Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Habis Dilahap Berdua


__ADS_3

Fikar masuk ke ruang Owner dengan mendorong meja berroda yajg berisi banyak makanan pesanan Ghavi.


Tok! Tok!! Tok!!!


Diketuknya pintu tiga kali.


"Masuk!"


Terdengar perintah dari dalam.


Fikar pun membuka pintu ruangan lalu mendorong kembali meja masuk ke dalam.


"Pesanan datang!!" ujarnya sambil merentangkan tangan layaknya orang yang sedang menari.


"Terima kasih, Mas Koki!" ucap Ghavi tersenyum.


"Sama-sama, Boss!" gurau Fikar.


Ghavi memang melarang Fikar untuk bersikap formal padanya karena mereka adalah teman kecil yang dulu akrab.


"Ah, bisa saja! Oh, ya, Mas! Nanti, tolong buatkan juga menu yang sama seperti ini, tapi masukkan dalam box makanan, ya! Mau aku bawa pulang buat oleh-oleh tetangga baru sebelah rumah."


"Siap, Boss!" jawab Fikar dengan mengangkat tangannya hormat.


"Tante Cantik mau bawa makanan juga buat Papa?!" celetuk Sunny yang mendengarkannobrolan keduanya.


"Eh, kok, tahu?!" balas Ghavi pura-pura terkejut.


"Kan, tadi Tante bilang mau bawa buat oleh-oleh tetangga baru sebelah rumah. Itu, kan Papa."


"Uluh-uluh, pintar sekali gadis cantik. Anak siapa, sih?!"


"Anak Tante!"


"Eh, kok anak Tante, sih?!"


"Kan, dari tadi Tante kenalin aku sebagai anaknya Tante!"


"Pak Yoyon dan Pak Rama pun kembali tertawa.


"Sebenarnya anak siapa, sih dia, Vi?"


Pak Rama penasaran sekali dengan bocah cerdas dipangkuan Ghavi.

__ADS_1


Sunny sudah didudukkan ke sofa sebelah Ghavi, namun, dia kembali pindah kepangkuan Ghavi. Sepertinya bocah perempuan itu tidak mau jauh-jauh dari Ghavi.


"Mas Handy!" jawab Ghavi singkat.


"Hah, Handy?! Maksudnya ... ."


"Ya! Dia putrinya Mas Handy dan Mbak Vika. Sekarang mereka jadi tetangga sebelah rumahku, Pak!" cerita Ghavi.


"Kok, bisa dia sama kamu? Tinggal bersebelahan lagi."


Pak Rama yang sedikit banyak mengenal Handy karena pejodohannya dengan Ghavi dulu pun bertanya heran.


"Ceritanya panjang, Pak!"


Ghavi pun bercerita dari A sampai Z kisahnya dan Handy yang akhirnya berpisah.


Gadis itu juga bercerita alasan kenapa Handy bisa menjadi tetangga barunya.


"Oh, seperti itu!"


Pak Rama mengangguk paham.


Fikar pun jadi tahu masa lalu Ghavi yang cukup menyakitkan.


"Tapi, kamu sepertinya dekat dan sayang banget sama sia," ujar Fikar penasaran.


"Menggemaskan apanya, judes iya," kelakar Pak Rama.


"Tante, kapan kita makannya, keburu aku pingsan, nih," celetuk Sunny memegangi perutnya.


"Sok drama, kamu!" gumam Fikar.


"Silakan menikmati hidangan mewah restaurant kami, Tuan Putri!"


Fikar membungkuk mempersilakan Sunny makan.


"Boleh, Tante?!"


Sunny menatap Ghavi meminta persetujuan.


"Boleh, Sayang!"


Ghavi mengangguk.

__ADS_1


"Silakan kalian juga makan!" tawar Ghavi pada semuanya.


"Tidak, terima kasih! Aku harus segera membuat pesanan kamu tadi," tolak Fikar lalu pria itu pamit kembali ke dapur.


"Pak Rama?!"


"Tidak, nanti saja! Sebaiknya kita bahas masalah internal restaurant saja dulu. Biarkan putrimu makan ditemani Pak Yoyon."


Pak Rama mengerlingkan matanya meledek.


"Baiklah! Pak, tolong temani Sunny makan, ya! Aku mau rapat sebentar sama Pak Rama!"


Pak Yoyon pun mengangguk.


"Silakan! Jangan khawatirkan soal dia dan biarkan kami yang akan menghabiskan makanan enak ini. Iya, kan cucu Kakek?!" jawabnya.


"Iya, Kakek! Ayo kita serbu makanannya!" seru Sunny mulai mengambil sendok.


"Terima kasih banyak, Pak!"ucap Ghavi.


"Sunny, Tante kesana dulu, ya!" pamitnya pada gadis kecil itu yang hanya membalasnya dengan anggukan.


Fokusnya kini pada makanan didepannya.


Ada olahan bebek, ayam dan beberapa jenis ikan air tawar, baik bakar maupun goreng, plus sambal dan lalapan. Ada juga beberapa olahan sayur yang cocok dihidangkan dengan menu utama diatas.


Semua itu makanan olahan khas nusantara yang masih banyak digemari masyarakat Indonesia dan menjadi menu utama di Restaurant Jawa milik Ghavi.


Selain harganya yang terjangkau, rasanya pun cocok dengan lidah masyarakat.


Ghavi pun mengikuti Pak Rama duduk dimeja kerjanya, membiarkan Sunny makan dengan lahap ditemani Pak Yoyon.


Cukup lama juga pembahasan Ghavi bersama Pak Rama. Sampai gadis akhir dua puluh dua tahun itu tidak menyadari jika Sunny dan Pak Yoyon sama-sama tertidur akibat kekenyangan setelah makan cukup banyak hidangan yang disajikan.


Hampir semua hidangan habis dilahap dua orang beda generasi tersebut.


Ghavi dan Pak Rama baru selesai rapat saat jam sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Ck! Pantas saja mereka sampai tertidur kekenyangan. Hidangan segitu banyaknya habis dilahap berdua saja."


Ghavi geleng-geleng kepala.


"Jika bocah rakus itu kau ajak kemari selama seminggu saja, pendapatan restaurant bisa menurun, Non!" gurau Pak Rama tersenyum.

__ADS_1


"Haha ...!"


Ghavi pun tertawa menanggapi gurauan Pak Rama.


__ADS_2