Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Bertemu Om dan Tante Rudi ( Lagi )


__ADS_3

Pak Yoyon menghentikan mobilnya di depan rumah baru Handy untuk menurunkan Ghavi yang mengantar Sunny pulang.


Setelah keduanya turun, Pak Yoyon menjalankan kembali mobilnya memasuki garasi rumah Ghavi yang juga menjadi tempat tinggalnya.


"Kakeekk!!"


Sunny berlari begitu bocah cilik itu turun dari mobil dan melihat Om Rudi duduk di kursi santai teras rumah.


"Cucu Kakek apa kabar? Tadi kata Mbak Nia Sunny pergi ke restaurantnya Tante Cantik, ya?!"


Om Rudi memeluk dan menciumi wajah cucu perempuannya dengan penuh kerinduan.


"Iya, Kakek! Itu dia Tanta Cantik!"


Sunny menunjuk Ghavi yang tersenyum pada Om Rudi.


"Om Rudi apa kabar? Kapan datang?!"


Ghavi menyapa dan mencium tangan Om Rudi penuh hormat.


"Tadi siang, selepas lohor. Jadi kamu yang dibilang Tante Cantik sama Sunny? Om kira siapa?!!"


Om Rudi mengusap kepala Ghavi saat gadis itu mencium tangannya.


"Om juga baru tahu kalau rumah baru Handy ternyata sebelah rumah Umar," sambungnya sambil menyebut nama Umar, almarhum ayah Ghavi.


"Iya, Om! Ghavi juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Soalnya setahuku rumah ini dulunya cukup lama kosong," terang Ghavi.


Diudukkkannya tubuhnya di kursi kosong seberang Om Rudi.


"Tante Cantik kenal Kakeknya Sunny?!" tanya bocah yang sedari tadi mendengarkan obrolan antara sang kakek dengan Tante Cantiknya.


"Hoho ...! Cucu Kakek rupanya belum dikasih tahu, ya sama Papa?! Tante Cantiknya Sunny itu adalah putrinya teman Kakek waktu masih muda dulu. Tentu saja Kakek kenal, dong!"


Om Rudi mengangkat tubuh kecil namun berat milik Sunny dan mendudukkannya ke pangkuannya.


"Jadi, Tante Cantik ini temannya Papa sama Om Harry juga?!"


Om Rudi dan Ghavi saling pandang. Ghavi pun tersenyum mengangguk.


"Iya! Mereka juga berteman seperti Kakek dan ayahnya Tante Ghavi."


"Ooohh!"


Sunny mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kakek, Nenek dimana?!" celetuk Sunny tiba-tiba.


"Oh, iya, Om! Tante mana, kok sepi?! Sehat, kan Tante?! Sampai lupa tanya kabar."


Ghavi yang juga menyadari tidak melihat keberadaan Tante Rudi pun bertanya.


"Ada di dapur! Nenek sedang bersama Mbak Nia, memasak untuk makan malam nanti," terang Om Rudi.


"Tante, Tante! Mana makanan yang katanya buat dibawa pulang?!"


Sunny teringat makanan yang mereka bawa dari restaurant tadi.


"Oh, iya! Tante lupa, Sayang! Tadi makanannya masih di mobil. Tante oupa turunin. Sebentar, ya Tante ambil dulu!"


Ghavi pun pamit pulang mengambil box makanan yang rencananya untuk Om dan Tante Rudi.


"Sunny masuk dulu, ya temui Nenek," perintah Om Rudi.


"Baik, Kek!"


Sunny lantas berlari masuk ke dalam menemui neneknya yang ada di dapur bersama Mbak Nia.


Sepuluh menit kemudian, Ghavi kembali lagi ke rumah sebelah untuk mengantarkan makanan.


Dilihatnya mobil Handy memasuki halaman. Ghavi pun sengaja menunggu Handy dan Aslan turun dari mobil.


Sementara Om Rudi menunggunya berdiri diteras rumah.


"Baru pulang, Mas?" sapa Ghavi saat Handy sudah berada di kursi roda.


"Ya!" jawabnya pendek.


"Sunny jadi ikut kamu tadi?!"


"Jadi, kok! Dia kelihatannya suka disana. Bahkan tadi Sunny bilang, dia mau kesana lagi kapan-kapan!" cerita Ghavi.


"Pasti sangat merepotkan, ya!"


"Ah, tidak! Tepatnya, bukan aku yang direpotkan, sih, tapi Pak Yoyon. Tadi aku membahas beberapa pekerjaan dengan Pak Rama, jadi Bapak yang menjaganya."


"Mau sampai kapan kalian ngobrol disitu?!" celetuk Om Rudi dari teras rumah.

__ADS_1


"Oh, iya! Mari!"


Ghavi berjalan beriringan dengan Handy yang berada di kursi roda yang sedang didorong Aslan.


"Kamu bawa apa banyak sekali?"


Handy melihat Ghavi menenteng tiga box cukup besar berwarna putih yang diikat dengan tali rafia.


"Oh, ini lauk untuk Om dan Tante Rudi. Tadi siang Mbak Nia cerita kalau mereka mau datang, jadi aku sengaja bawa ini pulang."


Ketiga orang tersebut sampai diteras.


"Mm,, aku langsung ke belakang naruh ini dulu, ya!" pamit Ghavi.


Karena dulunya itu rumah Pak Santo yang dulu sering dikunjunginya, jadi Ghavi sudah lumayan hafal dengan kondisi dalam rumah.


Terlihat ada beberapa perabotan lama disana.


Contohnya saja lemari kaca tempat benda-benda yang terbuat keramik kecil dan logam yang berdiri diantara ruang tamu dan ruang tengah yang tidak ada tembok pembatasnya. Ada juga kursi kayu berukir membentuk sudut L yang masih terlihat bagus di ruang tamu. Padahal, setahunya kursi tersebut sudah berumur sekitar tujuh tahunan.


Terlihat pula guci besar berbahan tembikar dengan motif mozaik terpajang disudut ruang tengah. Selebihnya adalah perabotan yang baru yang Ghavi lihat saat boyongan beberapa hari lalu.


Langkah kakinya terus saja menuju dapur yang pintunya menghubungkan ke halaman belakang.


"Tante!!" panggil Ghavi setelah tiba didapur.


"Ghavi!! Tante kangen sekali padamu, Nak!"


Tante Rudi yang sedang mengaduk sayur diwajan langsung meletakkan sutilnya.


Dipeluknya tubuh Ghavi yang tetap saja mungil. Gadis itu tidak banyak berubah. Hanya rambutnya saja yang sudah sedikit panjang sepunggung, serta wajahnya yang tampak dewasa dan makin cantik.


"Lama sekali tidak bertemu, kamu semakin cantik saja," pujinya.


"Ah, Tante bisa saja! Tante apa kabar?! Iya, lama sekali kita tidak bertemu sejak empat tahun yang lalu," sahut Ghavi.


"Lebih malah!" sambung Tante Rudi.


"Pokoknya sudah lama sekali sejak ...,"


Tante Rudi menghentikan kalimatnya.


"Ah, sudahlah!"


"Oh, ya, Tante! Aku tadi sengaja bawa lauk dari restaurant, lho! Soalnya tadi Mbak Nia cerita kalau Om dan Tante akan datang berkunjung ke rumah Mas Handy yang baru."


"Ini, Tante!"


Diserahkannya box tersebut pada wanita enam puluh tahun tersebut.


"Wah, jadi merepotkan kamu, nih!"


Tante Rudi menerimanya dan memindahkannya kepiring saji.


"Habisnya Handy pindahan tidak kasih kabar pada kami. Ini saja tahunya dari Harry."


"Ngomong-ngomong, Mas Harry tidak ikut?!"


Gjavi membantu mengambil piring saji yang kurang.


"Tidak! Sedang sibuk di kampus. Tapi, bilangnya, sih mau nyusul kesini lagi. Dia, kan baru balik dari sini dua hari lalu," jawab Tante Rudi.


"Iya, juga, sih! Kemarin dulu jufa ketemu, kok waktu jenguk aku di rumah sakit."


"Eh, kamu sakit?! Sakit apa?!" tanya wanita itu kaget.


"Cuma HB nya rendah, Tante! Anemia! Tapi sekarang sudah sembuh, kok!"


"Syukurlah! Tante pikir kamu sakit kenapa?!"


"Ini makanannya banyak sekali! Tahu begini tadi tidak usah masak. Sayang, kan kalau tidak dihabiskan," keluh Tante Rudi.


"Jangan khawatir, Tante! Cucu Tante itu jago maka."


Ghavi pun menceritakan kejadian tadi siang saat direstaurant sewaktu Sunny menghabiskan makanan cukup banyak hanya berdua dengan Pak Yoyon sampai ketiduran.


"Haha ...! Pantas langsung tertidur," komentar Tanta Rudi tertawa.


"Tante Cantik! Aku sudah mandi! Sekarang aku sudah cantik dan wangi!"


Sunny berlari kearah dapur dan menghambur kepelukan Ghavi.


Sunny baru keluar dari kamarnya diikuti Mbak Nia yang langsung mengambil alih memasak.


"Jadi, yang dipanggilnya Tante Cantik itu kamu?!"


Tante Rudi menatap pada Ghavi yang sedang mengangkat Sunny digendongannya dan menciumi cucunya dengan gemas.

__ADS_1


"Tante pikir siapa! Kemarin dulu Sunny menelpon dan cerita kalau dia kenalan sama Tante Cantik dan beberapa hari kemudian diajak bermain ke mall."


"Iya, Tante! Waktu pertama kali ketemu itu saat aku menemani Liana jemput Bintang, anaknya Kak Lian," jawab Ghavi.


"Tapi kalian sudah kelihatan dekat. padahal, kan baru beberapa hari bertemu, ya."


"Mungkin karena aku menyukai anak kecil, jadi gampang dekat sama mereka."


"Tante, gendong!" rengek Sunny manja.


"Sini! Coba Tante cium dulu sudah wangi apa belum?"


Ghavi mengangkat tubuh Sunny kedalam gendongannya.


"Sudah, kan?!"


Sunny mendekatkan tubuhnya yang digendong, merapat pada Ghavi.


"Iya, nih, Sunny sudah wangi! Heemm ...!"


Ghavi menciumi wajah Sunny yang kegelian.


"Haha ...! Geli, Tante!"


Sunny tertawa lebar sambil menggeliat dalam gendongan orang yang tersakiti hatinya oleh mama Sunny, tanpa gadis kecil itu katahui.


Cara Ghavi memperlakukan Sunny, membuat Tante Rudi yakin jika Ghavi sangat menyayangi cucunya. Padahal, baru pertama kali itu dia melihat kebersamaan antara Ghavi dengan Sunny. Selebihnya dia hanya mendengar cerita kebersamaan mereka dari Sunny.


Tante Rudi jadi merasa bersalah atas putranya yang sudah berani menyakiti hati seorang gadis sebaik Ghavi.


Tanpa disadarinya, setitik air mata jatuh disudut matanya yang buru-buru dia hapus sebelum orang lain melihatnya.


"Ah, ayo kita ke depan! Mari bergabung dengan yang lain sembari menunggu masakan yang lain matang."


Tante Rudi menggiring Ghavi yang masih menggendong sang cucu menuju ruang depan.


"Lho, Handy mana, Pak?!" tanya Tante pada suaminya manakala tidak didapatinya sang anak disana.


"Tadi ijin mau mandi, katanya!"


"Om As juga?!" sambung Sunny.


"Iya, Sayang! Om As, kan harus bantu Papa mandi. Sini, turun! Kasihan Tantenya berat gendong kamu. Sekarang, kan Sunny makin berisi," ujar Om Rudi mengambil alih Sunny dari gendongan Ghavi dan mendudukkannya dipangkuannya.


Mereka pun ngobrol kesana kemari mengenang saat-saat kebersamaan mereka waktu di Wonosobo dulu, sampai cerita Ghavi sewaktu belajar di Australia.


"Emm, sudah malam! Ghavi pamit pulang dulu, ya! Mau mandi juga, gerah!"


"Lho, tidak makan malam dulu disini?! Sayang makanannya sudah dibawa tapi tidak ada yang makan," tukas Tante Rudi.


"Iya, Vi! Makanlah dulu, baru pulang! Orang dekat ini," timpal Om Rudi.


"Terima kasih! Lain kali saja. Om dan Tante masih lama, kan disini?! Kebetulan sekali aku sudah ada janji sama Mas Fikar, Om. Tidak enak kalau dibatalkan. Kami sudah janjian dari dua hari yang lalu baru sekarang sempat," tolak Ghavi halus.


"Siapa Fikar?" tanya Tante Rudi penasaran.


"Ah, itu! Dia itu teman kecil yang dulu rumahnya diseberang jalan rumah. Itu yang rumah cat warna hijau pupus," tunjuk Ghavi pada sebuah rumah diseberang jalan depan rumahnya melalui pintu yang kebetulan terbuka.


"Dulunya rumah itu milik orangtua Mas Fikar sebelum akhirnya pindah keluar kota."


Ghavi lantas cerita bagaimana awal mula pertemuannya dengan Fikar kembali yang ternyata melamar pekerjaan direstaurant miliknya sampai pria itu menjadi koki baru ditempat tersebut.


"Baiklah! Kami masih sekitar satu minggu disini. Kau sering-seringlah main kesini! Kita ngobrol-ngobrol! Tante sebenarnya masih kangen sama kamu."


Tante Rudi akhirnya mengijinkan Ghavi pulang.


"Makan malam sudah siap, Bu, Pak!"


Mbak Nia datang memberitahukan kalau makanan sudah siap santap.


"Baik, Nia! Kamu panggil papanya Sunny dulu!" sahut Tante Rudi.


" Mereka sudah menunggu di ruang makan, Bu!"


"Ya, sudah! Ayo, Pak! Ayo, Sayang!"


Tante Rudi pun menuju ruang makan diikuti suaminya, dengan Sunny berada dalam gendongan sang kakek.


"Lho, Ghavi mana, Bu! Tidak ikut makan malam?!"


Handy yang tidak melihat keberadaan Ghavi oun bertanya.


"Sudah pulang! Katanya ada janji dengan Fikar, teman masa kecilnya yang bekerja sebagai koki baru direstaurantnya."


"Owh!" jawab Handy datar.


Akhirnya keluarga Handy pun makan malam tanpa kehadiran Ghavi yang pulang tepat sebelum acara makan malam dimulai.

__ADS_1


__ADS_2