Dibawah Payung Hitam

Dibawah Payung Hitam
Tante Obat Gosok


__ADS_3

"Bintang keciiiilll!!" teriak Ghavi dari arah dapur.


Bintang yang sedang fokus menangkap kelinci menjadi kaget mendengar teriakan Ghavi.


Seolah mendapat peluang emas, kelinci yang merasa terancam dari cengkraman bocah kecil itu lantas dengan gesit meloncat pergi secepat lompatan yang ia bisa.


"Yah!! Kelincinya lari," keluh Bintang kecewa.


Bocah itupun berbalik kearah suara yang sudah berani menggagalkan operasi tangkap tangannya.


"Ini semua gara-gara Tante. Gara-gara teriakan Tante, kelinci incaranku jadi pergi lagi. Padahal, tadi hampir saja aku berhasil menangkapnya," sungut Bintang sambil berkacak pinggang.


Bintang dan Ghavi memang belum pernah bertemu secara langsung. Tetapi, hubungan mereka sudah seperti keponakan dan tante yang sangat dekat.


Hal itu dikarenakan hampir setiap hari mereka melakukan VC.


Awalnya, Liana yang sedang melakukan video call dengan sahabat karibnya itu mengajak Bintang untuk ikut bergabung.


Bocah laki-laki itu pun merasa senang saat diajak melakukan video call tersebut.


Lama kelamaan Bintang selalu ikut bergabung saat sang tante melakukan video call. Bintang merasa Ghavi sangat baik seperti tantenya meskipun keduanya belum pernah bertemu secara langsung.


Apalagi, Ghavi sering mengiriminya paket dari Ausie berisi mainan untuknya dan juga beberapa barang pesanan tante dan orang tuanya.


"Eleh-eleh, jagoan kecil Tante ternyata jauh lebih ganteng aslinya, ya, dibanding saat video call. Apalagi kalau lagi ngambek begini, makin tambah gantengnya."


Ghavi yang sudah berada tepat didepan Bintang pun langsung mencubit kedua pipinya dengan gemas.


Bintang yang mendapat perlakuan seperti itu segera menepis tangan Ghavi dengan kesal.


"Gara-gara Tante, tuh kelincinya jadi pergi," sungutnya lagi.


"Lupakan soal kelinci itu sebentar."


Ghavi berjongkok didepan Bintang lalu merentangkan kedua tangannya.


"Memangnya jagoan kecil tante tidak kangen, gitu sama Tante Obat Gosok?!"


Bintang yang awalnya merengut pun kini mulai merekahkan senyumnya. Anak itu jadi teringat bagaimana ceritanya Ghavi dipanggil dengan sebutan Tante Obat Gosok.


Waktu itu Bintang sedang melakukan VC sendiri karena Liana sedang turun kedapur untuk mengambil minum.


Bintang bertanya siapa nama lengkap Ghavi. Saat Ghavi menjawab nama lengkapnya adalah Ghavina Putri Umar, Bintang pun langsung tertawa terbahak.


Ghavi yang merasa bingung kenapa Bintang tertawa setelah mendengar nama lengkapnya itupun bertanya.


Bintang lantas memberikan alasan kenapa dia tertawa. Menurut anak itu, jika nama lengkap Ghavi disingkat dari huruf awal per kata, singkatan itu menjadi salah satu produk obat gosok yang sering muncul ditelevisi.


Ghavi pun ikut tertawa mendengarnya. Ada-ada saja itu bocah. Jadilah Bintang mempunyai panggilan kesayangan untuk Ghavi, yaitu Tante obat gosok.


"Hahaha ...!"


Bintang tertawa lebar.


"Kenapa malah tertawa?!"


Ghavi mengernyitkan kening.


"Habisnya nama Tante lucu, sih kayak obat gosok," ucapnya.


"Owh!" Ghavi pun nyengir.


"Sini, peluk Tante. Tante kangen, tahu ingin ketemu kamu langsung dari dulu."


"Yaa, kan Tantenya yang nggak mau pulang nemuin aku," jawab Bintang.

__ADS_1


Disambutnya pelukan Ghavi dengan suka cita.


"Bukannya nggak mau pulang, tapi memang belum waktunya pulang," tukas Ghavi mengacak rambut lebat Bintang.


"Jadi sekarang sudah waktunya?!" tanya Bintang.


"Iya!"


Ghavi mengangguk.


"Terus, Tante nanti bakal pergi lagi?!"


"Emmm, belum tahu."


"Kok, belum tahu?!"


"Sebab, ..."


Belum sempat Ghavi menjawab kembali, sebuah suara terdengar dari arah dapur.


Tampak Liana datang bersama Bu Yoyon yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Wah, gimana kelincinya, sudah dikasih makan belum?!"


Kedua orang beda usia yang sedang melepas rindu itupun menoleh keasal suara.


"Belum, Aunty! Nih, tadi Tante Obat Gosok teriak ngagetin jadi kelincinya lari, deh."


Bintang yang sudah melupakan soal kelinci kembali manyun sambil melepas pelukannya dengan Ghavi.


"Hehehe ..., sorry!"


Ghavi mengatupkan kedua tangan didepan dada.


Siapa Tante Obat Gosok? Memangnya Kakek kemana? Kenapa tidak minta tolong saja untuk menangkapnya?!"


"Tante Ghavi yang Tante Obat Gosok," jawab Bintang.


Dia pun dengan semangat menceritakan asal mula memanggil Ghavi dengan sebutan Tante Obat Gosok.


"Hahaha ...!"


Bu Yoyon tertawa mendengar cerita Bintang.


"Lalu, sekarang Kakek kemana?" tanya Bu Yoyon sekali lagi.


"Kakek sedang pergi ke gudang ambil pancingan, Nek," jawab Bintang.


Tak berapa lama Pak Yoyon muncul dari belakang rumah dengan membawa ember kecil berisi cacing dan cangkul.


"Bapak darimana, sih bawa-bawa cangkul segala?" tanya Bu Yoyon.


"Ini, cari cacing untuk umpan ikan dibawah pohon pisang yang ada dipojok rumah. Katanya mau mancing ikan," jawab Pak Yoyon.


"Terus, mana pancingannya? Kata Bintang Bapak sedang ambil pancingan?!" celetuk Liana.


"Iya, sebentar saya ambil sekalian simpan cangkul."


Pak Yoyon beranjak kegudang menyimpan cangkul dan mengambil dua pancingan.


Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Bintang.


"Ini dia pancingannya."


Pak Yoyon mengangkat pancingan dan memperlihatkannya pada Bintang.

__ADS_1


Mata bocah itu langsung berbinar menyambut pancingan yang sudah diberi umpan cacing dan langsung mencari tempat ditepi kolam. Dia sampai lupa lagi perihal kelinci yang gagal ia tangkap.


Pak Yoyon sangat telaten dan sabar menemani Bintang memancing, sementara Ghavi dan Liana memilih ngobrol digazebo sambil memakan cemilan yang dibawakan Bu Yoyon tadi. Sedang Bu Yoyon sendiri kembali kedapur untuk menyiapkan menu masakan untuk makan siang.


"Vi, kamu sudah kasih kabar dengan keluarga di Jogja, belum?" tanya Liana membuka obrolan.


"Belum! Aku baru memberi kabar pada Mas Harry. Aku bilang padanya akan berkunjung ke Jogja. Sengaja aku tidak memberi kabar keluarga disana, sebab aku ingin membuat kejutan. Kebetulan Mas Harry ada acara di Jakarta dalam beberapa hari kedepan. Jadi, katanya dia akan mampir kesini sekalian menjemputku," jawab Ghavi.


"Owh!"


Liana mengangguk.


"Terus, sama kakaknya kamu kasih tahu?!"


"Kakaknya siapa?"


Ghavi mengernyit.


"Ya kakaknya Mas Harry, lah. Siapa lagi?!"


"Tidak! Aku meminta Mas Harry untuk merahasiakan soal kepulanganku padanya."


"Kenapa? Memangnya kamu masih membencinya??"


Ghavi menghela napas panjang.


" Tidak! Aku cuma belum siap ketemu dia lagi. Apalagi sekarang dia sudah punya anak dan istri. Dia pasti sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Jadi, untuk apa aku mengganggunya?! Toh, diantara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."


"Memangnya selama ini kalian tidak saling berkomunikasi?" Liana penasaran.


Ghavi menggeleng.


"Aku sudah memblokir namanya. Aku tidak ingin mengetahui kehidupannya agar aku bisa cepat melupakannya. Aku juga melarang Mas Harry untuk tidak menceritakan soal kehidupan mereka. Dan Mas Harry memaklumiku soal itu."


Liana tertegun mendengar penuturan Ghavi.


'Jika Ghavi menutup mata dan telinga tentang kehidupan mereka selama ini, apa itu berarti Ghavi tidak tahu jika ...' Liana membatin.


"Eh, kamu ikut ke Jogja, yuk! Ajak Bintang sekalian biar ramai. Pasti bocah itu senang," celetuk Ghavi seakan mengalihkan pembicaraan.


"Aku, sih ok-ok saja. Bintang juga pasti mau, lah. Dia, kan sudah seperti perangko yang nempel diamplop kalau sama aku. Apalagi kalau tahu petginya sama kamu, pasti mau dia. Tapi, masalahnya yang punya bocah ngijinin, nggak?!" balas Liana.


"Ya kamu mintain ijin, dong," sahut Ghavi.


"Kenapa tidak kamu saja sekalian ketemu Kak Lian dan Kak Ane?! Kalian, kan sudah lama tidak bertemu," usul Liana.


"Ok! nanti besok-besok aku kerumah, deh."


Ghavi mengangguk setuju.


Hari itu Liana dan Ghavi saling bertukar cerita selama mereka terpisah jarak dan waktu selama lima tahun itu.


Liana juga berusaha untuk tidak membicarakan soal kejadian satu tahun silam, takut Ghavi shock mendengarnya. Biarlah itu menjadi urusan keluarga Darmawan.


Ghavi dan Liana juga ikut nimbrung ketepi kolam tempat Bintang tengah menggerutu karena pancingannya dan Pak Yoyon tak ada satupun yang dimakan ikan.


Pak Yoyon yang tidak berhasil menangkap ikan dengan pancingan segera mengambil seser. Hal itu dia lakukan karena Bintang terus merengek minta ikan untuk dibawa pulang sementara pancingannya tak juga dimakan ikan.


Ghavi dan Liana terus membujuk Bintang yang sedang merajuk dengan mengajaknya kembali ke kandang kelinci, membiarkan Pak Yoyon yang sedang menyeser ikan. Dengan seser, ikan bisa terambil banyak, jadi sebagian untuk Bintang bawa pulang, sebagian lagi untuk dimasak sebagai tambahan lauk makan siang mereka.


Setelah makan siang Liana dan Bintang pamit pulang.


Ghavi kembali masuk kamarnya dilantai atas untuk melanjutkan tidurnya yang dirasa belum cukup.


Ditambah gara-gara kelinci dirinya kena hukuman Bocah lima tahun itu harus berhasil menangkap kelinci yang jadi incaran Bintang yang sempat lepas akibat teriakannya tadi, untuk dibawa pulang sekalian dengan ikan tangkapan Pak Yoyon.

__ADS_1


Sementara disebuah mobil terlihat seorang anak kecil sedang tersenyum girang karena berhasil mengerjai Tante Obat Gosoknya yang baru pertama ditemuinya untuk menangkap kelinci yang sekarang berada dalam kandang besi kecil yang berada dalam pangkuannya.


__ADS_2