
Ghavi sedang memisah-misahkan oleh-oleh yang dibawanya dari kota kelahiran almarhum ibunya sesuai dengan pesanan.
Gadis itu tiba dirumahnya setelah jam lima pagi tadi.
Harry sendiri langsung melajukan mobilnya menuju kediaman kakaknya untuk beristirahat sementara sebelum bertemu klien.
"Bu, Bapak kemana, sih?! Dari tadi aku sampai hingga sekarang kenapa tidak kelihatan?"
Ghavi melirik jam dinding diruang tengah yang jarumnya sudah menunjukkan angka sepuluh.
Pagi tadi waktu dirinya sampai rumah, hanya Bu Yoyon yang membukakan pintu menyambutnya.
"Oh, Ibu sampai lupa! Bapak sedang menunggui Pak Rama dirumah sakit, Non!" jawab Bu Yoyon.
Wanita setengah abad itu baru saja meletakkan sepiring pastel goreng dan segelas teh tawar kesukaan majikan mudanya.
"Eh, Pak Rama sakit apa sampai dirawat dirumah sakit? Terus keluarganya kemana, kok harus si Bapak yang jagain?!"
Ghavi kaget mendengar orang kepercayaannya direstaurant itu sedang sakit dan harus dirawat juga.
"Kemarin sore selepas makan malam Pak Rama datang berkunjung. Beliau sebenarnya mencari Non karena ada sesuatu yang harus dibahas, katanya. Karena si Non belum pulang, jadinya Pak Rama menemui Bapak. Nah, pas sedang ngobrol sama Bapak, tiba-tiba saja Pak Rama pingsan. Bapak pun langsung membawa Pak Rama kerumah sakit terdekat."
Bu Yoyon ikut menjatuhkan tubuhnya dikarpet sebelah Ghavi.
"Terus, Pak Rama sakit apa, Bu?"
Tangan Ghavi tetap sibuk memilah-milah barang yang hendak dibaginya nanti.
"Kata Bapak, beliau terkena tekanan darah tinggi dan harus dirawat beberapa hari sampai tekanan darahnya normal. Istri dan anaknya Pak Rama kebetulan sedang berlibur di Semarang, kota asal sang istri. Makanya Bapak yang harus jagain."
Pak Rama adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di Panti Asuhan Cahaya yang kala itu baru dibangun oleh almarhum kakek Ghavi.
Pak Rama diangkat sebagai anak asuh Pak Herman, kakek Ghavi, dan disekolahkan bersama Umar, ayah Ghavi, hingga jenjang perguruan tinggi.
Selesai kuliah dia dipercaya mengurus restaurant, yang kini diwariskan pada Ghavi, hingga sekarang.
"Oh, begitu! Baiklah, nanti aku jengukin Pak Rama. Nanti tolong Ibu buatkan aku sayur bening labu, ya! Mau aku bawa untuk jenguk Pak Rama."
"Baik, Non!"
Bu Yoyon pun bangkit dari duduknya hendak kembali ke belakang.
"Eh, Ibu mau kemana? Sini duduk lagi! Ini aku ada oleh-oleh untuk Ibu dan juga Bapak."
Ghavi menyerahkan bungkusan berisi kain lurik dan blangkon serta kain batik khas kota pelajar.
"Dan yang ini titipannya teman Bapak, tolong Ibu simpankan dulu, ya. Dikasih ke Bapak kalau sudah pulang."
Diserahkannya lagi satu bungkus yang isinya sama, hanya corak dan warnanya berbeda.
"Terima kasih banyak, ya, Non! Jadi ngerepotin," ucap Bu Yoyon.
"Tidak apa-apa, Bu!"
"Ya, sudah. Kalau begitu Ibu masak sayur bening dulu, ya buat dibawa kerumah sakit."
Bu Yoyon meninggalkan ruang tamu menuju kebelakang.
Ghavi juga baru selesai menata oleh-oleh dan siap diberangkatkan ke tuannya.
Dicomotnya pastel goreng yang sudah setengah dingin. Tidak lupa dengan cengek hijau pendamping pastel.
Drrrt ... Drrrtt ...
Ponsel diatas meja bergetar.
"Hallo!"
" Tante Obat Gosoookk ...!"
Terdengar suara teriakan anak kecil dari seberang telpon. Ghavi sampai harus mrnjauhkan ponsel dari telinganya yang merasa pengang.
" Jangan teriak-teriak, Sayang!"
Suara lain dibelakangnya juga terdengar.
"Ok, Pa, maaf!" ucap suara bocah kecil tadi.
"Tante Cantik, sudah pulang, kah?!" tanyanya kembali fokus pada telpon.
"Sudah, tadi pagi! Kenapa?"
Ghavi tersenyum mendengar pertanyaan Bintang. Dia maksud dari pertanyaan bocah laki-laki itu. Pasti ada maksud tersembunyi seperti udang dibalik tepung sehingga tercipta rasa yang gurih dan crispy.
Ya. Siapa lagi kalau bukan Bintang yang menelpon? Hanya dia yang memanggilnya Tante Obat Gosok.
__ADS_1
"Huh, tadi saja panggil Tante Obat Gosok. Sekarang ganti jadi Tante Cantik. Pasti kamu ada maunya, kan?!" tembaknya langsung.
"Hahaha ...! Tante tahu saja," balas Bintang tertawa lebar.
"Bintang mau apa?"
Ghavi sengaja memancing.
"Mau oleh-oleh, dooong ...! Tante bawa, kan pesanan Bintang?!"
Bocah imut itu menagih oleh-oleh.
"Eemm, bawa, nggak, ya?! Kayaknya lupa, deh."
"Yaahh, Tante! Nggak jadi cantik, deh kalau begitu. Bintang nggak jadi minta oleh-olehnya," ujar Bintang terdengar kecewa.
"Bintang kecilnya Tante juga nggak jadi ganteng, dong kalau ngambek."
"Biarin!" sengaknya.
"Hahaha ...! Begitu saja ngambek. Ok, deh nanti siangan Tante anterin ke rumah Bintang. Tapi kalau Bintangnya masih ngambek, nanti Tante kasih ke Bulan saja oleh-olehnya," ledek Ghavi.
"Eh, jangaaan ...!" pekik Bintang cepat.
"Kenapa?"
"Eee, soalnya si Bul-Bul masih kecil. Jadi oleh-olehnya buat aku saja," sergah bocah itu.
"Katanya tadi nggak jadi mau?!"
"Jadi, deh! Hehe ...!" kekeh Bintang kembali sumringah.
"Ok! Tunggu kedatangannya, ya! Pesanan oleh-oleh siap meluncur."
Ghavi pun mematikan sambungan telpon.
Gadis itu lantas berjalan cepat menuju kamarnya dilantai atas. Disambarnya handuk dan berlalu kekamar mandi.
Sudah tidak sabar rupanya Ghavi ingin cepat-cepat bertemu anak Lian, kakak dari sahabatnya yang juga orang yang pernah menyukainya dulu.
"Tanteee ...!!"
Bintang yang sedang bermain bola dihalaman dengan sang papa itu langsung menghambur kearah Ghavi yang baru turun dari mobil.
Ghavi sampai dirumah Liana tepat pukul lima belas empat puluh menit. Gadis itu mampir dulu kerumah sakit untuk menjenguk Pak Rama.
Ghavi baru berpamitan saat Pak Yoyon tiba dirumah sakit secara bersamaan dengan anak dan istri Pak Rama.
"Tante, mana oleh-oleh pesananku?"
Dilongokkannya kepala kecilnya kedalam bagasi mobil yang baru saja Ghavi buka.
"Sabar, dong! Ini sedang Tante ambil. Nih, buat kamu."
Ghavi menyorongkan sebuah paper bag berisi kaos dengan gambar tali melingkar.
"Yeeyy!!" sorak Bintang senang.
"Itu buat siapa lagi, Tante? Kenapa banyak sekali?!"
"Yang ini buat oma sama opa, terus yang ini buat mama sama papa kamu. Dan yang ini buat Aunty Lili," terang Ghavi.
"Buat Bul-Bul, kok nggak ada?"
"Ah, iya Tante sampai lupa. Nah, ini buat si gembul."
Ghavi mengambil bungkusan berisi dress batik mini lengkap dengan topinya.
"Kak Lian, tolong, dong bantu bawa. Susah ini bawanya."
Lian yang baru mengambil bola yang menggelinding ke kebun samping rumah pun segera mendekat.
"Banyak sekali oleh-olehnya, Vi?!"
Diambilnya tiga paper bag dari tangan Ghavi.
"Masih ada satu lagi, kok."
Ghavi mengambil satu keranjang penuh berisi makanan khas kota gudeg itu lalu menutup bagasi mobil.
"Wah! Yang habis pulang kampung, banyak sekali bawaannya?"celetuk Mama Liana.
Wanita berwajah oriental itu sedang menggendong Bulan, anak kedua Liana dan Ane.
"Iya, nih, Ma! Mumpung lagi ada waktu pulang kampung, ini Ghavi bawain cemilan buat semuanya. Ada gudeg kesukaan Mama juga, lho!"
__ADS_1
Ghavi mengambil kotak makan berisi gudeg pesanan Liana untuk sang mama.
"Oh, ya?! Wah! Terima kasih, Sayang! Kamu memang anak Mama yang paling ok, deh."
Mama Liana memeluk Ghavi setelah menurunkan Bulan dan menyerahkannya pada Lian.
Lian mengajak putra putrinya ke kamar mereka lantai atas untuk mencoba baju pemberian dari tantenya.
"Kita coba bajunya dulu, Tante!" pamit Bintang.
"Ya, Sayang! Semoga muat dibadan dan kalian suka."
Ghavi menganggukkan kepala mengijinkan.
"Huh, Mama muji cuma ada maunya, nih. Hehe ...!" ledek Ghavi mengalihkan pandangannya kembali pada Mama Liana.
Mama Liana pun melotot pura-pura marah.
"Iya, deh, Ma! Aku ini memang anak Mama yang paling baik. Soalnya kalau aku nggak baik sama Mama, nanti Mama nggak sayang lagi sama aku, akunya yang rugi."
Dipeluknya Mama Liana yang sudah dianggap seperti mamanya sendiri. Mama Liana sendiri yang meminta memanggil sebutan mama dan papa pada kedua orangtua Liana.
"Ah, kamu bisa saja. Ya, enggak, dong, Sayang! Mama, tuh sudah anggap kamu seperti anak mama sendiri."
Disinilah senangnya Ghavi. Meski mereka berasal dari keluarga yang berbeda keyakinan dengannya, tapi mereka semua selalu welcome padanya.
"Lili sama Kak Ane kemana, Ma? Kok, sepi."
"Mereka sedang pergi ke dokter. Sepulangnya dari Jogja, Lili demam. Sudah minum obat apotik tapi masih belum turun-turun demamnya. Akhirnya Ane mengantarkan Lili kedokter, sekalian dia mau kb, katanya," terang Mama Liana.
"Oh! Kecapaian pasti, tuh anak."
"Kayaknya! Soalnya waktu dengar cerita dari Bintang, mereka mancing belut disawah, ya?"
"Haha ...! Iya, Ma! Ditambah lagi pas mau pulang pada berendam dulu diparit waktu membersihkan diri dari lumpur. Mungkin karena Lili nggat terbiasa kena terik matahari, kali, ya Ma?!"
"Mungkin! Tapi Bintang sehat-sehat saja. Malah dia merengek sama Ane supaya diijinkan berlibur kesana lagi nanti. Dia ceritanya semangat banget pokoknya."
"Ya mudah-mudahan Kak Ane ngijinin, ya, Ma."
"Omaaa ...! Tanteee ...!" teriak Bintang dari arah tangga.
"Lihat, deh! Nih, kaosnya langsung aku pakai. Bagus banget, Tante!"
Bintang baru saja selesai mandi sore dan langsung meminta mengenakan kaos barunya pada sang papa.
"Wah! Ganteng sekali cucu Oma pakai baju baru." puji Mama Liana
Lian mengekor dibelakang sambil menggendong Bulan.
Bulan juga memakai dress pemberian Ghavi.
Gadis kecil itu tampak imut mengenakannya.
"Iya, Mama benar! Ganteng dan cantik ponakan Tante."
Ghavi meraih Bulan dari gendongan papanya kemudian menciuminya dengan gemas.
Bayi delapan bulan kurang sedikit itu tertawa kegelian.
"Bilang apa sama Tante Ghavi?! " ujar Lian pada sang anak.
"Terima kasih, Tante Cantik!" ucap Bintang memeluk Ghavi yang sedang menggendong Bulan sebagai ucapan terima kasih.
"Sama-sama, Bintang kecil!"
"Tante, belut gorengnya bawa juga, kan?! Bintang lapar, nih!" celetuk Bintang.
"Bintang mau makan pakai belut goreng, Tante!"
"Iya, Tante bawa, kok! Itu Tante taruh dimeja makan tadi," tunjuk Ghavi dengan dagunya.
"Tapi Tante bawanya keripik belut yang dijual dipasar. Soalnya Om Fajar sedang sibuk sekolah secara daring."
"Asyiiikk! Makan belut. Makan belut," kicau Bintang senang.
"Katanya tidak suka belut?!" goda Mama Liana.
Dulu Bintang sangat tidak suka makan lauk ikan, belut dan udang. Anak itu selalu menolak jika dikasih lauk itu. Tapi sejak pulang dari Jogja kemain lusa, tiba-tiba saja Bintang meminta digorengkan ikan.
Saat ditanyai sejak kapan suka makan ikan dan belut, dengan bangga dia menjawab sejak dirumah Bi Mirna dimasakkan ikan goreng dan belut goreng sambal jahe hasil tangkapan dirinya dan Fajar.
"Sekarang aku suka, Oma. Kata Om Fajar makanan itu bergizi tinggi dan membuat otak jadi cerdas," jawabnya santai.
Bintang pun makan dengan lahap lauk keripik belut yang sekarang jadi menu favoritnya.
__ADS_1
Mama Liana, Lian dan Ghavi hanya tersenyum simpul melihat tingkah Bintang yang sangat menggemaskan itu.---