Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Curiga


__ADS_3

Semalam suntuk Rasyid tak bisa tidur. Itu sebabnya saat ini ia masih bermalas-malasan di sofa. Sembari memerhatikan istrinya berias.


Melihat Nadin begitu menggemaskan, ingin rasanya ia menghalangi wanitanya itu untuk pergi. Rasyid ingin di manja. Untuk melancarkan akal liciknya, Rasyid pun beranjak dari tempat santainya dan mendekati wanita cantik itu.


"Yang, hari ini kamu libur nggak?" tanya Rasyid dengan sikap manjanya seperti biasa.


"Libur? Ya nggak lah, Honey. Hari ini kan masih rabu. Aku liburnya sabtu minggu kan. Sesuai jam kantor," jawab Nadin sembari memakai peralatan make up nya. Sedangkan Rasyid terus saja menempel seperti lintah. Mengikuti ke mana pun Nadin melangkah seperti tak punya kerjaan.


"Emmm, jangan kerja. Di rumah aja ya, heemm... please. Aku janji deh, nggak nakal. Serius!" bujuk Rasyid.


Akhirnya Nadin bisa menangkap dan merasakan sesuatu yang lain dari sikap cerewet nan manja Rasyid. Hampir setiap hari, setiap dirinya mau berangkat kerja, suaminya selalu seperti ini. Sepertinya Rasyid memang sengaja menghalang-halanginya untuk pergi bekerja.


"Hari ini aku pindah bagian, Mas. Aku dilarang telat. Please jangan mengangguku, oke! Ini demi masa depan kita, heeemmm! "pinta Nadin ketika sang suami terus saja mengikutinya.


"Aku nggak ganggu, Yang. Aku cuma pengen kamu libur, hari ini aja. Atau kamu pulangnya jangan telat. Kan kita pengantin baru, Yang. Masak pisah terus," jawab Rasyid, alasan.


Nadin merasa sedikit aneh dengan jawaban itu. Ucapan seperti itu bukanlah sifat seorang Rasyid. Pria itu biasanya tegas dalam segala hal. Lalu kenapa sekarang menye-menye manja. Bukankah ini aneh!


"Sebaiknya kamu cari kerjaan, Honey, dari pada setiap hari menggangguku. Memangnya kamu nggak mau bawa putramu pulang. Mau sampai kapan kamu nitipin dia ke orang. Kasihan tau, dia pasti pengen kumpul sama kamu," ucap Nadin.


Spontan, Rasyid teringat percakapannya semalam dengan sang istri. Entah mengapa hatinya tergerak untuk melakukan tes DNA.

__ADS_1


"Yang!"


"Hemmm!" jawab Nadin.


"Mau nggak nemenin aku!" pinta Rasyid.


"Ke mana?"


"Singapore!"


"Singapore? Ngapain?" balas Nadin, merasa aneh.


"Kamu mau jemput Xian?" tanya Nadin, menduga-duga.


"Nggak sih, lebih tepatnya aku ingin tes DNA," jawab Rasyid, serius.


Nadin diam sesaat. Ada sedikit asa yang menggelitik sanubarinya.


Bagaimana tidak? Nadin sangat tahu berapa uang yang mereka saat ini. Tapi.... keinginan Rasyid, seakan tidak memikirkan itu. Uang di tabungan mereka hanya ada sekitar tujuh sampai delapan juta. Untuk melakukan perjalanan ke sana, bukankah membutuhkan biaya uang lebih dari itu.


Bukan meremehkan. Tapi, Nadin hanya mencoba berpikir logis. Mengingat Rasyid, hanya seorang satpam. Sekarang sedang pengangguran pula. Lalu, tanpa berpikir panjang, pria ini malah mengajaknya ke Singapore. Bukankah ini sangat mustahil untuk standart perekonomian mereka saat ini.

__ADS_1


Ni bapak-bapak halu kali ya? Apa dia pikit Singapore deket. Bisa naik taksi gitu? Tujuan kita Singapore, Bapak. Bukan, Bekasi.... Aelah, gerutu Nadin dalam hati.


Wajar jika wanita ini menggerutu, sebab ia sangat sangat tahu, berapa biaya pulang pergi ke Singapore. Apa lagi ini untuk berdua. Belum lagi biaya menginap. Transportasi lain di sana. Makan dan biaya tes DNA.


"Gimana, mau nggak nemenin?" tanya Rasyid lagi. Membuyarkan lamunan Nadin.


Nadin berusaha menepis beberapa pertanyaan yang membuatnya tidak habis pikir itu. Wanita cantik ini pun enggan berdebat. Ia tak mau protes, takut di bilang meremehkan. Namun jujur, ia juga penasaran, bagaimana seorang Rasyid bisa membawanya ke sana tanpa kekuarangan apapun.


Awas aja kalo ngajak aku tidur di trotoar, aku becek sampek benyek kamu, gerutu Nadin sembari menyembunyikan senyum gemasnya.


"Oke! Mari kita pergi! Kapan?" tantang Nadin.


"Sebentar, aku cari tiket dulu!" jawab Rasyid sembari mencari ponselnya dan menghubungi seseorang. Sedangkan Nadin hanya memerhatikan sembari melipat tangannya. Menunggu, apakah Rasyid serius dengan ini.


Beberapa menit setelah Rasyid berbincang dengan seseorang, ia pun menghampirimu sangat istri dan berucap, "Kita jalan sekarang, Yang. Yuk!" ajak Rasyid.


Spontan Nadin pun melongo. Tidak menyangka, seorang Rasyid memgajaknya bepergian, tanpa menemukan kesulitan sedikit pun.


Nadin menghela napas dalam-dalam. Menatap tak percaya pada pria itu. Namun, ia tetap menanti ending dari perjalanan mereka ini. Tentu saja dengan perasaan was-was.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2