
Benar perkiraan dokter kemarin. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, siang ini akhirnya Ghavi diijinkan pulang kerumah.
Bu Yoyon sudah menghubungi suaminya agar menjemput kepulangan anak sang majikan.
"Ibu senang, akhirnya hari ini kau bisa pulang dan beristirahat dirumah," ucap Bu Yoyon.
Wanita setengah abad itu sedang membereskan pakaian dan peralatan lain yang sempat diambil dan dibawanya kerumah sakit kemarin.
"Iya, Bu! Aku juga senang sekali akhirnya sebentar lagi aku terbebas dari selang infus ini."
Ghavi menunjuk selang ditangan kirinya yang sedang dilepas seorang perawat.
Tadi pagi dokter sudah visit dan mengijinkan dia pulang selepas jam makan siang. Sekarang gadis itu tengah menunggu perawat menyelesaikan melepas infusan.
Rasanya dia sudah tidak betah lagi berbaring diranjang rumah sakit yang sempit sehingga membatasi gerak tidurnya yang kalau dirumah sendiri posisinya sedikit berantakan.
"Sudah selesai, Mbak! Selamat istirahat dirumah. Jangan lupa minum obat dan jaga kesehatan, ya," nasehat perawat itu seraya tersenyum.
Dirapihkannya peralatan yang digunakan untuk melepas infusan sesaat sebelum keluar ruangan.
"Terima kasih, Sus! Iya, rasanya senangvsekali bisa bebas dari ikatan selang itu," ujar Ghavi lega.
"Sama-sama! Mari, Mbak, Bu! Selamat jalan dan selamat sampai tujuan!"
Sang perawat pun keluar meninggalkan Ghavi dan Bu Yoyon.
"Bu, aku mau ganti bajuku dulu, ya. Kalau Bapak datang, suruh tunggu aku sebentar."
Ghavi beranjak kekamar mandi setelah mengambil baju ganti yang sudah dipersiapkan Bu Yoyon sebelum perawat datang melepas infus.
"Sudah beres semua, Bu?" tanya Pak Yoyon yang baru datang.
"Eh, Bapak! Sudah! Ini tinggal diangkut saja."
Bu Yoyon yang mengetahui suaminya sudah tiba langsung menunjuk beberapa barang yang harus diangkut.
"Maaf, telat! Tadi mampir ke bengkel dulu, pecah ban," terang Pak Yoyon.
"Iya, tidak apa-apa! Ini juga barusan diijinkan pulang sama perawat."
"Oh!"
Pak Yoyon pun menghitung barang yang harus dibawa pulang. Ada dua tas pakaian ganti milik Ghavi dan istrinya, ada peralatan mandi dan selimut yang dibawa dari rumah, ada juga satu dus berisi sisa air mineral dan makanan serta buah-buahan yang sempat dibawakan oleh Liana dan Ane saat datang berkunjung.
"Ghavi mana, Bu?!" tanya Pak Yoyon yang melihat ranjang pasien sudah kosong.
"Dia dikamar mandi sedang berganti pakaian," tunjuk Bu Yoyon kearah kamar mandi dengan dagunya.
" Baru saja perawat melepas selang infusnya. Tunggu saja sebentar, kita turun bersama-sama saja," tuturnya lagi.
"Bapak sudah datang?! Ayo, kita langsung pulang saja," ajak Ghavi yang baru keluar kamar mandi.
"Ayo!"
Pak Yoyon mengambilkan kursi roda untuk Ghavi.
Ditaruhnya tas pakaian kepangkuan Ghavi yang sudah duduk dikursi roda. Bu Yoyon diminta mendorong kursi roda, sementara dia sendiri mengangkut kardus dan yang lainnya.
***
Malam menjelang. Ghavi sedang rebahan di sofa panjang di ruang tengah menonton televisi sembari menunggu Bu Yoyon menyelesaikan masakan untuk makan malam.
Pak Yoyon sendiri duduk di teras depan mencari angin.
Hawa kota Jakarta semakin panas saja akhir-akhir ini. Ditambah, mendung hitam yang memayungi langit ibu kota tidak juga menitikkan tetes-tetes airnya menjadi hujan yang menjadikan udara semakin gerah.
"Selamat malam, Pak Yoyon!" sapa Aslan yang mendorong kursi roda.
Handy duduk dikursi roda tersebut sambil memangku putrinya.
"Selamat malam, Mas Aslan, Mas Handy!" ucap Pak Yoyon yang sedikit kaget melihat kedatangan tetangga barunya itu.
"Dan ini si cantik Sunny, benar?!" godanya mencubit pipi gembil gadis cilik dipangkuan Handy.
"Iya, Kakek!" jawab bocah itu mengulurkan tangan mungilnya meminta salim.
"Wah, pintarnya cucu Kakek!"
Pak Yoyon pun menyambut uluran tangan Sunny.
__ADS_1
"Pasti Sunny mau jengukin Tante Cantik, ya?!"
"Iya, Kek! Tante Cantik mana?"
"Ada, didalam! Ayo masuk!" ajak Pak Yoyon menurunkan tubuh Sunny dari pangkuan ayahnya dan menggendongnya.
"Mari masuk, Mas!"
Aslan pun segera mendorong Handy mengikuti langkah Pak Yoyon memasuki rumah.
"Vi, ada tamu kecil ingin menjengukmu!" kata Pak Yoyon saat tiba di ruang tengah.
Akhirnya Pak Yoyon mau memanggil Ghavi hanya dengan namanya tanpa embel-embel 'Non' sesuai permintaan gadis yang sudah diangap sebagai putrinya tersebut.
Hanya Bu Yoyon yang kadang-kadang masih suka memanggilnya panggilan itu.
"Eh, tamu kecil? Siapa, Pak?!"
Ghavi menolehkan pandangan dari layar datar di depannya pada Pak Yoyon.
Matanya seketika membulat melihat Sunny berada digendongan pria setengah baya itu.
"Sunny?!!"
"Tante Cantik!!"
Sunny merosot turun dari gendongan Pak Yoyon dan berlari kearah Ghavi.
Tangan bocah perempuan itu lantas direntangkan memeluk tubuh Ghavi yang sedikit kaku saking kagetnya.
"Sunny sama siapa kesini, Pak?" tanyanya menatap Pak Yoyon.
"Sama Papa dan Om As, Tante!"
Sunny menjawab lebih cepat.
"Iya, Vi! Sekarang mereka tetangga baru kita," jelas Pak Yoyon.
"Jadi, tetangga sebelah yang tadi siang Bapak ceritakan itu mereka?!" Ghavi terkejut.
"Iya!" jawab seseorang dari arah ruang tamu.
"Maaf mengejutkanmu! Sunny ingin sekali menengokmu waktu di rumah sakit, tapi aku melarangnya. Begitu dengar kamu sudah pulang, dia langsung merengek minta kesini."
Handy memutar rodanya sendiri agar bisa berjalan mendekati sofa yang diduduki Ghavi.
" Pak Yoyon benar! Aku yang sudah membeli rumah Pak Santo. Lebih tepatnya mengambilnya karena beliau mempunyai hutang padaku dan berniat membayarnya dengan rumah tersebut. Tentu saja aku langsung setuju," imbuhnya sambil tersenyum penuh arti.
"Oh!"
Ghavi tidak tahu harus berkomentar apa. Dia benar-benar tidak menyangka jika tetangga baru sebelah rumahnya adalah orang lama dari masa lalunya.
Tadi siang, sesampainya Ghavi dirumah, dilihatnya rumah sebelah yang merupakan rumah Pak Santo, tetangganya itu terlihat ramai. Ada beberapa orang yang terlihat hilir-mudik mengangkut barang.
Padahal, selama satu bulan terakhir setelah kepulangannya dari Ausie, biasanya Ghavi melihat rumah itu tampak sepi. Menurut Bu Yoyon, rumah tersebut sudah beberapa bulan lamanya kosong.
Bu Yoyon bilang Pak Santo pindah kekampung halamannya dan menjual rumahnya pada seseorang.
Dan saat tadi siang rumah itu cukup ramai, Ghavi pun bertanya pada Pak Yoyon.
Kata Pak Yoyon, rumah itu baru ditempati oleh pemilik barunya kemarin. Jadi, wajar saja banyak orang lalu-lalang memindahkan barang-barang.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang, sudah baikan?!"
Handy memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Sudah! Eh, duduk Mas Aslan!"
Ghavi baru tersadar jika Aslan masih saja berdiri.
Asisten Handy yang dikenalnya dulu sebagai supir kantor dari laki-laki itu kini diangkat menjadi asisten pribadi semenjak Aswan tewas kecelakaan.
Pak Yoyon tadi pamit ke belakang menyuruh istrinya membuatkan minum.
"Tidak, terima kasih! Saya harus pamit pulang dulu!" jawab Aslan membungkuk.
"Eh, kenapa?!"
"Tadi ada tukang datang ke rumah untuk memasang AC. Jadi, dia harus menunggunya sampai selesai atau kalau-kalau tukang itu butuh sesuatu Aslan bisa mencarinya," sahut Handy.
__ADS_1
"Aslan, pulanglah! Jemput aku pukul sembilan nanti," perintahnya.
"Baik, Bos! Permisi! Mari, Nona!"
Aslan kembali membungkuk sebelum akhirnya dia pulang.
"Pa, mana bebek bakar madunya?! Sini, biar aku bawa ke belakang!"
Sunny meminta bebek bakar dalam paper bag yang masih berada dipangkuan Handy.
"Oh, iya! Papa sampai lupa. Ini! Kasihkan ke Nenek biar dihidangkan dipiring saji, ya."
Handy memberikan tentengan itu pada putrinya yang langsung berlari kearah belakang mencari Nenek Yoyon.
"Maaf! Sunny ingin makan malam disini bersamamu, bolehkan?!"
Ghavi hanya mengangguk mengiyakan.
Hening kembali terasa.
"Vi!"
Handy memecah keheningan.
"Ya?!"
Ghavi menatap Handy.
Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan dihatinya melihat kondisi Handy sekarang. Laki-laki yang dulu gagah dan kekar, dingin dan tegas itu kini terlihat lebih kurus tak berdaya di atas kursi rodanya. Rambut gondrongnya saat ini dibiarkan begitu saja tanpa ikat rambut menambah kekacauan hidupnya.
"Maaf!" ujar Handy kemudian.
"Untuk?!"
"Semuanya! Semua yang sudah aku lakukan padamu selama ini. Aku begitu merasa bersalah padamu. Aku juga merasa bersalah dan berdosa pada mendiang kakek dan orangtuamu. Sebab, aku sudah melanggar janjiku pada mereka. Bahkan, aku sudah berani menyakitimu. Pasti mereka sangat marah padaku sehingga aku mendapatkan karma ini," ujarnya menunduk.
Ghavi dapat melihat dari sorot redup mata Handy yang seakan menjelaskan betapa hancurnya hidup laki-laki itu sekarang.
"Sudahlah, Mas! Aku sudah memaafkanmu! Yang lalu biarlah berlalu. Anggap saja ini semua takdir yang sudah digariskan untuk kita jalani masing-masing," ucap Ghavi pada akhirnya.
Gadis itu ingin mengikuti kata hati dan Harry yang memintanya untuk berdamai dengan keadaan.
"Aku turut prihatin atas apa yang sudah menimpamu," imbuhnya.
"Vi!"
Handy memberanikan diri menggenggam tangan Ghavi.
"Terima kasih sudah mau memaafkanku. Aku memang bodoh," ujarnya.
"Bisakah kita memulainya lagi dari awal?!" harapnya lagi.
"Mas, aku memang sudah memaafkanmu. Tapi ..."
Ghavi berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Handy.
"Jika untuk berteman, mari kita berteman. Tapi, jika kau menginginkan yang lebih dari itu, maaf! Aku masih butuh banyak waktu untuk menata hati dan perasaanku."
"Apa karena tubuhku yang cacat tak sempurna sekarang, jadi kau menolakku?!" tanya Handy sedikit tersinggung.
"Tidak! Bukan begitu maksudku. Aku hanya ..."
"Baiklah! Aku seharusnya sadar akan diriku sekarang," potong Handy sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Mas!"
"Tante Cantik! Papa! Kata Nenek, makan malamnya sudah siap. Ayo kita makan!" teriak Sunny sambil berlari kecil menghampiri keduanya.
Ghavi pun tersenyum.
"Ayo, Sayang! Kebetulan Tante sudah sangat lapar sekali," sahut Ghavi sambil berdiri dari duduknya.
Dia berinisiatif mendorong kursi roda Handy meski laki-laki itu sudah mencegahnya.
Dimeja makan, tampak Pak Yoyon dan Bu Yoyon sudah duduk menunggu. Sunny yang sampai lebih dulu pun ikut duduk dikursi kosong diantara orangtua yang sudah dianggapnya sebagai kakek dan neneknya.
Sementara Ghavi duduk dikursi yang masih tersisa, bersebelahan dengan tempat kosong karena kursinya sudah dipindahkan untuk Sunny. Dan Handy sendiri tetap dikursi roda yang diberhentikan diruang kosong bekas kursi yang diambil untuk Sunny.
Mereka pun makan malam bersama dalam diam. Hanya sesekali terdengar bunyi sendok dan garpu yang saling beradu diatas piring dan sesekali rengekan Sunny pada Bu Yoyon yang dengan telaten menyuapi bocah itu disela suapannya sendiri.
__ADS_1