!" lirih Handy.


"Apa karena aku tidak lagi sempurna seperti polisi itu?!"


"Mas!"


Ghavi bingung mau menjawab apa.


Tatapan mata Handy sungguh mengiba.


"Tubuhmu berat!" cicit Handy memecah kebisuan.


Nada suaranya kembali ke mode biasanya, dingin.


"Ah, maaf!"


Ghavi langsung turun dari pangkuan Ghavi.


Gadis itu jadi sedikit malu.


"Pulanglah!" perintah Handy dingin.


"Aku antar kau sampai pintu!" tawar Ghavi.


"Tidak! Aku bisa sendiri, pulanglah!"


Handy menolak keras.


Laki-laki itu memaksakan diri mengayuh kursi roda dengan kedua tangannya sampai didepan pintu.


Ghavi hanya dapat mengamatinya dari samping mobil. Setelah Handy masuk kedalam rumah, barulah Ghavi menjalankan mobilnya, pulang.

__ADS_1


***


__ADS_2