Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Pulang Satu Mobil


__ADS_3

Begitu turun dari mobil, Bintang dan Sunny langsung menghambur menuju playground yang ada dilantai satu.


Kedua bocah itu terlihat sangat antusias sekali. Bintang menggandeng tangan Sunny agar bocah itu tidak tertinggal. Kaki kecil Sunny memang tidak bisa mengimbangi langkah lebar Bintang yang usianya lebih tua satu setengah tahun.


" Bintang, jangan lari-lari! Awas, Sunny nanti jatuh!"


Ghavi berteriak mengejar kedua bocah yang sudah jauh berada didepan.


Sunny hampir saja terjatuh karena tersandung sepatunya sendiri.


"Jalan saja pelan-pelan!"


Namun, bocah-bocah itu tidak menghiraukan peringatan dan perintah Ghavi.


Mereka justru semakin kencang berlari ketika area bermain sudah terlihat semakin dekat.


"Tante, aku mau naik itu!"


"Aku mau itu!"


Teriak Bintang dan Sunny sambil menunjuk wahana yang ingin mereka naiki.


Bintang menunjuk kereta putar, sementara Sunny menunjuk area mandi bola.


"Ok! Ok! Tapi, kalian harus main sama-sama. Sekarang, kalian mau main yang mana dulu?" tanya Ghavi yang ngos-ngosan mengejar kedua bocah itu.


Karena dia punya riwayat asthma, maka lari jarak pendek saja napasnya sedikit tersengal.


Mbak Nia yang berlari dibelakang Ghavi juga sedikit kewalahan mengingat tubuhnya yang lumayan bongsor.


"Tante sesak napas?!" tanya Bintang.


"Iya! Tante punya riwayat asthma. Makanya jangan lari-larian kayak barusan, ok?!"


"Maaf, Tante, Bintang nggak tahu."


"Ya, sudah nggak apa-apa!"


Ghavi mengelus rambut Bintang dan Sunny bergantian.


"Jadi, kita mau main yang mana dulu, nih?!"


Bintang beralih pada Sunny.


"Mm, yang itu saja!"


Sunny menunjuk kuda-kudaan yang tampak ramai dinaiki anak-anak.


"Katanya tadi mau main bola?!" cibir Bintang.


"Huh! Pokoknya aku mau naik itu!" keukeuhnya.


Sunny kembali ke mode keras kepala dan sedikit judes seperti awal-awal pertemuan mereka kemarin dulu. Pasti sifat itu menurun dari mamanya.


Diawal masuk TK, Sunny memang bersikap judes pada teman-temannya, terutama Bintang yang suka sekali mengusilinya. Saat ditanya kenapa senang menjaili Sunny, Bintang menjawab, soalnya Sunny imut dan cantik.


Bayangkan, anak sekecil Bintang sudah tahu kata imut dan cantik.


"Ya, sudah! Kalian naik kuda-kudaan saja dulu. Setelah itu kalian boleh milih mana yang kalian suka," putus Ghavi.


Akhirnya keduanya naik kuda-kudaan.


Setelah puas main kuda-kudaan, Bintang memilih naik kereta putar seperti keinginannya diawal, sementara Sunny main perosotan dan mandi bola.


Mbak Nia mengawasi Sunny, sementara Ghavi mengawasi Bintang.


Bintang beralih menuju trampolin. Bocah aktif itu tengah melompat-lompat sambil teriak kegirangan sampai kelelahan.


Sedangkan Sunny yang juga sudah puas mandi bola dan perosotan, gadis cilik itu memilih bermain pasir.


Bintang pun akhirnya mengikuti jejak Sunny untuk bermain pasir. Kini keduanya asyik membuat istana pasir. Dan untuk kali ini, rupanya kedua anak itu saling bekerja sama membuat istana pasir mereka.


"Hufh! Capeknya!!" keluh Ghavi.


Dia menjatuhkan tubuhnya di samping Mbak Nia yang sudah lebih dulu duduk dibangku tunggu sambil mengawasi Sunny.


"Bintang anak yang sangat aktif, ya, Mbak?!"


Mbak Nia berkomentar.


"Iya!"


Ghavi mengangguk mengiyakan.


"Aku sampai kewalahan ngikutin dia tadi."

__ADS_1


Ghavi mengibas-kibaskan tangannya seperti kipas.


"Gerah!" cicit Ghavi.


"Mau minum?!"


Sebuah suara dari arah belakang mengagetkannya.


Ghavi pun segera berbalik untuk melihat siapa gerangan orang yang menawarkan minum.


"Mas Handy?!!" tanyanya kaget.


"Sedang apa kamu disini?! Dan, mana Mas Aslan?! Nggak mungkin, kan kamu kesini sendirian?!"


Ghavi celingak-celinguk mencari keberadaan asisten Handy yang tidak terlihat didekat bosnya.


"Kamu menyindirku?!"


Dari nadanya sepertinya Handy sedikit marah.


"Oh, eh, bu-bukan begitu maksudku. Maaf!!"


Ghavi jadi serba salah.


"Ekhm!"


Handy berdehem.


"Aku sengaja kesini mau menemui Sunny. Tadi waktu kamu minta ijin pada Aslan, kebetulan kami ada disekitar sini. Makanya aku minta Aslan supaya kamu men-share lock dimana kalian berada."


Ghavi baru ingat, tadi dia diminta untuk mengirimkan lokasi keberadaan mereka pada Aslan begitu sampai di mall.


"Hehe ..., aku lupa!" kekeh Ghavi.


"Terus, dimana Mas Aslan sekarang?!" lanjut gsdis itu.


"Aslan sedang membeli minum untuk kalian. Tuh!"


Handy menunjuk stand es krim dimana Aslan sedang mengantri.


"Oh!"


Ghavi hanya ber 'oh' saja.


"Tidak, Pak! Malahan, hari ini saya baru lihat senyum lepas Sunny. Dia sepertinya senang sekali diajak kesini. Dan ..."


Mbak Nia ragu melanjutkan kalimatnya.


"Dan ...?!"


Handy pun menunggu kalimat Mbak Nia selanjutnya.


"Eh, maaf, Mbak!"


Mbak Nia justru meminta maaf pada Ghavi dan membuat dahi gadis itu terheran.


"Kenapa?"


"Emm, itu ... . Tadi Sunny bilang ingin diperlakukan sama seperti Bintang. Sepertinya Sunny iri melihat kedekatan Mbak dan Bintang. Soalnya, tadi Mbak sempat mendengar Sunny bergumam, katanya Mbak Ghavi pilih kasih. Cuma Bintang saja yang diperhatikan."


"Hahh?! Sunny bilang begitu, Mbak?!" tanyanya kaget.


Matanya beralih pada Handy yang juga sedang menatapnya.


"Ya, maaf! Habisnya mereka tidak mau main sama-sama terus, jadinya kita harus bagi tugas buat jagain mereka, kan?!" jawab Ghavi.


Dia merasa tidak enak pada Handy yang pasti sedang berpikir dia mengacuhkan putrinya. Padahal, tadi dia sudah berusaha menawarkan pada Sunny untuk ikut dengannya dan Bintang, tapi Sunny menolak. Bocah itu keukeuh ingin bermain perosotan dan mandi bola, sementara Bintang ingin naik kereta putar.


"Mungkin maksudnya, Sunny Mbak yang ikut dengannya dan Mbak yang jagain Bintang, kali, ya," sahut Mbak Nia.


"Ekhm!"


Lagi-lagi Handy berdehem.


"Kalau begitu, aku minta tolong sama kamu, Vi! Tolong, nanti kamu ikut pulang dengan kami, agar Sunny tidak merasa diacuhkan.


Aku mengerti perasaannya. Mungkin, karena selama ini dia tidak pernah merasakan kedekatan dengan seseorang selain kami bertiga sehingga Sunny iri pada Bintang dan menganggapmu pilih kasih. Tolong, maafkan putriku!" pinta Handy penuh harap.


"Hmm, baiklah! Biar nanti aku ajak Sunny mengantar Bintang. Tapi, aku harus membujuknya dulu," ujar Ghavi akhirnya.


"Ini, Bos es krimnya!" celetuk Aslan yang baru datang membeli eskrim dan minuman dingin untuk Ghavi dan Mbak Nia.


"Oh, ya! Kasihkan ke mereka!"


Handy menunjuk anak-anak yang masih serius bermain pasir, terutama Sunny.

__ADS_1


Saking seriusnya bocah itu sampai tidak menyadari kedatangan papa dan Om As-nya.


"Bintang, Sunny! Kemari! Istirahat dulu, yuk! Itu Papa kamu dan Om As sudah datang dan bawa es krim untuk kalian."


Ghavi memanggil kedua anak itu untuk mendekat.


"Papa?! Horeee ...!!" pekik Sunny girang.


Anak itu lantas meninggalkan wahana pasirnya diikuti Bintang yang juga senang mendengar kata es krim.


"Kalian cuci tangan dulu, sini!"


Ghavi menarik keduanya menuju wastafel yang sudah disediakan disekitar wahana pasir.


"Papa!!"


Sunny berlari sambil meneriakkan nama papanya.


"Aku senang Papa datang," ujarnya melompat kepangkuan Handy yang berada di kursi roda.


"Iya! Sama-sama, Sayang! Papa juga senang bisa ketemu kamu disini. Tadi Papa kebetulan ada rapat disekitar sini," terangnya.


Kriiing ...!!


Ponsel Ghavi berbunyi tanda telpon masuk.


"Ya, Hallo, Mbak!" ucapnya setelah nada sambung.


" ... "


"Oh, iya, Mbak! Ini baru pada selesai main. Niatnya mau aku ajak makan dulu."


" ... "


"Oh, begitu! Baiklah! Aku antar Bintang pulang sekarang!"


Bip!


Telpon berakhir.


"Emm, maaf! Sepertinya aku harus antar Bintang pulang sekarang. Kakek dan Neneknya datang berkunjung!" ujar Ghavi setelah menyimpan telponnya.


"Bintang, Tante antar kamu pulang, yuk! Kakek sama Nenek datang jengukin adek Bul-Bul. Nanti kamu makan dirumah saja, kata Mama Ane!"


Bintang yang baru saja menghabiskan es krimnya langsung mengangguk.


"Baik, Tante!"


Ghavi pun pamit pada Sunny.


"Sayang, Tante antar Bintang pulang dulu. Kamu ikut Tante antar Bintang pulang, mau?!"


"Mau! Tapi, sama papa juga," jawabnya.


" Eh, tapi, Tante mau sama Kakek Yoyon," elak Ghavi.


"Lagipula, Papa kamu harus kembali ke kantor, kan?!"


Matanya menatap Handy mencari jawaban.


"Iya, Sayang! Papa harus kembali ke kantor. Kamu pulang sama Tante Ghavi saja setelah mengantar Bintang," bujuk Handy.


"Tidak mau! Maunya sama Tanta Cantik, tapi sama Papa juga," rengek Sunny.


"Ya, sudah, Papa mengalah! Kita antar Bintang dengan Om Aslan, sedang Pak Yoyon biar pulang duluan bareng Mbak Nia. Bagaimana?!"


"Bagaimana, Tante?!" tanya Sunny memandang kearah Ghavi.


Ghavi tampak berpikir. Jika dia menolak, pasti Sunny makin merasa iri dan sakit hati mengira dia lebih memperhatikan Bintang daripada dirinya. Meskipun kenyataannya demikian. Maklum saja, Ghavi dan Bintang sudah kenal cukup lama, walaupun baru duab bulan ini mereka baru bertatap muka.


Sementara dengan Sunny mereka baru dua minggu ini kenal. Dan pertemuan mereka pun baru beberapa kali saja.


"Baiklah!" ucapnya akhirnya.


"Mbak Nia tidak apa-apa, kan pulang sama Bapak?!"


Ghavi meminta pendapat wanita itu.


"Tidak apa-apa, kok, Mbak!"


Mbak Nia tersenyum mengangguk.


Akhirnya, Ghavi mengantar Bintang pulang ditemani Sunny dan Handy dalam satu mobil yang disopiri Aslan.


Sementara Mbak Nia pulang bersama Pak Yoyon yang sudah menungguinya diparkiran setelah dihubungi Ghavi.

__ADS_1


__ADS_2