Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
persetujuan


__ADS_3

Ghavi terbangun sekitar pukul sebelas malam. Tak didapatinya Handy diruangan. Hanya terlihat Om Rudi yang tengah duduk setengah berbaring.


"Handy sedang ke ruang perawat untuk memberitahukan jika infus Om hampir habis," ujar Om Rudi melihat Ghavi mencari-cari seseorang.


"Oh, iya, Om!" sahut Ghavi beranjak mendekati laki-laki tua yang tengah berbaring itu.


"Bagaimana keadaan Om? Maaf, sejak tadi siang baru sempat menyapa."


Ghavi duduk dikursi samping ranjang.


Om Rudi menangguk.


"Tidak apa-apa! Om sudah jauh lebih baik sekarang," jawabnya.


"Bagaimana keadaanmu?! Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa bisa sakit perut?!"


"Oh, sudah lebih baik, kok, Om! Hehe ...! Tidak apa-apa, hanya kalap saja tadi," jawab Ghavi terkekeh.


Gadis itu pun menceritakan kejadian yang dialaminya kenapa bisa sampai sakit perut.


"Heemm! Tubuhmu kecil, tapi makannya banyak juga, ya," komentar Om Rudi tersenyum.


"Hahaha ...!"


Ghavi tertawa terbahak.


" Iya, Om! Tapi heran aku, tuh. Makan banyak tapi tubuhku tetap saja kerdil begini."


Ghavi meneliti tubuhnya sendiri yang kecil yang hanya berbobot empat puluh kilogram dengan tinggi seratus lima puluh centimeter saja itu.


"Yang penting sehat," hibur Om Rudi.


Ceklek!


Pintu terbuka dari luar dan muncullah sosok Handy yang diikuti seorang perawat yang datang membawa infus baru.


"Kenapa bangun? Sudah lebih baik perutnya?!" tanya Handy melihat Ghavi tengah ngobrol dengan bapaknya.


"Sudah mendingan!" jawab Ghavi mengangguk.


"Syukurlah! Aku khawatir sekali tadi. Kau tidur sambil merintih dan berkeringat dingin," jelas Handy mendekati Ghavi dan berdiri dibelakang sandaran kursi yang diduduki gadis itu.


"Terima kasih, Suster!" ucapnya setelah suster selesai mengganti infus.


"Sama-sama!"


Perawat itu keluar kamar, kembali ke ruangannya.


"Bapak mau minum atau mau makan sesuatu?!" tanyanya pada bapaknya.

__ADS_1


"Apa martabaknya masih ada?" tanya Om Rudi balik.


"Oh, tunggu sebentar!"


Handy mengambil kotak martabak di atas meja dekat sofa dan menyodorkannya pada bapaknya yang langsung mengambil satu.


"Kau mau juga?!"


Disodorkannya martabak kehadapan Ghavi.


"Tidak! Aku takut perutku sakit lagi," tolak Ghavi menggeleng.


"Kalau lapar lagi makan saja. Ini manis, tidak akan membuat perutmu sakit. Kecuali kau makan mie dengan cabai rawit setan sebanyak dua puluh lima," sindirnya sambil tersenyum.


"Ah, jangan meledek!"


Ghavi memanyunkan bibirnya. Gadis itu malu sebenarnya karena Handy membuka kedok sebab musabab dirinya sakit perut dihadapan Om Rudi, padahal tadi sengaja tidak menceritakannya.


"Haahh?! Sebanyak itu?!!" tanya Om Rudi kaget.


" Pantas saja kau sakit perut, Vi, Vi."


Om Rudi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


"Hehe ...!"


Ghavi hanya bisa meringis.


"Han, duduklah!" perintahnya pada Handy.


Handy pun duduk diujung ranjang tempat bapaknya berbaring.


"Mumpung kalian sedang disini, ada yang ingin Bapak sampaikan," kata Om Rudi memulai pembicaraan.


Raut wajahnya tampak serius.


"Bapak hanya ingin memastikan mengenai perjodohan kalian. Apa kalian berdua benar-benar menerima perjodohan ini?!"


Dipandanginya Handy dan Gavi satu per satu.


"Vi!"


"Uhm, kalau aku pribadi tetap pada keputusan awal. Aku akan tetap menerimanya sesuai amanah orang tua dan kakek. Karena itu merupakan permintaan terakhir mereka. Tapi tidak tahu dengan Mas Handy. Aku terserah pada keputusannya saja," jawab Ghavi sedikit ragu.


Ya. Meskipun belum ada cinta dihatinya untuk Handy, namun dia akan berusaha untuk bisa ikhlas menerima perjodohan itu demi amanah yang diberikan padanya.


Namun, semuanya tergantung dari Handy sendiri. Terlaksana tidaknya perjodohan setelah mendengar keputusan dari laki-laki itu.


"Kamu sendiri, Han?"

__ADS_1


Om Rudi menoleh pada anaknya setelah mendengar jawaban dari putri sahabatnya itu.


"Apa aku harus menjawabnya lagi?! Bukankah dulu sudah kujawab?!" Handy balas bertanya.


"Bapak hanya ingin memastikan saja. Bapak tidak ingin disebut sebagai orang tua yang tidak punya hati karena memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Walau bagaimana pun kalian berhak untuk menolaknya. Maka dari itu Bapak ingin dengar persetujuan kalian," jawab Om Rudi bijak.


"Dengan sadar aku menerimanya, Pak! Bahkan, jika diharuskan menikah sekarang pun aku siap," jawab Handy mantap.


Ditatapnya Ghavi yang tampak terkejut mendengarnya.


"Bukan begitu, Vi? Bukankah lebih cepat lebih baik jika kita segera meresmikan hubungan kita?! Jadi, jika sewaktu-waktu ada anak yang meminta kita menjadi orang tuanya, kita tidak perlu lagi berpura-pura menjadi pasangan?!" ujarnya tersenyum.


"Eh!"


Ghavi menunduk malu mengingat bagaimana kemarin-kemarin dia harus berpura-pura menjadi pasangan orang tua Rindu, demi mengabulkan keinginan terakhir bocah itu.


"Jika kalian tidak merasa terpaksa satu sama lain, memang sebaiknya kalian segera meresmikan hubungan kalian. Bapak tidak ingin sampai terjadi hal buruk diantara kalian," imbuh Om Rudi.


"Apa kalian setuju untuk segera meresmikan hubungan kalian?!"


"Setuju!" jawab Ghavi dan Handy secara bersama.


"Bapak senang mendengarnya. Kalian memang anak-anak yang berbakti. Sekarang Bapak lega. Beban yang selama ini Bapak rasakan karena surat wasiat itu kini sudah tidak ada lagi." Om Rudi meminta Ghavi dan Handy mendekat.


"Kemarilah!"


Om Rudi memeluk keduanya penuh perasaan haru. Akhirnya dia dapat menyatukan anaknya dengan putri Umar sesuai janji yang dia ucapkan dulu.


Selain itu, dengan dilaksanakannya peresmian hubungan mereka, dia bisa mencegah hubungan rumit yang bisa saja terjadi mengingat putra keduanya yang sepertinya menyukai Ghavi.


Apalagi, tadi sore dia mendengar Harry bergumam jika putra keduanya itu menyukai Ghavi.


"Kalau kalian tidak keberatan, minggu depan adakanlah acara pertunangan kalian."


"Emm, maaf, Om! Apa itu tidak terlalu cepat?!" tanya Ghavi sedikit keberatan.


"Kenapa?" Handy bertanya.


"A-aku, kan perlu merundingkan hal ini dengan eyangku dulu. Kita belum tahu tanggapan beliau, kan?! Walau bagaimana pun Eyang satu-satunya keluargaku sekarang," jawab Ghavi.


"Ya, kau benar! Minta ijinlah dulu pada eyangmu. Jika beliau setuju, minggu depan acara pertunangan dilangsungkan."


Om Hari setuju dengan perkataan Ghavi.


"Baik, Om! Besok aku pulang dan segera mengabarkan hal ini pada eyang."


Tidak terasa malam kian larut. Ketiga orang itu pun memutuskan untuk melanjutkan tidur mereka karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


Keesokan paginya, Ghavi memutuskan untuk kembali ke Jogjakarta setelah Tante Rudi datang ke rumah sakit untuk gantian berjaga.

__ADS_1


Handy juga harus menemui kliennya untuk membahas suatu pekerjaan. Jadilah mereka berdua pulang bersama ke jogja menggunakan armada bus keberangkatan pagi, langsung dari rumah sakit tanpa mampir dulu ke rumah.


__ADS_2