
"Terima kasih!" ucap Handy.
Saat ini dia sudah berada didalam mobil Fikar yang dikendarai Ghavi.
"Untuk?!"
Ghavi mengernyitkan dahi mendengar ucapan terima kasih dari Handy.
"Karena kamu sudah berhasil membujuk Sunny agar mau makan sayur."
"Oh! Tidak masalah! Bukan cuma Sunny saja, kok yang aku bujuk agar mau mengkonsumsi sayur. Aku juga berhasil merayu Bintang yang waktu itu tidak suka sayur. Tapi, sekarang dia sudah suka sayur."
"Siapa Bintang?!"
Handy yang duduk di samping kursi kemudi menoleh pada Ghavi yang tetap fokus menyetir.
"Itu, lho, anaknya Kak Lian dan Kak Ane! Kan, Mas Handy sempat bertemu waktu di Panti. Waktu itu dia datang bersama Lili dan aku. Ingat?!"
Ghavi mencoba mengingatkan pertemuan mereka di Panti beberapa saat yang lalu.
"Aku tidak mengingatnya! Yang aku ingat, kamu langsung pingsan begitu melihatku untuk yang pertama kalinya setelah empat tahun lebih kita tidak bertemu."
Pipi Ghavi langsung memerah malu mendengar jawaban Handy. Bukan hal itu yang dia maksud, kenapa malah justru kejadian itu yang dia ingat?!
"Ah, itu ... Saat itu sebenarnya aku sangat shock mengetahui jika ternyata Sunny adalah anakmu dan ... Mbak Vika," ujar Ghavi lirih.
Handy mengamati perubahan raut wajah gadis di sampingnya tersebut.
"Lalu, setelah mengetahui jika Sunny adalah putriku dan Vika, kenapa kau tidak menjauhinya atau pun membencinya?!"
Ciiitt ...!!!
Pertanyaan Handy yang sangat tak terduga itu membuat Ghavi mengerem mendadak, membuat Handy sedikit terlontar ke dasboard mobil.
Untunglah, ada sabuk pengaman yang mencegahnya dari benturan.
"Kenapa mengerem mendadak?! Kau hampir saja membahayakan kita berdua. Lihatlah ke belakang!" hardiknya pada Ghavi.
Handy menoleh untuk melihat keadaan dibelakang mobil.
Ghavi pun ikut menoleh ke belakang.
Dilihatnya sebuah mobil hampir saja menabrak mobil Fikar yang tengah mereka tumpangi akibat Ghavi mengerem mendadak barusan.
"Maaf!"
Ghavi melongokkan kepala keluar jendela mobil dan mengatupkan kedua tangannya kearah mobil di belakangnya sebagai permintaan maaf.
"Lain kali lebih hati-hati!" nasehat pengendara mobil yang kini mulai berjalan mendahului mereka.
"Iya! Sekali lagi saya minta maaf!" ucap Ghavi mengangguk.
"Hmm!" gumam pengendara itu lantas melesat meninggalkan mobil Ghavi yang masih berhenti.
"Huft!!"
Ghavi menghela napas lega.
__ADS_1
"Untung saja!" gumamnya.
"Makanya hati-hati kalau nyetir! Fokus!"
Handy ikut bernapas lega karena tidak sampai terjadi kecelakaan.
Sebenarnya laki-laki itu masih mempunyai sedikit rasa trauma akibat kecelakaan yang dialaminya tiga tahun lalu.
"Jangan mengumpat!" dumal Ghavi kesal.
Siapa tadi yang menyebabkan Ghavi mengerem mendadak?!
"Aku tidak mengumpat! Aku hanya mengingatkan," sergah Handy tidak mau kalah.
"Siapa coba yang menanyakan hal yang membuat aku gagal fokus menyetir?!"
"Aku cuma ... "
Handy tidak melanjutkan kalimatnya.
Kali ini dipandanginya Ghavi dengan serius.
"Kau belum jawab pertanyaanku!" ujarnya datar.
"Eh, pertanyaan yang mana?!" tanya Ghavi pura-pura lupa.
"Pertanyaan yang katamu membuatmu jadi gagal fokus menyetir."
Ghavi terdiam sejenak.
"Aku tidak bisa membenci kalian!"
Handy menatap tajam manik mata gadis yang sudah berhasil mengacaukan hatinya.
"Aku pergi karena ingin menyelesaikan pendidikanku."
"Bukan untuk menghindar?!"
"Aku ... salah satunya, iya! Bohong kalau aku tidak kecewa. Munafik kalau aku tidak sakit hati. Melihat orang yang mulai aku cintai dan sayangi lebih memilih wanita lain dan menikah dengan orang lain, bahkan memiliki anak dari hubungan itu. Padahal, saat itu kita masih terikat hubungan. Meskipun hubungan itu terjadi karena suatu perjodohan. Tapi aku juga sadar, aku hanya orang ketiga yang datang ditengah hubungan kalian."
Ghavi memalingkan mula ke luar jendela.
Dikerjapkannya matanya mencegah air matanya menetes. Namun, sekeras apapun dia berusaha, air mata tersebut tetap saja jatuh ke pipinya yang mulus.
"Tidak, Vi! Kau bukan orang ketiga diantara kami. Kau hadir justru setelah hubungan kami telah lama berakhir. Dan kau justru berhasil menyembuhkan luka yang ditorehkannya padaku saat itu," sanggah Handy cepat.
Ghavi tidak menanggapi sanggahan Handy. Dia justru melanjutkan mengeluarkan isi hatinya yang dia pendam selama ini.
"Saat pertama kali aku bertemu dengan Sunny di sekolahnya Bintang, aku merasa sangat familiar dengan bocah perempuan itu. Aku merasa de javu saat menatapnya. Kenapa?? Karena aku merasa melihat sosok Rindu dalam diri Sunny. Tapi, aku juga merasa bisa melihat dirimu juga diwajah polosnya. Aku berpikir, mungkin saja aku hanya terkenang dengan kenangan masa lalu yang melibatkan Rindu dan kamu kala itu."
Ghavi menyusut air matanya dengan tisyu yang Handy sodorkan.
"Sampai akhirnya kebenaran itu terungkap, jika ternyata Sunny benar-benar anakmu dengannya. Aku benar-benar shock antara percaya dan tidak! Semalaman di rumah sakit aku tidak bisa tidur memikirkan kenyataan itu. Rasa kecewaku, kemarahanku serta kebencianku yang pernah kupupuk selama empat tahun lebih itu seolah hilang tak berbekas saat melihat senyum polos Sunny yang menurutku ada bayang-bayang Rindu disana. Dan aku sadar, aku sudah salah telah menyayangi Sunny dalam bayang-bayang Rindu sejak aku mengenalnya. Maaf!!"
Ghavi semakin terguguk dengan tangisnya. Ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya yang kini basah oleh air matanya.
"Aku benar-benar tidak bisa membenci kalian lagi sekarang!" cicit Ghavi lirih.
__ADS_1
"Kenapa?!"
"Karena aku menyayangi Sunny! Aku tidak bisa membencinya, meskipun aku tahu dia adalah putri dari orang-orang yang pernah membuatku terluka."
"Meskipun kau menyayangi Sunny karena bayang-bayang Rindu," ujar Handy miris.
"Iya!"
"Hmm!"
"Maaf!!"
"Sebenarnya, ada sebuah kenyataan besar lagi yang belum kau ketahui sampai detik ini. Aku sudah berusaha keras untuk tidak memberitahukanmu. Aku takut, jika kenyataan ini kau ketahui, kau akan kembali membenci kami. Bahkan, mungkin kebencianmu kali ini akan membuatmu benar-benar menutup pintu maafmu."
Handy melihat Ghavi mulai penasaran dengan ucapannya.
"Tapi, setelah aku pikir-pikir, lebih baik aku mengatakannya sekarang sebelum orang lain yang memberitahumu."
"Ma-maksud Mas Handy apa?!" tanya Ghavi penasaran.
"Sebenarnya, Rindu itu,"
Handy berhenti sejenak.
"Rindu itu anak Vika dan ... aku!"
Jeddeeerrr!!!
Bagai terkena sambaran petir, tubuh Ghavi pun menegang.
Ghavi benar-benar tidak percaya mendengarnya. Rindu anak Vika dan Handy??!
Mulut Ghavi yang menganga tak percaya langsung ditutupinya dengan telapak tangannya.
"Jadi, Rindu ..."
"Ya! Rindu anak kami juga. Aku baru mengetahuinya satu tahun lalu. Saat itu aku berkunjung ke lapas karena Vika merengek ingin bertemu Sunny yang waktu itu masih berusia satu tahun. Walau bagaimanapun buruknya dia, Sunny tetap putrinya. Dan saat itulah, Vika baru jujur padaku."
"Tapi, bukankah dia sudah ... menikah?!"
"Sebelum Vika dijodohkan dengan orang pilihan orangtuanya, kami sempat menikah siri tanpa sepengetahuan orangtua kami saat kami masih kuliah dulu. Dan tak lama setelah itu kami dipaksa putus karena Vika telah dijodohkan. Rupanya satu bulan mereka menikah, Vika kedapatan hamil. Dan usia kandungannya sudah tiga bulan. Itu artinya, Vika sudah hamil anakku saat menikah dengan orang pilihan ayahnya. Suami Vika yang tidak mau menerima kehadiran anak itu, memutuskan membuangnya ke Panti Asuhan Cahaya. Vika sendiri mengetahuinya setelah Rindu meninggal."
"Oh, Tuhan!! Kenapa dunia ini begitu sempit?!"
"Sekarang, setelah semua kenyataan pahit ini kau ketahui, pilihan ada ditanganmu. Mau membenci kami, atau terus berhubungan baik meski hanya sebagai tetangga," tukas Handy pasrah.
"Meskipun jika aku boleh berharap, aku ingin kau tetap mau berbuhungan dengan kami. Apalagi, kulihat Sunny sudah mulai menganggapmu sebagai sosok yang bisa mengayominya."
"Aku ...,"
***
Huh! Nulis 1139 karakter saja habis waktu hampir tiga jam.
Salut, deh sama Author yang sudah profesional, bisa up 2 sampai 3 bab per hari. Benar-benar daya imajinernya tingkat tinggi.
Aku nulis segini saja mikirnya sampai pusing. Belum lagi jika terkendala signal internet yang buruk. Huh!!
__ADS_1
Makasih, buat teman-teman yang masih setia dan sabar nungguin up aku, meski very-very slow up!