Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
tua asal kaya


__ADS_3

" Kau mau sesuatu untuk bekal dibus?" tanya Handy yang berniat membeli air minerak di minimarket dalam terminal.


Mereka baru saja membeli tiket bus jurusan Wonosobo-Jogjakarta diloket pembelian tiket.


" He-eh!"


Ghavi mengangguk.


" Kalau begitu, ayo!"


Handy menarik tangan Ghavi menuju minimarket.


" Ambillah yang banyak! Aku tidak mau kau kelaparan lagi seperti kemarin," ledek Handy masih tetap dengan wajah datarnya.


" Hehe ...!"


Ghavi hanya meringis mengingat kejadian kemarin.


Ghavi pun mengambil beberapa bungkus roti sobek beraneka rasa, dua botol minuman yang mengandung ion tubuh, satu crispy creckers, satu bungkus besar keripik singkong, satu keripik kentang, beberapa snack ringan lainnya serta satu kaleng susu tawar berlogo naga tapi namanya justru nama binatang kutub.


" Sudah?!" Handy mendekat dan mengambil alih keranjang yang dipegang Ghavi.


" Ck, ck, ck!!!"


Handy menggeleng-gelengkan kepala heran.


'Gadis semungil itu, apa bisa menghabiskan makanan sebanyak ini?!' batinnya saat melihat keranjang telah penuh berisi makanan ringan beraneka rasa dan warna bungkusnya.


" Kau yakin hanya ini yang kau beli?!" tanyanya memastikan.


Handy sendiri mengambil dua botol air mineral dan sebungkus permen rasa kopi dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Sudah!" jawabnya mengangguk.


"Mas Handy tidak beli apa-apa lagi?!"


Ghavi bertanya karena melihat Handy hanya mengambil air mineral dan permen saja.


"Untuk apa?! Kau sudah mengambil banyak," sahutnya mengangkat keranjang.


"Haha ...! Aku tidak yakin akan membaginya denganmu."


"Aku masih bisa menahan perutku untuk beberapa jam kedepan," balas Handy menuju kasir dan membayar belanjaan.


"Tunggu, Mas!"


Ghavi menghentikan langkah sesaat keluar dari minimarket. Dilihatnya penjual siomay sedang mangkal di depannya.


"Aku mau itu!" tunjuknya menoleh pada Handy.


"Tidak! Itu pedas, Vi! Kau baru sembuh," larang Handy.


"Tapi aku mau itu," ucapnya lirih.


Wajahnya dibuat sedikit memelas. Handy jadi merasa tidak tega.


"Ok! Jangan pedas-pedas!" peringatnya mengalah.


"He-eh!" jawabnya dengan wajah langsung cerah.


Ghavi pun mendekati penjual siomay sambil tersenyum.


"Mas Handy mau?!" tawarnya.


"Tidak!" jawabnya pendek.


"Kalau nanti sakit perut, tanggung sendiri akibatnya," ingat Handy begitu mereka masuk dan duduk dalam bus yang siap berangkat.


Sebelumnya mereka sudah pergi ke toilet terlebih dahulu.


"Jangan didoain begitu, dong," dumal Ghavi.


"Aku tidak mendoakan, hanya mengingatkan," ralat Handy.


"Iya, deh!"


Ghavi melanjutkan menikmati siomaynya dengan diam. Handy sendiri tampak sibuk dengan ponselnya.


"Krriiing!!!"


Tiba-tiba saja ponsel milik Ghavi berbunyi nyaring.


"Hallo!"


Ghavi mengangkat panggilan setelah bunyi 'beep'.


"Ya, Eyang kenapa, Sa?" tanya Ghavi memperjelas.


Handy yang asyik dengan ponselnya berusaha menajamkan pendengaran dan menyimak percakapan Ghavi setelah mendengar kata 'eyang'.


"Oh, apaaa??! Oh! Sampaikan padanya, aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Ok!"


Beep!


Ponsel dimatikan.


"Siapa?!" tanya Handy penasaran.


"Risa."


"Ada apa?"

__ADS_1


Handy melihat raut wajah Ghavi menjadi murung dan sedih.


"Eyang masuk rumah sakit lagi. Padahal baru seminggu yang lalu eyang pulang dari sana," desahnya lirih.


"Apa yang terjadi lagi?"


"Tekanan darah tingginya naik lagi. Risa bilang eyang terus kepikiran dengan perjodohan kita. Kata eyang ..."


Ghavi menggantung kalimatnya. Ditatapnya Handy yang juga tengah menatapnya. Tatapan mata pun terkunci.


"Kata eyang apa?"


Handy memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Eyang bilang, apa mungkin perjodohan kita bisa diteruskan, karena ..."


"Apa?"


"Perbedaan umur kita yang cukup jauh."


"Memangnya kenapa?!"


"Apa aku masih anak-anak dimatamu?!"


Ghavi balik bertanya.


"Menurutmu?!"


"Aku, kan sedang tanya padamu," cebik Ghavi kesal.


"Sikapmu sekarang ini sudah menjawabnya."


Jawaban Handy membuat Ghavi menatapnya lagi.


"Jadi, menurutmu aku benar-benar masih anak-anak?!"


"Ya!"


Handy tersenyum, lalu berbisik.


"Anak-anak yang sudah siap melahirkan anak."


Seketika Ghavi melotot mendengar ucapan Handy.


"Kau?!"


Ghani menggeram.


"Aku hanya berusaha menjawab dengan jujur. Itu saja!"


Tanpa meminta ijin, Handy merangkul pundak gadis itu dan menariknya kedadanya. Didekapnya Ghavi berusaha menenangkan gadis itu.


"Aku menerima perjodohan ini. Itu artinya aku siap menerima semua konsekuensi yang aku dapatkan. Jarak usia kita memang cukup jauh, sepuluh tahun bukanlak jarak yang sedikit. Aku harus siap menerima konsekuensinya karena memiliki pasangan yang masih muda belia sepertimu."


"Tidak dipungkiri, terkadang kau masih suka bersikap kekanakkan. Contohnya saja ini!"


Ditunjuknya kantong plastik berisi bermacam-macam snack ringan yang disukai anak-anak dan remaja.


Ghavi nyengir dalam dada Handy yang terasa hangat. Dalam hati Ghavi mengakui itu.


"Tapi aku senang, saat kau bersikap bijak dan dewasa saat menghadapi Rindu. Kau benar-benar seperti ibu yang sangat menyayanginya."


"Aku memang menyayanginya," sambar Ghavi cepat.


Dia melepaskan rangkulan Handi dipundaknya. Hatinya sedih mengingat akan bocah delapan tahun itu. Ah, Rindu! Tanpa sadar air mata menggenang dipelupuk matanya.


"Aku tahu! Aku bisa merasakannya dari caramu memperlakukannya."


Disusutnya mata Ghavi yang mulai jatuh ke pipinya yang makin hari makin mulus saja. Entah perawatan apa yang dilakukannya


Berbeda jauh dari awal mereka bertemu saat pembacaan surat wasiat almarhum Kakek Herman. Waktu itu wajahnya kusam dan penuh bintik-bintik jerawat dan flek hitam bekas jerawat meski tidak dipungkiri wajahnya cukup cantik dan manis.


"Ssstt! Sudah, jangan menangis!" hiburnya kembali menarik tubuh Ghavi dalam pelukannya.


"Aku sedih. Aku jadi mengingat anak kita, Rindu!" gumamnya sedih.


"Ya! Aku mengerti kalau kau merindukan anak kita," sahut Handy menepuk pundak gadis itu untuk menenangkan.


"Whatt?!"


Ghavi tegak dari duduknya karena rengkuhan Handy.


"A-anak kkitaa??!" tanya Ghavi memastikan.


"Ya! Tadi kau berkata seperti itu. Aku hanya menirukanmu saja. Kenapa?!"


Handy bingung dibuatnya.


"Benarkah?!"


"Ya!"


"Oh!"


Ghavi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menutupi rasa mau yang tiba-tiba datang.


"Kau kenapa?!"


Handy menyingkirkan tangan Ghavi dan melihat ekspresi wajah gadis itu. Pipinya tampak merona karena warna merah menjalarinya.


"Hemm!"

__ADS_1


Handy tersenyum melihatnya.


"Ya! Anak angkat kita yang sudah tenang disurga sana. Kenapa harus malu mengakuinya?! Dan sebentar lagi aku ingin kau benar-benar menjadi ibu untuk anak-anak kita," goda Handy ditelinganya.


Ghavi lantas memukul dada bidang Handy dan berusaha melepaskan diri. Namun, Handy justru mendekapnya makin erat.


"Biarkan tetap seperti ini. Sebentar saja!" pinta Handy.


Akhirnya Ghavi tenang dipelukan laki-laki itu dengan tersipu malu.


"Vi!" panggil Handy sesaat setelah hening tercipta.


"Ya!" jawabnya pelan.


Ghavi masih malu menatap Handy.


" Apa kau tidak merasa malu jika mempunyai pasangan tua sepertiku?!"


" Eh!"


Ghavi merenggangkan pelukan dan kali ini Handy membiarkannya. Dia ingin tahu ekspresi wajah yang ditunjukkannya.


"Kenapa Mas Handy bertanya seperti itu?!"


" Itu, kau tahu sendiri, kan, aku sudah cukup umur. Aku sudah dua puluh delapan lebih. Hampir dua puluh sembilan, bahkan tiga puluh. Sebentar lagi aku sudah berkepala tiga. Kau tidak malu punya suami tua?!" tanya Handy serius.


"Asal kaya, tua tidak jadi masalah bagiku," jawab Ghavi asal.


"Apa?!"


Handy melotot.


"Hahaha ...!"


Ghavi segera menutup mulutnya dengan tangan karena baru sadar jika mereka tengah di bus. Bahkan ibu-ibu diseberang tempat duduknya mendelik merasa terganggu.


"Maaf!" ucapnya lirih sambil mengatupkan tangan.


"Kamu serius dengan jawaban kamu?!"


Handy yang awalnya duduk didekat jendela itu meminta tukar tempat duduk. Sekarang dia duduk dikursi Ghavi berseberangan dengan ibu-ibu yang mendelik tadi.


" Apa?"


"Soal laki-laki tua yang kaya."


"Hm!" gumam Ghavi


" Berarti aku tidak termasuk, dong," desah Handy kecewa.


"Kenapa?! Kau kan memang sudah tua, jika dibandingkan denganku," jawab Ghavi cepat.


"Tapi aku tidak kaya."


"Tapi kau masih cukup muda jika harus disandingkan dengan ibu-ibu tadi," bisiknya ditelinga Handy sambil melirik ke seberang laki-laki itu.


"Kkau?!! Tega sekali!" geramnya kesal.


"Aku serius, Vi!" lanjutnya.


"Aku juga serius!"


"Soal?!"


"Soal kau dan ib-"


"Cup!"


Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Handy sudah mencuri ciuman dipipinya hingga membuat gadis itu kaget dan merona.


Meski hanya sebuah ciuman dipipi, tapi itu pertama kalinya dia dicium laki-laki selain keluarganya.


"Sekali lagi meledekku seperti tadi, bukan hanya pipimu yang aku cium."


Handy menatap bibirnya dengan senyum smirk.


Ghavi sontak menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Hahaha ...!"


Kali ini Handy yang dapat pelototan dari penumpang bus yang lain.


"Hihihi ...!"


Ghavi terkikik dibalik tangannya.


"Cup!"


Handy mencium tangan Ghavi yang tengah menutupi mulutnya. Alhasil gadis itu langsung terdiam. Walaupun cuma tangannya yang dicium, tapi rasanya tembus ke bibir yang bergetar mendapat perlakuan dari orang yang kadang-kadang bersikap dingin dan arogan itu.


Handy kembali menegakkan tubuhnya dan menyuruh Ghavi tidur dipundaknya seolah tidak terjadi apa-apa.


"Tidurlah! Perjalanan masih panjang," perintahnya sambil meletakkan kepala Ghavi dipundak.


Handy sendiri pun memejamkan mata. Kursi yang tadi berisik itu kini tenang. Berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang lumayan lelah karena terjaga semalaman.


Baik Handy dan Ghavi sama-sama lupa jika Ghavi belum memberikan jawaban terpentingnya tadi. Biarlah itu bisa dijawab nanti saja.


# Hai, hai, readers!


Terima kasih untuk partisipasinya yang sudah like dan komen. Yang belum ditunggu keikhlasannya saja, ok?!

__ADS_1


Terima kasih supportnya. Aku jadi semangat kalau ada kritik dan saran yang membangun. Terus ikuti kelanjutan ceritanya, harap sabar menunggu keterlambatan up-nya, dikarenakan ditempat penulis masih suka susah signal akibat cuaca buruk.


__ADS_2