Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Meminta Ijin


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Hari ini adalah jadwal Ghavi kontrol, sesuai anjuran dokter yang menanganinya.


Ghavi yang belum diijinkan menyetir mobil sendiri akhirnya harus mau diantar Pak Yoyon.


"Pak, kita mampir ke sekolah Bintang, ya! Aku kangen banget sama bocah menggemaskan itu," ujar Ghavi melihat jam diponselnya.


Jam sepuluh siang. Seharusnya bocah itu masih belajar setengah jam lagi. Dan seharusnya waktu dari rumah sakit ke sekolah Bintang tidak sampai tiga puluh menit.


"Baik, Vi!" jawab Pak Yoyon mengarahkan laju mobilnya ke sekolah Bintang dan juga sekolah baru bagi Sunny sekarang.


Sesampainya disana, pas sekali anak-anak baru keluar kelas. Hampir semua murid dijemput oleh orangtuanya. Hanya ada beberapa yang pulang dengan pengasuhnya, contohnya Sunny.


Bocah perempuan itu memang kemana-mana selalu bersama pengasuhnya. Seharusnya bocah sekecil itu sedang butuh kasih sayang seorang mama.


Namun sayang, Vika justru menelantarkannya begitu saja karena ulah jahat yang dilakukannya membuat dirinya dipenjara.


"Tante Cantik!!" panggil Sunny yang melihat kedatangan Ghavi.


"Tante Cantik sedang apa disini?!"


" Eh, Sunny!"


Ghavi berjongkok di depan Sunny untuk menyamakan tinggi badannya dengan anak itu.


"Sunny lihat Bintang, tidak?! Tante sedang menunggunya. Tante mau jemput dia."


"Oh! Jemput Bintang," sahut Sunny pelan.


Ada sedikit kekecewaan dimatanya.


"Iya! Tadi Tante sudah ijin pada orangtua Bintang mau jemput dia."


Diperjalanan tadi Ghavi memang sudah mengabari Ane bahwa dia akan menjemput Bintang di sekolah.


Ane langsung mengijinkan karena kebetulan dia tidak bisa menjemput sebab si Bulan sedang demam. Niatnya tadi mau meminta Omanya untuk menjemput Bintang.


Berhubung Ghavi menelpon dan meminta ijinnya untuk menjemput putranya, Ane langsung mengiyakan. Ane merasa berterima kasih sekali atas hal itu.


"Sunny lihat Bintang?!" tanya Ghavi sekali lagi.


"Tadi masih dikelas, Tante!" jawab Sunny.


Gadis itu menghampiri Mbak Nia yang sudah menungguinya dari pagi.


"Ayo, Mbak, kita pulang!" ajaknya menarik tangan sang pengasuh.


"Ayo!" sahut Mbak Nia.


"Mari, Mbak!" pamit Mbak Nia pada Ghavi.


"Tunggu!"


Ghavi mencegah langkah Sunny dan Mbak Nia. Keduanya pun berhenti dan berbalik.


"Kenapa, Tante?!" tanya Sunny.


"Itu Bintang sudah keluar kelas," tunjuk Ghavi kearah Bintang yang baru keluar dari kelas paling belakang.


"Bintang, sini!" panggil Ghavi melambaikan tangannya kearah bocah itu.


"Tante Obat Gosookk!"


Teriakan Bintang membuat semua orang yang berada didekat mereka menoleh heran dengan panggilan Bintang padanya yang menurut Bintang itu panggilan sayangnya.


"Sayaaang!! Tante kangen banget, tahu. Seminggu tidak ketemu kamu," pekik Ghavi tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang melihat tingkah mereka.

__ADS_1


"Aku juga, Tante!"


Bintang memeluk perut Ghavi.


"Kamu makin gembil aja, sih?!"


Ghavi menguyel-uyel pipi Bintang yang serasa makin tembam itu.


"Aukh! Sakit, Tante," jerit Bintang.


"Hehe ...!" cengir Ghavi.


"Tante ngapain disini?!" tanya Bintang heran.


Napas bocah itu masih terdengar ngos-ngosan akibat berlari.


"Tante sengaja jemput kamu. Tadi Tante sudah ijin sama mama kamu, kok. Kan, Tante sudah janji mau ngajak kamu jalan-jalan kalau Tante sudah sembuh."


"Memangnya sekarang sudah sembuh?!"


"Sudah, dooong!! Nih, buktinya bisa jemput kamu."


"Kalau begitu, ayo!"


Bintang lantas menarik tangan Ghavi. Bocah itu sudah tidak sabar ingin segera jalan-jalan.


Sunny yang memperhatikan keduanya diam-diam merasa iri.


Dalam hati bocah tiga setengah tahun yang sudah pandai bicara itu ingin juga diperlakukan seperti Bintang. Sayangnya, tidak ada orang yang peduli padanya selain papa dan Om As juga Mbak Nianya di Jakarta ini.


Bahkan, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang mama, yang jika dia bertanya dimana mamanya, sang papa selalu marah-marah padanya.


"Mbak, pulang!" cicitnya lirih.


"Ayo!" ujar Mbak Nia.


"Emm, mau, mau!" jawab bocah itu cepat.


" Tapi ...,"


Sunny menatap Mbak Nia meminta persetujuan.


Ghavi pun ikut menatap Mbak Nia, menanti jawaban.


"Gimana, ya," jawab Mbak Nia ragu-ragu.


"Tadi Bapak berpesan supaya kita langsung pulang, Sayang!"


"Ya, udah, deh!"


Sunny pun kembali berbalik pada Ghavi.


"Maaf, Tante! Sunny harus pulang," ujarnya sedih.


"Emm, gimana kalau Tante yang ijinin sama papa kamu. Tapi, Tante tidak punya nomornya. Apa Mbak Nia ada?!"


"Oh, ada, Mbak! Tapi nomornya Mas Aslan. Saya selalu disuruh menghubungi nomor itu kalau ada apa-apa," jelas Mba Nia.


"Baiklah! Tidak apa-apa! Mana nomornya?!"


"Tunggu sebentar!"


Mbak Nia pun mengambil ponselnya dan mengirim nomor Aslan ke ponsel Ghavi.


Ghavi pun mendial nomer telpon yang diberikan Mbak Nia padanya.

__ADS_1


Lama Ghavi menunggu sambungan telpon. Dia pun mendudukkan dirinya di bangku taman depan sekolah.


Sementara diseberang sana, Aslan sedang menemani bosnya menghadiri rapat dengan kliennya disebuah cafe disalah satu mall.


Ponsel disakunya tiba-tiba bergetar. Aslan pun pamit menjauh dari meja rapat untuk mengangkat panggilan.


Awalnya dahi Aslan berkerut melihat nomor asing tanpa nama memanggilnya. Namun, begitu melihat foto profil si penelpon, buru-buru dia mengangkatnya takut ada hal penting.


"Hallo!" sapanya setelah panggilan tersambung.


" ... "


"Dimana?!"


" ... "


"Oh, baiklah! Ya, nanti saya sampaikan!"


Bip! Sambungan terputus.


Aslan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya lagi dan kembali menuju meja rapat.


"Ada apa?!" bisik Handy begitu Aslan duduk di sampingnya.


Sekarang giliran sang klien yang sedang memberikan presentasinya.


Aslan pun berbisik ditelinga bosnya. Kening Handy berkerut seperti Aslan tadi. Namun, sedetik kemudian dia mengangguk paham.


"Di sekitar sini?!" tanyanya masih dengan berbisik.


Aslan hanya mengangguk sebagai jawaban, merasa tidak enak dengan klien yang sedang giliran melakukan presentasi di depan bosnya.


Tak berapa lama, rapat pun usai. Handy dan Aslan menyalami klien mereka yang langsung berpamitan karena masih ada urusan ditempat lain.


"Terima kasih atas presentasinya. Sepertinya kerja sama yang bagus! Akan saya pertimbangkan secepatnya," ucap klien Handy.


"Sama-sama, Pak! Senang sekali jika bisa bekerja sama dengan Anda!" tanggapan Handy.


"Kalau begitu kami permisi dulu," pamit sang klien yang langsung meninggalkan cafe bersama sekretarisnya.


"Kau yakin mereka pergi ke mall ini?!" tanya Handy setelah klien pergi.


"Menurut informasinya begitu, Bos!" jawab Aslan mengangguk.


"Ok, kita tunggu mereka! Kau minta dia men-share lock lokasi mereka nanti setelah mereka sampai," perintah Handy.


Laki-laki itu pun meminta Aslan untuk mengirim nomor yang sudah menghubungi asistennya.


Kembali pada Ghavi. Gadis itu tersenyum setelah mematikan telponnya.


"Bagaimana, Tente, apa Sunny bolehnikut kita jalan-jalan?!" tanya Bintang penasaran.


"Iya, boleh!"


"Yeeeyyy!!!"


Jawaban Ghavi membuat kedua bocah yang tadinya harap-harap cemas kini bersorak kegirangan.


"Horeee ...!" sorak Bintang.


"Asyiik, papa kasih ijin!"


Sunny yang paling senang. Gadis itu sampai jingkrak-jingkrak mendapat ijin dari sang papa.


Biasanya papanya akan bersikap over protektif padanya. Dia tidak akan dibiarkan berkeliaran ditempat umum meski bersama pengasuhnya.

__ADS_1


"Ok, kita berangkaaat!!" teriak Bintang dan Sunny berlari menuju mobil Ghavi yang dikendarai Pak Yoyon yang sejak tadi menunggu dimobil.


Ghavi dan Mbak Nia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua bocah yang sedang berebut masuk mobil itu.


__ADS_2