
"Sudah siap, Sayang?!" tanya Ghavi begitu melihat Sunny berlari keluar dari kelas.
"Sudah, Tante!" jawab gadis kecil itu dengan wajah riangnya.
"Tumben, hari ini kamu ceria sekali."
"Sunny senang karena mau diajak lihat restaurantnya Tante Cantik."
"Oh, begitu."
Ghavi mengangguk-angguk.
"Ayo, Tante Cantik, kita berangkat sekarang saja!"
Sunny menarik tangan Ghavi agar segera pergi ke restaurant milik Ghavi.
Rupanya Sunny sudah tidak sabar lagi.
"Eh, nanti dulu, dong!"
Ghavi masih celingak celinguk mencari seseorang.
"Tante cari siapa?"
"Tante cari Bintang. Kali saja dia mau ikut."
"Bintang tidak masuk sekolah, Tante!" ujar Sunny memberitahu.
"Eh, tidak masuk sekolah? Kenapa?!" tanya Ghavi.
"Kata Bu Gurunya Sunny, Bintang sedang sakit, Tante!"
"Hah?? Sakit?!"
Ghavi kaget mendengar Bintang sakit.
"Sunny tahu tidak, Bintang sakit apa?"
Sunny mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Bu Guru tidak bilang sakit apa," jawabnya.
"Oh, ya sudah! Kita berangkat sekarang saja," ajak Ghavi akhirnya.
"Tunggu!"
Baru dua langkah berjalan, Sunny menghentikan langkahnya.
"Kenapa?!"
"Mbak Nianya mana, Tante?!"
Sunny baru sadar jika pengasuhnya tidak kelihatan.
"Oh, iya, Tante lupa!"
Ghavi menepuk dahinya sendiri.
"Mbak Nia tadi pulang begitu Tante sampai disini. Papa kamu menyuruhnya pulang karena harus menyambut kedatangan kakek dan nenek Sunny dari Wonosobo. Mereka kangen mau jenguk Sunny," terang Ghavi.
"Kakek dan nenek akan datang?!"
Sunny terlihat senang mendengar kabar tersebut.
"Tapi, hari ini Sunny mau ikut Tante Cantik ke restaurantnya Tante," lanjutnya berubah sedih.
"Tidak apa-apa! Sunny ikut Tante saja. Biarkan kakek dan nenek beristirahat dulu dirumah, biar pas Sunny pulang mereka sudah tidak capai dan bisa langsung bermain dengan Sunny, bujuk Ghavi menepuk pundak gadis cilik didepannya.
"Oh, ya sudah! Ayo, Tante kita berangkat sekarang!"
Semangatnya timbul kembali setelah mendapat pengertian dari Ghavi.
"Ayo!"
Hari ini Ghavi masih disupiri Pak Yoyon. Pak Yoyon sangat over protectif pada majikan muda yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu. Satu-satunya majikan yang tertinggal karena semuanya sudah meninggalkan Ghavi.
Untuk itulah, Pak Yoyon sangat menjaganya. Seringkali harus berdebat dengan Ghavi jika masalah menyetir mobil. Pak Yoyon juga selalu bertanya dengan siapa dan kemana tujuannya dia pergi.
__ADS_1
Awalnya Ghavi merasa jengah. Tapi, lama kelamaan dia jadi sudah terbiasa.
"Ke restaurant, Pak!" perintah Ghavi begitu dia dan Sunny masuk mobil.
"Baik!"
Pak Yoyon pun menstarter mobil sport Ghavi peninggalan dari kakeknya enam tahun lalu.
Meskipun sudah berusia enam tahun, mobil masih terlihat bagus dan berjalan mulus. Sebab, mobil itu jarang digunakan. Hanya sesekali saja digunakan, itu pun saat habis diservis rutin.
"Tante, masih jauh, ya tempatnya?"
Sunny mulai bosan duduk dimobil yang sudah berjalan dua puluh menit.
"Sebentar lagi, Sayang! Sekitar lima belas menit lagi," sahut Ghavi mengelus puncak kepala Sunny.
Rambutnya yang hitam lurus diwarisinya dari sang mama. Wajahnya juga sangat mirip dengan Vika. Padahal, biasanya kebanyakan anak perempuan lebih condong mengikuti gen ayahnya sehingga akan sangat mirip dengan sang ayah.
Berbeda dengan Sunny. Bocah itu justru mewarisi wajah cantik mamanya. Hanya sorot matanya saja yang tajam mengikuti gen sang papa.
Entah kenapa, meskipun Sunny begitu mirip dengan Vika, mamanya, Ghavi tidak bisa membenci bocah kecil itu.
Justru dia merasa kasihan dengannya. Anak sekecil itu harus kehilangan sosok mama yang tidak merawatnya karena kesalahan yang dibuat sang mama dimasa lalu.
"Sunny senang tidak hari ini kita akan makan enak lagi?!"
"Senang, Tante! Nanti aku mau makan yang banyak, ya biar cepat besar."
"Boleh, Sayang! Asal muat saja perutnya."
Ghavi sengaja menggelitiki perut Sunny hingga bocah itu berteriak kegelian.
"Haha ...! Ampun, Tante! Ampun, geli!"
Tubuhnya menggelinjang berusaha bebas dari gelitikan Ghavi.
"Masa?! Coba sini Tante gelitik lagi," ledek Ghavi.
"Jangan, Tante! Sunny geli!" teriaknya.
"Biarkan saja nanti papa Sunny yang akan menjewer Tante Cantik karena sudah nakal sama putri cantiknya," sahut Pak Yoyon dari depan.
"Iya, lho, Tante! Nanti aku aduin ke papa kalau Tante nakal sudah gelitikin aku sampai keluar air mata," ancamnya.
"Aduin saja! Tante tidak takut, wleee ...!"
Ghavi memeletkan lidahnya makin meledek.
"Kakeekk!!" rajuk Sunny pada Pak Yoyon.
"Ghavi, hentikan! Sudah jangan ledek cucu Kakek lagi. Kita sudah sampai," tegurnya pada Ghavi.
"Syukurin! Tante dimarahin Kakek. Wleee ...!"
Giliran Sunny yang memeletkan lidahnya mengejek Tante Cantiknya.
"Wleee ...!"
Ghavi membalas.
"Ghavi! Sunny! Berhenti bercanda! Cepat turun!!" perintah Pak Yoyon.
Ketiganya pun akhirnya turun dari mobil.
Mereka masuk kedalam restaurant dengan Sunny berada dalam gendongan tangan Ghavi karena saat turun dari mobil tadi merengek minta digendong Ghavi.
"Dasar manja!"
Dicubitnya hidung Sunny yang mancung seperti papanya.
Meski begitu, Ghavi tetap menggendongnya dengan senang.
Pak Yoyon sendiri mengikuti keduanya dari belakang dengan menggendong tas sekolah Sunny dipunggungnya.
"Selamat siang, Nona Ghavi!" sapa karyawan yang ada di restaurant.
Ghavi sengaja masuk melalui pintu masuk utama, tidak melalui pintu khusus seperti biasanya.
__ADS_1
"Siang, Mbak! Ketemu lagi kita!" jawab Ghavi pada Mbak Sari, salah satu karyawan terlamanya.
"Mau sekedar makan atau mau survey?!"
"Pertama mau makan dulu, Mbak Lapar! Hehe ...!" sahut Ghavi nyengir.
"Lagipula, aku bawa tamu spesial hari ini," lanjutnya tersenyum kearah Sunny yang berada dalam gendongannya.
"Eh, ini siapa, Non?! Cantik sekali!"
Mbak Sari mencubit pipi Sunny gemas.
"Aww! Sakit, Tante!" jerit bocah itu.
Sunny langsung mengusap-usap pipinya yang baru saja dicubit Mbak Sari menggunakan tangan mungilnya yang bebas. Sedang tangan yang satu lagi dikalungkan dileher Ghavi.
"Maaf, gadis kecil! Habisnya kamu ngegemesin sekali, sih," ucap Mbak Sari meminta maaf.
"Kecil-kecil judes, ya, Non!" bisiknya ditelinga Ghavi.
"Haha ...! Mbak Sari bisa saja. Anak aku, nih, Mbak! Habis nyulik dari sekolah tadi. Hehe ...!"
"Serius saya, Non!"
"Aku juga serius, kok, Mbak! Ini anak tetangga baru sebelah rumah."
"Oh, begitu!"
"Iya!"
"Tante, lapar! Katanya mau makan enak," cicit Sunny.
"Oh, iya! Mbak, tolong mintakan Mas Fikar antarkan pesananku ke ruangan, ya. Tadi aku sudah mengiriminya pesan waktu masih dijalan.
" Baik, Non! Ditunggu diruangan, ya!"
Mbak Sari pun pamit ke belakang menemui Zulfikar, koki baru direstaurant.
Ghavi sendiri membawa Sunny ke ruangannya diikuti Pak Yoyon.
"Siang, Pak Rama!" sapanya saat sampai diruangannya yang juga menjadi ruangan Pak Rama.
"Eh, selamat siang juga, Non!"
Pak Rama yang sedang mengetik didepan layar komputer langsung menghentikan aktifitasnya.
"Silakan duduk!" perintahnya pada atasannya dan juga Pak Yoyon.
"Ini siapa, Non?! Cantik sekali!"
Pak Rama hendak mencubit hidung gadis kecil dipangkuan Ghavi namun tangannya langsung ditepis oleh tangan mungil Sunny.
"Jangan cubit-cubit! Sakit, tahu?!" hardik Sunny judes.
"Haha ...! Dapat dari mana bocah cantik tapi galak ini, Non?! Lucu sekali dia."
Sunny makin mengerucutkan bibirnya bete.
"Anakku, Pak! Habis nyulik tadi."
Untuk kali kedua Ghavi nyeletuk begitu.
"Tante, memangnya Tante penculik, ya? Kok, dari tadi bilangnya habis nyulik?!"
"Haha ...!"
Semua orang dewasa yang hadir disitu pun terbahak mendengar pertanyaan polos Sunny.
"Iya, Sayang! Hari ini Tante jadi penculik anak cantik ini."
Ghavi menguyel-uyel pipi tembam Sunny, membuat anak itu kembali protes.
"Jangan disentuh wajah aku, nanti tidak cantik lagi."
"Hahaha ...!"
Gelak tawa makin terdengar nyaring memenuhi ruangan pemilik restaurant.
__ADS_1