
"Kalian darimana saja? Kami semua sangat mengkhawatirkan Ghavi. Risa bilang semalam asthma kamu kambuh?!" serobot Tante Rudi begitu melihat putra sulungnya memasuki rumah diikuti Ghavi dibelakangnya.
" Biarkan mereka duduk dulu, Bu," ujar Harry mempersilakan keduanya duduk disofa ruang tengah.
" Semalam aku mendapati Ghavi didapur untuk mengambil air dan kebetulan aku juga ingin pergi mengambil air. Dia mengalami sesak napas hebat. Jadi aku berinisiatif mebawanya kedokter terdekat. Namun dokter Edy yang biasa praktek sedang tidak ditempat. Akhirnya aku membawanya ke klinik di kabupaten," jelas Handy datar.
" Tapi kamu sudah baikan, kan, Vi?! Kami semua mencarimu kemana-mana tadi. Kupikir kau dibawa kabur sama dia."
Dagu Risa terangkat menunjuk Handy yang duduk diseberangnya.
Handy yang merasa jadi pusat perhatian itu melotot tak suka pada Risa.
" Kau pikir aku akan membawa kabur gadis ingusan ini, jangan mimpi!" gerutunya kesal karena sudah dianggap penculik.
" Ya, siapa tahu. Anda, kan membawanya tanpa pamit pada kami. Jadi apa istilah tepatnya selain membawa kabur?!" Risa tak mau kalah.
" Kau ...,"
" Sudah, sudah, jangan ribut. Toh sekarang Ghavi sudah kembali," sergah Om Rudi melerai.
" Ghavi, lebih baik kau menginaplah disini semalam lagi sampai kau benar-benar pulih."
" Eh, tidak bisa, Om. Kami sudah janji pada Eyang Sosro akan kembali hari ini juga mengingat srmalam kami tidak pulang," tolak Risa menatap Ghavi.
" Om Rudi bertanya pada Ghavi, bukan padamu," Aksan berkomentar.
__ADS_1
" Kau ini. Kau lupa perintah Eyang tidak dapat diganggu gugat?!" Risa melotot lebar.
" Maksudku, Ghavi yang ditanya kenapa kau yang jawab?!" Aksan menyentil kening gadis itu merasa tidak enak pada tuan rumah.
" Eh, maaf!" ucap Risa menyadari kesalahannya.
" Iya, Om, kami mohon maaf. Tapi kami harus segera pulang. Selain Eyang sudah menunggu dirumah, aku dan Risa juga harus kembali masuk kuliah, sebab kemarin kami sudah bolos," terang Ghavi.
" Tapi kamu kelihatan masih pucat, lho, Vi. Lebih baik besok saja kalian pulang," celetuk Harry.
" Bukankah sudah kubilang biar Harry yang mengurus ijinnya?!" Handy seakan tak terima perintahnya saat masih dimobil tadi diabaikan.
" Iya, Vi, kamu terlihat masih lemas dan pucat. Aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan," sambung Om Rudi menyetujui usul anak-anaknya.
Akhirnya, dengan berat hati Ghavi menyetujui usul keluarga Darmawan untuk tinggal sehari lagi. Aksan dan Risa pun terpaksa mengikuti. Walau bagaimanapun, mereka berangkat bersama, pulang pun bersama.
" Mas, mumpung masih siang, kita jalan-jalan, yuk lihat telaga warna yang katanya terkenal itu. Aku penasaran mau kesana," ajak Risa pada Aksan yang sedang rebahan menikmati semilirnya angin di gazebo depan rumah.
Risa tidak ikut tidur siang seperti Ghavi. Dia memilih mengobrol dengan Aksan setelah makan siang bersama keluarga Darmawan.
" Yuk! Aku juga penasaran. Tapi, kita kan tidak tahu jalannya," keluh Aksan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Mm, kita minta ditemani Pak Harry saja kalau begitu," usul Risa.
" Kamu yakin dia setuju?"
__ADS_1
" Ya coba kita tanyakan saja. Tapi, orangnya kemana, apa tidur siang juga seperti yang lain?"
Risa tadi melihat Om dan Tante Rudi masuk kamar untuk istirahat siang. Ghavi sudah tidur lebih dulu sebab dia dan Handy tidak ikut makan siang dikarenakan sudah makan siang lebih dulu dijalan saat pulang dari klinik.
Sementara Handy sendiri tadi pamit pergi kesuatu tempat tidak lama setelah mengantar Ghavi pulang.
" Coba Mas Aksan tengok dikamar, siapa tahu Pak Harry belum tidur siang juga," suruh Risa.
Aksan yang hendak bangkit memanggil Harry pun urung ketika orangnya muncul tiba-tiba didepan mereka.
" Ada apa mencariku?!" tanyanya penasaran.
Harry ikut duduk digazebo tempat Aksan dan Risa berada.
" Eee, ini, Pak. Sebenarnya kami bermaksud jalan-jalan ke telaga warna. Berhubung ini pertama kalinya buat kami, jadi belum tahu arah jalannya," terang Risa.
" Jadi maksudmu, aku harus mengantar kalian, begitu?" tebak Harry.
" Ya, itu jika Bapak tidak merasa keberatan," timpal Aksan penuh harap.
" Ok, ayo! Aku juga kebetulan ada perlu sebentar didekat situ. Sekalian saja aku antar kalian," Harry bangkit berdiri.
" Mobilku atau mobilmu?!" Harry meminta persetujuan pada Aksan.
" Mobil Anda saja. sepertinya seru jika kita naik mobil jeep itu," tunjuk Aksan memberi ide.
__ADS_1
Mereka bertiga pun pergi jalan-jalan tanpa yang lain. Ghavi dititipkan pada Mbak asisten dirumah Harry kalau-kalau gadis itu terbangun dan mencari mereka.