Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
merajuk


__ADS_3

"Hai, bangun, Pemalas!"


Liana menguncang bahu Ghavi yang masih bergelung selimut.


" Ckk! Katamu mau joging ditaman komplek, tapi kamu malah masih asyik dengan dunia mimpimu," decih Liana.


Dirinya terus mengguncang tubuh mungil Ghavi yang makin melengkung seperti udang.


" Dasar muka bantal!" gerutunya kesal.


Liana pun angkat bahu dan turun kebawah menemui Bu Yoyon yang sedang sibuk didapur.


" Bu, sedang apa?!" tanya Liana yang muncul dari arah lantai atas.


" Eh, Non Lili. Ini, Ibu sedang membuat bubur kacang hijau dan bubur sumsum. Semalam Pak Handy berpesan untuk membuatkan sarapan Non Ghavi dengan menu bubur sumsum. Berhubung Non Lili disini dan suka bubur kacang hijau, jadi saya buatkan sekalian," terangnya tersenyum.


Tapi tangannya tetap sibuk mengaduk adonan bubur.


" Wah, Ibu memang baik sekali. Tahu saja bubur kesukaanku," ujar Liana memeluk bahu wanita paruh baya itu terharu.


" Eh, tadi Ibu bilang, Pak Handy yang menyuruh menyiapkan menu bubur sumsum?!" tanya Liana sesaat setelah menyadari penjelasan Bu Yoyon.


" Iya! Kemarin Non Ghavi seharian cukup lelah melakukan aktifitas. Jadi, Pak Handy menyuruh saya membuat bubur sumsum untuk memulihkan tenaga," jelas Bu Yoyon yang kini sibuk memasak santan.


"Oh, so sweet banget, Bu! Seperhatian itu calon suami Ghavi. Dingin-dingin empuk, hehe ...!" kekehnya.


" Apaan dingin-dingin empuk?!" celetuk Ghavi dari luar dapur.


Ghavi yang baru turun dari lantai atas dan mendengar kalimat terakhir Liana pun jadi penasaran.


" Oh, kamu sudah bangun, Vi! Kupikir tidak jadi joging," sahut Liana tersenyum melihat penampilan sahabatnya yang sudah berganti kaos trening dan legging serta sepatu kets warna senada. Handuk kecil tersampir dibalik leher, siap untuk joging.


" Jadi, lah! Soalnya aku kasihan sama Bu Yoyon, harus menemanimu joging seperti waktu itu."


Ghavi teringat dulu Liana meminta menemaninya berolahraga ditaman komplek karena waktu itu Ghavi susah dibangunkan sehingga dia kesal dan meminta Bu Yoyon menemani. Pulang-pulang dari joging Bu Yoyon malah jadi sakit pinggang.

__ADS_1


" Hihihi ..., maaf!" Liana terkikik mengingat kejadian waktu itu.


" Ya, sudah! Kalian pergilah sekarang sebelum kesiangan. Tapi jangan sarapan diluar, karena Ibu sudah membuatkan bubur kesukaan kalian," perintah Bu Yoyon.


" Baik, Bu!"


Keduanya pun langsung joging ditaman komplek tidak jauh dari rumah kediaman Kakek Herman yang sekarang sudah diwariskan pada Ghavi, cucu satu-satunya.


" Eh, Vi, nanti pakai mobil sport kamu, dong, ke mall. Pengin, deh bisa naik mobil itu dari dulu," celetuk Liana saat melihat sebuah mobil sport melintas didepan mereka.


Mereka tengah duduk dibangku taman satu jam setelah joging keliling taman. Peluh membanjiri tubuh keduanya.


Ghavi yang sedang menenggak minuman yang dibawanya dari rumah pun sempat tersedak karena tepukan Liana dibahunya.


" Ups, sorry!" ujar Liana meminta maaf.


" Kamu ini. Tidak lihat orang minum apa, main tepuk-tepuk saja," gerutu Ghavi sambil mengelap air yang muncrat kewajahnya.


" Hehe ...! Iya, maaf!"


" Memangnya kenapa harus pakai mobil sport?! Pakai yang lain, kan bisa," tanya Ghavi kemudian.


Entah kenapa kakeknya memberi wasiat begitu. Yang jelas, sebelum usianya genap dua puluh satu tahun, dia dilarang mengendarai mobil itu sendiri. Kalaupun menginginkannya, harus ada Pak Yoyon yang mengawasi.


" Aku juga ingin. Tapi aku belum diijinkan membawanya. Kau, kan sudah tahu itu," gumam Ghavi.


" Ya, kita, kan bisa meminta Pak Yoyon mengantarkan. Sesekali boleh, ya," rengek Liana dengan mata memelas.


" Nanti aku ijin dulu sama Pak Yoyon. Tapi aku tidak janji," ujar Ghavi akhirnya.


" Yess! Makasih, ya, Vi! Kamu memang best friend forever, lah pokoknya," teriak Liana kegirangan.


Gadis itu sampai loncat-loncat saking senangnya.


" Cih, kayak tidak pernah naik mobil saja," cibir Ghavi.

__ADS_1


" Ya, maklum, dong. Keluargaku tidak sekaya mendiang orang tua dan kakekmu. Mobil sport yang mereka punya sudah usang dan ketinggalan pesawat jika dibandingkan dengan mobil peninggalan kakekmu."


Ya. Keluarga Liana memang sudah tidak sekaya orang tua dan kakek Ghavi. Papa Liana dulu mempunyai perusahaan dibidang otomotif.


Namun, keluarga papa Liana merebut perusahaan itu dan hanya menyisakan sebuah rumah dan mobil sport yang sudah cukup tua seperti yang Liana bilang.


Untuk kehidupan sehari-hari dan biaya kuliah Liana, papanya kini hanya mengandalkan toko kelontong yang dirintisnya menggunakan uang tabungan.


Untungnya Lian, kakak Liana itu kini sudah bekerja disalah satu bank swasta yang cukup menjanjikan kehidupannya sendiri.


" Yuk, pulang!" ajak Liana setelah mereka cukup lama beristirahat.


" Ayo! Aku juga sudah lapar, nih," sahut Ghavi mengikuti langkah Liana yang telah lebih dulu berjalan didepan.


Keduanya pun pulang kerumah dengan berlari kecil. Sesampainya dirumah, mereka langsung menuju ruang makan lantas menyerbu bubur yang sudah disediakan Bu Yoyon.


Mereka pun sarapan bubur berempat. Ya. Semenjak keluarganya meninggal, Ghavi selalu mengajak pasangan suami dan istri Yoyon untuk selalu makan bersamanya, sebagai pengganti keluarganya.


" Pak, nanti antarkan kami ke restaurant, ya. Aku mau mengecek keadaan restaurant. Sekalian antar kami jalan-jalan ke mall," pinta Ghavi pada Pak Yoyon disela-sela suapan buburnya.


" Baik, Non!" jawab laki-laki paruh baya itu mengangguk.


" Mm, tapi aku sedang ingin naik mobil sport pemberian almarhum kakek, boleh, ya," Ghavi merajuk.


" Tapi, Non, almarhum kakek melarang Non untuk menaikinya sebelum usia dua puluh satu tahun."


" Sekali iniii, saja, Pak. Ya, boleh, ya," bujuk Ghavi kembali merajuk.


Raut wajahnya dibuat memelas dan sesedih mungkin.


" Baiklah! Tapi tetap Bapak yang menyetir," putus Pak Yoyon akhirnya.


" Terima kasih banyak, ya, Pak! Bapak baik, deh."


Ghavi menghambur memeluk pundak supir yang sudah dianggapnya keluarga itu.

__ADS_1


Bu Yoyon hanya tersenyum menggeleng melihat tingkah cucu majikannya yang kerap manja itu.


Ghavi dan Liana tampak senang dengan jawaban Pak Yoyon. Akhirnya mereka akan segera naik mobil keinginan mereka. Mereka pun sarapan bubur dengan lahap pagi itu.


__ADS_2