
"Bangun, Vi! Kita hampir sampai terminal."
Handy menepuk pipi Ghavi agar gadis itu bangun.
"Bangun! Kita harus bersiap-siap," ujarnya lagi seraya mengambil tas ransel milik Ghavi dan kopernya yang ada ditempat penyimpanan diatas mereka.
"Hmmh!"
Ghavi menggeliat, bangun dari tidurnya.
"Sudah sampai?!" tanyanya melihat orang-orang mulai turun dari bus.
"Iya!"
"Apa Pak Aswan sudah datang?!"
Tadi Handy sempat menelpon meminta asistennya untuk datang menjemput di terminal pemberhentian.
"Sepertinya sudah. Ayo!"
Diraihnya tangan Gavi untuk segera turun.
"Sini aku bawa tasku sendiri."
Ghavi bermaksud mengambil ranselnya dari tangan Handy yang terlihat kerepotan, namun ditepisnya.
"Biar aku saja," tolaknya.
Digendongnya ransel Ghavi dipunggungnya dan digerednya koper miliknya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan menuntun Ghavi turun dari bus.
"Dimana mobilnya?"
Ghavi celingak-celinguk mencari mobil Handy tapi tidak ditemukannya.
Handy pun inisiatif mengambil ponsel dan menghubungi Aswan.
"Kau dimana? Kami baru saja turun dari bus disebelah barat depan loket," tanya Handy setelah panggilan tersambung.
"Maaf, Pak! Saya sedang ditoilet. Mohon tunggu sebentar!" sahut Aswan dari seberang telpon.
"Ok!"
"Kita duduk di sana saja dulu. Aswan sedang ke toilet," tunjuknya pada sebuah bangku panjang depan loket.
"Eh, itu Pak Aswan!"
Ghavi menunjuk Aswan yang datang tergopoh-gopoh dari arah toilet.
Handy pun urung duduk. Diserahkannya koper miliknya pada Aswan, sedang dia sendiri menggendong ransel Ghavi sambil tetap menuntunnya menuju mobil yang ternyata diparkir dekat pintu keluar terminal.
"Langsung ke rumah sakit xx, ya," pinta Ghavi pada Aswan begitu ketiganya sudah dimobil.
"Tidak pulang ke rumah saja dulu?!" Handy bertanya.
"Tidak! Langsung ke rumah sakit saja."
Ghavi menggeleng tidak setuju. Gadis itu sudah tidak sabar ingin bertemu dan melihat keadaan eyangnya.
"Baiklah! Wan, kita langsung ke rumah sakit saja!" perintah Handy pada Aswan.
"Baik, Pak!"
Aswan menganggukkan kepala siap melaksanakan perintah.
Setengah jam kemudian mereka sampai di parkiran rumah sakit. Handy dan Ghavi turun dari mobil dan langsung menuju lobi rumah sakit untuk menanyakan kamar rawat inap eyang Ghavi.
__ADS_1
Sementara Aswan tetap berada didalam mobil, tidak berniat masuk.
Begitu sampai didepan ruangan Eyang Sosro, Handy membiarkan Ghavi menemui eyangnya lebih dulu memberikan privacynya.
"Eyang!" pekiknya begitu masuk ruang perawatan neneknya.
Terlihat diatas ranjang, Eyang Sosro tengah terbaring dengan selang infus tertancap ditangan kirinya serta selang oksigen dihidungnya. Napasnya tampak sedikit tersengal.
"Ssstt!"
Bi Mirna yang sedang menungguinya meletakkan jari dibibirnya sebagai tanda supaya jangan berisik.
"Eyang baru saja dapat tidur. Dari semalam sesak napas dan tersengal terus. Bibi saja sampai sedih melihatnya," ujarnya memberitahu.
Ghavi yang mendengar penjelasan Bi Mirna pun menitikkan air mata kesedihan. Eyang Sosro adalah satu-satunya keluarga yang tertinggal. Meskipun bukan keluarga kandung, tapi kasih sayangnya sama seperti yang dia dapatkan dari kakek dan neneknya serta orang tuanya.
Seharusnya dialah yang mengurusi dan menemaninya disaat-saat seperti ini. Tapi apalah daya, Ghavi justru harus pergi ke ibu kota untuk mengurusi restaurant dan keperluan panti yang juga harus melibatkannya.
"Bi, maaf sudah merepotkanmu! Dan terima kasih! Disituasi seperti ini, memang Bibi yang bisa kuandalkan."
Ghavi memeluk pembantu eyangnya itu sambil menangis.
"Ssstt! Sudah jangan menangis. Sebaiknya kau istirahat dulu! Suruh Den Handy masuk," ujar Bi Mirna menenangkan.
Ghavi baru ingat jika tadi dia datang bersama Handy. Dilepaskannya pelukannya pada Bi Mirna dan berjalan keluar ruang rawat inap.
Dikoridor, tampak Handy menunggu dikursi panjang yang sengaja disediakan disetiap depan ruangan.
"Mas!" panggil Ghavi.
Handy yang tengah memainkan ponselnya pun menoleh.
"Eh! Kenapa kau disini?! Bagaimana keadaan eyang?!" tanyanya berdiri.
"Eyang sedang tidur! Ayo masuk!" ajak Ghavi menarik tangan Handy.
Handy menunjuk tulisan yang menerangkan bahwa pasien harus ditunggui maksimal dua penunggu.
"Tidak apa-apa! Bukankah kau hanya sebentar saja disini?! Bukankah tadi kau bilang jam satu siang harus bertemu klien, kan?!"
Ghavi tersenyum mengingatkan.
"Iya! Baiklah!"
Handy masuk mengikuti gadis itu dibelakangnya. Pertama kali yang dia lihat saat memasuki ruangan adalah, kondisi Eyang Sosro yang diinfus dan diberi oksigen sama seperti kondisi bapaknya.
Hanya mungkin bedanya jika bapaknya juga terkena stroke, eyang Ghavi hanya tekanan darah tinggi.
"Selamat pagi, Bi!" sapanya melihat Bi Mirna berdiri dari kursi samping ranjang eyang terbaring.
"Selamat pagi, Den!" sahutnya.
"Silakan duduk!"
"Terima kasih!"
"Emm, Bibi ijin pulang dulu kalau begitu. Bibi harus beberes rumah. Nanti Bibi datang lagi. Apa Non Ghavi mau nitip sesuatu?!" pamit Bi Mirna.
"Tidak, Bi, terima kasih! Ransel bajuku ada dimobil Mas Handy. Biar nanti aku ambil sendiri saja."
"Jika Bi Mirna ingin pulang, biar Aswan saja yang mengantar. Bibi tunggu saja disini sebentar!"
Handy mengambil ponsel untuk menghubungi Aswan yang menungguinya dimobil.
"Hallo! Wan, tolong bawakan ransel Ghavi ke ruang Mawar nomor zz. Iya, sekarang!"
__ADS_1
Klik!
Lima menit kemudian, Aswan datang membawa ransel Ghavi setelah mengetuk pintu tiga kali.
"Ini, Pak, ranselnya!"
"Terima kasih! Dan tolong antarkan Bi Mirna pulang ke rumah Eyang Sosro, ya."
Diambilnya ransel dari tangan Aswan sekaligus meminta tolong.
"Baik, Pak!" jawab Aswan.
"Mari, Bi!"
"Baiklah, Bibi pamit dulu."
Bi Mirna keluar mengekor Aswan dibelakangnya setelah mengambil baju kotor eyang.
"Kau istirahatlah! Mumpung eyang juga sedang tidur," suruh Handy menoleh kearah Ghavi yang terlihat menguap.
Mungkin karena semalam dia kurang tidur karena harus berbincang dengan bapaknya hingga jam satu dini hari.
"Tidak! Ini masih pagi."
Ghavi menggeleng.
"Tidak baik untuk kesehatan tidur pagi-pagi," kilahnya.
"Kalau begitu apa kau butuh sesuatu, kopi mungkin?! Biar aku carikan," tanya Handy merapikan anak rambut gadis yang duduk didepannya itu.
"Tidak!" tolaknya.
"Baiklah!"
Suasana hening segera tercipta. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Hingga satu jam kemudian Aswan datang sehabis mengantar Bi Mirna pulang dan memberitahukan jika sudah saatnya bertemu klien.
Handy pun pamit.
"Aku pergi dulu! Jika ada waktu luang, nanti aku kesini lagi. Kamu yang sabar, ya," pamitnya seraya mengecup puncak kepala Ghavi memberikan semangat.
"Iya!" jawab Ghavi mengangguk.
"Hati-hati!"
"Em!" gumamnya.
"Jangan lupakan makan siangmu! Aku tidak mau sakit maagmu kambuh lagi."
"Iya, iya! Sudah sana, pergilah!"
Ghavi mendorong tubuh Handy yang sepertinya enggan meninggalkan dirinya.
"Kau mengusirku?!"
"Tidak!"
"Lalu, kenapa menyuruhku pergi?!"
"Bukankah kau sendiri yang bilang harus pergi bertemu klien?!" balas Ghavi mulai jengah.
"Iya!"
"Kalau begitu kenapa masih berdiri disini?!"
"Baiklah! Aku pergi!"
__ADS_1
Handy pun mengakhiri perdebatan mereka. Sekali lagi dikecupnya rambut Ghavi.
Handy pun pergi bersama Aswan menuju tempat perjanjiannya dengan klien, meninggalkan Ghavi sendiri menunggui eyangnya.