Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Bertemu Lagi ( 1 )


__ADS_3

Hari ini hari Minggu. Ghavi sudah berjanji pada Bintang akan mengajaknya jalan-jalan ke mall.


Mereka sudah sepakat akan ketemuan langsung di mall yang sudah disepakati.


"Bu, aku pergi dulu, ya!" pamitnya pada Bu Yoyon yang sedang mengelap jendela kaca.


"Mau kemana pergi pagi-pagi begini?"


Bu Yoyon meneliti penampilan Ghavi dari atas ke bawah, kembali lagi ke atas.


Pagi ini Ghavi mengenakan setelan kaos putih bergambar tali melingkar, yang dibelinya kemarin waktu ke Jogja, dipadu padankan dengan celana jeans pensil biru dongker.


Sementara itu rambutnya dikuncir satu dengan pita merah, senada dengan sepatu sneakers yang dikenakannya.


Dengan tampilan seperti itu, Ghavi terlihat seperti remaja. Apalagi perawakan tubuhnya yang mungil menjadi semakin mendukung.


"Ibu kenapa, sih melihatku segitunya banget?!"


Bukannya menjawab, Ghavi justru balik bertanya.


"Ah, tidak!"


Bu Yoyon menggeleng.


"Ibu cuma pangling saja melihat tampilan Non yang seperti ini. Seperti ABG tujuh belas tahun, lho!"


"Hahaha ...! Ibu bisa saja, deh. Ya, sudah, Bu! Aku berangkat dulu, ya! Sudah janji sama Bintang mau jalan-jalan ke mall soalnya," pamit Ghavi sekali lagi.


"Oh, ya, Bu. Nanti aku pulangnya sorean, ya. Niatnya mau jengukin anak-anak! Sudah lama tidak kesana,"lanjutnya.


Bu Yoyon yang sudah tahu maksud dari 'anak-anak' itu mengangguk mengiyakan.


"Ya, hati-hati! Jangan lupa bawa jajan buat mereka!"


Bu Yoyon mewanti-wanti.


"Ok, Bu! Daaah ...!"


Ghavi memasuki mobil sportnya lalu mengemudikannya membelah jalanan menuju tempat janjian.


Anak-anak yang dimaksud Ghavi adalah anak-anak Panti Asuhan Cahaya. Semenjak pulang dari luar negeri tiga bulan lalu, baru sekali dia mengunjungi mereka.


Niatnya, sepulangnya dari jalan-jalan dia akan mengajak Bintang menemui anak-anak dengan membawa jajan agar bocah itu tahu artinya berbagi antar sesama.


Drrt ...! Drrrtt ...!


"Ya, Hallo!"


Ghavi mengambil ponsel didashboard dan mengangkat panggilan.


"Tante sudah berangkat apa belum? Bintang sudah dijalan, nih."


"Lagi on the way, Sayang! Lima belas menit lagi sampai, kok!"


"Ok, Tante! Sampai ketemu disana, ya!"


"Ok!"


Ghavi pun mematikan ponsel dan menaruhnya ditempat semula.


Lima belas menit kemudia, sesuai perkiraannya, Ghavi pun sampai di mall.


Diparkirkannya mobilnya dihalaman parkir dekat pintu masuk. Mungkin karena masih pagi, masih jam sembilan, jadi pelataran parkir masih terlihat sepi.


Diambilnya tas ransel dijok samping sebelum keluar dari mobil. Tidak lupa ponsel yang tersimpan didashboard diambilnya juga.

__ADS_1


" Hai, Tante Cantik!!" sapa seseorang memanggil.


Tampak bocah perempuan kecil berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Sejak turun dari mobil, Ghavi langsung sibuk dengan ponselnya sambil bersandar dipintu mobil tanpa mempedulikan sekitar.


"Tante Cantik!!" panggil suara itu lagi.


Kali ini panggilan itu disertai dengan tarikan pada ujung tali tas ranselnya hingga membuat Ghavi terkejut.


" Eh!"


Ghavi menengok si pelaku penarikan tersebut.


Tampak didepannya seorang wanita awal empat puluh tahun sedang menggandeng gadis kecil. Ghavi meyakini dia pengasuh si gadis kecil karena sudah terlihat dari pakaian baby sitter yang dikenakannya.


Pakaian yang dikenakannya tanpa sengaja senada dengan Ghavi, yaitu kaos putih dipadankan dengan celana jeans biru.


Yang membedakannya adalah, gambar pada kaos bocah itu adalah tokoh kartun seorang perempuan dalam film animasi Frozen dan rambut panjangnya dikepang susun menyamping seperti tokoh kartun dikaosnya tersebut serta sepatu yang dikenakan warna puti, sewarna dengan pita dirambutnya.


"Kamu?!"


Ghavi merasa familiar dengan gadis kecil dan sang pengasuh didepannya.


"Tante Cantik lupa sama aku, ya?!" tanyanya menebak.


"Memangnya kita pernah bertemu?!"


Kening Ghavi berkerut.


"Tanta Cantik pasti lupa, kan, makanya tanya begitu?!" tanyanya.


"Aku Sunny, Tante! Yang waktu itu jatuh ketabrak sama Bintang dan Tante Cantik yang mengobati lukaku, ingat?!"


"Oh, Sunny! Ya, ya, Tante ingat sekarang!" jawab Ghavi mengangguk.


Sunny menunjuk dengan jari kanannya.


"Oh, iya! Maaf, Mba, lupa! Soalnya baru sekali bertemu waktu itu."


Ghavi meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Non!" balasnya tersenyum mengangguk.


"Tante mau jalan-jalan kesini juga?"


Sunny menebak-nebak.


"Duh, pintarnya Sunny! Bisa nebak apa yang mau Tante lakukan," puji Ghavi.


"Iya, Tante mau jalan-jalan sama Bintang!"


"Sama, dong kayak aku. Aku juga mau jalan-jalan," ujarnya.


"Aku jalan-jalan sama Papa, sama Mbak Nia, sama Om As juga."


"Terus dimana Papa kamu sama Om As-mu itu??"


Ghavi tersenyum mendengar kata Om As. Lagi-lagi dia teringat komedian wanita asal betawi itu.


" Itu disana Om As parkir mobilnya! Om As sedang bantuin turunin kursi rodanya Papa," ujar Sunny menunjuk sebuah mobil diujung halaman sebelah kanan.


"Oh! Eh, kursi roda?!"


"Iya, Tante! Papa aku belum bisa jalan lagi, jadi harus pakai kursi roda."

__ADS_1


"Memangnya Papa kamu sakit apa?"


"Kecelakaan mobil, Non!"


Kali ini Mbak Nia yang menjawab.


"Oh, begitu! Semoga Papa Sunny cepet sembuh, ya!"


Ghavi mengelus puncak kepala Sunny dengan lembut.


" Tante Obat Gosoookk !!" teriak Bintang yang baru turun dari taksi yang ditumpakinya.


Dibelakangnya sosok Liana mengikuti setelah membayar ongkos taksi.


Liana sengaja tidak bawa mobil karena nanti pulangnya akan diantar Ghavi.


"Sudah lama, Vi?" tanya Liana saat sudah dekat.


"Lumayan!" balas Ghavi.


"Eh, Sunny! Kamu kesini juga?!"


Bintang baru menyadari keberadaan Sunny dan pengasuhnya. Begitupun dengan Liana.


"Iya!"


Sunny menjawab ketus.


"Non Sunny! Tidak boleh bicara ketus, tidak sopan!" tegur Mbak Nia pada putri majikannya.


"Huh!!" dengus Sunny.


"Maaf, ya, Den!"


Mbak Nia memintakan maaf Sunny pada Bintang yang dibalas anggukan.


"Eh, iya ada Sunny dan Mbaknya. Sunny apa kabar, apa kakinya sudah sembuh??"


Liana menatap pengasuh Sunny.


"Sudah, kok, Non! Tidak perlu dibawa kerumah sakit. Hanya dikasih antiseptik dan kasa sudah sembuh sekarang," terang Mbak Nia.


"Syukurlah!"


Liana merasa lega. Paling tidak, Sunny tidak sampai dibawa kerumah sakit.


"Ya, sudah kalau begitu, kami keatas duluanya, Mbak, Sunny!"


Ghavi pamit pada kedua orang beda generasi itu.


"Iya, Non!"


"iya, Tante Cantik!"


Keduanya menjawab kompak.


"Daaah, Sunny! Sampai ketemu lagi!"


Liana mengangkat tangan Bintang dan melambaikannya pada Sunny.


Sunny yang melihat itu langsung melengos sambil bersedekap dada.


Ghavi dan Liana yang melihat tingkah Sunny pun tertawa.


Kini Ghavi, Liana dan Bintang memasuki mall dan langsung menuju playground, tujuan utama mereka datang. Mereka baru akan jalan-jalan nanti setelah Bintang puas bermain.

__ADS_1


Anak itu sudah tidak sabar lagi ingin bermain diwahana bermain yang ada dimall itu.


Sementara Bintang bermain, Ghavi dan Liana duduk mengobrol sembari mengawasi keponakan mereka yang terlihat sangat aktif dan lincah berlarian kesana kemari ditempat mandi bola. Sesekali bocah itu menjatuhkan tubuhnya tenggelam dilautan bola warna warni.


__ADS_2