Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Dasar!


__ADS_3

😅😅😅Pada nungguin ya😁Tadi tetangga ada yang berpulang gaes, jadi ya bantu-bantu dululah🥰Oke next....


****


Nadin mengintip dari jendela. Memastikan suaminya masih ada di depan rumah dan benar saja, Rasyid masih di dalam mobil. Menunggunya membukakan pintu. Sayangnya, Nadin memang sengaja ingin tahu, apakah Rasyid sungguh-sungguh dalam usahanya meminta maaf, atau tidak.


"Non, kenapa masih di sini? Ada yang Non khawatirkan?" tanya Violeta, tiba-tiba saja datang dari arah belakang dan mengagetkan Nadin.


Bukannya marah, Nadin malah tersenyum.


"Lihatlah suamiku, Kak Vi. Dia begitu manis. Tapi aku masih tak ingin mempermudah langkahnya. Apa aku salah jika ingin memberinya pelajaran lebih?" ucap Nadin sembari membuka gorden sedikit dan menunjukkan mobil Rasyid yang terparkir di depan rumahnya.


"Astaga! Kasihan sekali dia," jawab Violeta.


"Iya, aku pun merasa begitu. Seorang bos besar rela tidur di mobil, udah gitu dalam kondisi hujan lagi. Demi cinta, bukankah ini menggemaskan," ucap Nadin seraya tersenyum geli.


"Tapi nggak salah juga sih Non. Biar dia belajar arti cinta dan ketulusan." Violeta ikut tertawa geli.


"Sebenarnya aku hampir luluh karenanya, apa lagi melihat video yang dikirim anak buahmu. Aku bangga padanya, meskipun dia labil, tapi dia nggak main-main juga sama ucapannya. Dia nolak ciuman Anisa. Bahkan dia mendorong uler keket itu," ucap Nadin seraya memberikan bukti dari ucapannya itu pada Violeta.


"Seperti yang dikatakan Yoga, Rasyid bukan pemain wanita. Dia selalu tulus. Makanya gampang ditipu. Tapi namanya manusia pasti punya sifat plus minus. Kalo aku pribadi sih, sebaiknya Non harus lebih tegas. Agar dianya nggak plinplan. Kasihan kalo sewaktu-waktu kalian ada masalah, atau dia terkena masalah bukannya menyelesaikan malah kabur lagi. Jadi menurutku sih, sebaiknya kasih pelajaran aja dulu. Biar dia inget baik buruknya sebuah keputusan," jawab Violeta memberi saran.


"Bener banget, enak aja dia, setelah nyakitin hati aku, mau dengan mudah minta balikan. Dia pikir dia siapa? Sultan?" gerutu Nadin kesal.


"Tapi dia memang Sultan, Non. Buktinya dia banyak sekali kasih Non tunjangan," saut Violeta.


"Eh, ia juga ya... Ahhh, serah dia aja lah. Membuatnya mengejarku, membuatku semakin semangat bikin dia bucin. Enak juga ternyata dibucinin," ucap Nadin senang.

__ADS_1


"Iya, tapi kasihan loh, Non. Lihat hujan turun pula. Pasti badan dia sakit semua tidur di luar. Izinkan lah masuk, setidaknya biarkan dia tidur di kamar tamu," ucap Violeta.


"Astaga, ini udah aku tega-tegain Kak Vi, kenapa Kak Vi pula kasihan," ucap Nadin.


"Habis kasihan, Non. Besok dihukum lagi nggak pa-pa, setidaknya malam ini izinkan dia mengistirahatkan raganya," jawab Violeta.


"Baiklah-baiklah... tapi tunggu, aku rasa, aku harus memberi pelajaran pada Anisa. Sebelum wanita itu semakin nekat. Kesel banget rasanya, berani sekali mau ninggalin aku. Kak Vi ada ide?" tanya Nadin.


"Ngapain pakek ide-idean segala, itu Non udah punya alatnya, tinggal bikin dia malu semalu-nalunya, pasti nanti dia malu lalu berhenti sendiri, kan?" jawab Violeta santai.


"Bener juga ya, ngapain aku pusing. Dah lah, aku mau tidur. Pusing juga lama-lama mikirin mereka. Bye, selamat malam!" ucap Nadin seraya melangkah meninggalkan Violeta. Mengingat Nadin belum mengizinkan Rasyid masuk, Violeta pun bertanya, "Itu si Tuan Jerapah, macam mana nasibnya?"


"Kak Vi aja lah yang urus, malas aku debat sama dia. Ujung-ujungnya nanti minta masuk kamar. Tau kan, otak pria macam dia. Untuk sementara aku harus jagain benihnya dulu. Bisa bahaya kalo deket dia, aku pun takut nggak bisa nahan kak Vi," ucap Nadin dengan nada centilnya.


"Dasar!" umpat Violeta, gemas.


"Eh, Nona Vio! Kok ada di sini?" tanya Ras terkejut.


"Iya, Nona minta ditemenin. Ayo, mari masuk!" ajak Violeta.


"Serius! Nanti dia marah?" tanya Rasyid lagi.


"Nggak tenang aja. Mari masuk, keburu hujannya lebat," ajak Violeta lagi. Rasyid mengangguk senang. Bagaimana tidak? Meskipun bukan sang istri yang membukakan pintu untuknya, setidaknya ada mahluk Tuhan lain yang menyelamatkannya dari hujan.


Di dalam rumah...


"Nona Vio apa kabar?" tanya Rasyid.

__ADS_1


"Baik Tuan, Tuan apa kabar?" balas Violeta.


"Aku baik, tapi ya beginilah... kamu pasti udah tau kebodohanku," jawab Rasyid, malu.


Violeta tersenyum. Tanpa di minta, Violeya membuatkan segelas susu jahe untuk Rasyid.


"Terima kasih," ucap Violeta.


"Sama-sama.Emmm, Tuan... boleh kah saya mengatakan sesuatu?" tanya Violeta.


"Ya, katakan saja."


"Tuan tau kan, hubunganku dengan Yoga."


"Hemm!"


"Atas nama Yoga, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Bukan aku berniat membelanya atau menceritakan kebaikan-kebaikan dia, tapi satu yang perlua Tuan tau, jika sebenarnya Yoga terpaksa melakukan itu semua. Tuan tau kan, bagaimana keluarganya, ditambah sekarang ibunya sakit keras," ucap Violeta.


Rasyid tersenyum meremehkan. "Terus aku mesti gimana? Harus bilang wow gitu? Harusnya kalo dia kesusahan, tinggal bilang. Nggak perlu nipu aku sampai segitunya. Aku rasa, aku nggak perlu ngejelasin semuanya ke kamu, kan?"


"Ya... saya tau Tuan. Dia memang tidak bisa lari dari hukum. Setidaknya tolong maafkanlah dia. Untuk satu atau dua kebaikannya dia ke Tuan mungkin!" pinta Violeta.


"Jangan mengajariku soal maaf memaafkan! Aku tau bagaimana harus bersikap, Jadi kamu tak perlu khawatir," jawab Rasyid tegas.


Ih, sombong sekali, kalo bukan karena Yoga, mungkin bisnismu juga nggak akan sebagus sekarang. Belum lagi para musuh-musuhmu, mantanmu itu. Kalo bukan Yoga yang ngendaliin dia, mungkin kamu udah jatuh ke Dasar samudra, tau nggak? Dasar pria nggak tau Terima kasih! gerutu Violeta dalam hati.


Tanpa memperdulikan Rasyid yang masih menikmati susu jahe buatannya, Violeta pun memilih pergi meninggalkan pria sombong itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2