
Selesai acara makan siang dadakan di kebun belakang, kini semuanya tengah santai mengobrol dan menikmati semilirnya angin awal musim penghujan.
Para lelaki sibuk ngobrol masalah seputar dunia pertanian, sementara para perempuan sibuk membuat sambal rujak.
Lebih tepatnya para perempuan muda saja yang sibuk. Sebab, Tante Rudi dan Bu Yoyon yang merasa sudah sepuh lebih memilih bermain dengan bayi kembar Risa dan juga putri kecil Ane. Mereka berada digazebo tidak jauh dari kumpulan gadis dan mama muda rempong yang sedang mempersiapkan rujakan.
Sementara itu, Mbak Nia sedang mengawasi Bintang dan Sunny yang sedang berkejaran mengangkap kelinci. Kedua bocah itu saling berteriak berrebut kelinci.
"Saya senang sekali melihat kebahagiaan Ghavi, Jeng!"
Tante Rudi memulai percakapan dengan Bu Yoyon.
"Meskipun ditinggal keluarganya, namun, dia masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya yang mampu membuatnya tertawa."
"Saya juga senang, Bu! Saya dan suami sudah menganggapnya seperti anak kami sendiri. Kami berusaha semampunya untuk tetap membuatnya tertawa. Saya terharu, dia memiliki sahabat-sahabat yang selalu setia disisinya saat Ghavi dalam keadaan terpuruk sekalipun."
Bu Yoyon sampai menitikkan airmatanya saat mengucapkan kalimatnya.
"Sejak acara pertunangannya gagal, Ghavi langsung berubah jadi gadis pendiam. Kami bingung harus berbuat apa? Dan saat dia memutuskan melanjutkan pendidikannya di luar negeri empat tahun lalu, kami berasa berat melepas kepergiannya.
Saya dan suami saya sempat shock saat mendengar keputusannya untuk menetap disana. Berbagai cara kami lakukan agar cucu almarhum Kakek Herman itu mau kembali ketanah air.
Akhirnya, kami pun meminta bantuan Non Lili supaya dia membujuk Ghavi untuk pulang.
Rupanya Non Lili adalah gadis yang cerdas. Dia sengaja mengumpankan keponakannya agar Ghavi terpancing pulang kembali kerumah. Dia selalu melibatkan Bintang disetiap mereka berhubungan. Baik itu melalui sambungan telpon ataupun video call.
Dan kiranya Bintang mampu mencuri hatinya yang sempat hampa. Terbukti, sejak Ghavi mengenal Bintang, gadis itu mulai banyak tertawa dan tersenyum. Pada akhirnya memutuskan pulang kembali kerumah.
Kami begitu bahagia karena satu-satunya keturunan Kakek Herman itu mau pulang dan kembali meneruskan usahanya."
Bu Yoyon sampai menyusut airmatanya saat menceritakan nasib cucu almarhum majikannya tersebut.
Sementara Tante Rudi yang mendengarkan cerita Bu Yoyon jadi merasa tidak enak hati. Gara-gara putra sulungnya, Ghavi menderita.
"Maaf! Ini semua karena putraku. Seandainya saja kejadian memalukan itu tidak pernah terjadi, maka Ghavi tidak akan terlalu menderita begini," ujarnya lirih.
Dipandanginya Ghavi yang tampak tertawa lepas bersama Fikar.
Ada sedikit rasa tidak rela dihatinya saat melihat gadis itu bisa tertawa bahagia bersama laki-laki yang bukan putranya.
"Jeng, itu siapa? Laki-laki yang sedang bercanda dengan Ghavi?! Kelihatannya mereka sangat akrab sekali," selidiknya.
"Oh, itu Mas Zulfikar, putra tetangga sebelah rumah yang dulu merupakan teman kecil Ghavi. Sekarang dia bekerja direstaurant Ghavi sebagai koki utama."
"Sepertinya laki-laki itu menyukai Ghavi. Tampak dari tatapan matanya dan sikapnya," gumam Tante Rudi.
Bu Yoyon tersenyum mendengar gumaman wanita disampingnya.
Dari nada bicaranya dia sedikit kecewa.
"Yah, Mas Fikar memang selalu seperti itu sejak mereka masih kecil. Dia akan selalu protektif jika menyangkut Ghavi yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri," timpal Bu Yoyon.
"Benarkah? Hanya sebatas adik saja?! Tapi, rasanya ..."
"Oek ... oek ...!!"
Tangisan Risan menghentikan kalimat Tante Rudi.
Wanita itu pun urung melanjutkan kalimatnya.
Dengan cekatan wanita itu mengangkat Risan yang terbangun dari tidurnya.
"Cup ...! Cup ...! Cup ...!"
Tante Rudi mengayun-ayunnya agar berhenti menangis.
__ADS_1
"Sa, ini bayimu menangis!"
Tante Rudi memanggil Risa yang belum sadar jika salah satu bayinya terbangun.
"Oh, iya, Tante!"
Risa pun berlari kearah gazebo untuk menenangkan putranya.
"Uhs! Putra Ibu sudah bangun! Cup ...! Cup ...! Dedek haus, ya!"
Risa mengambil alih putranya dari tangan Tante Rudi.
"Huaaa ...!"
Satu lagi suara Bulan yang ikut-ikutan terbangun.
"Kak Ane, Bulan ikutan bangun, nih!" teriak Risa yang duduk disebelah Bu Yoyon sambil menyusui bayinya.
"Yaa!!"
Ane berteriak balik.
Ane yang sedang mengambil piring rujak untuk Lian pun langsung berlari menemui putrinya setelah sebelumnya sempat memberikan piring rujak pada sang suami.
Sementara Ghavi dan Liana tengah asyik bergabung dengan Bintang dan Sunny yang sudah berhasil menangkap kelinci masing-masing.
Sesekali mulut kecil mereka terbuka lebar menerima suapan buah yang sudah bercampur sambal itu dari tangan Ghavi.
Fikar dan Harry pun menyusul kedua gadis itu.
"Vi!" panggil Fikar.
"Ya?!"
Ghavi menoleh kearah Fikar dan Harry yang baru mendudukkan diri didepannya dan Liana.
Fikar menusuk buah nanas dan menyuapkannya kemulut Ghavi yang langsung menyambutnya.
"Duuh, so sweet banget, sih. Mau, dong disuapin!"
Liana melirik Harry yang duduk didepannya.
"Nih! Aaa ...!!"
Harry menyuapkan dua potong mangga muda sekaligus kemulut Liana.
"Ssshh! Aseeem ...!" pekik Liana saat menyadari jika yang dimakannya mangga muda semua.
"Asem, kayak muka kamu, tuh!" ledek Harry.
"Siapa yang tadi yang nyuapin?!" sungut Liana.
"Siapa yang tadi minta disuapin?!"
Harry tidak mau kalah.
"Ya nggak harus mangga muda semua, kaliii ... kasih bengkuang, kek! Timun, kek! Masa mangga semua."
"Iya, deh, iya! Nih, bengkuang sama timunnya!"
Kali ini Harry menyuapkan sesuai permintaan Liana.
"Haha ...!"
Ghavi tertawa melihat tingkah konyol mereka.
__ADS_1
"Vi, nih, aaa ...!"
Fikar pun kembali menyuapkan potongan buah kemulut Ghavi tanpa gadis itu melihatnya.
Mata gadis itu masih fokus melihat kelucuan Liana dan Harry.
Namun, sedetik kemudian gadis itu berteriak.
"Wueekk! Aseeem!!"
Ghavi melepehkan kunyahannya.
"Mas Fikar, kok, ikut-ikutan kayak Mas Harry, sih?!"
"Haha ...!"
Harry dan Fikar sontak tertawa terbahak.
"Syukurin! Emang enak?! Sudaah, nikmati saja."
Liana tampak puas melihat sahabatnya juga bernasib sama dengan dirinya.
"Minum, dong!"
Ghavi bergidik saking asemnya mangga yang dia makan.
"Nih, Tante!"
Sunny menyodorkan botol minum air mineralnya pada Ghavi yang langsung menenggaknya.
"Makasih, Sayang!"
Ghavi mengelus rambut Sunny.
"Sama-sama, Tante Cantik!"
Sunny yang awalnya duduk dekat omnya, kini pindah duduk disamping Ghavi.
"Tante cantik, kelincinya boleh, nggak dikasih rujak?!" tanyanya polos.
"Eh, jangan!!"
Ghavi, Liana, Fikar dan Harry sontak berteriak bersama.
"Kenapa nggak boleh?!"
Sunny bertanya kembali masih dengan wajah polosnya.
"Nggak boleh! Nanti kelincinya diare makan asem dan pedas!" celetuk Bintang yang sedari tadi asyik dengan kelincinya, namun tetap mendengarkan obrolan yang lain.
"Benarkah?!" tanya Sunny masih tidak percaya.
"Mm, mungkin!" jawab Ghavi ragu.
"Kalau begitu kasih obat, dong biar nggak men*ret lagi!"
"Hahaha ...!!!"
Keempat orang tersebut lantas terbahak mendengar kepolosan kedua bocah itu.
Rupanya kegiatan mereka tidak luput dari pengamatan seseorang yang duduk dikursi roda. Meskipun mulutnya berbicara pada orang didepannya, namun pandangan matanya tidak lepas dari gadis yang tengah bercengkerama dengan adiknya itu.
Bukan! Lebih tepatnya dengan laki-laki yang ada di samping sang adik , yang menurut kacamata pandang Handy bahwa Fikar terlihat mempunyai rasa lebih dari sekedar teman pada Ghavi.
Dari caranya memperlakukan Ghavi, Fikar begitu perhatian dan manis layaknya seorang laki-laki yang memperlakukan kekasihnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Dan Handy merasa iri akan hal itu.
Kenapa harus Fikar? Kenapa bukan dirinya yang ada disana saat ini?!: