
Tiga jam sudah Ghavi menunggui eyangnya seorang diri sejak kepergian Bi Mirna dan Handy.
Eyangnya tampak tidur sangat nyenyak. Mungkin karena semalaman tidak tertidur karena tekanan darah tingginya naik dan asthmanya juga kambuh.
Meski napasnya masih terlihat sedikit tersengal dan selang oksigen juga masih terpasang dihidungnya, namun kali ini Eyang Sosro bisa tidur dengan nyenyak.
" Tok ...! Tok ...! Tok ...!"
Terdengar ketokan tiga kali dipintu sebelum akhirnya seseorang menyembulkan kepalanya ke dalam.
"Eh, Risa!" pekik Ghavi melihat ternyata Risa yang menyembulkan kepala.
"Masuk!" perintahnya beranjak menyambut Risa dan memeluknya.
Risa pun membalas pelukan cucu majikan ibunya itu erat.
"Ghavi! Kangeeenn!!"
"Iya. Aku juga kangen sama kamu. Seminggu tidak ketemu rasanya sudah lama banget, ya," Ghavi mengurai pelukan Risa saat melihat Aksan masuk dengan membawa kantong kresek.
"Aku tidak kebagian pelukan, nih," ujarnya meletakkan kantong itu di meja sofa yang ada diruangan itu.
"Mas Aksan mau dipeluk juga, ya. Sa, kamu saja yang wakilin, deh."
Ghavi mengerling pada Risa.
"What?? Kenapa harus aku?!" tunjuknya kedadanya sendiri.
"Kan kamu yang masih jomblo," kelakar Ghavi tertawa.
"Hahaha ...!"
Risa tertawa lebar.
"Ngaco kamu. Lagian siapa bilang aku jomblo?!"
"Aku!"
Ghavi menimpali.
"Eh, tunggu, tunggu! Maksudmu sekarang kamu sudah tidak jomblo lagi, sudah punya pacar, begitu?!" selidik Ghavi.
Risa yang kembali tertawa itu pun berhenti.
"Emm, kasih tahu tidak, ya."
Risa mengetuk dagunya seolah sedang berpikir keras.
" Harus!" jawab Ghavi yang sudah penasaran.
"Ih, kepoooo. Hihihi ...!"
Risa terkikik melihat ekspresi yang kesal karena penasaran.
"Ehm!"
Aksan berdehem.
"Sudah, kasih tahu saja dia. Daripada dia mati berdiri penasaran," celetuknya.
"Sebenarnya kami baru saja jadian semalam, Vi," beritahu Aksan tidak ingin Ghavi terlalu lama penasaran.
__ADS_1
"Ah, kau ini. Tidak asik!" sahut Risa mengerucutkan bibir.
"Whattt??! Wow!!" pekik Ghavi kaget.
"Surprised to me! But, congratulation, yahh!"
Ghavi menyalami Aksan dan memeluk Risa senang.
"Selamat, zeyenk, kau sudah mewujudkan salah satu cita-citamu," ucapnya.
"Cita-cita yang mana?" tanya Risa bingung.
"Cita-cita ingin jadi pacar Mas Aksan," bisiknya ditelinga Risa
"Hahaha ...!"
Risa terlawa lepas mendengar penuturan sahabatnya itu.
"Ssstt! Diam!"
Aksan meletakkan telunjuknya dibibir membuat tawa Risa terhenti dan bungkam seketika.
"Kau ini, lihat! Eyang Sosro jadi terbangun," ujarnya menunjuk eyang Ghavi yang sudah membuka matanya.
"Ups! Maaf!" bisiknya pelan.
"Eyang! Eyang sudah bangun?!"
Ghavi mendekati ranjang eyangnya dan menanyakan keadaannya.
"Bagaimana keadaan Eyang, sudah mendingan?!" tanyanya duduk di kursi dekat ranjang.
"Sudah, Nduk!" jawab Eyang Sosro.
"Sebenarnya dari kemarin siang, Eyang! Tapi, aku harus langsung ke Wonosobo dulu. Om Rudi masuk rumah sakit karena stroke. Kami disuruh menemui beliau. Dan baru tadi juga aku dan Mas Handy sampai di Jogja," jelas Ghavi.
"Lalu, mana Handy?"
Eyang Sosro mencari-cari keberadaan Handy, tapi yang dia temukan justru Risa dan Aksan.
"Kalian sudah datang?! Kenapa berdiri saja disitu, kemarilah!"
"Oh, iya, Eyang!" jawab Risa dan Aksan bareng.
"Eyang apa kabar?"
Risa menyalami Eyang Sosro diikuti Aksan.
"Baik! Terima kasih sudah selalu menjenguk dan menjaga Eyang dengan baik."
Ghavi merasa tertampar mendengar ucapan eyangnya. Sebagai cucu, sudah seharusnya dirinyalah yang menjaga dan merawat eyangnya disaat-saat seperti ini, dan bukannya orang lain.
"Maaf, Eyang! Seharusnya akulah yang menjaga Eyang. Tapi aku justru tidak ada disaat Eyang membutuhkanku," gumam Ghavi lirih.
Eyang Sosro yang kini sudah duduk bersandar dikepala ranjang mendengarnya pun berkata:
" Kau ini bicara apa, Nduk! Jangan karena perkataan Eyang tadi kau jadi merasa bersalah. Kalian semua adalah cucu-cucu Eyang. Kalian semu membawa kebahagiaan tersendiri bagiku. Kemarilah kalian!"
Ghavi dan Risa pun mendekat. Eyang Sosro lantas memeluknya penuh kasih sayang. Diusapnya rambut cucu-cucunya dengan tangan keriputnya. Ya. Risa sudah dianggap sebagai cucunya. Bukan hanya Risa, tapi adik-adiknya juga.
"Ehm!"
__ADS_1
Aksan berdehem mencari perhatian.
"Kau kenapa, Anak Muda? Kau iri tidak dapat pelukan dari wanita cantik ini?! Kemarilah, Nak!" seloroh Eyang Sosro membentangkan tangan yang sedang memeluk Risa.
Dengan ragu Aksan mendekati Risa yang berada dalam pelukan Eyang Sosro.
"Kenapa harus malu, bukankah kalian sepasang kekasih?!"
"Haaahh?!"
Ketiga anak muda itu terperangah mendengar penuturan wanita tua yang sedang tersenyum itu. Dahi ketiganya pun mengerut penuh tanda tanya.
"Eyang, kan juga pernah muda. Jadi Eyang bisa melihatnya dari cara kalian bersikap," ujarnya tanpa ingin membuka kebenarannya.
Karena kebenarannya adalah, Eyang Sosro sudah bangun saat Risa dan Aksan masuk. Jadi tadi bisa mendengar obrolan mereka.
"Eyang benar, kan?!"
Eyang Sosro manaik turunkan alisnya mencoba menggoda keduanya.
"Iiihh, Eyang! Bisa saja, deh. Jadi malu. Heeeemmm," Risa tersenyum malu.
Sementara Aksan yang merasa sudah kepalang basah ketahuan tentang hubungannya dengan Risa itu pun mengangguk. Dirangkulnya pundak Risa seakan ingin menguatkan bahwa hubungan mereka memang benar adanya.
"Ciieee ..., yang sudah pacaran," ledek Ghavi tergelak.
"Apaan, sih."
Risa berusaha menepis tangan Aksan dibahunya, namun yang punya tangan pura-pura tidak tahu.
"Hahaha ...!"
Tawa Ghavi semakin kencang melihat Risa manyun mengerucutkan bibirnya yang ditarik oleh tangan Aksan yang bebas.
Eyang Sosro juga tampak senang karena Risa, anak dari pembantu yang sudah dianggap seperti cucunya itu mendapatkan jodoh orang yang baik dan sudah mulai mapan. Mereka juga sudah sama-sama mengenal baik keluarga besarnya.
"Tidak usah meledek! Kamu juga sudah punya, kan?!" cicit Risa.
"Kalau aku, sih sudah jelas. Jangan ditanyakan lagi. Wleee ...!"
Ghavi memeletkan lidahnya.
" Sudah, sudah, jangan berdebat. Kalian Eyang anggap sudah sama- sama mulai dewasa, jadi tidak apa-apa mengenal lawan jenis. Asal dengan orang yang baik budi pekerti dan bertanggung jawab, Eyang setuju," lerai Eyang Sosro.
"Oh, ya, Vi! Tadi kau belum jawab pertanyaan Eyang. Dimana Handy? Kenapa tidak kelihatan?!"
Eyang Sosro menoleh kearah cucunya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu. Mas Handy sedang bertemu klien, Eyang! Tadi bilangnya kalau punya waktu, dia akan mampir lagi kesini sebelum kembali ke Wonosobo," jawab Ghavi.
"Oh, begitu. Tadi kau bilang Rudi masuk rumah sakit?!"
"Iya, Eyang! Tekanan darah tingginya naik, jatuh dikamar mandi menyebabkan pembuluh darah otaknya pecah, sehingga terjadi serangan stroke," jelas Ghavi.
"Makanya Eyang, sebisa mungkin jangan sampai jatuh, ya, aku takut nanti Eyang seperti Om Rudi" lanjut Ghavi penuh kekhawatiran.
"Heemm, cucu Eyang sangat terlihat begitu peduli. Terima kasih sudah memperhatikan dan mengkhawatirkan Eyang!"
Digenggamnya jemari cucunya dengan remasan lembut.
"Ehm, maaf! Apa aku mengganggu?!"
__ADS_1
Semua orang yang ada diruangan itu pun menoleh kearah pintu, menengok siapa yang baru saja bersuara.