
Selepas makan malam Ghavi pulang kembali ke ibu kota bersama Harry.
Laki-laki itu ada pekerjaan disana selama tiga hari.
"Mas Harry sekarang jadi semakin sibuk, ya."
Ghavi membuka percakapan saat mobil mulai keluar dari jalan utama kota Jogja.
"Yah, begitulah! Sejak Bapak memutuskan untuk pensiun, aku yang diwajibkan meneruskan usahanya. Makanya aku harus pintar-pintar bagi waktu antara kampus dan perkebunan," jawab Harry tetap fokus mengemudi.
"Sebenarnya perkebunan sudah diambil alih oleh Mas Handy. Tapi sejak ..."
Harry tidak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa kelepasan bicara.
"Sejak apa?!"
Ghavi malah penasaran.
"Ah, bukan apa-apa!"
Harry berkilah.
" Kenapa?"
Ghavi justru makin penasaran. Dia yakin pendengarannya masih bagus.
"Apa kamu tidak apa-apa mendengar ceritaku nanti? Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengannya lagi?!"
"Huft!!"
Ghavi menghela napas berat.
"Sudah empat tahun berlalu. Mungkin, sudah saatnya aku menatap masa depan. Meskipun jika aku boleh jujur, masih ada sedikit rasa sakit yang tertinggal disini," desis Ghavi lirih menunjuk dadanya sendiri.
"Vi, maaf, jika aku ikut campur dengan masalah ini. Tapi, apa tidak ada lagi kata 'maaf' untuk kakakku?" tanya Harry dengan hati-hati.
"Entahlah! Rasanya terlalu sulit kulakukan. Meskipun aku sudah berusaha."
"Jika aku boleh memberi saran, berdamailah dengan keadaan. Kumohon maafkan kakakku! Dia juga sudah menyesali semua perbuatannya. Apalagi dia sudah mendapatkan karmanya sejak ..."
Kalimat Harry kembali terputus.
"Sejak apa, Mas? Dari tadi kamu selalu berhenti menyelesaikan kalimat dikata tersebut. Sebanarnya ada apa? Sejak apa?"
Ghavi mengguncang lengan kiri Harry yang sedang menyetir.
" Kamu yakin ingin mendengar kabar itu?!"
Harry menatap Ghavi dengan ragu.
"Katakanlah, ada apa?!"
Ghavi terus memaksa.
" Ya, kamu benar, Mas! Mungkin sudah saatnya aku berdamai dengan keadaan sekarang," lirihnya.
"Ok! Kalau kau yakin ingin mengetahui semua hal tentang dia selama empat tahun ini. Tapi kita cari tempat dulu untuk mengobrol sekalian beristirahat."
Harry mengemudikan mobilnya dengan kecepatan melambat saat dijumpainya rest area tak jauh di depan sana.
__ADS_1
Diparkirkannya mobilnya didepan sebuah kedai kopi lengkap dengan aneka goreng-gorengan.
"Aku pesan kopi dulu, ya. Kau mau pesan apa?"
Mereka baru saja memasuki kedai kopi yang didesain kekinian.
"Aku susu jahe dan teh tawar panas jika ada."
"Ok! Kamu tunggu disini sebentar!"
Harry langsung menuju mini bar untuk meminta pesanan. Sementara Ghavi menjatuhkan tubuhnya dibangku dibawah gazebo kecil dekat pintu masuk kedai yang juga bersebelahan dengan taman rest area.
"Maaf lama! Aku sekalian pesan gorengan soalnya."
Harry datang bersama pelayan kedai yang berjalan dibelakangnya membawa nampan berisi pesanan.
"Terima kasih, Mas!"
Sang pelayan mengangguk dan segera meninggalkan mereka.
"Aoww!! Panas sekali," pekik Ghavi saat menyeruput susu jahenya.
"Haha ...! Pelan-pelan makanya, sudah tahu masih panas."
Harry tertawa melihat Ghavi yang memeletkan lidahnya yang terbakar terkena air panas.
" Sekarang ceritakanlah!"
Ghavi mulai membuka pembicaraan.
" Heemm ... fiuuhh!!"
"Kau tahu, kan, saat dulu kau diminta untuk datang oleh bapak dan ibu keacara syukuran empat tahun lalu, sebulan sebelum kita terbang ke Ausie?!"
"Ya, kenapa?"
Ghavi mencomot pisang goreng didepan Harry lalu mengunyahnya.
"Waktu itu tujuan diadakan syukuran karena Mas Handi dan Mbak Vika baru saja menikah di Kalimantan seminggu sebelumnya."
"Ya, aku tahu!"
"Kau masih ingat saat Mas Handy menemuimu sehabis acara?!"
"Ya!"
Ghavi mengingatnya. Mengingat saat Handy meminta maaf dan memintanya untuk bersabar menunggunya bercerai dari Vika setelah kelahiran anak mereka.
"Malam itu kakakku pergi dan tidak pulang kerumah. Sampai kita berpamitan kembali ke Jogja pagi harinya, dia belum juga pulang."
Harry menyesap kopinya, lalu melanjutkan ceritanya.
" Mbak Vika marah-marah karena ditinggalkan sendirian dirumah, sementara bapak dan ibu tidak begitu memperhatikannya. Seandainya sedang tidak ada calon cucu diperutnya, mereka tidak akan peduli dengannya."
"Sayangnya karena terlalu emosi, Vika mengalami kram perut dan mengalami pendarahan. Bapak dan ibu akhirnya membawanya ke klinik terdekat sebagai bentuk tanggung jawab. Mas Handy pun ditelpon bapak agar segera pulang meski pada awalnya menolak. Sejak saat itu, demi darah dagingnya Mas Handy melunak. Selama hampir delapan bulan dia terpaksa menuruti semua kemauan istrinya dan tinggal dirumah orang tua Mbak Vika yang baru dibelinya didaerah Prambanan. Tapi, begitu Mbak Vika melahirkan, Mas Handy langsung menjatuhkan talak. Mbak Vika merasa tidak terima. Apalagi hal itu dipicu karena ..."
Harry kembali menyeruput kopinya hingga tandas.
Harry pun menceritakan awal mula tragedi yang meninpa kakaknya.
__ADS_1
Ya. Setelah dua bulan Vika melahirkan, Handy menjatuhkan talak. Handy ingin memenuhi permintaan bapaknya dan juga memenuhi janjinya pada almarhum Kakek Umar untuk menikahi Ghavi setelah gadis itu berusia genap dua puluh tahun.
Dan bulan setelah kelahiran anaknya itu merupakan bulan dimana Ghavi genap berusia dua puluh tahun.
Handy berniat menyusul Ghavi ke Australia bermaksud segera menikahinya. Namun, rencana itu rupanya diketahui oleh Vika yang ternyata diam-diam memata-matai Handy melalui asisten rumah tangganya yang sudah dibayar mahal oleh Vika.
Asisten rumah tangga itu memberitahu Vika bahwa Handy akan berangkat Australia menjemput Ghavi.
Vika yang merasa dendam karena cintanya tidak lagi bersambut sejak dia meninggalkannya dulu demi menikahi orang kaya pilihan sang papa, apalagi suami keduanya sekarang tega menceraikannya demi perempuan lain. Untuk itu, Vika menyuruh orang untuk merusak mobil yang akan mengantar Handy ke bandara.
Kecelakaan mobil pun tak terhindarkan. Mobil Handy mengalami rem blong dan pada akhirnya menabrak truk kontainer dari arah berlawanan.
Badan depan mobil tergencet badan truk dan mengakibatkan tubuh Handy dan Aswan, sang asisten yang berlaku sebagai supir juga ikut tergencet.
Aswan meninggal ditempat kejadian, sementara Handy yang berhasil diselamatkan oleh warga mengalami kelumpuhan karena lututnya remuk akibat tergencet badan truk.
Vika yang diketahui belakangan sebagai penyebab terjadinya kecelakaan, akhirnya dipenjara setelah kedua orang saksi yaitu asisten rumah tangga sebagai informanya dan mekanik yang disuruhnya untuk memutus rem mobil, dihadirkan dalam persidangan yang memberatkan hukumannya.
Akhirnya hak asuh anak jatuh ditangan Handy. Berhubung Handy sedang sakit dan sedang dalam masa pengobatan, maka anak tersebut diasuh oleh orangtua Handy dan Harry selaku wali sementara.
Tiga tahun kemudian Handy memutuskan mengasuh anaknya sendiri dengan bantuan baby sitter. Dia juga memutuskan akan menetap di ibu kota, demi menghilangkan trauma yang dialaminya.
Sebenarnya orangtua Handy melarangnya dengan alasan demi kebaikan dirinya dan sang anak mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk merawat cucu mereka.
Handy bersikukuh dengan keputusannya untuk tetap hijrah ke ibu kota dan berharap bisa mendapatkan kebahagiaannya disana.
Ghavi terisak mendengar cerita Harry. Tubuhnya terguncang. Bahunya turun naik akibat menangis. Dia benar-benar tidak menyangka jika nasib mantan calon tunangannya akan setragis itu.
Selama empat tahun ini Ghavi sengaja melewatkan kabar tentang kehidupan Handy dan istrinya.
Gadis itu meminta pada semua orang terdekatnya untuk tidak membahas ataupun menyinggung tentang kehidupan orang yang sudah membuatnya kecewa dan terluka.
Ghavi benar-benar tidak mengira kalau kabar yang dilewatinya justru kabar buruk yang menimpa sang mantan.
"Ja-jadi, sekarang Mas Handy tinggal di Jakarta?!" tanyanya terbata.
"Ya!"
Harry mengangguk.
" Sudah satu tahun yang lalu dia menetap disana. Kudengar putrinya juga sudah dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak. Meski usianya baru tiga setengah tahun, tapi dia anak yang cerdas dan mandiri. Dia juga sudah lancar berbicara, tidak seperti anak seusianya yang biasanya masih cadel karena belum fasih menyebut huruf."
"Putri?!"
Ghavi terkejut mendengar bahwa anak Handy adalah seorang putri.
Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas dibenaknya seorang gadis kecil nan manis dengan sorot mata tajam yang ditemuinya beberapa waktu lalu saat Bintang tidak sengaja menabraknya.
"Kamu sudah baikkan, kan?! Ayo kita lanjutkan perjalanan.
Harry membuyarkan lamunannya.
"Ah, ya. Ayo!"
Ghavi mengikuti langkah Harry menuju dimana mobilnya terparkir. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.
Mungkin karena perut kenyang sehabis minum segelas susu jahe dan setengah teh tawar serta dua potong pisang, atau memang karena lelah menangis mendengar cerita miris dari Harry, Ghavi akhirnya terlelap, Membiarkan Harry yang sedang mengemudi begadang sendirian.
Demi mencegah rasa kantuk yang kembali mendera, Harry sengaja menyalakan musik dari audio mobilnya.
__ADS_1
Sekitar jam lima subuh, mereka baru sampai ditempat tujuan.