Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
kejutan dua


__ADS_3

Sesuai janjinya kemarin, hari ini Ghavi menemani Liana, Lian dan Ane berkeliling kota pelajar itu bersama Aksan. Risa tidak bisa ikut sebab dia harus menemani adik bungsunya ke rumah sakit untuk periksa telinganya yang sakit.


Kali ini dia bertugas sebagai tour guide, sementara Aksan bertugas sebagai drivernya.


"Kalian mau kemana lagi?" tanya Ghavi pada rombongannya.


Mereka baru saja dari beberapa tempat yang menjadi destinasi wisata yang sering dikunjungi para wisatawan baik domestik ataupun mancanegara.


"Kita ke Mali*boro saja sekarang. Kata orang, kalau datang kesana waktu sore hari, kita akan disuguhi pemandangan yang bagus," usul Liana.


"Setuju!! Setelah itu kita kepantai melihat sunset, bagaimana?!" Ane juga ikut memberi usul.


Hari ini dia yang paling bersemangat, sebab hanya dia yang baru pertama kali datang ke Jogjakarta.


"Baiklah! Apapun permintaan adik dan nyonya tercinta, hamba ikut saja," sahut Lian yang duduk diantara istri dan adiknya dijok belakang.


Sementara Ghavi duduk di depan di samping Aksan yang berada dibalik kemudi. Sebenarnya Ghavi bisa saja mengendarai mobilnya sendiri. Tapi, eyangnya melarang dengan alasan gadis itu akan kelelahan jika harus menyetir seharian.


Akhirnya, diputuskan Aksan yang akan menyetir. Kebetulan sekali laki-laki itu datang kerumah untuk mencucikan mobil yang kemarin digunakan Pak Agung untuk menjemput Eyang Sosro karena Pak Agung tidak sempat mencucinya.


"Terima kasih, Suamiku yang pengertian," timpal Ane memeluk lengan Lian.


"Let's go!" perintah Liana menepuk Aksan dari jok belakang.


"Baik, Nona!" jawab Aksan tersenyum.


"Hahaha ...!"


Ghavi hanya tergelak mendengar gurauan sahabat-sahabatnya itu.


Dua puluh menit kemudian, rombongan Ghavi sampai dipusat kota. Liana langsung turun dan berjalan kederetan penjual cinderamata tanpa menunggu yang lain.


Rupanya waktu masih dimobil, matanya sudah terpatri pada salah satu kios yang menarik perhatiannya.


"Eh, Vi, sini, deh! Coba lihat! Bagus tidak?" teriaknya saat Ghavi turun dari mobil.


Ghavi pun menyusul Liana ke kios tersebut.


"Apanya yang bagus?"


"Ini, lihat!"


Liana menunjuk sebuah kaos oblong Dag*du warna hitam bergambarkan panorama alam pantai saat senja.


"Hmm, bagus, sih. Tapi, buat kamu yang feminim, kayaknya ini lebih cocok, deh," komentar Ghavi menunjuk kaos yang berwarna soft blue.


"Terus, ini rok pantainya juga kayaknya cocok buat kamu."


Ghavi menyodorkan sebuah rok pantai motif batik dengan perpaduan warna biru dan pink dengan warna dasar hitam yang lembut, cocok jika dipadupadankan dengan kaos yang dipilihnya tadi.

__ADS_1


"Kamu memang yang paling tepat untuk urusan beginian. Terima kasih, Vi!"


Liana memeluk Ghavi dengan wajah puas.


"Saya mau ambil ini, ya, Bu!" Liana menyodorkan kaos dan rok pantainya pada si ibu penjual.


"Kalian mau pilih yang mana? Biar aku yang bayar sekalian. Hitung-hitung buat ganti kado pernikahan kalian," ujar Ghavi pada pasangan Lian dan Ane.


"Wah! Mumpung ada bos yang traktir, kita beli yang banyak, Sayang," gurau Lian pada istrinya.


"Silakan! Asal jangan lebih dari seratus ribu," balas Ghavi.


"Seratus ribu cuma dapat satu dalaman, Vi," ujar Ane.


"Ya, tidak apa-apa. Dipakai kalau lagi dikamar sama Kak Lian, hehe ...," kekehnya.


"Mahalan punya Lili, dong, dia dapat kaos dan rok," dengus Lian.


"Kasihan, deh, Kak Lian," ledek Liana.


"Terserah kalian mau beli apa dan berapa. Mumpung aku sedang berbaik hati hari ini," sumbar Ghavi sedikit sombong.


"Jangan sombong, nanti kami porotin tahu rasa," timpal Aksan yang sedari tadi diam saja mengekor dibelakang mereka.


"Yang penting jangan sampai lebih dari lima juta. Soalnya aku tidak bawa kartu ATM. Hihihi ...!" kikik Ghavi dibalik tangannya.


"Hahaha ...! Kau, kan sudah tahu aku tidak pernah bawa ATM kemana-mana. Jatah uang cash juga tidak banyak," terang Ghavi.


"Percuma, dong, beborong kalau bosnya ke*e," Ane menyahut.


"Hahaha ...!" Ghavi terbahak.


"Ya, sudah, yuk! Kita lanjut kepantai. Takutnya ketinggalan sunset," putus Liana memutuskan membeli kaos dan rok pantai yang Ghavi pilihkan.


Liana dan Ane pun memutuskan mengambil baju pantai couple dan celana pendek hitam diatas lutut, sedangkan Aksan hanya mengambil topi gambar tambang melingkar warna dongker.


Ghavi pun menuju kasir dan membayar belanjaan teman-temannya dengan uang cash yang dibawanya.


"Yuk!" ajak Ghavi begitu selesai melakukan pembayaran.


"Tapi aku lapar," rengek Ane dan bergelayut manja pada Lian.


"Tapi kita harus kepantai sekarang, Sayang," bujuk Lian.


"Nanti sehabis lihat sunset aku ajak kalian makan direstaurant sea food yang enak dekat pantai," ujar Ghavi menengahi.


"Memang uangmu masih ada?!" tanya Aksan mengingatkan.


"Tenang saja, aku bawa ini."

__ADS_1


Ghavi mengeluarkan kartu kredit dari tas slempangnya dan menggerakkannya didepan Aksan.


" Katamu tidak bawa ATM, lah itu bawa," komentar Liana.


"Khusus hari ini aku bawa. Kan, tadi sudah kubilang akan mentraktir kalian," jawab Ghavi santai.


"Tahu dari awal tadi aku belanja banyak," gurau Lian.


"Nanti selepas makan malam, kita borong oleh-oleh sesuka kalian untuk orang rumah."


"Asyiiikk!" pekik Liana girang.


"Eits! Khusus Lili kamu batasi, Vi. Soalnya suka khilaf dia. Kasihan kamu nanti bangkrut," Lian mengingatkan.


"Hihihi ...! Kakak tahu saja," sahut Liana terkikik.


Satu jam kemudian Aksan memarkir mobil di parking area dekat pantai. Mereka sampai disana tepat waktu. Tanpa menunggu lama, rombongan Ghavi, Aksan, Liana, Lian dan Diane menuju pantai. Mereka memilih pantai yang sedikit jauh dari dari keramaian agar bisa menikmati sunset tanpa suara bising orang yang berlalu lalang.


Lian dan Ane lalu memisahkan diri agak menjauh dari bibir pantai untuk mencari privasi pasangan pengantin baru tersebut.


Liana langsung mengambil kemeranya dan meminta tolong pada Aksan untuk memotretnya dengan berbagai gaya dan angle.


Ghavi baru saja membalas pesan dari Risa yang meminta dibawakan cumi bakar bumbu pedas manis dan kini membuka kamera ponselnya memvideo sunset yang sebentar lagi hilang ditelan laut.


Tangannya siap mengklik tombol off ketika tiba-tiba pandangannya tertuju pada objek lain yang tidak sengaja terrekam kameranya. Jarinya pun urung memematikan Video. Dibiarkannya video itu merekam hingga beberapa menit lamanya hingga waktu merekam habis.


Setelah memastikan video tersimpan, Ghavi segera memasukkan ponselnya dan segera pergi dari pantai menuju restaurant sea food yang pernah didatanginya bersama Risa beberapa bulan lalu itu.


Dia membuat reservasi dadakan. Kebetulan masih ada tempat kosong jadi dia langsung menghubungi teman-temannya untuk segera menuju ke lokasi dirinya berada. Setelah itu, dia memesan beberapa makanan pesanan Risa untuk dibawa pulang dan untuk dimakannya nanti bersama rombongan.


Sembari menunggu pesanan dan teman-temannya datang, diputarnya kembali video yang diambilnya beberapa menit yang lalu.


Didalam video tampak seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang menikmati sunset. Keduanya tampak akrab dan terkesan in*im.


Jika dilihat dari gambar bergerak itu, memang siperempuanlah yang tampak agresif dengan sesekali memeluk pinggang si laki-laki. Namun meski begitu, si laki-laki tampak menikmatinya. Terbukti dari sikapnya yang membiarkan si perempuan yang beberapa kali tertawa lebar saat memeluknya.


Dan yang membuat hati Ghavi merasa sakit adalah, saat si laki-laki akhirnya membalas pelukan si perempuan dan tatapannya dari pantai beralih menghadap kearah kamera saat dia memutar tubuh si perempuan dalam pelukannya. Senyum bahagia tersungging dibibir laki-laki itu.


Laki-laki yang dikenalnya akhir-akhir ini. Laki-laki yang sudah menyatakan cintanya dan sudah beberapa kali mengajaknya menikah. Laki-laki yang lima hari lalu berpamitan padanya akan sibuk untuk beberapa waktu yang cukup lama. Ya. Laki-laki itu adalah Handy, orang yang dijodohkan dengannya.


Tanpa sadar air matanya jatuh dipipinya tanpa diminta.


"Kau kenapa, Vi?!" tanya Liana yang baru saja datang bersama yang lain.


Buru-buru Ghavi menyimpan ponselnya ke tas slempangnya sebelum yang lain melihat videonya barusan.


"Ah, tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedang melihat foto Rindu. Tiba-tiba saja aku merindukannya," jawabnya menghapus air matanya.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kalian. Kalian tunggu saja sebentar. Kalau ada yang kurang silakan pesan saja lagi. Aku ke toilet dulu," pamitnya meninggalkan meja bergegas menuju toilet.

__ADS_1


__ADS_2