
Ghavi langsung menyambar salah satu baby twin yang sedang berada dalam gendongan ayah bayi berumur enam bulan itu.
"Wah, ini pasti baby Aris, kan?! Duh, gembilnya ini pipi apa bakpao, sih?! Jadi gemes, deh!"
Dicubitnya pipi tembam baby Aris sampai-sampai bayi itu menangis.
"Huwa ... huwa ...!"
( Anggap saja itu bunyi bayi enam bulan saat menangis. Bingung menirukan suara tangisnya soalnya😁😁)
"Eh, cup ... cup ...!! Jangan nangis, dong! Maafin Maunty, ya sudah bikin kamu nangis. Sakit, ya. Uh, Sayang!!" ujar Ghavi berisik sendiri tanpa mempersilakan tamu-tamunya masuk rumah.
"Apaan, tuh Maunty?! Kayak yang seger-seger sering muncul diiklan tivi," celetuk si ibu baby twin.
"Maunty itu kepanjangan dari Mama-Aunty. Bukannya minuman yang suka diiklankan ditelevisi," sahut Ghavi bangga dengan menamakan dirinya mama aunty dari bayi kembar ARISAN.
"Oh!"
Ibu baby twin manggut-manggut.
"Tapi, ngomong-ngomong, kami tidak disuruh masuk, nih?! Jauh-jauh datang dari kota gudeg tidak dapat sambutan ramah dari tuan rumah," keluh Risa, ibu si kembar.
"Wajar tidak ada sambutan dari tuan rumah, Sayang! Kan, disini adanya nona rumah," hibur Aksan menepuk pundak sang istri.
"Tapi kaki aku pegal, Mas! Apalagi pundak aku, nih! Sakit, dari tadi gendong baby Risan. Mana sekarang dia makin berat lagi," keluh Risa lagi.
"Haha ..., maaf! Saking kaget dan senangnya kalian datang. Apalagi sama si twin, kangen banget aku."
Ghavi kini menoel pipi Risan yang jauh lebih gembil yang ada digendongan Risa. Namun, bayi itu hanya menggeliat sedikit kemudian lelap lagi.
" Yuk, masuk!" ajaknya.
"Eh, ngomong-ngomong kalian kesini naik apa? Kok, aku tidak lihat mobil kamu, Mas?"
Ghavi menoleh pada Aksan yang sedang menaruh satu koper milik si kembar dan satu lagi milik dirinya juga Risa.
"Kami naik mobil, kok! Cuma yang nyetir Pak Agung," jawab Aksan.
"Lah, terus Pak Agungnya mana?!"
"Pak Agung langsung ke bandara mengantar Sofia, putrinya Bu Lurah. Dia mau mengunjungi kakaknya yang ada di negeri Jiran. Kamu tahu, kan kalau kakaknya Sofia menikah sama orang sana?!"
"Oh, iya, aku tahu!"
"Awalnya dia mau naik pesawat penerbangan Jogja-Jakarta, baru dilanjutkan ke neregi tetangga, tapi pas tahu kami mau ke Jakarta, akhirnya dia memutuskan ikut mobil, sekalian bantu-bantu aku jagain si kembar. Maklum, ini perjalanan terjauh pertamanya si kembar, takut mereka rewel," sahut Risa.
"Oh, begitu! Eh, itu baby Risan kamu turunin aja di sofa lipat. Mas Aksan buka lipatan sofanya biar jadi seperti tempat tidur."
Ghavi menyuruh Aksan membuka lipatan sofa yang bisa berubah seperti ranjang.
"Kasihan Risa sepertinya kecapaian. Baby Risan juga sepertinya nyenyak sekali tidurnya. Tidak seperti baby Aris. Ya, kamu mau main sama Maunty, ya."
__ADS_1
Ghavi menciumi pipi Aris dengan gemas.
Aksan pun menuruti perintah Ghavi lalu membantu Risa menidurkan Risan.
"Gerah! Haus, juga! Vi, minta minum, dong!"
Risa mengibaskan tangannya kepanasan.
Udara Jakarta memang panas, meski hari masih pagi. Apalagi, sekarang mulai masuk awal musim penghujan, jadi udara semakin panas dan gerah.
"Biasanya juga ambil sendiri," decih Ghavi.
"Kamu, tuh, ya! Suka menyamakan kami seperti waktu di Jogja. Ini, kan rumah kamu yang di Jakarta, jadi kami disini tamu, tahu?!" ujar Risa kesal.
Baru datang dari jauh tapi disuruh ambil minum sendiri seperti sedang dirumah mereka yang di kampung halaman.
"Haha ...! Lupa!"
Ghavi tertawa ngakak sampai membangunkan baby Aris yang sudah mulai merem melek.
"Sssttt ...! Bobo lagi, Sayang! Maunty ngagetin kamu, ya!"
Dielusnya puncak kepala bayi dalam pangkuannya supaya tidur kembali.
"Mas, ini baby Arisnya sama kamu lagi saja. Kamu kelonin dia disebelah baby Risan. Aku mau ke belakang minta dibuatkan minum sama Ibu."
Akhirnya Ghavi menyerahkan sang bayi pada ayahnya, sementara dia pergi ke belakang memanggil Bu Yoyon.
Bu Yoyon yang sedang menjemur cucian pun langsung buru-buru merampungkankan aktifitasnya demi menemui anaknya Mirna, sahabatnya dari kampung yang sama-sama mengabdikan diri di keluarga Ghavi.
Bedanya, Mirna menjadi pembantu dikeluarga Ghavi dari pihak ibu, sementara dirinya bekerja dikeluarga Ghavi dari pihak ayah.
"Iya, Vi! Ini sebentar lagi selesai. Tanggung!" jawab Bu Yoyon sambil merampungkan kegiatannya.
"Minumnya apa?" teriaknya saat dilihatnya Ghavi sudah cukup jauh masuk kembali ke rumah.
"Tanya dulu saja sama mereka mau minum apa? Buatku air jeruk hangat saja, Bu," sahut Ghavi ikut berteriak.
Ghavi langsung menghilang dilantai atas.
"Hallo!"
" ... "
"Hallo, Bintang kecilnya Tante, apa kabar?"
Ghavi menyapa Bintang.
Ternyata bocah itu yang mengangkat ponsel Liana.
" ... "
__ADS_1
" Aunty Lili ada, nggak?! Panggilin, dong!"
" ... "
"Oh, gitu! Ya, sudah! Nanti kalau Aunty sudah pulang suruh main ketempat Tante, ya. Bilang sama dia, Tante Risa datang berkunjung. Iya, kamu boleh ikut sekalian. Kamu belum pernah ketemu baby twinnya Tante Risa sama Om Aksan, kan?! Iya! Ok, Tante tunggu, lho! Daahh!"
Ghavi memutus sambungan telpon lalu kembali ke lantai bawah membiarkan ponselnya tetap dikamar untuk dicharging hingga isi daya penuh nanti.
"Aku sudah menghubungi Lili dan Bintang. Setelah Lili mengantarkan mamanya belanja, mereka akan kemari," ujarnya pada Risa, sekembalinya dari lantai atas.
"Oh, senangnya kita bakal ngumpul-ngumpul," pekik Risa senang.
"Husstt, Sayang jangan berisik! Baby twin lagi bobo."
Aksan yang sedang ngelonin Aris menaruh telunjuknya didepan bibir.
"Ups! Sorry, Sayang! Saking senangnya, hehe ...!" cengir Risa.
" Mas Aksan tidak minum dulu? Itu kopinya nanti dingin tidak enak."
Ghavi melihat kopi buatan Bu Yoyon untuk Aksan masih terlihat penuh dicangkir.
"Buat nanti saja. Aku sudah minum air jeruk punya kamu. Hehe ..., maaf! Tapi Ibu lagi bikin lagi, kok!"
Aksan menunjuk gelas air jeruk pesanan Ghavi yang tinggal setengah.
"Ya, sudah tidak apa-apa!" jawab Ghavi.
"Kamu mau rebahan juga, Sa?!"
Dilihatnya Risa yang mulai mengantuk disandaran sofa.
"Kalau mau rebahan dikamar tamu saja biar lehernya tidak sakit," lanjutnya.
"Tidak, ah! Disini saja bareng-bareng sama anak-anak!" tolak Risa.
Ibu muda itu langsung membaringkan tubuhnya disisi sofa yang lain sehingga posisinya Aksan dan Risa mengapit kedua bayi kembar mereka.
"Ok, sementara kalian istirahat, aku pergi ke restaurant sebentar, ya! Ada berkas yang harus aku tanda tangani dulu. Jam makan siang nanti aku pulang," pamit Ghavi.
"Ya! Jangan lupa bawa bebek bakar madu dan sambal ijo andalan restaurant kamu itu," pesan Risa sebelum menutup matanya, menyusul sang suami dan anak-anak tidur.
Karena saat diperjalanan mereka kurang tidur, akhirnya hanya dalam hitungan menit mereka sudah lelap.
Ghavi pun kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel yang tadi sedang diisi daya, tas serta kunci mobil.
Tidak lupa dia berpesan pada Bu Yoyon untuk memasak lebih banyak makanan karena nanti akan makan siang bersama dengan Risa dan suami, serta Lili jika jadi datang nanti.
***
Maaf, slow up! Lagi dikondisi sulit bagi waktu antara dunia nyata dan dunia imajiner😁😁. Maklum saja, PENGACARA, PENGangguran bAnyak aCARA😂😂.
__ADS_1