
Ghavi dan Aksan baru turun dari mobil sehabis membeli kain lurik. Saat langkah kaki keduanya menginjak teras rumah, terdengar suara cukup ramai dari dalam rumah.
Gelak tawa makin jelas terdengar hingga membuat Ghavi dan Aksan merasa penasaran. Siapa gerangan orang yang sedang tertawa tersebut?! Sepertinya tidak asing dengan suara itu.
"Maaf, ya, Mas! Kamu, sih maksa ingin gendong dia, sudah tahu tidak pakai diaper," ucap Risa sembari mengambil anaknya dari pangkuan Harry.
"Tidak apa-apa! Santai saja. Aku dulu juga sering diompolin sama keponakanku. Kamu tahu, kan dulu anak itu tinggal bersamaku karena orang tuanya tidak ..."
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara mengagetkannya.
"Mas Harry!!" panggil Ghavi begitu sampai di ruang tengah.
Dilihatnya Harry sedang berdiri mengibas-kibaskan celananya yang basah.
"Hai, Vi!"
Harry terkaget menengok keasal suara.
Harry dan Risa pun saling pandang, takut Ghavi mendengar percakapan mereka barusan.
"Kalian baru pulang, Sayang?!" Risa mendekati Aksan dan menyambut tangan suaminya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya! Tadi Ghavi lama banget ditoko baju bayi," jawab Aksan sedikit mendengus.
Pasalnya tadi mereka sempat berdebat sengit dengan salah satu pelanggan lain saat ditoko baju bayi.
Ghavi yang merasa lebih dulu menunjuk dan meminta pelayan toko untuk mengambilkan baju bayi incarannya itu diserobot orang dadi belakang.
Pertengkaran pun tidak terelakkan antara Ghavi dan pelanggan lain itu. Keduanya saling ngotot mengaku bahwa mereka yang lebih dulu menunjuknya papa pelayan toko.
Pelayan toko yang merasa pusing harus menghadapi kelakuan keduanya segera menghubungi pemilik toko yang sedang makan siang.
Setibanya pemilik toko, keduanya langsung diiterogasi oleh pemilik toko karena telah membuat keributan.
Aksan yang menasehati Ghavi agar mau mengalah justru kena pelototan. Akhirnya Aksan pasrah saja melihat perdebatan yang kembali terjadi.
Aksan segera meminta pemilik toko untuk memutar cctv demi mengetahui kebenarannya.
Barulah sang pemilik toko akhirnya menyerahkan barang dagangannya pada Ghavi yang memang masuk dan memilih baju lebih dulu.
"Hehe ...! Tapi, kan akhirnya aku yang dapat baju-baju ini."
Ghavi mengangkat paper bag ditangan kanannya dan menyerahkannya pada Risa.
"Ini untuk baby twins! Harus dipakai, ya. Soalnya untuk beli baju itu perjuangannya menguras tenaga."
Ghavi pun menceritakan kejadian waktu ditoko tadi. Semua yang mendengar pun terbahak.
"Pantas saja pulang-pulang mukamu ditekuk begitu," ujar Harry tersenyum pada Aksan.
"Ghavi dilawan. Dia, kan rajanya ngeyel. Haha ...!"
Risa ikut menimpali.
__ADS_1
"Tapi, kan aku malu, Yang," dengus
Aksan.
"Dikira aku membiarkan istriku membuat keributan. Padahal, istriku yang cantik ini sedang sibuk ngurusin si kembar di rumah."
Aksan menoel pipi Risa dengan mengedipkan mata.
"Iya, tahu, nggak?! Tadi aku dikira istrinya Mas Aksan. Mana tadi Mas Aksan cuek aja lagi, nggak belain aku. Makin marahlah akunya."
Sekarang Ghavi yang mendengus.
"Haha ...!"
Semua orang kembali tertawa.
"Eh, ngomong-ngomong Mas Harry kapan datang?!" tanya Ghavi sambil terus melangkah ke dapur untuk meletakkan bebek sambal ijo yang tadi sempat dibelinya di jalan saat pulang.
"Sudah lumayan lama, sih. Ada kali satu jam," jawab Harry.
"Kebetulan tadi ada pekerjaan didaerah sini, makanya sempatin mampir."
"Maaf, ya, San aku baru sempat jengukin anak-anak kamu. Sebenarnya ingin jenguk waktu masih di rumah sakit, tapi pekerjaanku ternyata tidak bisa ditinggal. Makanya baru sekarang. Ini juga aku sempat-sempatin. Kalau tidak begitu, keburu sibuk dengan pekerjaan lagi. Aku saja sampai pusing bagi waktunya antara ngajar dan ngurusin perkebunan," sambungnya meminta maaf pada Aksan.
"Tidak apa-apa, kok, Mas. Sudah mau sempatin waktu kesini saja aku sudah senang sekali."
Aksan memaklumi.
" Terus kenapa, tuh celana sampai basah begitu? Mas Harry ngompol, ya?!"
Dilihatnya Harry dari tadi menepuk-nepuk celananya yang basah.
"Sembarangan kalau ngomong!!"
Harry menyentil bibir mungil namun cerewet itu. Ghavi pun mengaduh.
"Aduuuh ...! Kalau bukan ngompol, terus kenapa bisa basah?"
Ghavi mengusap bibirnya yang kena sentil.
"Hehe ...! Itu tadi kena ompolnya si Risan, Vi. Tadi Mas Harry sedang gendong Risan yang kebetulan tidak pakai diaper karena tanggung mau mandi. Eh, tiba-tiba Risan pipis. Basah, deh celananya Mas Harry," jelas Risa sambil nyengir.
"Oh, pantas. Kirain ngompol.Hihihi ...!"
Ghavi kembali terkikik.
Harry hendak menyentilnya lagi tapi ternyata Ghavi lebih siap. Gadis itu langsung bersembunyi dibalik bahu Bi Marni yang baru selesai memandikan baby Aris.
"Nak Ghavi ini ngagetin Bibi saja. Kalau Bibi jatuh bagaimana?"
Bi Mirna sedikit limbung karena Ghavi tiba-tiba saja berdiri di belakangnya sambil memegang bahunya.
"Maaf, Bi! Habisnya Mas Harry, tuh nyentil aku terus dari tadi," sahutnya.
__ADS_1
"Lagian kamu ngatain aku ngompol," celetuk Harry.
"Sudah, nggak usah pada ribut."
Aksan menengahi.
"Mending kamu ganti celana kamu, tuh. Nih aku ada celana besar. Pasti muat dipakai sama kamu, Mas."
Aksan menyodorkan celana panjang bahan kain pada Harry.
"Nggak perlu! Aku juga sudah mau pulang, kok," tolaknya.
"Oh, ya, Vi. Kamu jadi pulang nanti sore?!"
"Jadi, kenapa memangnya?"
Ghavi sedang membantu Risa memakaikan baju pada Aris.
Sementara Bi Mirna kembali ke belakang untuk memandikan baby Risan.
Risa dan Aksan sendiri belum berani memandikan anak kembar mereka karena dirasa masih sangat kecil. Takut kenapa-kenapa.
"Nanti bareng aku saja. Tidak usah diantar Pak Agung. Kebetulan aku ada acara di Jakarta tiga hari. Nanti aku jemput jam tujuh malam saja, ya. Selepas makan malam."
"Baiklah!"
"Ok! Kalau begitu aku pamit dulu."
"Eh, kenapa buru-buru sekali?"
Harry menatap Risa bingung.
"Mas Harry, kan datang tidak lama setelah kalian pergi tadi. Jadi, dia sudah lama disini, Vi."
Risa membantu Harry menjawab. Ibu muda itu tidak berani mengatakan tujuan kedatangan Harry yang sebenarnya.
"Ya, tapi, kan kita belum lama ngobrol, Mas," Ghavi manyun.
"Nanti saja ngobrolnya waktu diperjalanan ke Jakarta. Sekalian biar aku ada teman ngobrol biar tidak mengantuk saat mengemudi," kilah Harry.
"Aksan, bisa bantu aku ambil barang dimobil sebentar? Tadi aku sempat bawa oleh-oleh untuk si kembar, tapi lupa dibawa, lanjutnya menatap Aksan.
"Baik, Mas!"
"Aku pamit dulu, ya!"
Harry menepuk pundak Ghavi dan dibalas anggukan.
"Ris, aku pulang dulu."
Dilambaikannya tangannya pada Risa yang sudah selesai mendandani Aris.
"Ya! Terima kasih sudah datang."
__ADS_1
Harry pun pamit pulang untuk bersiap-siap.