
Di atas ranjang Rasyid terganggu dengan ucapan sang istri di teras tadi. Ucapan Nadin tentang seseorang yang memiliki kemungkin bisa semudah itu hamil hanya dengan sekali melakukannya
Nadin bilang, pasti butuh proses, pasti butuh beberapa kali waktu berbuat, baru bisa membuahkan hasil.
Memang sih, kesuburan wanita itu berbeda-beda.Tetapi, rasanya kemungkinan sangat tipis jika sekali berbuat langsung jadi.
Ah, entahlah... haruskah aku browsing? Haruskah aku mencari tau? tanya Rasyid dalam hati.
Rasyid kembali dibelenggu keraguan. Terlebih Nadin pernah mengatakan bahwa Xian sama sekali tidak mirip dengannya. Apakah itu artinya penilaian Nadin tidak salah? Apakah itu artinya dia harus mencari tahu kebenaran tentang Xian?
Astaga, apa yang harus aku lakukan! ucap Rasyid dalam hati. Berusaha mencari jawaban atas keraguan yang saat ini menyerangnya.
Malam semakin larut, namun Rasyid masih terjaga. Masih belum membawa raganya masuk ke dalam alam mimpi. Justru semakin ia mencoba, matanya semakin menolak. Sungguh, Rasyid sangat tidak mengerti ini.
Nadin yang saat itu tanpa sengaja melihat sang suami masih membuka mata, tentu saja ia pun penasaran dan bertanya, "Mass... kok belum tidur? Kenapa? Mas laper, pengen sesuatu?"
"Nggak, aku cuma agak sedikit terganggu sama ucapanmu," jawab Rasyid jujur.
"Ucapanku? Ucapanku yang mana?" tanya Nadin, sedikit merasa bersalah.
"Yang itu loh, yang perihal orang hamil. Apa bener orang hamil butuh beberapa kali berbuat?"
"Iya, di dunia nyata rata-rata begitu, Mas? Kenapa emang?" tanya Nadin, penasaran.
"Kamu percaya nggak, kalo aku sama dia cuma sekali nglakuinnya. Itu pun kita sama-sama fly, jadi kami sama-sama nggak sadar," ucap Rasyid sungguh-sungguh.
__ADS_1
Nadin mengerutkan kening. Rasa penasaran pun menggerogoti sanubari wanita cantik ini. "Emm, Mas yakin?"
"Yakinlah, kamu kenal aku, Nad! Aku nggak sebejat itu. Ia sih, dulu pergaulanku agak sedikit bebas. Namanya anak kuda kan penasaran. Coba-cobalah aku. Minum, dugen, tapi kalo untuk free *** nggak sih. Sama kamu, yang udah sah saja, aku aja nggak anarkis kan? Aku sanggup nahan sampai kamu bener-bener percaya dan ikhlas. Masak iya ini baru pacar, aku tega ngrusak. Aku nggak setega itu, Nad," jawab Rasyid yakin.
Nadin diam sesaat. Memikirkan apa yang suaminya sampaikan. Jika dipikir, ucapan Rasyid ada benarnya juga.
"Emmm, boleh nggak aku tanya sesuatu?"
"Boleh! Mau tanya apa?"
"Mas bilang kan, waktu kejadian itu kalian sama-sama mabok. Berarti kalian habis pesta dong?"
"Ya, terus!"
"Emmm, seminggu atau dua minggu setelah kejadian, mungkin. Nggak ada sebulan rasaku. Aku lupa!" jawab Rasyid.
Nadin tersenyum. Menatap suami lugu nya ini.
"Seminggu atau dua minggu ya... heemmm, oke kita ambil jarak terpanjang ya, anggap aja dua minggu lah, oke. Jadi dia tau kalo hamil cuma jarak dua minggu dari kalian berbuat. Eh, tapi janggal juga nggak sih, Mas. Kok aku curiga kamu dijebak ya," ucap Nadin, sebenernya ia mengerti. Cuma susah untuk menjelaskan pada Rasyid.
"Dijebak? Maksudnya?"
"Ya logikanya, masak berbuat hanya dengan jarak satu minggu apa dua minggu, dia udah tau kalo hamil. Minimal satu bukan kali, Mas. Nunggu siklus haid nya datang lagi. Bener nggak. Maaf Mas, aku nggak bisa jelasin juga, soalnya aku belum pernah hamil kan, takut salah. Ini hanya angan-angan ku saja. Coba mas konsultasi sama dokter. Kan mas punya banyak temen dokter," jawab Nadin.
Rasyid menatap Nadin. Tak menampik ucapan itu. Malah terkesan membenarkan.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang aku memikirkan ini. Harusnya dari dulu! Astaga, apa yang terjadi padaku?" tanya Rasyid, linglung.
"Mungkin masnya terlalu cinta kali sama mbak mantan, jadinya dibodohi percaya aja."
"Astaga! Apakah ini alasan dia selalu nolak aku nikahi, mungkinkah dia takut bakalan ketahuan?" tanya Rasyid.
"Bisa jadi, tapi kita nggak boleh suudzon. Ini hanya pemikiran ku aja, Mas. Kalo menurut Nadin sih, sebaiknya mas selidiki. Bukan apa sih, agar jelas aja. Kalo putramu itu memang anak kandungnu, ya syukur. Kalo nggak ya... gimana? Yang penting mas kan tau," jawab Nadin.
Rasyid diam membisu. Sungguh, saat ini ia seperti manusia paling bodoh sedunia. Harusnya ia memikirkan ini dari awal. Harusnya ia tak gampang percaya pada orang lain. Meskipun itu adalah orang yang ia cintai. Buktinya sahabat terbaiknya saja berkhianat. Iya kan?
Yoga! Dia pasti mengetahui sesuatu. Bukankah dia pandai menyembunyikan sesuatu, batin Rasyid bimbang.
***
Di lain pihak, Yoga telah mempersiapkan bukti kejahatannya pada Rasyid selama ini. Yoga sudah memantapkan hatinya untuk jujur pada sahabatnya itu.
Yoga siap dengan konsekuensi yang akan ia hadapi.
"Maafkan aku, Vi.. aku udah bikin kamu kecewa sekali lagi," ucap Yoga sembari tertunduk lesu di depan kekasihnya itu.
Violeta menatap Yoga dengan tatapan nanar. Kecewa, sudah pasti. Tetapi ia juga kasihan dengan kekasihnya ini. Himpitan ekonomi, kebangkrutan keluarga, sebagai tulang punggung dan sekarang ia harus menanggung biaya pengobatan ibunya dan Violeta tahu ini tidak mudah.
Meskipun begitu, Violeta bangga. Karena Yoga berani mengakui kesalahannya.
Bersambung...
__ADS_1