Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
perjalanan baru dimulai


__ADS_3

Seorang gadis yang bisa dikatakan bukan remaja lagi itu melangkah dengan mantap ditempat penjemputan penumpang disebuah bandara Internasional di Jakarta.


Tubuhnya tetap saja mungil meski sudah beberapa tahun berlalu.


Dengan dress selutut warna peach motif bunga-bunga yang dikenakannya, gadis itu terlihat semakin cantik. Apalagi rambut hitam lurus yang dulu dipotong pendek sebahu itu kini dibiarkan memanjang sebatas sepinggang, menambah keanggunannya.


"Selamat datang, Non! Senang bisa melihatmu lagi," sapa seorang laki-laki paruh baya yang menjemput kedatangannya.


"Aku juga senang bisa melihatmu lagi, Pak," sahut gadis itu seraya menyalami lalu memeluk sebentar laki-laki tersebut.


"Mari, Non! Mau langsung pulang atau mampir kesuatu tempat dulu?!"


Diambilnya koper kecil dari tangan si gadis. Ya. Gadis itu hanya membawa koper kecilnya, sebab koper-koper yang lain sudah dia paketkan lebih dulu sekitar seminggu sebelum kepulangannya.


"Langsung pulang saja, Pak! Aku lelah ingin langsung beristirahat. Lagipula, aku juga sudah rindu pada Ibu," jawab si gadis.


Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk sembari memasukkan koper kedalam bagasi. Setelah itu membukakan pintu mobil untuk majikan mudanya.


"Ibu sehat, kan, Pak?"


Si gadis membuka percakapan ketika mobil mulai meninggalkan bandara membelah jalanan ibu kota yang selalu padat.

__ADS_1


"Sehat, Non! Ibu sangat merindukan Non. Katanya Non terlalu lama dinegeri orang, takut kecantol dengan bule sana dan tidak pulang lagi kerumah. Haha ... ."


"Ah, Ibu bisa saja. Mana mungkin aku betah disana sementara orang-orang terdekatku ada disini?!"


"Yah, siapa tahu saja, Non. Orang bulenya ganteng-ganteng begitu," kelakar laki-laki paruh baya yang notabene adalah supir pribadi keluarga si gadis.


"Darimana Bapak tahu kalau bulenya ganteng-ganteng?!"


"Dari foto yang Non kirim ke ponsel Ibu, Non."


"Owh!"


Gadis itu teringat dia pernah beberapa kali mengirimkan fotonya pada asisten rumah tangga yang sudah dia anggap sebagai pengganti ibunya itu. Sebagai pelepas rindu, kata si Ibu.


"Baik, Non!"


Mobil pun akhirnya sampai dihalaman sebuah rumah setelah sebelumnya mampir ditoko kue.


Si gadis langsung turun tanpa menunggu supir membukakannya pintu begitu dilihatnya wanita paruh baya sudah berdiri menyambutnya dihalaman rumah yang sudah lama sekali dia tinggalkan.


"Ibuuu!!"

__ADS_1


Dengan berlari gadis itu langsung menubruk tubuh wanita itu penuh kerinduan.


"Non Ghavi! Ibu juga sangat merindukanmu, Non! Ibu kira kamu tidak akan kembali."


Dipeluknya erat gadis yang sudah diasuhnya sejak bayi itu penuh haru.


Akhirnya mereka dipertemukan kembali setelah lima tahun berlalu.


Ya! Gadis itu adalah Ghavi. Setelah mengurus berkas pertukaran mahasiswa yang dikirimkan oleh salah satu universitas di Ausie, akhirnya Ghavi terbang ke negara kanguru itu bersama Harry yang juga melanjutkan S2-nya disana.


Apa yang Harry sarankan dulu langsung dia lasanakan. Begitu Ghavi selesai melakukan pertukaran mahasiswa, gadis itu langsung mengurus kepindahan kuliahnya disana hingga selesai.


Dan kini Ghavi kembali lagi ke Indonesia serta memutuskan akan kembali menetap di Jakarta, tinggal dirumah peninggalan orang tuanya dan tinggal bersama Ibu Yoyon dan Pak Yoyon yang sudah dia anggap sebagai pengganti orang tuanya.


Sementara rumah Eyang Sosro yang di Jogjakarta sudah dia serahkan sepenuhnya pada Bi Narti, ibunya Risa, sesuai amanah Eyang Sosro meskipun dia bebas keluar masuk dirumah itu jika dirinya datang berkunjung sewaktu-waktu.


"Ayo masuk, Ibu sudah menyiapkan masakan kesukaan Non."


Bu Yoyon menggandeng tangan Ghavi dan membawanya masuk ke dalam rumah yang masih tetap sama meski sudah lima tahun Ghavi tinggalkan.


Dirumah itulah nanti dirinya memulai perjalanan baru hidupnya yang entah akan seperti apa kedepannya.

__ADS_1


***


__ADS_2