Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Ada Apa Denganku?


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Violeta dan Nadin sudah selesai sarapan. Bahkan mereka juga sudah berpakaian rapi. Sepertinya sudah siap berangkat kerja.


Namun, Rasyid baru keluar kamar dengan keadaan yang bisa dikatakan sangat memprihatinkan. Membuat Nadin dan Vio ingin tertawa melihatnya. .


"Kamu ngapain berantakan begitu, Mas? Belum mandi kah? " tanya Nadin.


"Udah, tapi kepalaku sakit sekali. Entahlah!" jawab Rasyid seraya duduk di meja makan dan bergabung dengan mereka. Nadin tau Rasyid tidak berbohong, sebab wajah pria itu terlihat pucat.


"Ya udah kamu sarapan dulu, habis itu minum obat, istirahat lagi sana," ucap Nadin lagi.


"Nggak ah, aku nggak mau makan. Sabun di kamar mandi itu sabun apaan sih, Yang. Bau banget, ganti ahh. Spreinya jangan polos gitu, panas banget tau, nggak nyaman banget dipakeknya. Sekalian tu pengharum ruangan diganti juga. Bikin eneg tau. Perutku rasa diaduk-aduk rasanya!" pinta Rasyid, menyngkapkan apa yang ia rasakan saat ini.


Violeta dan Nadin saling menatap heran. Sebab mereka merasa aneh dengan ucapan-ucapan pria itu. Biasanya Rasyid tak pernah mempermasalahkan hal sepele seperti itu.


"Oke, nanti aku bilang sama mbaknya suruh ganti. Ada lagi yang perlu di ganti?" tanya Nadin, sengaja memancing ketidaknyamanannya pria ini.


"Nggak untuk sementara itu aja. Duh, ya Tuhan.. kenapa aku ini. Sakit banget kepalaku. Mual dari tadi nggak ilang-ilang. Pasti gara-gara susu jahe tadi malam," ucap Rasyid kesal.


Merasa yang membuatkan susu itu adalah dia, Violeta pun protes. "Ih, mana ada susu jahe bikin mual. Tuan aja kali yang terlalu sesitif. Nggak jelas banget sih,"


"Apa kau bilang? Aku sensitif... udah lihat kenyataannya aku sakit? Kamu bilang aku sensitif. Kau gila ya?" balas Rasyid kesal.


"Dasar Tuan jerapah menyebalkan, sukurin sakit perut. Tau gitu aku tambah lagi pakek bubuk cabe. Biar tau rasa," balas Violeta kesal.

__ADS_1


"Astaga! kalian berdua ini kenapa? Keknya dendam banget sama aku!" ucap Rasyid.


"Gimana kita nggak dendam. Situ telalu kaku jadi orang. Siapa yang salah siapa pula yang dihukum. Harusnya kalo mau menghukum itu ya si rambut pirang dada balon itu. Bukan kami. Kami kan nggak tau apa-apa, dasar! Sukurin mual-mual, ku do'ain kamu ngrasain ngidam kek gitu sampai bayimu lahir. Biar tau rasa!" gerutu Violeta kesal. Andai tak ingat misi Nadin untuk membuat pria ini kapok, mungkin Violeta sudah mencetuskan kekesalannya itu.


"Nggak, kita nggak dendam kok sama kamu. Cuma kesel aja. Udah diminum itu tehnya, biar nggak mual lagi," ucap Nadin sembari menyodorkan teh dan juga roti isi pada sang suami.


Rasyid menyeruput teh hangat itu, lalu mencecapnya. Sedetik kemudian pria ini merasa mual. Dengan cepat ia pun lari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Nadin heran. Sedangkan Violeta hanya tersenyum dan menghadapi keadaan ini dengan santai.


"Paling dia ngidam!" jawab wanita itu, masih dengan ekpresi kesal pada Rasyid.


"Ngidam? Maksudnya?" Nadin malah balik bertanya, karena ia tak mengerti maksud Violeta.


"Iya dia lagi ngidam. Kehamilan simpatik, Non. Non nggak ngrasain apa-apa kan hamil ini?"


"Iya, dia yang ngidam. Tu lihatin, muntah-muntah kan dia... rasain, makanya jadi bapak jangan sok. Hebat kamu dek bisa bikin bapakmu klimpungan. Siapa suruh, mau ninggalin kamu sama ibumu dek. Akhirnya doaku di kabulkan juga. Terima kasih Tuan, Rasain!" umpat Violeta semangat.


Sedangkan Nadin hanya tersenyum melihat kekesalan Violeta pada suaminya. Namun jujur, Nadin masih belum paham dengan maksud Violeta.


"Maksud Kak Vio apa sih?" tanya Nadin lugu.


"Maksudku, suamimu pasti lagi ngidam. Orang semalam dia baik-baik saja. Masak sekarang tiba-tiba muntah-muntah nggak jelas," jawab Violeta.


"Benarkah? Kakak yakin?" tanya Nadin.

__ADS_1


"Yakin, Insya Allah. Tanda lain juga ada kan, dia nggak suka wewangian. Bukankah itu udah ciri paten. Kalo dia masuk angin biasa, aku rasa nggak akan se sensitif itu," jawab Violeta lagi.


"Ohhh, apakah itu pengaruh ya?"


"Pengaruh, biasanya kondisi kek gitu dialami oleh ibu-ibu yang lagi hamil muda. Berhubung Non nggak ngrasain, bapake yang ngidam. Itu sih biasa terjadi."


"Wahh, lucu juga ya. Tapi kasihan... dia sampek kucel gitu," ucap Nadin, sembari terkekeh. Sedangkan Violeta hanya tersenyum senang.


Lima menit berlalu, Rasyid kembali datang dengan keadaan yang lebih memprihatinkan dari pertama ia keluar kamar. Sekarang lebih lemas dan pucat.


"Astaga! Aku ini kenapa?" tanya Rasyid pada kedua wanita itu.


"Masuk angin kali, semalam sempat kehujanan kan? Kamu kan nggak bisa kena air hujan," jawab Nadin.


"Ah enggak ah, biasanya aku nggak gini. Tolong panggilkan dokter. Aku nggak sanggup, kepalaku berat banget rasanya," pinta Rasyid, sambil meletakkan kepalanya di meja makan.


Nadin manatap sekilas pada Violeta, lalu mereka berdua saling melempar senyum.


"Minum air hangat ini dulu, semoga cepat baikan," ucap Nadin sambil menyodorkan segelas air hangat untuk sang suami.


Rasyid meneguk air itu sampai habis. Setelah itu Nadin pun membawa sang suami ke sofa dan memanggil kan dokter, sesuai yang di minta oleh pria galak itu.


***


Di lain pihak, Anisa marah besar, karena Nadin membalasnya dengan sangat cantik.

__ADS_1


Foto ciuman yang ia kirimkan ke Nadin, malah di balas dengan video ketika dia di dorong oleh Rasyid. Bukan hanya itu, Nadin juga memberikan caption yang membuat telinga Anisa panas-dingin.


Bersambung...


__ADS_2