
Setelah puas bermain, kini Ghavi, Liana dan Bintang tengah berada disebuah restaurant yang dulu pernah Ghavi datangi bersama Handy dan Rindu.
Tempat duduk yang sedang diduduki saat ini pun kebetulan adalah tempat duduk yang sama yang pernah mereka duduki.
Ghavi jadi merasa de javu pada masa beberapa tahun silam saat dirinya dan Handy menjadi orangtua sehari bagi Rindu yang ingin menikmati kehidupan lengkap dan penuh bahagia bersama kedua orangtua layaknya anak-anak lain. Kehidupan yang tidak pernah Rindu rasakan selama dia hidup terbuang di Panti Asuhan Cahaya.
"Kamu kenapa, Vi, kok melamun?"
Liana menyenggol siku Ghavi yang bertumpu dimeja.
"Eh, oh!"
Ghavi tergagap dari lamunannya.
"Enggak, kok! Cuma lagi teringat saja. Dulu, sekitar lima tahun lalu, direstaurant ini, dikursi ini aku dan DIA menemani Rindu makan. Rasanya masih begitu nyata meski sudah lama berlalu."
Ghavi mengaduk es jeruknya.
Pandangan matanya mengarah pada Bintang yang masih sibuk menghabiskan ayam kukus bumbu kuning pesanannya.
" Eh!"
Liana terkejut. Gadis itu benar-benar tidak tahu jika restaurant yang dipilihnya justru mengingatkan Ghavi dengan orang dari masa lalunya.
Liana hanya berpikir, ini adalah restaurant sehat yang menjadi langganan keluarganya.
" Sorry, ya, Vi! Aku benar-benar tidak bermaksud. Aku tidak tahu kalau ternyata tempat ini mempunyai kenangan untukmu."
Liana menggenggam tangan Ghavi yang bebas.
" Ah, tidak apa-apa! Aku baik-baik saja, kok!"
Ghavi tersenyum kecut kearah Liana.
" Emm, Vi! Sebenarnya ..."
Liana tidak melanjutkan kalimatnya. Dia bingung mau memulainya darimana?
"Ada apa?!"
Ghavi menunggu kalimat Liana selanjutnya.
"Eh, itu-anu, ck, gimana ngomongnya, ya?!"
Liana tergagap.
"Nomong saja, Li!"
"Sebelumnya aku mau minta maaf!"
"Maaf? Untuk??"
Ghavi mengerutkan keningnya heran. Untuk apa Liana meminta maaf padanya?? Bukankah dia tidak berbuat salah??
" Aku mau tanya, sebenarnya, apa alasan kamu menghindari DIA sampai-sampai kau tidak mau mendengar kabar tentang kehidupannya?!"
Liana bertanya takut-takut.
Oh! Jadi ini yang mau Liana tanyakan.
" Menurutmu?!"
Ghavi balik bertanya. Ditatapnya Liana dengan tatapan sendu.
"Ekhm!"
Liana berdehem.
"Me-menurutku, sudah saatnya kamu berdamai dengan keadaan. Maafkan kesalahannya. Dia juga sudah mendapat karmanya sekarang. Dia sangat menyesal sekali, Vi! Tidak inginkah kamu memberinya maaf?!"
"Perkataanmu sama dengan yang diucapkan Mas Harry. Atau, jangan-jangan kalian jodoh, ya. Hihi ...!"
Ghavi terkikik geli.
"What?!" Liana membelalak.
"Yang benar saja kamu!" sungutnya.
"Kenapa? Mas Harry ganteng, mapan, masih single lagi," ledek Ghavi sambil menoel dagu Liana.
"Tidak mungkin, Vi! Kau tahu, kan, kami itu beda keyakinan," sanggah Liana.
"Kalau kau mau mengikuti keyakinannya, kurasa dia mau menerimamu. Tapi, kalau dia yang harus mengikutimu, aku ragu dia mau."
"Sudah, ah! Kenapa malah jadi bahas Mas Harry, sih?!"
Wajah Liana bersemu merah dan Ghavi menyadari itu. Mungkin kejadian beberapa tahun lalu akan terulang kembali. Bedanya, dulu Lian yang menyukai dirinya secara terang-terangan, sekarang Liana yang diam-diam menyukai Harry.
Persamaannya adalah, kedua kakak beradik itu menyukai kami yang sama-sama beda keyakinan dengan mereka.
Meskipun dikeluarga Lian dan Liana semua anggota keluarga diberi kebebasan untuk beragama dan berkeyakinan, namun orangtuanya melarang keras pada mereka untuk pindah agama hanya karena menyukai seseorang. Mereka boleh pindah agama karena sesuai hati nurani mereka sendiri.
Seperti halnya Lian. Akhirnya laki-laki itu memutuskan pindah agama seperti yang Ghavi anut, tiga tahun setelah dia mempelajari agama tersebut.
__ADS_1
Baru setelah itu dia memutuskan menikah dengan Diane yang juga sama-sama muallaf. Hanya bedanya Diane muallaf sejak masih dibangku SMP. Keputusan yang terbilang berani menurut usianya yang baru lima belas tahun waktu itu.
"Cie, cie!! Wajahmu merah, lho, Li."
Ghavi terus saja menggodanya.
"Apaan, sih?! Jangan mengada-ada, deh!"
Liana menampol tangan Ghavi yang hendak mencoleknya lagi.
"Tante sama Aunty berisik sekali dari tadi. Malu tahu, dilihat banyak orang," celetuk Bintang.
Bocah yang sedari tadi asyik sendiri itu sudah menyelesaikan makanan utamanya, sekarang terlihat sedang memakan es krim.
"Kamu, sih!"
Liana menabrakkan bahunya dan bahu Ghavi.
Dilihatnya semua pengunjung yang duduk disekitar mereka melihat kearahnya.
"Maaf mengganggu kenyamanan kalian!"
Ghavi menangkupkan kedua tangannya didepan dada dengan memandang pengunjung disekitarnya sebagai permintaan maaf.
"Ngomong-ngomong, soal yang tadi, bagaimana menurutmu seandainya, nih, ya. Seandainya DIA menemuimu dan kembali memohon untuk mendapatkan permintaan maaf darimu, kira-kira kamu maafin DIA, tidak?"
Liana menatap manik mata Ghavi berusaha mencari jawaban.
"Entahlah! Maybe?!"
Ghavi menyeruput habis es jeruknya dengan sekali sedot.
"Terus, seandainya DIA mau balikan lagi sama kamu, apa kamu bakal terima dia seperti dulu?? Secara sekarang dia sudah bercerai dari istrinya."
"Rupanya kamu tahu banyak tentangnya, ya. Kamu bisa tahu sedetail itu," ujar Ghavi.
"Eee, itu, sebenarnya bukan cuma aku yang tahu tentangnya. Tapi, semua orang terdekat kamu pun tahu. Bahkan kudengar satu tahun terakhir dia memutuskan mengasuh putrinya sendiri dan hijrah ke Jakarta. Maaf, Vi! Aku tidak bisa lagi terus menyembunyikan masalah ini darimu. Kamu harus tahu keadaannya sekarang."
Liana menggenggam tangan Ghavi dan meremasnya pelan.
"Mas Harry kemarin menghubungiku. Dia bilang masih di Jakarta. Ada pekerjaannya yang bermasalah dan harus segera diselesaikan. Dia tinggal sementara dirumah kakaknya."
"Oh, kupikir Mas Harry sudah pulang. Bilangnya padaku cuma tiga hari," sahut Ghavi.
"Niat awalnya begitu."
Liana mengangguk membenarkan.
"Aunty, Bintang sudah kenyang."
"Oh, iya, Sayang! Aunty juga sudah selesai makannya."
Liana mengelap mulut Bintang yang sedikit belepotan es krim.
"Tante juga sudah!"
Ghavi menimpali.
"Apa kita jadi ke panti?!" tanya bocah itu.
"Jadi, dooong!! Nih, Tante lagi pesan kue dulu buat dibagi sama teman-teman disana."
Ghavi memesan kue dan minuman melalui aplikasi online dan memberikan alamat panti. Dia juga sudah membeli peralatan sekolah sewaktu Bintang masih asyik bermain ditemani Liana. Peralatan sekolah yang sudah dia beli langsung dimasukkan kebagasi mobil sekalian.
"Ayo! Aku sudah tidak sabar, Tante!"
Bintang menarik tangan Ghavi dan Liana.
"Ayo!!" jawab Ghavi dan Liana kompak.
Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan restaurant menuju mobil.
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil pun memasuki pekarangan Panti Asuhan Cahaya yang tampak ramai.
Hampir semua anak panti keluar halaman menyambut kedatangan mereka yang sebelumnya sudah memberitahukan kedatangannya pada pengurus panti.
"Kakaaakk!!" teriak mereka saling berebut menyambut Ghavi dan rombongannya.
"Kenapa Kakak baru datang lagi?!" tanya seorang anak perempuan yang langsung bergelayut manja dilengan Ghavi.
"Iya! Maaf, Kakak sedang ada banyak pekerjaan akhir-akhir ini," jawab Ghavi tersenyum.
Dielusnya kepala anak-anak satu persatu.
Bintang juga menjadi rebutan anak-anak perempuan karena menurut mereka Bintang adalah bocah ganteng yang menggemaskan.
Pipinya sampai memerah akibat kena cubitan gemas dari anak-anak.
"Aunty, sakiiitt!!"
Bintang meringis kesakitan.
"Haha ...! Anak kuat tidak boleh nangis," hibur Liana tersenyum.
__ADS_1
"Mereka cubitin aku," adu bocah itu.
"Habisnya gemas, sih. Hehe ...!" kekeh salah satu bocah yang tadi ikut mencubit.
"Tapi, kan sakit," Bintang merajuk.
"Iya, Kakak minta maaf! Oh, ya, nama Kakak Raina. Nama kamu siapa?"
"Bintang, Kak!"
Bintang menyalami tangan Raina.
"Nah, Raina, ini keponakan Aunty!" Liane mengenalkan Bintang pada Raina.
Liana yang sudah beberapa kali ikut kepanti bersama Ghavi sudah mengenal Raina. Anak delapan tahun itu adalah anak yang lembut. Saking lembutnya sering sekali menangis atau hujan air mata saat diganggu anak-anak lain. Sesuai dengan namanya.
"Oh!"
Ghavi pun mengajak anak-anak masuk ke dalam bermaksud membagikan alat tulis yang dibawa Liana.
"Ayo, adik-adik, kita masuk, yuk! Lihat, nih Kakak sama Kak Lili bawa alat tulis untuk kalian belajar."
"Horeee!!" sorak anak-anak penuh semangat.
Namun, sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam panti, sebuah mobil Alphard warna hitam memasuki pekarangan sambil membunyikan klakson membuat semua orang yang ada disana lantas menengok.
Anak-anak yang hendak mengikuti Ghavi masuk, langsung berhenti. Mereka menunggu penumpang mobil yang baru masuk itu turun.
"Wah, lihat! Itu mobil Papa datang!" celetuk seorang anak kecil sekitar umur enam tahun menunjuk kearah mobil tersebut.
"Iya! Sebaiknya kita tunggu dulu Papa dan si Imut," sahut yang lain.
"Maksud kalian, Papa itu siapa??" tanya Ghavi heran.
Baru kali ini dia mendengar adik-adiknya memanggil tamu dengan sebutan papa. Dan, siapa si Imut?!
"Itu, Kak, Papa itu orang yang waktu dulu diminta Rindu menjadi papanya. Sejak kejadian itu anak-anak jadi memanggilnya papa hingga sekarang," jelas Pak Dinar, salah satu pengurus panti, yang entah sejak kapan berdiri diantara anak-anak.
Deg!
Ghavi terkejut mendengar penjelasan Pak Dinar.
"Maksud Bapak?!"
"Maksud saya yang mereka panggil papa itu adalah Pak Handy Darmawan, Non! Itu, lho, pemilik panti yang sekarang. Masa Non Ghavi lupa," terang Pak Dinar.
Belum juga Ghavi menanggapi pernyataan Pak Dinar, sebuah suara anak kecil memanggilnya.
"Tante Cantiiikk!!"
"Eh!"
Ghavi yang merasa familiar dengan suara itu pun menoleh.
"Sunny?!"
Sunny berlari kearahnya dan langsung menubruk tubuh Ghavi.
"Kita bertemu lagi, Tante!" ujarnya tertawa.
"Iya! Sunny ngapain disini? Mbak Nia-nya mana?" tanya Ghavi celingak celinguk mencari Mbak Nia, pengasuh Sunny.
" Ituuu!!" tunjuk Sunny kearah mobil Alphard terparkir.
Tampak disana Mbak Nia sedang kesulitan berjalan karena harus membawa banyak sekali paper bag yang berlogo sebuah junk food yang terkenal dengan burger dan minuman sodanya.
Tiba-tiba saja pandangan Ghavi teralihkan pada sosok lain yang ada disebelahnya. Sosok yang sedang duduk dikursi roda yang tengah didorong oleh seseorang dibelakangnya.
Deg! Deg! Deg!
Kedua sosok itu, yang manduduki kursi roda dan yang mendorongnya, adalah sosok yang Ghavi sangat kenal dari masa lalunya, terutama sosok yang duduk dikursi roda itu.
Dialah sosok yang sengaja dia hindari dan bahkan kabarnya pun dia tak mau dengar lagi.
Tapi hari ini, entah keberuntungan atau musibah, Ghavi justru dipertemukan kembali pada sosok itu.
"M-Mas Han-dy!!"
Tanpa sadar Ghavi menggumamkan nama sosok tersebut. Matanya terus menatap sosok itu yang sepertinya juga sedang memandangnya dengan tatapan terkejut.
"Tante Cantik kenal sama Papa?"
Pertanyaan Sunny mampu menamparnya dari ketertegunannya.
" Pa-Ppapa?!"
Kening Ghavi berkerut. Tatapannya beralih pada Sunny yang masih didekapnya.
"Iya! Itu Papa aku, Tante Cantik!" tunjuk Sunny kearah sosok dikursi roda.
"Bukankah tadi pagi aku bilang Papaku belum bisa berjalan?? Papaku kecelakaan. Kata Om Harry, waktu itu aku masih bayi. Makanya Papa selalu pakai kursi roda."
Ghavi membelalak mendengar penuturan Sunny. Tangannya yang sejak tadi mendekap bahu Sunny, tiba-tiba melemas. Tubuhnya langsung mundur beberapa langkah kebelakang sebelum akhirnya limbung tak sadarkan diri didada Pak Dinar yang cukup sigap menangkapnya.
__ADS_1
Sebelum matanya benar-benar terpejam, sayup-sayup sempat didengarnya seseorang memekikkan namanya dengan penuh kecemasan. Mungkinkah?!