Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Menjenguk ( 2 )


__ADS_3

"Han, maaf, ya, dulu tidak sempat menjenguk waktu si kecil lahir dan tidak juga menjengukmu waktu dirumah sakit," ujar Lian saat keempatnya berada dilift yang menuju lantai tempat Ghavi dirawat.


"Tidak apa-apa! Waktu itu aku sendiri juga tidak mau dijenguk oleh siapapun selain keluargaku. Ya, kau tahu sendiri, kan kondisiku sekarang seperti apa?! Untuk menerima kenyataan rasanya susah sekali," jawab Handy menunduk, melihat dirinya yang harus bergantung dengan kursi roda.


"Yang sabar, Han! "


Lian menepuk pundak Handy memberi semangat.


Lift pun terbuka. Lian dan Ane keluar lebih dulu, baru kemudian Handy yang didorong Aslan.


"Selamat pagiii!" sapa Ane mewakili yang lain.


Ibu dua anak itu berdiri didepan ruang rawat Ghavi yang kebetulan pintunya terbuka.


Terlihat didalam ruangan seorang perawat sedang mengecek tekanan darah Ghavi dan membetulkan infus yang sedikit mampet.


"Pagi!" jawab Bu Yoyon yang kebetulan hendak keluar ruangan.


"Eh, ada tamu," ucap Bu Yoyon begitu melihat siapa yang datang.


"Mari masuk, Mbak dan Mas-Mas semua! Wah, ramai-ramai, nih."


Bu Yoyon mempersilakan keempat orang tamunya masuk.


"Terima kasih, Bu! Kami disini saja dulu biar perawat menyelesaikan tugasnya," ujar Lian.


"Kalau begitu aku saja dulu yang masuk, ya!"


Ane pun masuk sendirian meninggalkan para lelaki diluar ditemani Bu Yoyon. Dia mendekati ranjang Ghavi dan meletakkan parcel buah yang dibawanya di atas nakas.


"Jangan lupa sarapannya dimakan, ya, lalu minum obat ini biar lekas sembuh!" ujar perawat sesudah memeriksa tekanan darah dan mengontrol infusan.


Diletakkannya obat di nakas samping parcel buah yang baru saja diletakkan Ane.


"Iya, Sus! Terima kasih!" ucap Ghavi mengangguk.


"Mbaknya mau jenguk pasien, ya?! Boleh disuapin pasiennya," imbuh perawat beralih menatap pada Ane.


"Oh, iya, Sus! Biar nanti saya suapi," tukas Ane mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari!" pamitnya seraya keluar mendorong meja berroda yang berisi alat-alat medis.


"Mari!"


Ane tersenyum mengangguk.


"Kamu sudah mendingan, kan, Vi?" tanya Ane sesaat setelah perawat keluar.


"Alhamdulillah, Kak, sudah mendingan, kok! Baru saja perawat periksa tekanan darahnya sudah normal. Kepala juga sudah tidak pusing lagi. Kemungkinan nanti siang sudah bisa pulang," jawab Ghavi.


"Syukur, deh! Oh, ya, Mama sama Papa nitip salam buat kamu. Maaf belum bisa jenguk, katanya."


"Tidak apa-apa! Ngomong-ngomong Kak Ane kesini sendirian saja atau ..."


"Ya, ampun, sampai lupa!"


Ane menepuk keningnya.


"Sayang, masuk sini! lni Ghavi nyariin," Ane memanggil Lian yang masih berada diluar ruangan bersama Handy dan Aslan yang sedang ngobrol dengan Bu Yoyon.


"Iyaa!" sahut Lian.


"Aku masuk dulu, Han!" pamitnya.


Handy mengangguk dan membiarkan Lian menemui Ghavi. Dia sendiri memutuskan pamit pada Bu Yoyon untuk segera berangkat ke kantor karena baru saja Aslan mendapat telpon bahwa klien bosnya sudah menunggu.


"Maaf, Bu! Sepertinya kami harus segera berangkat kekantor. Klien sudah menunggu," pamit Handy.


Laki-laki itu lantas pergi meninggalkan rumah sakit setelah memberikan pesan pada Bu Yoyon.


"Baik, Mas! Nanti saya sampaikan," sahut Bu Yoyon mengangguk.


Baru saja Handy dan Aslan memasuki lift yang turun ke lantai dasar, Liana dan Harry justru tampak keluar dari lift yang berasal dari lantai dasar.


"Selamat pagi Bu Yoyon! Apa kabar, sehat?!" sapa Harry menyalami wanita paruh baya itu.


"Selamat pagi, Mas! Alhamdulillah, seperti yang kau lihat. Ibu masih diberi kesehatan. Wah, baru saja kakakmu turun."


Bu Yoyon menyambut uluran tangan Harry.


"Mas Handy sedang buru-buru kekantor. Seorang klien sudah menunggu, katanya. Jadi, dia berpesan, jika Mas Harry datang, nanti disuruh menyusul saja kekantor naik taksi."


"Oh, ya sudah tidak apa-apa! Terima kasih pesannya, Bu!"


"Iya, sama-sama!"


"Bu, kakakku masih didalam atau sudah pulang juga?!" tanya Liana.


Belum sempat Bu Yoyon menjawab, pintu terbuka dari dalam.

__ADS_1


"Eh, kalian baru sampai?!"


Lian dan Ane muncul dari dalam kamar rawat.


"Iya, Kak! Tadi Tuan Putri minta ditemani sarapan dulu. Haha ...," jawab Harry tertawa.


"Haha ...! Maaf, ya jadi merepotkan kamu. Iya, tadi dirumah Lili belum sempat sarapan karena buru-buru menghindari Bintang. Bocah itu, kan sedang merajuk minta menjenguk Tante Obat Gosoknya, tapi tidak kami ijinkan," sahut Ane ikut tertawa.


"Ya, sudah! Kalian masuk, gih! Itu si Ghavi sudah menanyakan Harry terus. Kangen kali," ledek Lian pada Harry.


"Hm, mungkin! Soalnya sejak dia pulang dari Ausie kami belum bertemu lagi."


Harry mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu Kakak pulang dulu, ya, mau ngantar Kak Ane pulang, lanjut ke kantor," pamit Lian.


"Iya!"


Harry dan Liana pun masuk kedalam ruangan Ghavi. Bu Yoyon tadi ijin pergi ke kantin untuk sarapan.


"Mas Harry!" pekik Ghavi saat pintu terbuka dan melihat siapa yang datang.


"Hai!"


Harry melangkah menuju ranjang pasien.


"Sudah mendingan, kan?! Maaf, kemarin belum sempat jenguk."


Ghavi mengangguk.


"Sudah! Tadi sarapan buburnya juga habis, apalagi disuapi sama Kak Ane."


"Manja! Sarapan saja disuapi," ejek Harry yang langsung duduk di kursi tunggu di samping ranjang.


Sementara itu Liana duduk diujung ranjang dekat kaki Ghavi.


"Kenapa sakit, kangen sama orang ganteng ini?!" tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Diih, narsis," desis Liana.


"Memang aku ganteng, kan?!"


Harry menoleh pada Ghavi meminta persetujuan.


"Iya, ganteng! Kangeeen ...!!" rengek Ghavi manja.


"Mas Harry apaan, sih?!"


Ghavi manyun.


"Sebulan apaan?! Orang sudah dua tahun, juga. Siapa coba yang pulang ninggalin aku dua tahun lalu?!"


Dua tahun lalu, Harry menyelesaikan pasca sarjananya dan memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia dan menetap di Jogja, membiarkan Ghavi menyelesaikan pendidikannya diluar negeri sendirian.


Selain untuk melanjutkan mengajar, laki-laki itu juga memutuskan untuk tinggal dirumah kakaknya yang mengalami kecelakaan setahun sebelum kepulangannya.


Harry juga membujuk orangtuanya agar ikut tinggal disana sementara demi mengurusi kakak dan bayinya yang ditinggal sang ibu masuk penjara.


Setelah sang kakak merasa sehat dan memboyong putrinya hijrah ke Jakarta, barulah kedua orang tua Harry kembali ke Wonosobo untuk menikmati dan menjalani hari tua mereka dikota kelahiran sang ibu.


"Haha ...! Bagiku berasa masih satu bulan, tuh!"


Harry segera mengacak-acak rambut Ghavi yang manyun.


"Jangan manyun, nanti makin jelek."


"Jelek-jelek begini juga banyak yang suka."


"Oh, ya?! Siapa??"


"Alaaah ... ngeles segala. Dulu yang naksir aku gegara tidak sengaja bertemu dibus siapa?!"


"Hehe ...! Itu, kan dulu. Sekarang tidak lagi."


Harry jadi teringat pertemuannya dengan Ghavi saat dibus yang ditumpanginya ke Jogjakarta dulu.


"Kenapa sekarang tidak lagi?"


"Takut ada yang marah."


Hari melirik kearah Liana yang balas meliriknya.


" Soalnya bukan aku yang dijodohkan sama kamu. Jadi, sebelum kalah mundur saja duluan. Haha ...!"


Harry makin terbahak melihat Ghavi yang makin manyun.


"Hahh, kamu jadi rebutan kakak beradik, Vi?! Wah, beruntung banget kamu, ya?!" celetuk Liana yang sedari tadi mendengarkan obrolan keduanya.


Ghavi hanya mencibir.

__ADS_1


"Beruntung juga kamu, Li," ujarnya.


"Kenapa aku?!"


Liana terheran.


"Karena orang yang kamu suka sepertinya bakal membalas cinta kamu."


"Oh, ya?! Siapa, Li??"


Harry menyahut. Dia jadi penasaran dengan siapa orang yang Liana suka.


"Eh, itu ... cuma karangan Ghavi saja, kali, Mas. Jangan didengerin."


Liana tampak gugup.


"Ah, masa?!!" ledek Ghavi.


"Ih, kamu apaan, sih?! Jangan mengada-ada, deh!" rutuk Liana sebal.


"Haha ...! Iya juga tidak apa-apa, kok, Li. Ngomong-ngomong, siapa orang itu, Li? Katakan padaku biar kusuruh dia buat jujur sama kamu dihadapan semua orang."


Harry ikut menyambung.


Liana memelototkan matanya seolah sedang mengancam.


"Hahaha ...!"


Tawa Harry makin lebar.


"Kamu yakin mau tahu siapa orangnya, Mas?"


Ghavi menatap kearah Harry.


"Siapa?"


Harry makin penasaran.


"Sudah, ah! Ngapain jadi bahas aku, sih?!"


Liana mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu, Mas!" tunjuk Ghavi.


"Aku, apa?"


"Kamu yang Lili suka."


"Haaahh!! Aku?!" tunjuk Harry pada dirinya sendiri.


Laki-laki itu kaget mendengar pernyataan Ghavi.


"Iya, kamu! Kamu suka juga, kan sama Lili?! Jujur saja, deh sama aku."


Liana dan Harry saling melirik. Entah kenapa, dimata Ghavi diantara mereka seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Gadis itu jadi merasa curiga melihat gerak-gerik mereka.


"Kalian pacaran, ya?!"


Celetuk Ghavi tiba-tiba berhasil menghentikan tawa Harry. Matanya memicing memperhatikan kedua orang didepannya yang masih saling melirik.


"Eh, ka-kamu jangan ngarang gitu, deh!" ujar Liana sedikit gagap.


"Kamu ngomong apa, sih, Vi?!"


Harry juga terlihat gugup. Namun, dia masih bisa mengontrol kegugupannya.


"Sudah jam setengah delapan, nih. Aku pamit dulu, ya. Aku harus ke kantor sekarang. Takut telat!"


Liana mencoba mengakhiri percakapan.


"Aku juga mesti ke kantor Mas Handy. Aku nebeng mobil kamu, ya. Soalnya, kan kita satu arah. Daripada aku naik taksi," timpal Harry.


"Yaaahhh, sepi lagi, dong! Kenapa kalian datang sama pulangnya barengan, sih?! Aku jadi tidak ada teman disini."


Ghavi terlihat kecewa melihat kepulangan sahabat-sahabatnya.


"Kan, ada Bu Yoyon. Tuh, orangnya sudah balik. Kami pamit, ya!"


Liana memeluk Ghavi sebelum pulang. Harry pun ikut mengacak-acak rambut Ghavi jadi makin kusut. Keduanya keluar dari kamar rawat Ghavi sambil menahan napas.


"Huuft!!! Untung saja."


Liana menghela napas lega.


"Hampir saja kita ketahuan."


Harry pun mengurut dada lega.


"Kedepannya kita harus gimana, Mas?" tanya Liana sedikit panik.

__ADS_1


__ADS_2