Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Marah


__ADS_3

"Apaa?!"


Ghavi kaget mendengar berita yang disampaikan oleh Tante Rudi.


"Beneran, Mas?!" tanya Ghavi menoleh kearah Harry.


Gadis itu sedikit shock tadi.


Harry tidak menjawab. Hanya anggukan kepalanya saja yang jadi jawaban.


"Hufh ...!"


Ghavi menghela napas sedikit kasar. Kini, tanpa dia bertanya pada Harry pun dia sudah tahu jawabannya.


Ya. Ghavi sudah merasa yakin dari awal jika kepergiannya ke Australia pasti karena campur tangan Harry. Dan itu memang benar adanya.


#Flashback on


"Kamu tidak usah memikirkan kehidupan Mas Handy lagi, Vi. Mungkin ini sudah pilihannya."


Harry mengajak Ghavi bertemu dikantin kampus selepas kelas. Kini keduanya tengah duduk berhadapan dimeja kantin dekat jendela yang menghadap ketaman.


"Aku tahu kamu pasti sangat kecewa dan sedih sudah diperlakukan begitu oleh kakakku. Apalagi kulihat kau sudah mulai nyaman dengannya," lanjut Harry.


"Aku akan membuatmu menjauhinya agar tidak merasakan sakit hati yang berkepanjangan karena melihatnya dengan wanita licik itu. Akan aku pastikan kakakku menyesal karena sudah menyia-nyiakan gadis sepertimu."


"Kalau saja tidak ada perjodohan itu, mungkin aku tidak akan sesedih ini, Mas," ujar Ghavi lirih.


"Aku sudah berusaha keras untuk menerimanya demi baktiku pada keluargaku, tapi begini balasannya. Dan sialnya kau benar. Aku sudah mulai nyaman dengannya setelah hampir delapan bulan ini aku mengenalnya secara dekat."


"Maka dari itu kau harus pergi dari kehidupannya sekarang. Akan kulakukan sesuatu untukmu. Kau lihat saja nanti. Aku yakin kau akan senang menerima kabar itu," putus Harry sambil menggenggam tangan Ghavi.


#Flashback off


***


Acara syukuran pernikahan Handy dan Vika berjalan lancar. Meski tidak dihadiri banyak undangan, namun acara cukup ramai.


Para kerabat dari keluarga Om dan Tante Rudi serta tamu undangan tampak masih betah duduk dan mengobrol meski acara sudah selesai satu jam yang lalu.


Sebab, kekerabatan dan kerukunan yang terjalin dimasyarakat masih sangat kental.


Ghavi yang kurang nyaman karena merasa bukan anggota keluarga itu pun lebih memilih memisahkan diri dihalaman belakang.

__ADS_1


Dia duduk disebuah gazebo yang dikelilingi kolam ikan hias dan tanaman hias yang mempercantik gazebo tersebut.


Tatapannya menunduk pada layar pipih ditangannya.


"Pantas aku cari dari tadi tidak ketemu. Ternyata sembunyi disini."


Sebuah suara yang amat Ghavi kenal mengusiknya. Jari jemarinya sampai berhenti mengetik demi mendengar suara itu.


Perlahan, Ghavi mengangkat wajahnya untuk melihat pemilik suara tersebut.


Tampak didepannya berdiri sosok pria dewasa yang tengah menatapnya intens.


Gadis itupun sempat terpesona menatap seraut wajah tegas namun tampan itu yang jujur sangat dirindukannya akhir-akhir ini.


Namun, begitu dia mengingat penghianatan dan kebohongannya, Ghavi menjadi sebal.


"Dari sejak acara tadi aku tidak melihatmu. Padahal Bapak bilang kau sudah dari sore disini," ujarnya masih dengan tatapan intensnya yang membuat Ghavi merasa jengah.


"Aku dibelakang sama Mas Harry bantu-bantu si Mbak menyiapkan hidangan. Lagipula, itu bukan acaraku. Jadi, aku tidak diwajibkan untuk hadir, kan?!" jawab Ghavi sedikit ketus.


"Bukan begitu, Vi. Kau diundang keacara itu. Jadi wajar, kan kalau aku menanyakan keberadaanmu?!"


"Maaf! Aku hanya tidak sanggup melihat dan menghadiri acara yang justru membuatku sedih," ucap Ghavi lirih.


Ghavi berdiri dan hendak pergi meninggalkan tempat itu tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Vi, tunggu!"


Handy mencegahnya pergi dengan menarik tangan Ghavi tiba-tiba.


" Aku minta maaf untuk hal ini. Aku tahu aku salah. Aku sudah sangat menyakiti hati dan perasaanmu. Tapi ini semua bukan keinginanku. Sungguh. Aku hanya merasa harus bertanggung jawab atas kesalahanku yang tidak kusengaja. Percayalah!"


Handy menggenggam erat tangan Ghavi yang mulai gemetar.


"Sengaja atau tidak, itu bukan urusanku. Yang aku tahu sekarang Mas Handy sudah punya istri. Jangan sekali-sekali kau menyakitinya. Apalagi sebentar lagi kalian akan segera punya anak dari buah cinta kalian."


"Vi, harus dengan cara apa aku menjelaskannya padamu?! Itu semua kecelakaan. Ada orang yang sengaja menaruh obat dikopiku. Aku melakukannya karena pengaruh obat, bukan karena cinta," tegas Handy makin erat menggengam hingga membuat Ghavi meringis kesakitan.


"Tapi meskipun begitu, ada darah dagingmu yang sedang tumbuh dirahim Mak Vika," cicit Ghavi lirih.


"Untuk itulah aku perlu bertanggung jawab. Kumohon, Vi. Maklumi aku. Aku akan mengakhirinya begitu anakku lahir. Kumohon bersabarlah untuk menungguku."


"Kau pikir aku gadis macam apa?!" teriak Ghavi.

__ADS_1


Air matanya sudah lolos meluncur dipipinya tanpa bisa dibendung lagi.


"Aku bukan orang yang suka merebut milik orang lain demi kesenanganku. Aku masih waras untuk itu."


Ghavi masih tergugu. Hatinya makin sakit kala Handy memintanya bersabar untuk menunggunya.


"Tapi aku tidak mencintainya, Vi. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama. Aku sudah jujur padamu sejak lama, kan?! Bahkan aku sudah berkali-kali mengutarakannya padamu karena aku tahu kamu masih ragu padaku," sentak Handy.


"Tapi keraguanku sudah terbukti sekarang," ujar Ghavi memegangi pergelangan tangan yang baru saja disentak Handy. Ada rasa sakit disana.


"Vi! Kumohon mengertilah," pinta Handy.


"Justru karena aku mengerti, maka aku memilih mundur. Anggap saja tidak ada perjodohan diantara kita. Aku sudah berusaha memenuhi wasiat dari keluargaku. Jadi aku tidak salah, kan?! Tidak dosa, kan?!" cicit Ghavi.


Handy merasa makin tersentil mendengar kalimat terakhir gadis didepannya itu. Penyesalan pun makin melanda. Dia yang sudah berjanji, tapi justru dia sendiri yang mengingkarinya.


"Ehm!"


Sebuah deheman mengagetkan keduanya.


"Mas, kamu dicari Mak Vika," ujar Harry.


Ya. Orang yang berdehem barusan adalah Harry.


Sebenarnya sudah lama Harry berada tidak jauh dari tempat itu. Niatnya ingin menemui Ghavi. Namun, belum juga dia sampai digazebo, Harry melihat Handy lebih dulu mendekati Ghavi. Harry pun urung dan berdiri ditempat yang sedikit terlindung dari cahaya lampu dan mendengarkan semua obrolan kedua orang tersebut.


Melihat Ghavi terus menangis, hatinya jadi tidak tega. Akhirnya diapun keluar dari tempatnya berdiri dan berpura-pura bahwa Vika mencari kakaknya.


"Mas Harry!!"


Ghavi langsung menghambur kepelukan Harry begitu dilihatnya Harry datang.


Sementara itu, Handy merasa sakit hati dan cemburu karena gadis yang dicintainya kini justru memeluk adiknya. Dan sialnya, Handy melihat adiknya menyambut pelukan Ghavi dengan hangat dan menenangkan.


Terbukti tangis Ghavi langsung berhenti begitu Harry memeluk dan membelai rambutnya untuk menenangkannya.


Dengan kedua tangan terkepal, Handy akhirnya meninggalkan tempat itu karena marah. Marah pada siapa? Dan marah untuk apa? Hanya dia sendiri yang tahu.


Yang jelas raut wajahnya kini terlihat mengeras saat masuk kedalam kamarnya.


Tanpa mempedulikan Vika yang terus memanggilnya, Handy menyambar kunci mobil dan melesat pergi meninggalkan kediaman orang tuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2