
Langit makin tampak gelap. Gerimis pun mulai berganti kucuran hujan yang cukup deras.
Disebuah pemakaman umum, terlihat seorang gadis masih teguh berdiri disamping pusara yang masih merah dan basah karena masih beberapa jam yang lalu.
Tubuhnya basah kuyup terguyur hujan yang seolah sedang ikut berduka pada si gadis.
"Hujan, Vi. Kita pulang!" tegur seorang laki-laki dengan napas tersengal dan berusaha memayungi tubuh gadis itu.
Napasnya tidak beraturan sebab baru saja berlari dari arah parkiran untuk mengambil payung yang berada didalam bagasi mobil.
"Aku masih mau disini. Mas Harry pulang saja duluan," ujar Ghavi keukeuh.
Ya. Gadis itu adalah Ghavi yang baru saja kehilangan keluarga satu-satunya yang tersisa. Dan laki-laki yang masih setia menemaninya sedari siang itu adalah Harry.
"Tapi ini sudah sore, Vi. Hujannya semakin lebat. Belum lagi petir mulai menyambar," bujuk Harry yang juga ikut basah sebab payung yang dia bawa tidak cukup lebar untuk memayungi mereka berdua.
"Tapi aku masih mau disini," lirih Ghavi.
"Besok kita bisa datang lagi, Vi. Untuk sekarang sebaiknya kita pulang dulu, ya. Hujan dan petirnya semakin besar. Kasihan Eyang Sosro kalau kepergiannya ditangisi terus. Kata Pak Ustad itu bisa menjadi penghalang bagi arwah yang hendak menuju alam kubur sebab keluarganya tidak ikhlas karena terus menangisinya. Kamu tidak mau, kan kalau eyangmu tertahan. Mau masuk kealam lain tidak bisa, pulang kerumah juga tidak mungkin."
"Ikhlaskan saja, Vi. Masih ada aku yang akan menjadi keluargamu. Bapak dan Ibu pasti juga mau menjadikanmu anak perempuan mereka, kok. Kan, mereka tidak punya anak perempuan. Aku juga sangat senang kalau kamu mau jadi adikku."
"Akunya yang ogah jadi adik kamu. Nant?!i aku disuruh-suruh terus sama kamu. Huh!" sergah Ghavi sedikit menggerutu.
Yess! Pancingannya berhasil, batin Harry.
Senyum terbit dibibir Harry. Harapannya menghibur Ghavi untuk mengalihkan kesedihannya ada tanggapan.
"Ya, sudah kita pulang sekarang. Kalau masih tidak mau juga, aku gendong, nih, aku bawa pulang ke Dieng, Banjarnegara buat aku jadikan adik. Biar bisa kusuruh-suruh seperti kata kamu tadi," lanjut Harry dengan ledekannya.
"Tidak sudi jadi adiknya Mas Harry," balas Ghavi mulai bisa diajak bercanda.
__ADS_1
Tidak ada lagi air mata, tidak juga tangis. Ghavi berjongkok setelah sekian lamanya berdiri.
Diusapnya papan nama untuk terakhir kalinya hari itu sebagai bentuk penghormatan terakhirnya.
"Oh, kalau jadi istri mauu??" ledek Harry makin menjadi setelah Ghavi kembali berdiri.
"Mas Harryyy, apaan, sih. Ogah. Bakal makin disuruh-suruh kalau aku jadi istri kamu."
Ghavi memukul lengan Harry sebal.
Kesempatan Harry menarik tangan gadis itu bergerak menjauh dari makam untuk segera pulang sebab hari mulai gelap.
"Hahaha ...!" Harry tergelak.
"Terus, maunya jadi apa?" tanyanya.
Sembari menuntun Ghavi menuju mobil dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan memegang payung hitamnya.
"Kok, tidak tahu, sih?!"
"Mm ..., maunya jadi kakak kamu, tapi kayaknya tidak mungkin, deh," sahut Ghavi lirih.
"Kenapa?" tanya Harry pura-pura.
Harry tahu betul dengan maksud ucapan gadis yang menjadi mahasiswinya itu.
"Soalnya umurku baru sembilan belas bulan depan. Sedang Mas Harry sudah tua, sudah dua puluh tujuh. Masa kakaknya lebih muda dari adiknya?!"
"Hahaha ...!" gelak Harry.
"Kalau jadi kakak ipar, mau tidak?!" pancingnya lagi sembari memasang seat belt.
__ADS_1
Dikemudikannya mobil meninggalkan makam menuju kediaman Eyang Sosro.
"Kok, diam?! Mau tidak jadi kakak iparku? Kalau mau biar nanti bapak sama ibu yang lamar kamu buat jadi kakak ipar."
Ghavi tidak menjawab gurauan Harry. Dia hanya mengerucutkan bibirnya kecut.
"Hei, kok malah manyun. Mas lagi berusaha menghibur kamu, tahu?!" tegur Harry begitu melihat Ghavi memgerucutkan bibirnya.
"Menghibur atau meledek?!"
"Hehe ...!"
"Sudah, ah, jangan bahas ini lagi. Mending Mas Harry pikirkan bagaimana caranya biar aku dapat ijin tidak masuk kampus lagi," tukas Ghavi.
"Huuu, maunya!" gerutu Harry.
"Kayaknya cuma kamu, deh mahasiswiku yang jarang masuk kuliah. Sudah gitu minta perlakuan khusus, lagi. Kapan lulusnya kalau sering bolos?!"
"Hehe...! Kan Mas Harry tahu sendiri alasannya apa," kekeh Ghavi malu.
"Pokoknya mulai minggu depan, kamu harus rajin kuliah biar cepat lulus. Kalau perlu kejar SKS."
"Siap, Pak Dosen!" jawab Ghavi sembari mengangkat tangannya untuk hormat.
Tanpa terasa mobil memasuki garasi kediaman Eyang Sosro. Meraka berdua yang baru turun dari mobil langsung disambut oleh Liana dan yang lain yang sudah menunggunya.
"Ghaviii!!" teriak Liana langsung menghambur ke pelukan gadis itu begitu memasuki rumah.
Tak dihiraukannya baju basah yang dikenakan sahabatnya itu. Dia hanya ingin memeluknya sebagai wujud bela sungkawa dan sekaligus menguatkan Ghavi.
"Lili, kapan datang?!" hambur Ghavi kedalam pelukan Liana.
__ADS_1
Kedua gadis itu bertangis-tangisan dalam pelukan. Semua yang hadir dirumah itu hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca, ikut merasakan kesedihan dari keduanya.