Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Pingsan


__ADS_3

Ghavi, Risa dan Aksan pun akhirnya dipersilakan masuk.


" Ada perlu apa kau dengan ayahku?!" tanya Harry penasaran.


Dia tidak menyangka kalau ternyata ayahnya kenal dengan mahasiswi yang baru diajarnya beberapa bulan belakangan ini yang kebetulan dikenalnya dibus waktu itu.


" Aku datang kesini karena mau menyerahkan ini."


Ghavi tidak bersikap formal seperti Risa meskipun mereka sama-sama mahasiswinya. Hal itu karena Harry dan Ghavi sudah kenal lebih awal. Terlebih pertemuan mereka tidak begitu baik. Ditambah lagi Harry meminta pertemanan padanya dan memintanya untuk memanggilnya nama.


Ghavi menyerahkan amplop coklat yang tengah dipegangnya pada Harry. Harry menerimanya dan membolak-balikkan amplop itu tanpa bermaksud membukanya.


Ibu Harry muncul dari dalam rumah dengan diiringi pembantu yang membawa nampan.


" Silakan diminum, maaf tidak ada yang spesial," tawarnya begitu pembantu meletakkan beberapa cangkir teh panas dan cemilan.


Terlihat wanita paruh baya tersebut sudah mengganti bajunya dengan dress maroon lengan pendek selutut. Tampak sederhana tapi elegan. Paling tidak jika dibandingkan dengan dasternya tadi, kini cara berpakaiannya terlihat lebih sopan untuk menyambut tamu jauh yang tak pernah diduganya.


" Jadi kau putri Umar?" tanyanya sekali lagi memastikan.


Sebenarnya tadi dia sudah bertanya waktu masih berada didepan pintu.


" Iya, Tante. Saya Ghavina Putri Umar, putri tunggal Umar Wicaksono," Ghavi menekankan nama ayahnya agar wanita yang kini duduk tepat didepannya itu percaya.


"Oh, sudah besar kau rupanya. Terakhir kali aku melihatmu enam tahun lalu, saat pemakaman ayahmu. Waktu itu kau masih tiga belas tahun kalau tidak salah," terang Tante Rudi.


Sebut saja begitu. Sebab Ghani tidak tahu siapa namanya.


Waktu pemakaman ayahnya pun gadis itu tidak begitu fokus pada para pelayat ayahnya. Dia terlalu larut dengan kesedihannya yang baru ditinggal ayahnya.


" Maaf, waktu itu tidak sempat melayat ibumu. Kami baru tiba di Kalimantan saat mendengar kabar. Dan lima hari kemudian saat ayahmu menyusul ibumu, baru kami bisa datang. Kebetulan waktu itu kami baru tiba di Jakarta."


"Tidak apa-apa, Tante. Maaf juga saat itu saya tidak menyambut kalian dengan baik," ujar Ghavi menyesal.


" Tidak apa-apa, Tante maklum, kamu pasti sedang berduka dengan kepergian orangtuamu," sahut Tante Rudi tersenyum.


" Maaf, ya. Jauh-jauh kamu datang tapi Om Rudi malah tidak dirumah. Tapi sebentar lagi pasti pulang, kok. Tadi pamitnya cuma sebentar," imbuhnya.


" Tidak apa-apa, Tante. Kami bisa menunggu."

__ADS_1


Sementara Risa dan Aksan hanya mendengar obrolan Ghavi dan Nyonya rumah.


" Ayah pergi kemana, sih, Bu? Kenapa dari tadi belum pulang?" Harry memecah kesunyian setelah beberapa menit mereka terdiam sibuk dengan pikiran dan ponsel masing-masing.


Belum sempat Tante Rudi menjawab, terdengar suara mobil berhenti dihalaman depan.


" Sepertinya itu bukan mobil ayah, deh. Atau ... " Tante Rudi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya begitu melihat sosok seorang lelaki membuka pintu utama.


" Han, kau pulang, Nak," sapa Tante Rudi begitu mengenali sosoknya.


" Ibu sangat merindukanmu, Sayang. Kenapa lama sekali tidak pulang?!" lanjutnya seraya memeluk tubuh laki-laki itu penuh rindu.


Laki-laki yang dipanggil Han itu hanya diam dipelukan ibunya.


Sebenarnya dia malas, tapi melihat banyaknya orang diruangan itu dia terpaksa membalas pelukan itu.


Semantara Ghavi langsung menoleh begitu Tante Rudi mengucap kata Han. Dia penasaran dengan sosok Han yang namanya terdengar sedikit familiar ditelinganya.


Matanya melotot begitu melihat wajah dingin yang minim ekspresi itu tengah berdiri didepan pintu.


" Oh, Tuhan!!!" pekiknya tertahan. Tangan kanannya menutup mulut yang menganga kaget.


" Kkauu??!" Tunjuk Han pada Ghavi begitu lepas dari pelukan ibunya dan melihat cucu Kakek Herman ada didepannya.


Ghavi mengerjapkan matanya seolah tak percaya.


" Jadi ini benar kau? Eh, maksudnya Anda, Pak Han?!" tanya balik Ghavi sedikit gugup ditatap begitu tajam.


" Pak Han?! Jadi kau juga kenal kakakku, Vi?!" Celetuk Harry tak kalah kagetnya.


" Kakak?!" tanya Ghavi terperangah.


" Sebenarnya kami pernah bertemu sekali," ujarnya.


" Iya, dia kakak ...," Arry tampak ragu menyelesaikan kalimatnya.


" Dia kakak tertuaku," lanjut Harry begitu mendapat pelototan dari ibunya.


" Oh!"

__ADS_1


Ghavi benar-benar tidak menyangka, kenapa dunia yang seluas ini terasa begitu sempit dimatanya.


Dia saja masih tidak percaya jika Harry, orang yang dikenalnya dibus yang sekarang menjadi dosennya, adalah anak Om Rudi. Ditambah lagi sekarang Pak Han. Laki-laki itu dikenalkan oleh Pak Lukman, pengacara kakeknya sebagai donatur tetap yang sekarang mengakuisisi panti asuhan cahaya milik kakeknya.


Jika tadi Tante Rudi menyebut dirinya ibu pada Pak Han dan Harry menyebutnya kakak, berarti Pak Han juga anak dari Om Rudi yang notabene kakak Harry. Tunggu ...


Apa??? Pak Han anak Om Rudi? Oh, Tuhan, apakah dia anak itu? Anak yang berada dalam rangkulan Om Rudi yang dilihatnya difoto itu? Lantas kenapa ayahnya dulu bilang kalau dia anak tunggal? Dan jika memang benar dia anak itu, maka ...


Ghavi tidak sanggup berpikir jernih lagi. Pandangan matanya kabur. Kepalanya terasa pusing dan keringat dingin tiba-tiba membasahi pakaiannya.


Sayup-sayup dia mendengar panggilan Risa dan Aksan yang tampak khawatir.


" Viii, Ghavi, bangun!" pekik Risa melihat Ghavi melorot kelantai tempatnya duduk.


" Kamu kenapa, Vi, kamu sakit?!" pertanyaan Aksan yang terakhir didengarnya meski samar.


Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


" Aku dimana?" gumamnya. Dipijitnya pelipisnya yang terasa berat.


Matanya menelisik kamar yang terasa asing baginya.


" Kamu dikamar tamu Tante Rudi, Vi. Tadi kamu tiba-tiba pingsan," jawab Risa yang sejak tadi menungguinya.


" Pingsan?!"


Ghavi pun mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya kenapa sampai dia tiba-tiba pingsan.


" Kamu pingsan pasti karena lapar belum makan, ya?!" Risa menerka.


" Berapa lama aku pingsan?" tanyanya


" Kamu si pingsannya pakai tidur segala. Kamu tahu berapa lama kamu tidur? Dua jam lebih."


Risa mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


" Apa?? Selama itu?!"


***

__ADS_1


__ADS_2